NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Satu Kelompok Tugas Bersama

​"Takdir kadang suka bercanda. Ia mendekatkan raga kita hingga bahu kita nyaris bersentuhan, mengurung kita dalam satu ruang dan satu tujuan. Namun di saat yang sama, ia mengunci rapat bibirmu, membuktikan padaku bahwa jarak paling jauh di dunia ini bukanlah samudra, melainkan dua manusia yang duduk berdampingan namun menatap dunia yang sama sekali berbeda." (Buku Harian Keyla, Halaman 38)

​Bulan Oktober datang membawa angin kemarau yang terasa lebih kering dari biasanya. Debu-debu halus beterbangan di luar jendela kelas XII-IPA 1, sementara di dalam, suasana terasa tak kalah gersang. Hari ini, Bu Sri, guru Geografi kami yang terkenal sangat perfeksionis dan tak kenal ampun dalam memberikan nilai, baru saja menjatuhkan "bom" di tengah kelas.

​"Tugas akhir semester ini bukan sekadar makalah biasa. Ibu minta kalian membuat analisis demografi dan pemetaan sosial ekonomi di daerah kumuh pinggiran Jakarta. Lengkap dengan data statistik, wawancara warga, dan presentasi visual. Waktunya dua minggu dari sekarang. Ini akan menjadi lima puluh persen dari nilai rapor kalian!" pengumuman Bu Sri yang menggelegar langsung disambut paduan suara keluhan dan rintihan putus asa dari seluruh penjuru kelas.

​"Bu, masa harus ke daerah kumuh sih? Panas, Bu! Nanti kalau ada preman gimana?" rengek Bella yang langsung menenggelamkan wajahnya di atas meja.

​"Ini namanya observasi lapangan, Bella! Jangan manja jadi anak muda!" tegur Bu Sri tegas. "Dan untuk kelompoknya, Ibu tidak mau kalian memilih sendiri karena ujung-ujungnya pasti yang pintar berkumpul dengan yang pintar. Siska, sebagai sekretaris kelas, Ibu tugaskan kamu untuk membagi kelompoknya secara adil. Satu kelompok empat orang. Serahkan daftarnya ke meja Ibu sebelum bel istirahat."

​Siska mengangguk patuh dengan senyum sopannya yang biasa. "Baik, Bu. Akan saya bagi secara merata."

​Jantungku tiba-tiba berdetak satu ketukan lebih cepat. Mataku tak sengaja melirik punggung Rendi di sudut belakang kelas. Tugas kelompok. Ke luar sekolah. Mengumpulkan data lapangan. Bagaimana Rendi bisa melakukan semua ini? Waktunya habis untuk bekerja. Ia menjadi kuli panggul dan tukang cuci piring hingga dini hari. Jika ia harus ikut observasi lapangan, ia harus mengorbankan jam kerjanya. Dan mengorbankan jam kerjanya berarti mengorbankan uang makan untuk Nanda di panti asuhan.

​Aku menggigit bibir bawahku, merasa cemas membayangkan beban baru yang akan menghancurkan jadwal ketat laki-laki itu.

​Saat jam pelajaran Bu Sri selesai dan berganti jam kosong sebelum istirahat, Siska berdiri di depan kelas dengan selembar kertas folio. Kelas mendadak riuh, semua orang sibuk meneriakkan nama teman-teman yang ingin mereka tarik ke dalam kelompok. Namun Siska dengan tenang mengetukkan spidol ke papan tulis, menuntut perhatian.

​"Teman-teman, aku udah buat daftarnya berdasarkan nilai ujian Geografi bulan lalu, biar semua kelompok punya anggota yang bisa diandalkan," ucap Siska dengan suaranya yang lembut namun mendominasi. Ia mulai membacakan daftar itu.

​Lidya dan Bella berada di kelompok tiga bersama Reza dan Doni. Mereka langsung bersorak memprotes karena harus menanggung dua anak laki-laki paling malas di kelas.

​"Siska! Masa gue disatuin sama si Reza sih? Yang ada gue doang yang ngerjain nanti!" protes Lidya nyaring.

​"Maaf, Lid. Kan nilainya harus seimbang," jawab Siska dengan senyum malaikatnya yang tak terbantahkan. Lalu, matanya melirik ke arahku sejenak, sebuah kilatan aneh melintas di balik lensa kacamatanya.

​"Kelompok tujuh..." Siska menjeda kalimatnya, suaranya sedikit mengalun. "Aku, Keyla, Maya, dan... Rendi."

​Deg.

​Napas tertahan di pangkal tenggorokanku. Mataku terbelalak menatap Siska yang kini berjalan kembali ke mejanya di depanku dengan ekspresi sangat tenang. Aku satu kelompok dengan Rendi? Dari puluhan kombinasi nama di kelas ini, Siska menempatkanku dalam satu kelompok dengannya?

​Siska duduk di kursinya, memutar tubuhnya menghadapku. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik pelan, sebuah bisikan yang terdengar seperti bentuk dukungan terbesar seorang sahabat.

​"Aku tau kamu pasti seneng banget, Key," bisik Siska sambil tersenyum simpul, matanya menatapku lekat-lekat. "Aku sengaja masukin dia ke kelompok kita. Ini kesempatan kamu buat deket sama dia. Biar dia sadar kalau kamu itu selalu ada buat dia. Kamu hutang budi sama aku, ya."

​Aku menelan ludah. "T-tapi Sis... tugas ini kan harus observasi ke luar. Rendi... dia kan kerja."

​Siska menghela napas, mengusap punggung tanganku dengan lembut. "Itulah gunanya kerja kelompok, Keyla. Kita lihat seberapa besar dia mau berusaha. Kalau dia memang cowok yang bertanggung jawab, sesibuk apa pun dia, dia akan luangkan waktu. Kalau dia lepas tangan, berarti dia memang pengecut yang nggak pantes buat kamu tangisi. Anggap aja ini ujian buat dia."

​Kata-kata Siska terdengar sangat masuk akal, tapi entah mengapa ada hawa dingin yang merayap di tengkukku. Siska tidak sedang memberiku kesempatan; ia sedang menyusun sebuah skenario. Ia tahu persis bagaimana kerasnya hidup Rendi, dan ia sengaja menempatkan Rendi di posisi yang sulit untuk membuktikan padaku bahwa Rendi adalah laki-laki yang tidak bisa diandalkan.

​Aku memutar pandanganku ke belakang. Rendi duduk mematung. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga urat-urat di lehernya terlihat menonjol. Mata elangnya menatap tajam ke arah papan tulis tempat daftar nama itu ditempel. Ia terlihat seperti sedang menghitung mundur waktu menuju kehancurannya sendiri.

​"Ayo kita kumpul bentar, bagi-bagi tugas," ajak Siska riang, memanggil Maya yang duduk di seberang barisan untuk bergabung di meja kami.

​Siska lalu berdiri, berjalan ke meja Rendi. "Rendi, bisa gabung ke depan sebentar? Kita mau bahas observasi," panggil Siska dengan nada formal.

​Rendi menatap Siska dengan pandangan yang sedingin es. Tidak ada kata-kata. Ia hanya bangkit berdiri, membawa buku catatannya, lalu berjalan menghampiri meja kami. Ia menarik sebuah kursi kosong dan duduk di ujung, menjaga jarak sejauh mungkin dariku dan Siska.

​Aroma sabun murahan dan keringat peluh samar menyapa indra penciumanku. Keberadaannya di jarak sedekat ini membuat ritme jantungku kembali kacau. Aku menunduk, tak berani menatapnya secara langsung.

​"Oke, karena waktunya cuma dua minggu, kita harus gerak cepat," Siska memulai diskusi layaknya seorang manajer proyek. "Gimana kalau kita bagi tugas? Observasinya kita lakuin hari Sabtu ini dari pagi sampai sore. Aku udah cari daerah sasarannya, di kampung pinggiran dekat rel kereta api stasiun lama. Kita harus turun langsung ke sana buat wawancara."

​Maya mengangguk setuju. "Sabtu aku bisa. Tapi agak sore aku harus les."

​"Nggak apa-apa, sore kita udah balik kok buat nyusun laporannya bareng-bareng di cafe biasa," lanjut Siska. Lalu, ia menoleh sepenuhnya pada Rendi. "Gimana dengan kamu, Ren? Sabtu dari jam delapan pagi sampai jam empat sore bisa kan?"

​Keheningan seketika menyergap meja kami. Rendi menatap kertas folio di atas meja dengan tatapan kosong yang mematikan. Tangannya yang besar dan kasar—tangan yang tempo hari tak sengaja menyentuhku—mengepal kuat di atas pangkuannya.

​Ia tidak langsung menjawab. Tarikan napasnya terdengar berat. Baginya, hari Sabtu bukanlah hari libur. Hari Sabtu adalah hari di mana pasar induk paling ramai, dan hari di mana bayaran kuli panggulnya bisa dua kali lipat lebih besar.

​"Saya nggak bisa," ucap Rendi akhirnya. Suaranya serak, rendah, dan sangat datar.

​Siska mengerutkan kening, memasang wajah kecewa yang dibuat-buat. "Nggak bisa gimana, Ren? Ini tugas kelompok, lho. Nilainya lima puluh persen dari rapor. Masa kamu mau lepas tanggung jawab gitu aja? Kita semua juga punya kesibukan."

​Aku merasa dadaku sesak mendengar nada menyudutkan Siska. Aku tahu kenapa ia tidak bisa. Aku tahu Rendi sedang menahan harga dirinya yang terluka karena harus dipaksa bernegosiasi soal waktu yang ia tukar dengan nyawa adiknya.

​"Saya kerja," jawab Rendi singkat, tanpa berniat menjelaskan lebih detail. Ia menatap Siska dengan pandangan dingin yang tak tertembus. "Saya nggak bisa observasi ke lapangan dari pagi sampai sore. Kasih saya bagian tugas yang bisa dikerjakan malam hari di rumah. Saya yang akan kerjakan bagian penyusunan data dan hitungan statistiknya."

​"Tapi Ren, Bu Sri mintanya kita semua turun ke lapangan buat wawancara. Kalau nanti ditanya buktinya gimana? Kamu kan laki-laki satu-satunya di kelompok ini, masa kamu ngebiarin tiga cewek masuk ke daerah kumuh tanpa ada yang jagain?" cecar Siska. Senyum malaikatnya hilang, digantikan oleh argumen logis yang sengaja dirancang untuk memojokkan Rendi.

​"Sis, udah..." potongku refleks. Suaraku sedikit bergetar karena tak tahan melihat raut wajah Rendi yang semakin memucat.

​Aku memberanikan diri menatap Rendi. "Nggak apa-apa, Ren. Kamu nggak perlu ikut ke lapangan kalau emang jadwal kerjamu nggak bisa ditinggal. Aku, Siska, sama Maya yang akan cari datanya dan lakuin wawancara. Nanti semua datanya aku kasih ke kamu, biar kamu yang olah laporannya."

​Siska menoleh padaku dengan tatapan tak percaya. "Keyla! Kamu kok malah belain dia sih? Ini tugas kelompok!"

​"Ini adil kok, Sis," balasku cepat, menatap Siska dengan ketegasan yang jarang kutunjukkan. "Ngelah data statistik dan bikin pemetaan itu bagian yang paling pusing dan butuh waktu lama. Kalau Rendi mau ambil bagian itu, itu udah lebih dari cukup. Kita bagi tugas sesuai kondisi masing-masing aja."

​Rendi menoleh ke arahku. Mata kelamnya menatapku. Untuk kesekian kalinya, ia mencari-cari tatapan iba di mataku. Ia mencari rasa kasihan seorang gadis kaya kepada pemuda miskin yang tak punya waktu luang. Namun, seperti yang sudah kuikrarkan, aku tak memberikannya hal itu. Aku menatapnya dengan netral, memancarkan dukungan yang tanpa syarat.

​Ia tidak mengucapkan terima kasih. Ia memutus pandangan kami, kembali menatap Siska. "Saya akan selesaikan semua pengolahan datanya tepat waktu. Serahkan data mentahnya ke saya paling lambat hari Senin."

​Setelah mengucapkan kalimat final itu, Rendi berdiri. Ia tidak menatap kami lagi, langsung kembali ke bangkunya di sudut belakang, menenggelamkan kepalanya ke lipatan lengan, menolak untuk berdiskusi lebih jauh.

​Siska menatap punggung Rendi dengan rahang mengeras, lalu beralih menatapku. "Kamu terlalu baik, Key. Kamu biarin dia manfaatin kamu."

​"Nggak ada yang manfaatin siapa-siapa, Sis. Kita cuma kerja sama," bantahku pelan, kembali menunduk membaca bukuku.

​Siska tak membalas lagi, namun tangannya meremas pulpennya dengan sangat kuat. Rencana Siska untuk membenturkan Rendi dengan jadwalnya gagal karena aku memilih untuk menjadi tameng bagi laki-laki itu.

​Hari-hari berikutnya adalah simulasi dari sebuah ironi yang menyiksa. Kami berada dalam satu kelompok, yang mengharuskan kami untuk lebih sering berkomunikasi, namun pada kenyataannya, kebersamaan itu justru semakin memperjelas betapa tingginya dinding es yang Rendi bangun di sekelilingnya.

​Setiap kali ada jam kosong yang kami gunakan untuk menyusun kerangka tugas, Rendi akan bergabung di meja kami. Namun keberadaannya layaknya sebuah mesin robot. Ia datang, membaca data yang kami kumpulkan, lalu mulai menulis dengan kecepatan dan fokus yang sangat mengerikan.

​Ia mengabaikan pesonaku seutuhnya. Ia tidak pernah memulai percakapan jika tidak ditanya. Ia tidak pernah memandang wajahku saat berbicara, selalu menatap kertas atau buku referensi.

​"Rendi, ini kurva pertumbuhan penduduknya grafiknya mending pakai yang pie chart atau garis biasa?" tanyaku suatu siang, berusaha membangun interaksi yang natural. Aku menyodorkan selembar kertas ke arahnya, jarak kami sangat dekat hingga ujung seragam lenganku menyentuh lengannya.

​Ia tidak menoleh. Ia hanya melirik kertas itu sekilas. "Garis biasa. Lebih mudah baca trennya." Suaranya datar, tanpa emosi, dan segera kembali fokus pada hitungan kalkulator di tangannya.

​"Oh, oke," gumamku pelan, menarik kembali kertasku dengan perasaan hampa.

​Siska yang duduk di hadapanku menatap interaksi itu dengan senyum miring yang tersembunyi. "Rendi kalau ngerjain tugas serius banget ya. Padahal Keyla udah dandan cantik loh hari ini, pakai parfum baru lagi. Nggak kecium ya, Ren?" sindir Siska dengan nada yang seolah bercanda.

​Rendi berhenti menulis. Ia meletakkan pulpennya. Suasana mendadak kaku. Ia mengangkat wajahnya, menatap Siska dengan sorot mata yang membuat udara di sekitar kami membeku.

​"Saya di sini untuk mengerjakan tugas, bukan untuk menilai penampilan seseorang," jawab Rendi dengan nada suara yang sangat dingin dan merendahkan. "Kalau kalian mau bahas hal yang tidak penting, saya permisi. Data ini bisa saya kerjakan di tempat lain."

​Tanpa menunggu persetujuan, Rendi meraup seluruh kertas folio berisi data mentah kami, lalu beranjak pergi menuju perpustakaan, meninggalkan kami dalam keheningan yang mencekik.

​Aku menunduk, menyembunyikan mataku yang tiba-tiba memanas. Rasanya seperti ditampar. Kata-kata kasarnya tidak ditujukan padaku, tapi tetap saja mengena tepat di ulu hatiku. Aku tahu Siska sengaja memancingnya, dan aku kembali menjadi korban dari harga diri Rendi yang tersentil.

​"Lihat kan, Key?" bisik Siska pelan. Siska mengulurkan tangannya, mengelus bahuku. "Dia nggak peduli kamu ada di sini. Bagi dia, kamu itu nggak lebih dari sekadar nama di daftar kelompok. Dia sama sekali mengabaikan pesona kamu. Padahal di luar sana, Indra rela nungguin kamu berjam-jam cuma buat ngeliat kamu senyum."

​"Sis, tolong jangan mulai lagi," pintaku dengan suara parau. Aku tak ingin mendengar ceramahnya hari ini. Dadaku sudah terlalu sesak.

​"Aku cuma ngomong fakta, Keyla," suara Siska tetap lembut, tapi tekanannya menguat. "Kamu itu bagaikan berlian, Key. Kamu bersinar. Tapi kamu maksa buat naruh berlian itu di lumpur yang kotor dan dingin. Selama apa pun kamu nunggu, lumpur itu nggak akan pernah ngasih kamu kehangatan. Dia justru akan bikin kamu ikut kotor dan tenggelam."

​Aku bangkit dari kursiku. "Aku mau ke toilet bentar," potongku cepat, berlari keluar kelas sebelum air mataku benar-benar tumpah di depan Siska.

​Aku berlari menyusuri koridor, masuk ke dalam bilik toilet dan menguncinya dari dalam. Aku duduk di atas kloset yang tertutup, memeluk lututku sendiri dan menangis dalam diam.

​Siska benar. Semuanya benar. Proksimitas fisik yang terjadi karena tugas kelompok ini sama sekali tidak mendekatkan hati kami. Justru, kedekatan ini semakin menunjukkan dengan brutal betapa tidak pentingnya diriku di mata Rendi.

​Saat aku berada di dekatnya, aku bisa melihat dengan sangat jelas urat-urat kelelahan di lehernya. Aku bisa melihat bekas tinta yang menempel di sela-sela jarinya yang kasar. Aku bisa mendengar deru napasnya yang terkadang tersendat karena menahan kantuk.

​Namun di saat yang bersamaan, aku menyadari bahwa aku tidak punya hak untuk menghapus noda tinta itu. Aku tidak punya hak untuk memijat bahunya yang lelah. Aku hanya diizinkan untuk melihatnya menghancurkan dirinya sendiri dari jarak setengah meter, tanpa boleh menyentuhnya.

​Ini adalah siksaan yang paling sempurna.

​"Berada dalam satu kelompok denganmu ternyata lebih menyakitkan daripada melihatmu dari kejauhan. Dari jauh, aku bisa berkhayal kau sedang menatapku. Namun dari dekat, kau dengan sadar menunjukkan padaku bahwa aku hanyalah udara hampa yang tak layak mendapatkan walau hanya secarik perhatianmu." (Buku Harian Keyla, Halaman 40)

​Puncak dari tugas kelompok itu terjadi di hari Senin minggu depannya, tiga hari sebelum deadline pengumpulan.

​Sesuai janjinya, Rendi telah menyelesaikan seluruh pengolahan data statistik dan pemetaan gizi daerah kumuh tersebut. Laporannya ditulis tangan dengan sangat rapi, terstruktur, dan analisisnya begitu tajam hingga aku yakin Bu Sri tidak akan menemukan celah untuk protes. Rendi menyerahkan tumpukan kertas itu di mejaku pada pagi hari sebelum kelas dimulai, lalu kembali tidur di bangkunya.

​Aku, Siska, dan Maya bertugas merapikan laporan itu ke dalam folder dan menambahkan beberapa foto observasi lapangan yang kami jepret di hari Sabtu—hari di mana Rendi mati-matian mengangkut berkarung-karung beras di pasar induk.

​Saat istirahat kedua, aku duduk sendirian di kelas untuk menyelesaikan bagian daftar isi. Tiba-tiba, Rendi terbangun. Ia bangkit dari kursinya, berjalan mengambil tas ranselnya, dan hendak keluar kelas.

​Namun langkahnya sedikit goyah. Ia memegangi pelipisnya sejenak, wajahnya pucat pasi, jauh lebih pucat dari hari-hari sebelumnya. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya.

​"Rendi?" panggilku, lupa pada janjiku untuk tak mengganggunya. Aku berdiri refleks. "Kamu sakit? Muka kamu pucat banget."

​Ia berhenti, menoleh sedikit ke arahku. Bibirnya kering dan pecah-pecah. "Saya nggak apa-apa," jawabnya parau.

​Namun saat ia melangkah lagi, keseimbangannya hilang. Ia sedikit terhuyung ke samping, bahunya menabrak bingkai jendela dengan cukup keras. Tas ranselnya merosot dari bahunya dan jatuh ke lantai.

​"Rendi!" Aku setengah berlari menghampirinya. Tanpa berpikir panjang, tanganku terulur menangkap lengannya sebelum ia benar-benar jatuh ke lantai.

​Suhu tubuhnya... Ya Tuhan. Ia tidak lagi sedingin es. Tubuhnya terbakar. Hawa panas menyengat dari balik kemeja lusuhnya. Ia demam tinggi.

​Rendi tersentak kaget saat tanganku menyentuh lengannya. Ia mencoba menarik tangannya, menolak sentuhanku layaknya binatang buas yang sedang terluka. "Lepas," desisnya lemah namun penuh penolakan. "Saya bisa jalan sendiri."

​"Kamu demam tinggi, Ren! Tubuh kamu panas banget," suaraku bergetar, separuh memohon, separuh panik. Aku mengabaikan usahanya untuk melepaskan diri dan justru mengeratkan peganganku pada lengannya. "Tolong, biarin aku bantu kamu ke UKS. Sekali ini aja, jangan nolak."

​Mata kelamnya menatapku. Ada perang antara harga diri dan ketidakberdayaan fisik di sana. Napasnya memburu. Ia menatap wajahku yang memohon dengan mata berkaca-kaca, lalu perlahan, ia memejamkan matanya, seolah menyerah pada rasa sakit yang menghantam tubuhnya.

​Ia berhenti menepis tanganku. Tubuhnya yang besar dan berat mulai bertumpu sedikit padaku.

​Dengan susah payah, aku membantunya berjalan menyusuri koridor yang untungnya sedang sepi menuju UKS. Aku membiarkan sebagian beban tubuhnya bersandar padaku. Wangi keringatnya, suhu badannya yang panas, dan deru napasnya yang mengenai puncak kepalaku... semuanya terasa sangat menyesakkan dada, tapi di saat yang sama, ini adalah jarak paling dekat yang pernah kumiliki dengannya.

​"Kau meruntuhkan tembokmu sebentar hanya karena tubuhmu tak lagi sanggup menopangnya. Ironis, aku harus mensyukuri rasa sakitmu agar aku bisa memelukmu sesaat, menuntunmu ke tempat bernaung." (Buku Harian Keyla, Halaman 42)

​Di dalam UKS, aku membaringkannya di atas brankar berseprai putih. Ia langsung memejamkan mata, memeluk dirinya sendiri karena menggigil hebat. Aku menarik selimut tebal dan menutupi tubuhnya. Aku mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air hangat, dan meletakkannya di dahi Rendi dengan gerakan selembut mungkin agar tak mengejutkannya.

​Rendi tidak menolak. Ia terbaring lemah, terlalu sakit untuk memasang topeng angkuhnya.

​Aku duduk di kursi kecil di samping brankar, menatap wajahnya yang sedang tertidur dengan dada naik turun menahan demam. Tangan kananku perlahan terulur. Ujung jariku menyentuh punggung tangannya yang tergeletak lemas di luar selimut. Kasar, penuh kapalan, namun kali ini terasa sangat panas.

​Aku tidak menggenggamnya, aku hanya membiarkan ujung jariku bersentuhan dengan kulitnya.

​"Rendi..." bisikku sangat pelan, memastikan ia tidak mendengarnya dalam tidurnya. Air mataku akhirnya jatuh, menetes mengenai selimut putih UKS. "Kenapa kamu harus mikul semuanya sendirian? Kalau kamu bagi bebanmu sedikit aja ke aku... aku rela menukarnya dengan apa pun."

​Namun, di sela-sela rintihannya yang pelan akibat demam, jawaban Rendi atas pertanyaan bisuku sudah sangat jelas. Ia tidak akan pernah mau berbagi beban. Dan tugasku, meski harus terus terluka karena kebisuan dan pengabaiannya dalam tugas kelompok kami, adalah memastikan ia tetap bisa bertahan hidup.

​Aku menghapus air mataku. Hari ini, di ruang UKS yang hening ini, aku menemukan secercah kenyataan pahit. Cintaku padanya bukan lagi soal memiliki. Cintaku padanya telah bermutasi menjadi sebuah pengabdian diam-diam, tanpa mengharapkan apa pun kembali.

1
Yuni Uni
bagus banget ceritanya kak ,,,,,,kayak zaman sma zamanku dulu
semangat ya kak
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!