NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:17.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 32

***

Hujan yang tadinya mengguyur Desa Sukamaju perlahan berubah menjadi rintik tipis, menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Di dalam kamar utama rumah dinas, suasana ketegangan yang tadi memuncak kini mencair, digantikan oleh kehangatan yang luar biasa. Bau minyak kayu putih, aroma khas bayi baru lahir, dan sisa-sisa keringat perjuangan memenuhi udara.

Laras terbaring lemah namun tampak sangat tenang. Wajahnya yang pucat kini mulai dihiasi rona merah samar saat melihat gumpalan mungil di atas dadanya. Bayi itu sudah tenang, sesekali mengeluarkan suara decapan kecil saat berusaha mencari puting ibunya. Bagas masih setia di sampingnya, mengusap pelipis Laras dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena sisa adrenalin.

"Bapak... Mamas mau lihat adek," suara Gilang memecah keheningan.

Bagas menoleh ke arah dua jagoannya yang sedari tadi mematung di sudut kamar. Ia tersenyum lebar, sebuah senyuman yang benar-benar lepas tanpa beban jabatan. "Sini, Mas Gilang, Dek Arka. Sini dekat Mamah. Tapi pelan-pelan ya, jangan berisik."

Gilang melangkah dengan sangat hati-hati, seolah takut langkah kakinya akan menggetarkan lantai. Arka mengekor di belakang, memegang ujung sarung Bagas dengan erat. Keduanya berdiri di samping ranjang, menatap makhluk kecil berkulit kemerahan yang dibungkus kain bedung putih bermotif awan biru—yang baru saja dibersihkan oleh Bu Siti.

"Mamah... adeknya kecil banget," bisik Arka cadel. Matanya yang bulat berkedip-kedip penuh rasa ingin tahu.

Laras tersenyum tipis, mengulurkan tangannya yang masih terasa berat untuk mengelus pipi Arka. "Iya, Sayang. Dulu Mas Arka juga kecil begini pas lahir."

Gilang tidak banyak bicara seperti adiknya. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap wajah adiknya yang masih terpejam erat. Ia melihat hidung adiknya yang bangir mirip sekali dengan Bapak dan jemari mungil yang sesekali bergerak di balik kain.

"Bapak, boleh Mamas cium?" tanya Gilang meminta izin.

"Boleh, Mas. Tapi pelan-pelan ya, adeknya masih baru banget ini," jawab Bagas lembut.

Gilang mendekatkan wajahnya. Dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh kasih sayang, ia mendaratkan sebuah kecupan di kening mungil adiknya. Sebuah kecupan yang sarat akan tanggung jawab seorang abang sulung.

"Adek jangan nakal ya..." bisik Gilang pelan, tepat di dekat telinga bayi itu. "Adek jangan bikin Mamah sakit lagi kayak tadi. Kasihan Mamah nangis-nangis. Nanti kalau adek sudah gede, kita main mobil-mobilan sama Mamas. Mamas punya banyak mobil warna merah."

Laras yang mendengar bisikan itu tak kuasa menahan air matanya. Ia terisak pelan, bukan karena sakit, melainkan karena haru melihat kedewasaan putra sulungnya. Bagas pun merangkul bahu Gilang dan Arka sekaligus, mendekap mereka ke dalam pelukannya di sisi ranjang Laras.

"Dengar ya, Gilang, Arka..." suara Bagas terdengar berat menahan emosi. "Mulai hari ini, kita bertiga punya tugas besar. Kita harus jaga Mamah, jaga adek juga. Mas Gilang sama Dek Arka sudah jadi abang sekarang. Harus jadi contoh yang baik, ya?"

"Iya, Bapak!" sahut Gilang mantap.

Arka yang merasa gemas mulai menjulurkan telunjuknya, menyentuh telapak tangan mungil si bayi. Secara ajaib, si bayi menggenggam telunjuk Arka dengan kuat.

"Bapak! Lihat! Adek pegang tangan Acka! Adek sayang Acka ya, Pak?" seru Arka kegirangan, tawanya meledak kecil di dalam kamar.

***

Setelah suasana sedikit lebih tenang dan anak-anak mulai sibuk bermain di dekat ranjang, Bidan Siti selesai membereskan peralatannya. Ia mendekati Bagas yang sedang membantu Laras minum air hangat.

"Pak Kades, bayinya sehat, beratnya 3,4 kg. Sudah dipikirkan namanya?" tanya Bu Siti sambil tersenyum.

Bagas menatap Laras. Dulu, saat Gilang dan Arka lahir, Bagaslah yang mendominasi pemberian nama. Ia ingin nama yang gagah, berwibawa, mencerminkan ambisinya. Namun kali ini, ia merasa tidak punya hak untuk memutuskan sendiri. Ia ingin nama ini menjadi tanda perdamaian dan penghargaan bagi wanita yang hampir menyerah di depannya tempo hari.

"Mas sudah siapkan beberapa opsi, Ras," ucap Bagas pelan sambil memegang tangan Laras. "Tapi Mas mau kamu yang pilih. Mas mau nama ini jadi janji Mas buat kamu dan keluarga kita."

Laras menatap suaminya dengan tatapan yang kini penuh kepercayaan. "Apa opsinya, Mas?"

Bagas menarik napas panjang. Ia sudah memikirkan ini matang-matang sejak malam keheningan mereka di sofa. Ia ingin menggabungkan akar budayanya yang kaku dengan kelembutan yang baru ia pelajari dari Laras.

"Mas terpikir nama 'Arshaka Ghalib Pramudya'," ucap Bagas mantap.

"Artinya apa, Mas?" tanya Laras, ia menyukai rima nama itu.

"Arshaka itu artinya murah hati dan jujur. Ghalib itu artinya pemenang atau yang selalu unggul. Dan Pramudya itu artinya bijaksana atau cerdas," Bagas mengusap rambut bayinya. "Mas ingin dia jadi pemenang, tapi bukan dengan cara yang keras atau egois seperti Mas dulu. Mas ingin dia menang dengan kejujuran dan kemurahan hati. Mas ingin dia jadi pengingat buat Mas, kalau kemenangan sejati itu bukan soal jabatan, tapi soal kebijaksanaan menjaga hati orang-orang yang dicintai."

Laras mengecap nama itu di lidahnya. Arshaka Ghalib Pramudya. Terasa kuat namun tetap anggun.

"Bagus, Mas. Laras suka," bisik Laras haru. "Tapi... boleh Laras tambah satu kata di belakangnya? Sebagai tanda kalau dia lahir dari perjuangan kita di tengah badai tadi?"

"Boleh, Ras. Apa?"

"'Arshaka Ghalib Pramudya Syailendra'. Syailendra itu nama penguasa yang membangun candi-candi indah di tanah kita. Tapi bagi Laras, itu simbol kalau cinta kita yang sempat retak, sekarang dibangun kembali jadi sesuatu yang kuat dan abadi,"

Laras menatap Bagas dalam-dalam.

Bagas tertegun. Ia mencium tangan Laras dengan takzim. "Nama yang indah, Ras. Arshaka Ghalib Pramudya Syailendra. Janji Mas, Mas akan jadi bapak yang jauh lebih baik buat Shaka, buat Gilang, dan Arka. Dan yang paling penting, Mas akan jadi suami yang selalu menghargai kamu, Larasati Pramudya."

Kamar itu kini penuh dengan harapan baru. Di luar, matahari mulai menembus awan kelabu, menyinari pepohonan yang masih basah. Badai telah benar-benar berlalu, meninggalkan pelangi di hati Bagas dan Laras yang kini telah menemukan kembali rumah mereka yang sesungguhnya.

Gilang dan Arka kembali mendekat, mencium pipi adek Shaka secara bergantian. Suara tawa anak-anak dan gumaman doa dari Bagas menjadi musik paling indah yang pernah didengar Laras seumur hidupnya.

****

Bersambung

1
Heresnanaa_
okee kak, terimakasih atas sarannya 🙏😂
Lee Mba Young
bu kades gk KB ya,, walah gimana warganya kl niru. punya anak bnyak gk papa sih tp yo di beri jarak. ini kades mlh ngasih contoh warga nya gk bner. nnti kl ada penyuluhan KB gimana. apa masih primitive desa nya mkne gk pada KB hadechh
Heresnanaa_: oke kak, terimakasih atas sarannya 🙏
total 1 replies
Amiera Syaqilla
hi
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 😚🫶
total 1 replies
Aira Zaskia
Senang kalau bagas bisa mengerti laras,saling membantu mengurus rmh tangga,pak kades harus bangga dong baju hasil jahitan istri sendiri
Aira Zaskia
Suka banget sama keluarga ini,akhirnya bagas bisa lebih baik sekarang,selalu membantu laras dalm mengasuh ank maupun pekerjaan rmh tangga,makin hangat keluarga kecil ini
Rini Kartanti
baik sekali
MARWAH HASAN
ceritanya bagus loh
MARWAH HASAN
bagus ceritanya
Sri Jumiati
suami egois tdk memikirkan istrinya yg kelelahan
Lee Mba Young
ini istri kepala desa ne seriusan cm lahiran Dan dirumah saja. gk mimpin rapat PKK, posyandu, pengajian, dll🤣. ibu kepala desaku keren ternyata bisa urus rumah, bisa mengajak ibu ibu rumah tangga punya kegiatan walau kami di desa kecil deket hutan.
Lee Mba Young
Wanita hrs punya ketrampilan mumpung suami dukung. nnti kita gk tau apa yg terjadi apa lagi anakmu banyak kl laki ttp setia yo gk papa kl laki nnti lihat wanita yg lbih Pinter punya ketrampilan trus jatuh Cinta ya wasalam.
ibu kepala desa hrse gk cm lahiran dirumah saja, hrse punya peran PKK, posyandu, trus ngajak ibu ibu kegiatan positive biar desa tambah Maju.
Aira Zaskia
Semangat ras,lanjutkan impian mu,suami mu sudah mendukung & memberikan apa yg km impikan,bahagianya liat bagas sekarang sudah berubah,lebih menghargain istrinya
Aira Zaskia
Akhirnya adik mas gilang & mas arka udh lahir,senangnya kalau bagas sudah bisa mengerti gimana jadi saras selama ini ngurus 2 ank,ngurus suami dengan umur yg masih muda,thor pokoknya panjangin gk papa deh suka banget,boleh gk sih ngelunjak pengen double up🤭
Aira Zaskia
Lanjut thor ,karyamu bagus
arniya
lanjutkan lagi....
Lana Soemarno
lanjut tapi konfliknya jangan terlalu berat thor ...
Nik momRiz&Ga
lanjut thor,,, 😍
Aira Zaskia
Bentr thor tk kasih vote yah soalnya ceritanya bgus
Heresnanaa_: maaciw banyakkk pokoknya 😚😚❤️
total 1 replies
Aira Zaskia
Semoga ibu & bayi nya lahir dan selamat
Heresnanaa_: huhuhu❤️❤️
total 1 replies
Aira Zaskia
Padahal ceritanya bagus loh, kok pda gk komen ,aku aja suka banget
Heresnanaa_: heheh, yukk ramein 🤭😚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!