Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Hanum
Di kediaman Johan, suasana yang seharusnya penuh kemenangan mendadak berubah menjadi kegelisahan bagi sang tuan rumah. Setelah pintu gerbang tertutup rapat, Johan tidak langsung kembali ke kamarnya. Ia melangkah cepat menuju jendela besar di lantai dua, menyibakkan sedikit celah gorden dengan jari yang gemetar karena rasa penasarannya yang membuncah.
Matanya menyipit, berusaha menembus kaca hitam mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya. Tepat saat itu, sosok pria tinggi berbadan tegap keluar sejenak untuk membukakan pintu bagi Hanum dan anak-anaknya. Meski dari kejauhan dan wajahnya tertutup kacamata hitam serta bayangan pohon, aura wibawa pria itu terasa hingga ke tempat Johan berdiri.
Johan mengucek kedua matanya, berusaha memfokuskan pandangannya. Namun, pria itu dengan sigap kembali masuk ke dalam mobil setelah Hanum duduk di dalamnya.
'Apa jangan-jangan pria itu yang telah membantu Hanum?' batin Johan geram sembari mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. 'Kalau pun benar, siapa dia dan apa hubungannya dengan Hanum? Cih... sudah kuduga ada orang kuat di belakang wanita itu sehingga dia bisa memutarbalikkan semua tuduhan ku di pengadilan!'
Rasa iri dan tidak tenang mulai merayapi hatinya Johan. Ia yang tadinya merasa di atas angin, kini merasa terancam oleh sosok bayangan yang bahkan belum ia ketahui siapa namanya.
Sementara itu, deru mesin mobil mewah yang membawa Hanum perlahan berhenti di depan lobi kediaman Sanjaya. Aliya dan Adiba turun dengan perasaan campur aduk antara kagum dan ragu. Namun, saat Hanum menuntun mereka menaiki lift menuju lantai tiga, semua keraguan itu telah sirna.
"Ini kamar kalian, Sayang," ucap Hanum lembut sembari membuka dua pintu besar yang saling berhadapan.
Aliya dan Adiba terpaku di ambang pintu. Kamar itu bukan sekedar tempat tidur, namun itu semua adalah istana mungil. Dengan tempat tidur besar yang megah, meja belajar dari kayu berwarna putih yang elegan, serta balkon pribadi yang menghadap ke taman belakang yang luas, kamar itu benar-benar perwujudan dari mimpi-mimpi yang sering mereka ceritakan pada Hanum saat malam hari di rumah lama mereka.
"Bunda..." Adiba menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. "Ini beneran kamar aku?"
"Bunda melakukan semua ini untuk kalian," Hanum tersenyum haru. "Mulai sekarang, tidak akan ada lagi yang berani memarahi kalian atau membuat kalian merasa tidak diinginkan."
Aliya, yang biasanya lebih tegar, tak sanggup lagi menahan tangisnya. Ia menghambur ke pelukan Hanum, diikuti oleh Adiba. Mereka bertiga berpelukan erat di tengah ruangan yang harum aroma mawar itu.
"Terima kasih, Bunda. Terima kasih sudah menjemput kami," bisik Aliya di sela tangisnya.
Di depan pintu, Alvaro berdiri bersandar di bingkai pintu, menatap pemandangan itu dengan senyum lega yang langka. Ia tahu, tugasnya belum selesai. Johan mungkin masih merasa memiliki kekayaan, namun Alvaro sudah bersiap untuk menarik seluruh karpet dari bawah kaki pria sombong itu hingga dia jatuh tersungkur.
'Nikmatilah istirahat kalian, anak-anak," batin Alvaro. "Biarkan Om yang mengurus sampah yang mengganggu hidup kalian selama ini."
Satu babak penderitaan telah ditutup, dan kini Hanum bersiap untuk babak pembalasan yang jauh lebih menyakitkan bagi siapa pun yang pernah menghinanya.
*
*
Malam kian larut, menyisakan keheningan yang menenangkan di kediaman Sanjaya. Setelah memastikan Aliya dan Adiba tertidur pulas di kamar impian mereka, Hanum melangkah menuju ruang perpustakaan pribadi di lantai dua. Ruangan itu begitu luas, dengan jajaran buku setinggi plafon dan aroma kayu Cendana serta kertas tua yang memberikan kesan megah.
Di sana, Tuan Sanjaya dan Alvaro sudah menunggu. Mereka duduk di kursi sofa kulit berwarna cokelat tua yang empuk, menikmati teh hangat di bawah temaram lampu gantung kristal. Hanum mengambil napas panjang, lalu duduk di hadapan dua pria paling berpengaruh dalam hidupnya itu.
"Pah, Kak Al... ada sesuatu yang ingin aku sampaikan secara serius," buka Hanum, suaranya tenang namun penuh ketegasan yang belum pernah terdengar sebelumnya.
Tuan Sanjaya meletakkan cangkir tehnya. "Katakanlah, Nak, Papah mendengarkan."
"Izinkan aku untuk ikut mengelola perusahaan Sanjaya Group," ucap Hanum dengan lantang.
Seketika, ruangan itu menjadi hening. Tuan Sanjaya dan Alvaro saling berpandangan dengan raut wajahnya yang terkejut. Mereka teringat bagaimana bertahun-tahun lalu Hanum menolak mentah-mentah untuk menyentuh dunia bisnis karena ingin fokus menjadi ibu rumah tangga. Alvaro tahu betul, perubahan drastis ini bukan sekedar keinginannya bekerja, melainkan genderang perang yang mulai ditabuh Hanum untuk meruntuhkan kerajaan kecil milik Johan.
Tuan Sanjaya mengusap lembut kepala Hanum dengan tangan yang sedikit bergetar karena haru.
"Tentu saja, Putriku. Sanjaya Group adalah milikmu. Kau adalah pewaris tunggalnya, dan kau akan menjalankannya bersama Alvaro," ucapnya dengan nada bangga yang tak terbendung.
Hanum berhambur ke pelukan ayahnya, menyembunyikan wajahnya di bahu pria tua itu. "Maafkan Hanum ya, Pah. Selama ini sudah banyak mengecewakan Papah. Tapi Hanum janji, mulai detik ini, Hanum akan menjadi putri kebanggaannya Papah."
Alvaro yang menyaksikan momen itu merasa sebuah beban besar terangkat dari pundaknya. Inilah Hanum yang ia tunggu-tunggu, Hanum yang memiliki taring. Selain itu, pikirannya sebagai pria pelindung merasa lega karena dengan bekerja di kantor yang sama, Hanum akan selalu berada dalam pengawasan dan jangkauannya setiap saat.
"Kak Al," Hanum melepaskan pelukannya dan menatap Alvaro dengan serius. "Menurutmu, butuh berapa lama bagiku untuk bisa menguasai pekerjaan di perusahaan?"
Alvaro tersenyum tipis, matanya berkilat penuh dukungan. "Cukup satu bulan saja, Num. Aku tahu kau wanita yang cerdas. Dulu kau lulusan terbaik, hanya saja kau memilih pensiun terlalu dini demi pria yang salah. Aku dan Asisten Adam akan membimbing mu secara langsung. Bila perlu, aku akan mencarikan sekretaris pribadi terbaik untuk membantu semua pekerjaanmu."
Hanum mengangguk mantap. Tatapannya kini tertuju pada kegelapan di balik jendela perpustakaan, membayangkan wajah Johan yang sombong.
'Nikmatilah masa tenagamu, Johan. Satu bulan dari sekarang, kau tidak akan berhadapan dengan Hanum yang lemah, melainkan Hanum Sanjaya yang memegang kendali atas nasibmu.'batinnya penuh dendam yang terukur.
Malam itu, di bawah saksi ribuan buku di perpustakaan tersebut, Hanum resmi meninggalkan masa lalunya sebagai ibu rumah tangga yang tertindas dan lahir kembali sebagai calon pemimpin raksasa bisnis yang siap menerjang siapa pun yang menghalangi jalannya.
Bersambung...
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔