Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.
Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...
Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ludovic
Aku membuka mataku karena terik matahari yang menyilaukan kedua mataku, kutoleh kesamping, sontak aku bingung karena aku tengah terlentang di rerumputan luas tanpa satu bangunan pun. Apa aku sudah mati dan berada di surga?, aih pertanyaan yang konyol.
“Daddy, aku menemukan belalang”. Suara teriakan anak kecil mampu membuatku terbangun, benar memang ada seorang bocah yang tengah berlarian ke arahku.
“Hello!”. Aku berusaha menyapa bocah tadi, apa dia melihatku, tapi ia hanya melewatiku begitu saja seolah aku tidak ada disana. Aku masih tidak paham, kemudian aku berbalik badan mengikuti arah lari bocah tadi. Aku berkerut ketika melihat ternyata bocah tadi tidak sendirian, dia bersama dengan seorang pria tinggi dengan surai pirang, dari tampangnya saja sudah terlihat kalau dia orang-orang dari benua Amerika, kisaran umurnya entahlah, tiga puluh lebih mungkin. Aku menghampiri mereka, aku ingin bertanya sebenarnya tempat ini ada dimana.
“Aiden, letakkan kembali belalang itu”. Pinta pria surai pirang itu kepada bocah tadi yang kuduga sebagai anaknya. Oh, ternyata bocah tadi bernama Aiden.
“Bermainlah lagi!”. Titah pria tersebut, Aiden Si Bocah itu mengangguk dan ia berlari kembali menjelajahi tiap inci padang rumput ini, aku senang sebab Aiden tampak ceria.
“Hello sir”. Sapaku, ia menoleh kemudian terkekeh menatpku yang dibut bingung, mungkin dihadapannya wajahku tampak seperti orang bodoh.
“I am Jerry, don’t forget my name”. Ucapannya membuatku berkerut. “Aku tidak akan melupakan namamu kalau kau mau membantuku”. Batinku kesal.
“Tuan Jerry, saya Kaisar dari Indonesia, saya sedang bingung ini sebenarnya dimana?”. Jelasku diiringi pertanyaan, dia manggut-manggut pertanda dia paham.
“Kamu ada di suatu tempat, kalau memang ingin tau ayo ikut denganku”. Dia mengulurkan tangan kepadaku, sebenarnya aku tidak percaya kepadanya, namun tanpa kusadari aku membalas uluran tangannya. Detik berikutnya aku berada di suatu tempat tapi bukan rerumputan luas tadi, setelah kuamati ternyata aku tengah berada di mansion yang sangat besar, mataku mengerling menatap sekeliling mansion, dapat kulihat dengan jelas bendera Kanada berkibar disana.
“Aku ada di Kanada, bukankah aku sedang perjalanan menuju China dan ada pembajakan pesawat”. Gumamku. Bukannya terjawab kebingunganku, akan tetapi semakin dibuat bingung oleh kendaraan yang berlalu lalang. Aku menatap mobil hitam dengan logo kuda tersebut.
“Ini adalah keluaran terbaru dari Ferrari Testarossa satu bulan yang lalu”. Jelas Jerry kepadaku yang mampu membuat otakku dipenuhi ribuan bintang.
“Ini bukannya keluaran tahun 1980-an”. Batinku, tapi aku tidak berani mengutarakan komentar ini. Aku melihat sekeliling lagi, kedua netraku menangkap satu logo di lantai tertinggi mansion.
“Tuan Jerry, apa anda kepala keluarga Ludovic?”. Pertanyaanku hanya dibalas senyuman entah apalh itu artinya.
Ludovic bukankah itu keluarga yang sudah lenyap puluhan tahun lalu. Aku dan Tuan Jerry masuk ke dalam mansion, aku dibuat kagum oleh interior dan barang-barang di dalamnya. Sampai sejauh ini aku baru paham ternyata aku berada dalam mimpiku.
“Tidak akan ada yang bisa melihatmu kecuali aku”. Ujar Jerry, kami berdua bebincang-bincang di ruang tamu yang sangat besar dan mewah.
“Aiden, dia anak tunggalku, aku sangat khawatir kepadanya aku takut pada masa depan yang akan ia lalui untuk keluarga Ludovic ini, aku takut dia hidup tidak sesuai dengan harapanku”. Spontan aku terkekeh, tidak kusangka aku bisa berbicara dengan orang keluarga Ludovic.
“Memangnya apa hal yang membuatmu takut?”. Tanyaku. Dia pun menjawab pertanyaanku, ia mengatakan kalau banyak yang ia sembunyikan dari Axel selaku anak tunggalnya, banyak dari pihak lain yang ingin Keluarga Ludovic musnah, namun Jerry mengatakan sesuatu yang membuatku merangkai puzzle dari kode yang kudapatkan. Keluarga Youther merupakan keluarga yang selalu bekerja sama dengan Keluarga Ludovic. Ini puzzle yang kumaksud.
“Youther what is that?”. Tanyaku dalam hati, bukankah itu nama marga yang tersemat di nama Elisia, jelas sekali dia bukan dari keluarga biasa.
“Apa ada yang kau butuhkan, Kaisar”. Aku mengangguk, dan aku meminta satu notebook kecil untukku menulis catatan-catatan penting yang ada.
Hal pertama yang kutulis tentunya tentang keluarga Ludovic, dimana keluarga ini sudah tidak berdiri lagi di abad ke-20.
Jerry Ludovic
Axel Ludovic
Itulah yang kutulis di notebook, aku tertidur di kamar tamu yang memang sudah disiapkan sejak tadi, aku menghela napas pasrah melihat ranjang yang tidak empuk lagi. Mungkin ditahun ini sudah termasuk ranjang paling nyaman. Kurebahkan tubuhku di ranjang, pikiranku mulai mencerna keadaan saat ini, bagaimana dengan diriku di dunia nyata?. tidak terasa aku memejamkan mataku.
***
‘DOR, DOR’
Aku membuka mataku perlahan, awalnya hanya terlihat samar-samar, namun aku langsung tersentak ketika tau aku tengah berdiri, bukankah barusan aku tidur. Netraku menyapu seluruh pandangan, ternyata aku berada di arena berlatih menembak milik Keluarga Ludovic. Aku berkerut menatap pria muda bersurai hitam diiringi garis wajah tegas.
“Wajahnya tidak asing, siapa dia?”. Tanyaku dalam hati.
“Aiden, istirahatlah duu”. Suara itu bukankah suara Tuan Jerry. Jangan-jangan pria muda ini Aiden, why?, dia terlihat sangat dingin saat sudah dewasa, berbeda dengannya saat kecil. Aiden menghiraukan ucapan Tuan Jerry, aku menemukan perbedaan lagi, sungguh sekarang dia menjadi keras kepala.
“Aiden listen me”. Sentak Tuan Jerry.
“Dad, bukan aku tidak mau mendengarkanmu, tapi aku membuktikan kalau aku bisa”. Timpal Aiden.
“Jaga dirimu baik-baik, daddy akan berangkat”. Itulah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Tuan Jerry kepada Aiden. Sampai berhari-hari aku melihat kehidupan Aiden ketika ia sedang sendirian, hanya bisa berbaur dengan anak buahnya saja. Lambat laun Aiden memimpin keluarga Ludovic untuk sementara sebelum Tuan Jerry Ludovic datang.
Satu bulan berlalu Aiden menunggu namun hanya kenyataan pahit yang diterima oelh Aiden. Tuan Jerry dikabarkan meninggal dan tidak ditemukan jasadnya dimana, Aiden sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari namun nihil tak ditemukan, bahkan sempat mencari di daerah pegunungan Rocky. Hari yang dilalui Aiden semakin monoton dan suram. Dia berumur yang baru menginjak dewasa harus dituntut untuk memimpin keluarga Ludovic. Aku Kaisar, hanya bisa melihat kehidupannya, tanpa obrolan dengannya, Aiden sendiri tidak bisa melihat diriku.
Dalam diam aku bertanya, bagaimana bisa keluarga Ludovic menghilang?, apakah Aiden juga akan menemui ajalnya?.
Tiba-tiba penglihatanku menghitam, rasa sakit menjalar di sekujur tubuh, aku mengerang hebat serasa nyawa akan dicabut, jiwa ini akan ditarik. Entahlah keadaanku akan menjadi seperti apa.