Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
***
Hujan yang tadinya mengguyur Desa Sukamaju perlahan berubah menjadi rintik tipis, menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Di dalam kamar utama rumah dinas, suasana ketegangan yang tadi memuncak kini mencair, digantikan oleh kehangatan yang luar biasa. Bau minyak kayu putih, aroma khas bayi baru lahir, dan sisa-sisa keringat perjuangan memenuhi udara.
Laras terbaring lemah namun tampak sangat tenang. Wajahnya yang pucat kini mulai dihiasi rona merah samar saat melihat gumpalan mungil di atas dadanya. Bayi itu sudah tenang, sesekali mengeluarkan suara decapan kecil saat berusaha mencari puting ibunya. Bagas masih setia di sampingnya, mengusap pelipis Laras dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena sisa adrenalin.
"Bapak... Mamas mau lihat adek," suara Gilang memecah keheningan.
Bagas menoleh ke arah dua jagoannya yang sedari tadi mematung di sudut kamar. Ia tersenyum lebar, sebuah senyuman yang benar-benar lepas tanpa beban jabatan. "Sini, Mas Gilang, Dek Arka. Sini dekat Mamah. Tapi pelan-pelan ya, jangan berisik."
Gilang melangkah dengan sangat hati-hati, seolah takut langkah kakinya akan menggetarkan lantai. Arka mengekor di belakang, memegang ujung sarung Bagas dengan erat. Keduanya berdiri di samping ranjang, menatap makhluk kecil berkulit kemerahan yang dibungkus kain bedung putih bermotif awan biru—yang baru saja dibersihkan oleh Bu Siti.
"Mamah... adeknya kecil banget," bisik Arka cadel. Matanya yang bulat berkedip-kedip penuh rasa ingin tahu.
Laras tersenyum tipis, mengulurkan tangannya yang masih terasa berat untuk mengelus pipi Arka. "Iya, Sayang. Dulu Mas Arka juga kecil begini pas lahir."
Gilang tidak banyak bicara seperti adiknya. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap wajah adiknya yang masih terpejam erat. Ia melihat hidung adiknya yang bangir mirip sekali dengan Bapak dan jemari mungil yang sesekali bergerak di balik kain.
"Bapak, boleh Mamas cium?" tanya Gilang meminta izin.
"Boleh, Mas. Tapi pelan-pelan ya, adeknya masih baru banget ini," jawab Bagas lembut.
Gilang mendekatkan wajahnya. Dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh kasih sayang, ia mendaratkan sebuah kecupan di kening mungil adiknya. Sebuah kecupan yang sarat akan tanggung jawab seorang abang sulung.
"Adek jangan nakal ya..." bisik Gilang pelan, tepat di dekat telinga bayi itu. "Adek jangan bikin Mamah sakit lagi kayak tadi. Kasihan Mamah nangis-nangis. Nanti kalau adek sudah gede, kita main mobil-mobilan sama Mamas. Mamas punya banyak mobil warna merah."
Laras yang mendengar bisikan itu tak kuasa menahan air matanya. Ia terisak pelan, bukan karena sakit, melainkan karena haru melihat kedewasaan putra sulungnya. Bagas pun merangkul bahu Gilang dan Arka sekaligus, mendekap mereka ke dalam pelukannya di sisi ranjang Laras.
"Dengar ya, Gilang, Arka..." suara Bagas terdengar berat menahan emosi. "Mulai hari ini, kita bertiga punya tugas besar. Kita harus jaga Mamah, jaga adek juga. Mas Gilang sama Dek Arka sudah jadi abang sekarang. Harus jadi contoh yang baik, ya?"
"Iya, Bapak!" sahut Gilang mantap.
Arka yang merasa gemas mulai menjulurkan telunjuknya, menyentuh telapak tangan mungil si bayi. Secara ajaib, si bayi menggenggam telunjuk Arka dengan kuat.
"Bapak! Lihat! Adek pegang tangan Acka! Adek sayang Acka ya, Pak?" seru Arka kegirangan, tawanya meledak kecil di dalam kamar.
***
Setelah suasana sedikit lebih tenang dan anak-anak mulai sibuk bermain di dekat ranjang, Bidan Siti selesai membereskan peralatannya. Ia mendekati Bagas yang sedang membantu Laras minum air hangat.
"Pak Kades, bayinya sehat, beratnya 3,4 kg. Sudah dipikirkan namanya?" tanya Bu Siti sambil tersenyum.
Bagas menatap Laras. Dulu, saat Gilang dan Arka lahir, Bagaslah yang mendominasi pemberian nama. Ia ingin nama yang gagah, berwibawa, mencerminkan ambisinya. Namun kali ini, ia merasa tidak punya hak untuk memutuskan sendiri. Ia ingin nama ini menjadi tanda perdamaian dan penghargaan bagi wanita yang hampir menyerah di depannya tempo hari.
"Mas sudah siapkan beberapa opsi, Ras," ucap Bagas pelan sambil memegang tangan Laras. "Tapi Mas mau kamu yang pilih. Mas mau nama ini jadi janji Mas buat kamu dan keluarga kita."
Laras menatap suaminya dengan tatapan yang kini penuh kepercayaan. "Apa opsinya, Mas?"
Bagas menarik napas panjang. Ia sudah memikirkan ini matang-matang sejak malam keheningan mereka di sofa. Ia ingin menggabungkan akar budayanya yang kaku dengan kelembutan yang baru ia pelajari dari Laras.
"Mas terpikir nama 'Arshaka Ghalib Pramudya'," ucap Bagas mantap.
"Artinya apa, Mas?" tanya Laras, ia menyukai rima nama itu.
"Arshaka itu artinya murah hati dan jujur. Ghalib itu artinya pemenang atau yang selalu unggul. Dan Pramudya itu artinya bijaksana atau cerdas," Bagas mengusap rambut bayinya. "Mas ingin dia jadi pemenang, tapi bukan dengan cara yang keras atau egois seperti Mas dulu. Mas ingin dia menang dengan kejujuran dan kemurahan hati. Mas ingin dia jadi pengingat buat Mas, kalau kemenangan sejati itu bukan soal jabatan, tapi soal kebijaksanaan menjaga hati orang-orang yang dicintai."
Laras mengecap nama itu di lidahnya. Arshaka Ghalib Pramudya. Terasa kuat namun tetap anggun.
"Bagus, Mas. Laras suka," bisik Laras haru. "Tapi... boleh Laras tambah satu kata di belakangnya? Sebagai tanda kalau dia lahir dari perjuangan kita di tengah badai tadi?"
"Boleh, Ras. Apa?"
"'Arshaka Ghalib Pramudya Syailendra'. Syailendra itu nama penguasa yang membangun candi-candi indah di tanah kita. Tapi bagi Laras, itu simbol kalau cinta kita yang sempat retak, sekarang dibangun kembali jadi sesuatu yang kuat dan abadi,"
Laras menatap Bagas dalam-dalam.
Bagas tertegun. Ia mencium tangan Laras dengan takzim. "Nama yang indah, Ras. Arshaka Ghalib Pramudya Syailendra. Janji Mas, Mas akan jadi bapak yang jauh lebih baik buat Shaka, buat Gilang, dan Arka. Dan yang paling penting, Mas akan jadi suami yang selalu menghargai kamu, Larasati Pramudya."
Kamar itu kini penuh dengan harapan baru. Di luar, matahari mulai menembus awan kelabu, menyinari pepohonan yang masih basah. Badai telah benar-benar berlalu, meninggalkan pelangi di hati Bagas dan Laras yang kini telah menemukan kembali rumah mereka yang sesungguhnya.
Gilang dan Arka kembali mendekat, mencium pipi adek Shaka secara bergantian. Suara tawa anak-anak dan gumaman doa dari Bagas menjadi musik paling indah yang pernah didengar Laras seumur hidupnya.
****
Bersambung
ibu kepala desa hrse gk cm lahiran dirumah saja, hrse punya peran PKK, posyandu, trus ngajak ibu ibu kegiatan positive biar desa tambah Maju.