Membelenggu Liarmu dengan Mahar
Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.
Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.
Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.
Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR
BAB 20: "Murattal Cinta di Bawah Langit Kediri"
Malam di Kediri membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa wangi melati yang tumbuh di halaman Ndalem. Setelah acara makan bersama yang hangat—di mana Abah menyambut mereka dengan tawa renyah dan nasi liwet beralaskan daun pisang—Zain dan Shania akhirnya kembali ke rumah mungil mereka yang terletak di sudut kompleks pesantren.
Rumah itu sempat terasa hampa selama dua minggu, namun malam ini, cahaya lampu kuning yang berpendar dari ruang tengah memberikan nuansa yang berbeda. Ada kehidupan yang kembali berdenyut.
Zain meletakkan kopernya di sudut kamar, lalu berbalik menatap Shania yang sedang melepas cadar dan khimarnya. Rambut panjang Shania yang pirang kecoklatan tergerai, jatuh menyentuh pinggangnya. Zain sempat terpaku sejenak, namun kali ini ia segera menundukkan pandangannya dengan senyum tipis, menjaga agar getaran di dadanya tetap berada dalam koridor ketakwaan.
"Mas Zain, mau mandi dulu atau langsung istirahat?" tanya Shania, suaranya kini terdengar jauh lebih ceria, tanpa beban yang menggelayut seperti sebelumnya.
"Saya, ingin mendengar sesuatu yang lebih menyejukkan daripada air pancuran," jawab Zain sambil berjalan menuju lemari, mengambil sarung bersih dan baju koko berbahan katun.
"Bagaimana kalau kita tunaikan janji tadi di mobil? Saya, dengar, ada yang punya hafalan baru selama saya pergi?"
Pipi Shania merona.
"Baru beberapa ayat, Mas. Itu pun karena aku rindu dimarahi Mas Zain kalau tajwidnya berantakan."
Zain tertawa kecil, suara baritonnya mengisi ruang kamar yang sunyi.
"Kalau begitu, ambil wudhu. Saya, tunggu di ruang tengah."
"Simakan di Ruang Tengah"
Sepuluh menit kemudian, mereka duduk berhadapan di atas sajadah yang terbentang. Ruang tengah itu hanya diterangi oleh lampu sudut yang temaram, menciptakan suasana yang intim namun sarat dengan nuansa spiritual. Shania memegang mushaf Al-Qur'an kecil di tangannya, namun ia tidak membukanya. Ia ingin mencoba menyetorkan hafalannya secara bil ghaib (tanpa melihat teks).
Zain duduk bersila dengan punggung tegak, matanya menatap Shania dengan penuh perhatian, namun lembut. Ia bertindak sebagai musami’ (penyimak) sekaligus pelindung.
"Mulai dari Basmalah, Shania," bimbing Zain lembut.
Shania memejamkan mata, mengatur napasnya yang sedikit memburu karena gugup. Ia mulai melantunkan Surah Maryam.
"Kaaf-Haa-Yaa-'Aiin-Shaad..."
Suara Shania tidaklah selantang qari profesional, namun ada kejujuran di setiap makhraj yang ia keluarkan. Suaranya yang agak serak karena sisa tangis tadi siang justru menambah kesan melankolis pada ayat-ayat awal surah tersebut.
"Dzikru rahmati rabbika 'abdahu zakariyya..."
Zain menyimak dengan seksama. Sesekali ia memejamkan mata, meresapi setiap getaran suara istrinya. Saat Shania sedikit ragu pada hukum ikhfa atau hampir terpeleset pada ayat yang mirip, Zain hanya perlu memberikan kode kecil dengan deheman halus atau mengulang potongan kata terakhir untuk membimbingnya kembali ke jalur yang benar.
Hingga sampailah Shania pada ayat-ayat yang menceritakan tentang Maryam binti Imran.
"Wadzkur fil kitaabi maryama idzantabadzat min ahlihaa makaanan syarqiyyan..."
Setelah Shania menyelesaikan satu halaman, Zain mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar Shania berhenti sejenak untuk mengambil napas.
"Sadaqallahul adzim," bisik Shania pelan.
Ia membuka matanya dan mendapati Zain sedang menatapnya dengan binar kebanggaan yang sulit disembunyikan.
"Lancar sekali, Shania. Makhraj huruf 'ain dan ha-mu sudah jauh lebih baik dari sebulan yang lalu," puji Zain.
Ia mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala Shania yang tertutup mukena putih dengan penuh kasih sayang.
"Mas, tahu kenapa aku memilih surah ini untuk dihafal?" tanya Shania sambil menatap suaminya.
Zain menggeleng kecil.
"Kenapa?"
"Karena aku ingin belajar menjadi wanita yang kuat seperti Maryam. Dia difitnah, dia sendirian, tapi dia punya Allah yang mencukupinya. Aku... aku merasa sedikit mirip dengannya saat Mas pergi kemarin. Sendirian dan merasa tidak ada yang membela, walau itu semua karena kesalahanku sendiri."
"Tafsir Cinta: Kisah Sang Wanita Suci"
Zain menghela napas, lalu ia memperbaiki posisi duduknya. Ia merasa inilah saatnya ia memberikan 'makan malam' bagi ruhani istrinya.
"Kemari," ajak Zain sambil menepuk sisi sajadahnya yang kosong di sampingnya.
Shania bergeser, duduk merapat hingga bahu mereka bersentuhan.
Zain kemudian mulai bercerita, suaranya mengalir tenang seperti aliran sungai di pegunungan.
"Maryam, itu, Shania, adalah bukti bahwa cinta Allah kepada seorang hamba tidak selalu dibungkus dengan kemudahan. Bayangkan, seorang wanita suci, yang menghabiskan waktunya di mihrab, tiba-tiba harus mengandung tanpa suami. Secara logika manusia, itu adalah kehancuran harga diri."
Shania mendengarkan dengan saksama, dagunya bertumpu pada lutut yang ia peluk.
"Ketika rasa sakit melahirkan datang, Maryam bersandar pada pohon kurma. Dia merasa begitu putus asa hingga berkata, 'Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini'. Bahkan wanita sekuat Maryam pun bisa merasa rapuh, Shania. Allah tidak marah atas kerapuhan itu, Allah justru menghiburnya dengan air yang mengalir di bawah kakinya dan buah kurma yang jatuh untuknya."
Zain menoleh, menatap dalam ke mata Shania.
"Pelajaran terbesarnya bukan hanya tentang mukjizat lahirnya Nabi Isa, tapi tentang bagaimana Maryam menjaga lisannya. Allah memerintahkannya untuk berpuasa bicara—shaman. Dia tidak perlu membela diri di depan manusia yang menghujatnya, karena Allah yang akan mengirimkan pembelaan melalui lisan bayi yang dikandungnya."
Zain meraih tangan Shania, menggenggam jemarinya yang lentik.
"Pernikahan kita juga begitu. Kadang ada saat-saat kita merasa 'sakit' dan ingin menyerah, seperti Maryam di bawah pohon kurma itu. Tapi jika kita diam sejenak dari ego kita—seperti puasa bicaranya Maryam—Allah akan menunjukkan jalan keluar yang tidak terduga."
Shania terdiam, meresapi setiap kata yang keluar dari bibir suaminya.
"Jadi, Mas sedang menyindirku yang kemarin terlalu banyak bicara kasar?" goda Shania dengan nada bercanda untuk menutupi rasa harunya.
Zain terkekeh, lalu mencubit pelan hidung mungil Shania.
"Bukan menyindir, hanya mengingatkan. Bahwa keindahan seorang wanita itu letaknya pada ketenangan hatinya. Kamu tidak perlu berteriak untuk didengar, dan kamu tidak perlu menampar untuk menunjukkan kamu terluka. Cukup sampaikan pada Allah, maka Allah yang akan menggerakkan hati suamimu ini untuk kembali bersimpuh di depanmu."
"Malam yang Meleburkan Jarak"
Suasana semakin hening. Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul sebelas malam. Angin malam yang dingin mulai menyelinap masuk melalui celah jendela, namun kehangatan di antara keduanya justru semakin meningkat.
Shania meletakkan kepalanya di bahu Zain. Aroma wangi tubuh Zain campuran antara sabun mandi dan parfum sandalwood membuatnya merasa sangat aman.
"Mas," bisik Shania. "Terima kasih sudah menjadikanku istrimu. Meskipun aku jauh dari kata saleha, meskipun aku masih sering merepotkan..."
Zain mengecup dahi Shania dengan lembut, kecupan yang lama dan penuh takzim.
"Jangan bicara begitu lagi. Saya, yang harus berterima kasih. Tanpa sifat 'liar'-mu itu, saya mungkin hanya akan menjadi ustadz yang kaku dan membosankan. Kamu, mengajari saya cara bersabar dengan cara yang sangat... unik."
Shania tertawa kecil di balik pelukan Zain.
"Unik itu bahasa halus untuk 'menyebalkan', ya?"
"Mungkin," jawab Zain jenaka sambil mempererat pelukannya.
"Tapi menyebalkan yang membuat saya rindu setengah mati di Surabaya kemarin."
Zain kemudian membimbing Shania untuk berdiri.
"Sudah malam. Besok subuh kita harus bangun lebih awal. Saya, ingin mengajakmu jalan-jalan ke kebun belakang Ndalem sebelum mengaji pagi. Abah bilang pohon durian kita mulai berbuah."
"Benarkah?" mata Shania berbinar. "Mas, yang ambilkan untukku?"
"Apapun untuk makmumku yang paling cantik ini," balas Zain sambil mematikan lampu ruang tengah, menyisakan keremangan yang damai.
Malam itu, di rumah mungil di sudut pesantren Kediri, tidak ada lagi sekat yang memisahkan mereka. Bukan lagi mahar yang membelenggu, melainkan cinta yang telah menemukan tempat sujudnya yang paling tepat.
Mereka berjalan beriringan menuju kamar, siap menjemput hari esok dengan lembaran baru yang lebih suci, semurni doa-doa yang dipanjatkan Maryam di dalam mihrabnya.
Bersambung ....
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething