"Akan ku gunakan kekuatanku untuk melindungi orang-orang. Meskipun aku harus meminjam kekuatan dari iblis sekalipun."
Bercerita tentang seorang yang menjalani reinkarnasi disebuah dunia fantasi dimana sihir, legenda, dan mahluk mitologi adalah sebuah hal yang biasa ditemui sehari-hari.
Dengan harapan menjalani kehidupan yang aman dan nyaman, ia menjalani hari sebagai pahlawan tanpa tanding, seseorang yang "tak terkalahkan".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Atmareja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20 Misi | Wanita | Penyelamatan (2)
Dengan hati-hati aku menyelinap diantara tiang-tiang dan berlari menuju ke arah kamarku. Perlahan aku membuka pintu dan kemudian masuk kedalam kamar. Aku menutup pintu kemudian menghela nafas.
"Huuufff…. hari yang melelahkan."
Aku memutar tubuhku dan pandanganku tertuju pada tempat tidurku. Biasanya aku langsung melemparkan diri ke atasnya. Namun kali ini aku melihat seperti ada seseorang yang sedang tertidur pulas diatasnya.
Sepertinya aku tahu itu siapa.
Aku menghela nafas.
Aku mendekati tempat tidur ku dan perlahan mendekati sosok yang sedang tertidur tersebut. Aku menarik selimut yang menutupi sebagian wajahnya dengan perlahan.
Benar saja. Cordelia sedang tertidur lelap diatas tempat tidurku.
Aku tertegun sejenak. Aku memutuskan untuk membiarkannya dan masuk ke kamarku mandi.
***
Di Dalam kamar mandi.
Aku menenggelamkan tubuhku di dalam bak mandi.
Di dunia ini segalanya tentang sihir. Untuk menghangatkan air di dalam bak, kita hanya harus memasukan batu sihir api ke dalam bak mandi. Batu sihir semacam ini di jual bebas di pasaran. Namun karena harganya yang mahal,hanya kaum bangsawan dan keluarga kaya saja yang memilikinya.
"Akhirnya aku bisa bersantai di dalam bak mandiku sendiri."
Aku bergumam disertai senyuman di wajahku.
Aku berpikir tentang menemui keluarga Leon. Aku sama sekali tidak mengenal mereka. Apakah aku harus mencari informasi tentang mereka? Atau aku menyelinap masuk saja ke kediaman mereka? Aku yakin aku tidak akan tertangkap. Tunggu, apakah aku punya skill yang bisa digunakan?
"Seperti anda memilikinya tuan. Ada skill shadow assassin dan Stealth mode."
"Ooh menarik. Bisa kau jelaskan!"
"Shadow Ninja. Dengan mengaktifkan skill ini, anda akan memiliki skill layaknya seorang ninja. Anda bisa menyelinap, menyergap ataupun membunuh. Sedangkan Stealth mode adalah skill dimana anda menghapus keberadaan anda dari pandangan musuh. Menggunakan kekuatan sihir untuk membuat anda tidak terlihat."
"Sepertinya aku bisa melakukannya."
***
Jalanan ibu kota.
Aku menggunakan Stealth mode, berjalan dengan santai tanpa ada yang melihatku. Sepertinya begitu.
Karena hari masih sore, aku ingin berjalan-jalan sebentar.
Banyak hal yang belum kulihat, sementara aku terus berjalan tanpa arah dan kadang harus menghindari tabrakan dengan orang yang berlalu lalang.
"Baiklah ini cukup mengesankan."
Aku melompat ke atas atap salah satu bangunan di pinggir jalan. Aku melompati atap satu demi satu menuju kediaman keluarga Ramvoldus.
***
Aku kembali masuk ke kamarku.
"Uuuhhh Milo sayang."
Tubuhku terasa dingin, rupanya Cordelia sedang asik dalam mimpinya.
Aku menonaktifkan skill Stealth mode.
"Cordelia... Cordelia."
Aku menggoyangkan tubuh Cordelia
"Hei Cordelia, bangun!"
"Uuhhhh,,,"
Cordelia perlahan membuka matanya.
"Aaahh Milo sayang."
Dia menjulurkan tangannya seperti seseorang yang meminta pelukan.
Aku mundur beberapa langkah.
"Jahat! jahat! Jahat!"
"Aaah sudahlah, cepat mandi sana. Lantas apa yang kau lakukan di atas tempat tidurku?"
"Tentu saja aku tidur."
Dia menjulurkan lidahnya, menggodaku.
Aku menghela nafas.
"Cepatlah, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu. Jadi cepatlah bangun dan mandi!"
Aku mengiming-imingi nya dengan hal itu.
"Baiklah Milo sayang."
Dia Pun pergi dengan ekspresi genitnya. Meninggalkan ku yang lagi-lagi menghela nafas.
***
"Kita mau kemana Milo?"
"Makan, aku ingin mengajakmu makan malam."
"Apa??? Kencan? Ini kencan bukan?"
"Begitulah. Tapi kalau kau tidak mau kita bisa kembali."
"Tidak-tidak, ayo kita pergi."
Dia meraih tanganku, dadanya menempel di lenganku. Sensasi yang luar biasa.
Mungkin sedikit terlihat aneh, aku yang berusia lebih muda juga memiliki tinggi badan yang lebih pendek darinya berjalan dengan mesra layaknya pasangan kekasih.
Sepanjang perjalanan, banyak mata yang menatap kami. Dan beberapa diantaranya berbisik cukup keras untuk ku dengar. Aku mengabaikan semua itu, begitu juga Cordelia.
Kami tiba di sebuah restoran. Terlihat cukup bagus meskipun bukan restoran elit.
"Kalau disini bagaimana?"
"Boleh, aku bisa makan dimanapun selama itu masih bersama mu."
"Baiklah kalau begitu."
***
"Anda mau pesan apa tuan dan nona?"
"Aku pesan makanan yang paling enak disini."
"Baiklah kalau begitu, lalu untuk minumannya?"
"Bawakan kami yang lembut. Terimakasih."
"Harap menunggu sebentar, permisi."
Aku merasa gugup. Ini pertama kalinya aku kencan.
"Kau terlihat pucat Milo sayang."
"Aaah tidak apa-apa."
"Hey lihat pasangan itu. Apakah itu kakaknya?"
"Sepertinya aku pernah melihatnya."
Seorang laki-laki dengan pakaian bagus menghampiri kami.
"Heyyy cantik, apakah kau sedang jalan-jalan bersama adikmu ini? Mau ku temani?"
"Maaf saja, dia bukan adikku, dia tunanganku."
"Ooohhh begitu. Hey kalian lihat! Anak ini tunangan nya."
Dia berbicara pada tiga temannya dengan nada mengejekku.
"Apakah itu masalah untukmu? Dia usianya lebih muda darimu, tapi dia lebih pintar, tampan dan lebih kuat darimu."
"Apaaa kau bilang?"
"Dia bilang aku lebih kuat darimu."
"Hahaha, jangan bercanda anak kecil."
"Aku bukan anak kecil. Aku seorang petualang. Jika kau merasa sanggup mengalahkan ku, ayo kita buktikan diluar."
"Kauu!!! Kurang ajar. Ayo kita keluar."
Kami semua keluar.
bammmm…
Tak lama kemudian perkelahian pun selesai dalam waktu singkat. Mereka semua meringis kesakitan. Aku sengaja tidak memakai kekuatan berlebih.
"Ingatlah wajahku ini, jika kalian melihatku lagi, larilah.
"Akan ku balas kau nanti."
Mereka kemudian berlari tunggang langgang.
Aku kembali masuk restoran.
"Sayangku memang hebat."
"Mereka saja yang terlalu lemah."
"Tuaan mohon maaf, anuuu."
"Aku mengerti, aku akan membayar makan mereka semua."
"Terima Kasih tuan, anda sangat murah hati."
***
"Cordelia, apakah kau tahu kenapa aku mengajakmu makan malam?"
"Entahlah, aku tidak yakin."
"Ituuu,,,itu karena aku ingin lebih mengenalmu."
"Benarkah?" Wajah Cordelia tampak berbinar.
"Begitulah, aku ingin mengenalmu, karena aku tidak benar-benar mengerti sifatmu. Kau begitu berbeda, kadang kau terlihat sangat manis, kadang kau juga sedikit mengesalkan."
"Apakah aku memang mengesalkan?"
"Kadang. Seperti kau yang masuk kamarku kemudian tidur disana. Tapi aku suka melihat kau ketika kau berada di luar rumah, kau terlihat berbeda, kau terlihat pintar, berkharisma, seorang wanita terhormat."
"Aku memang begitu. Apakah kau tidak mengerti kenapa aku seperti itu? Kau tahu, aku sangat mencintaimu. Bertahun-tahun aku bertemu denganmu dalam mimpiku. Pria yang kutemui itu tak lain adalah kamu. Di suatu mimpi dia pernah berkata 'namaku Milo, tunggulah sampai waktunya kita bertemu, aku akan menikahi mu', seperti itu."
"Aku tak meragukan perasaanmu, hanya saja aku merasa kau terlalu berlebih-lebihan."
"Tidak, semua karena aku men cin ta i mu."
Dengan mengedipkan matanya, dia kembali ke mode mesumnya.
"Aahh begitu. Tiga tahun, mungkin akan terasa lama. Bagi kita."
***
Setelah menyelesaikan makan malam, kami berdua kembali berjalan pulang. Wajah Cordelia terlihat lebih riang dari biasanya.
"Sayang, bagaimana kalau kita berpetualang?"
"Haaaahhh???"
"Jika kita berpetualang bersama, tiga tahun tidak akan terasa lama bukan. Kita berkeliling mendatangi tiap serikat dan menyelesaikan misi, kemudian pindah ke kota berikutnya, terus seperti itu."
Ahhh merepotkan, hidup nomaden bukanlah keinginanku.
"Entahlah, aku pikir-pikir dulu."
"Kau tahu, kita bisa melakukan itu lagi."
Mata genitnya kembali muncul. Tawaran menggiurkan bagi seorang lelaki.
Aku terdiam dan merenung sambil melanjutkan perjalanan kami.
***
Taman keluarga Ramvoldus.
Kami tidak langsung masuk kerumah. Namun kami memutuskan untuk berjalan-jalan dulu di taman.
Dia tidak melepaskan tangannya dari tanganku. Sambil bercengkrama kami memutari taman.
"Sayang."
Dia melepaskan tangannya dan memelukku dari belakang. Terasa dua tonjolan yang terasa empuk di punggungku.
"Kau tahu, aku tak pernah memiliki teman. Kau adalah satu-satunya orang yang paling dekat denganku selain orang tuaku dan para pelayan ku. Selama ini aku selalu merasa kesepian. Hidup sebagai keluarga Ramvoldus kadang melelahkan. Apalagi aku harus menjadi imam besar. Tak ada yang mau mendekatiku."
Suaranya terdengar lembut, namun ada kesedihan disana.
Aku mengerti apa yang terjadi, aku pun mengalami hal yang sama di kehidupanku sebelumnya.
Aku terdiam dan hanya menggenggam tangannya lebih erat.
Kami lama dalam posisi ini, tanpa berkata apapun. Hanya pelukan yang terasa hangat.
Bagi yg suka novel fantasi & romance mampir yuk,,,,
“That Time One Summoned Class In The Another World”
PREMIS:
Mengenai dunia paralel. Mc dibenci oleh Heroine, tapi si Heroine lama-kelamaan suka sama Mc. ]