"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal dari Badai yang Sesungguhnya
Hujan badai menghantam atap joglo dengan dentuman yang tak kenal ampun, seolah langit sedang menabuh genderang perang.
Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu minyak temaram, hawa dingin dari luar seolah tak mampu menembus ketegangan yang menyelimuti Rasyid.
Ia duduk di tepi ranjang, bahu tegapnya sedikit membungkuk saat ia memeras waslap di dalam baskom berisi air hangat.
Wajah Rasyid yang seputih porselen tampak kaku. Dalam keremangan itu, kulit albinonya memantulkan cahaya lampu yang membuat sosoknya terlihat hampir transparan.
Ia melepaskan jubah hitam dan baju kokonya, menyisakan kaus oblong putih yang melekat ketat di tubuhnya, menonjolkan otot-otot yang menegang di balik kulit pucatnya.
Luka di bahunya berdenyut, namun ia tak peduli. Perhatiannya terkunci sepenuhnya pada Shanum yang terbaring di depannya dengan napas yang tersenggal.
Shanum demam tinggi. Keringat dingin membasahi pelipisnya, dan bibirnya yang pucat bergetar hebat.
Setiap kali guntur menggelegar di kejauhan, tubuh wanita itu tersentak, memicu reaksi trauma yang tampaknya terkubur jauh di dalam sarafnya.
Rasyid meletakkan waslap hangat di dahi Shanum. Jarinya yang panjang dan putih pucat tanpa sengaja bersentuhan dengan kulit Shanum yang membara.
Ia merasakan getaran itu—bukan sekadar demam fisik, tapi seperti ada badai besar yang sedang berkecamuk di dalam jiwa istrinya.
Di balik kelopak matanya yang tertutup rapat, dunia Shanum pecah menjadi fragmen-fragmen memori yang silau. Ia tidak lagi berada di kamar joglo yang hangat.
Ia berdiri di tengah aula yang begitu luas hingga suaranya bergema tanpa ujung.
Lantainya terbuat dari marmer putih Turki yang dipoles hingga mengilap seperti cermin, memantulkan pilar-pilar raksasa yang dihiasi ukiran emas murni.
Bau kemenyan mahal dan mawar Istanbul menyeruak, memenuhi indra penciumannya.
Shanum melihat dirinya sendiri sebagai anak kecil berusia sepuluh tahun. Ia mengenakan gaun sutra yang sangat berat, dengan bordiran benang perak yang membentuk motif-motif rumit.
Di depannya, di atas singgasana yang dinaungi tirai beludru merah, duduk sepasang suami istri.
Wajah mereka kabur, tertutup oleh cahaya yang sangat terang, namun Shanum bisa merasakan kasih sayang sekaligus beban yang amat berat memancar dari mereka.
Di belakang mereka, berdiri seorang kakek. Sosok itu jauh lebih muda dari Mr. Demir yang ia lihat di gedung pertemuan, namun tatapan matanya tetap sama—dingin, tajam, dan penuh pengabdian.
Sang kakek membungkuk rendah, lalu menyerahkan sebuah kotak kecil bermotif matahari pada Shanum kecil.
“Jangan pernah lepaskan ini, Tuan Putri,” suara sang kakek bergema di kepalanya.
Tiba-tiba, bayangan istana itu berubah menjadi gelap. Api mulai merayap di dinding marmer. Suara teriakan, denting pedang, dan bau darah menggantikan wangi mawar.
Shanum kecil berlari di tengah lorong-lorong rahasia, ditarik paksa oleh tangan-tangan yang tak ia kenal.
“Ayah! Ayah!” jerit Shanum dalam mimpinya.
Di dunia nyata, Rasyid tersentak saat tangan Shanum tiba-tiba mencengkeram lengannya dengan tenaga yang tak terduga.
Mata Shanum masih terpejam, namun air mata mulai mengalir di sudut matanya yang terkatup rapat.
Bibir Shanum bergerak. Suaranya sangat lirih, nyaris seperti desiran angin, namun setiap kata yang keluar membuat bulu kuduk Rasyid meremang.
“Baba... Sultanım... Lütfen beni bırakma...”(Ayah... Sultanku... Tolong jangan tinggalkan aku...)
Rasyid membeku. Suara Shanum bukan lagi suara wanita Jakarta yang ia kenal.
Intonasi dan pelafalannya menggunakan dialek Ottoman kuno—bahasa para bangsawan Turki berabad-abad lalu yang hanya dipelajari oleh para sejarawan dan ahli bahasa kelas atas.
Bagaimana mungkin seorang wanita yang dibesarkan di rumah bordil memiliki kemampuan linguistik seperti ini?
"Beni karanlıktan kurtar, Baba..." (Selamatkan aku dari kegelapan, Ayah...)
Gumam itu diakhiri dengan isakan yang menyayat hati sebelum akhirnya tubuh Shanum lemas kembali, jatuh ke dalam pingsan yang lebih dalam.
Rasyid menarik tangannya, menatap telapak tangannya sendiri yang bergetar.
"Zaki!" panggil Rasyid dengan nada yang tidak boleh dibantah.
Beberapa menit kemudian, Zaki sudah berada di ruang kerja pribadi Rasyid.
Ruangan itu penuh dengan tumpukan manuskrip kuno dan layar monitor yang menyala terang. Rasyid berdiri di depan jendela, menatap hujan sambil melipat tangannya di dada.
Cahaya monitor memantul di mata birunya, membuatnya tampak semakin dingin.
“Zaki, jalankan semua protokol penelusuran tingkat tinggi. Gunakan jaringan di Ankara yang kita punya,” perintah Rasyid tanpa menoleh.
“Cari tahu tentang insiden besar di Turki lima belas tahun yang lalu. Sesuatu yang melibatkan keluarga bangsawan atau orang-orang yang memiliki pengaruh politik luar biasa.”
Zaki mengangguk cepat, jari-jarinya menari di atas papan ketik. “Mas Kyai, saya sudah mencobanya sejak kita pulang dari gedung itu. Tapi...” Zaki terhenti, wajahnya menunjukkan kebingungan.
“Setiap kali saya memasukkan koordinat atau simbol tato itu ke dalam algoritma pencarian, sistem kita langsung dihantam oleh firewall militer. Ini bukan sekadar data yang disembunyikan, Mas. Ini data yang seolah... tidak boleh ada di dunia internet.”
Rasyid berbalik, wajah albinonya tampak sangat tajam di bawah lampu neon. “Artinya, kita tidak berhadapan dengan germo atau preman. Kita berhadapan dengan otoritas.”
Zaki menelan ludah. “Satu hal lagi, Mas. Saya menemukan aliran dana dari sebuah yayasan amal di Turki yang berhenti tepat lima belas tahun lalu. Nama yayasannya sudah dihapus, tapi ada satu kode yang tersisa: Samsun 101.”
Rasyid terdiam. Ia melangkah menuju sebuah lemari kayu tua di sudut ruangan.
Ia mengeluarkan sebuah kotak jati yang terkunci rapat—peninggalan almarhum ayahnya, Sang Kyai Besar.
Dengan jemari gemetar, Rasyid membuka kunci kotak itu dan mengeluarkan sepucuk surat yang kertasnya sudah mulai menguning.
Surat itu ditulis dalam bahasa Arab gundul bercampur sandi pesantren yang hanya diketahui oleh garis keturunan pemimpin mereka.
Rasyid membacanya dengan teliti hingga mencapai baris terakhir yang tertulis dengan tinta hitam pekat.
“Ketahuilah wahai putraku, Rasyid. Darahmu bukan hanya sekadar mengalirkan doa. Kamu adalah Singa dari Tanah Mesir yang takdirnya telah dituliskan sejak zaman para leluhur.”
“Kelak, saat badai datang, kamu akan menjadi perisai bagi 'Tuan Putri' dari kekaisaran Turki yang cahayanya mulai meredup.”
“Jangan biarkan bunga itu patah di tangan mereka yang haus kekuasaan. Jaga dia, karena di tangannya terletak kunci peradaban kita.”
Rasyid terduduk lemas di kursinya. Surat itu ditulis hampir tiga puluh tahun yang lalu. Bagaimana mungkin ayahnya bisa mengetahui takdir ini jauh sebelum Shanum dilahirkan? Kenapa ia disebut "Singa Mesir"? Dan apa hubungannya sejarah keluarganya dengan kekaisaran yang runtuh di tanah Turki?
"Mas Kyai? Anda baik-baik saja?" tanya Zaki khawatir.
Rasyid tidak menjawab. Ia menatap potongan-potongan puzzle di atas mejanya: sketsa tato di punggung Shanum, nama Baba Sultan, instruksi Mr. Demir, dan surat wasiat ayahnya.
Semuanya terasa seperti labirin yang dirancang untuk membuatnya gila.
Semakin ia mencoba menyusun gambaran utuhnya, semakin banyak lubang hitam yang muncul.
Ia bangkit dan kembali ke kamar. Shanum masih tertidur, napasnya kini lebih tenang namun wajahnya tetap menyimpan rahasia yang teramat berat.
Rasyid berlutut di samping tempat tidur, tangannya kembali mengusap rambut Shanum dengan lembut.
“Siapa kamu sebenarnya, Shanum?” bisik Rasyid. Mata birunya menatap dalam ke arah mata Shanum yang terpejam.
“Apakah aku sedang menyelamatkanmu, ataukah aku sedang menyeret kita berdua ke dalam perang yang tidak mungkin kita menangkan?”
Di luar, petir kembali menyambar, menerangi tato di punggung Shanum sekejap saja, seolah simbol itu memang hidup dan sedang menunggu waktu untuk meledakkan badai yang sesungguhnya.
Rasyid tahu, malam ini hanyalah awal dari kebenaran yang akan menghanguskan dunianya.