NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Papa melihat ke arah Mama, dan Mama hanya diam. Saya tidak bisa berkata apa-apa, tetapi Mama tahu maksud dari sorot mata Papa itu apa.

“Kenapa lagi anak gadis kita marah mulu? Perasaan kayaknya aku nggak ngapa-ngapain dia, deh.”

“Menurut kamu nggak ngapa-ngapain, tapi dari sorot mata kamu aja udah menunjukkan kalau kamu lagi marah sama dia.”

“Aku kan nggak marah. Aku cuma suka ngetes dia aja alias isengin. Emangnya salah?”

“Salah lah! Kamu ini suka banget isengin anaknya. Udah tahu anaknya suka marah dan sensitif-an. Kalau misalkan anaknya nggak sensitif sih nggak apa-apa, ini mah sensitif banget sampai pusing Mama tuh harus gimana sama dia.”

Papa mencoba mengusap bagian pundak belakang Mama sambil melihat ke arahnya. Mama pun bingung mengapa Papa melakukan hal demikian.

“Sabar ya. Makanya dulu pas aku minta anak cowok, dikasihnya cowok. Jangan kasih anak cewek, kan jadinya kamu pusing sendiri sekarang.”

“Kamu kira ngedidik anak cowok sama cewek itu gampang? Justru kamu kebalik. Yang ada tuh susah ngedidik anak cowok daripada cewek, tahu.”

“Yah, kalau menurut aku sih anak cewek atau cowok itu sama aja. Tapi kan kamu bisa lihat sendiri kalau anak cewek itu susah diatur. Gimana kalau misalkan kita punya anak cowok dulu, pasti kan nggak susah diatur.”

“Kalau kamu dikasih anak cowok, tiap hari kamu berantem terus sama dia. Kamu nggak bakal bisa menang sama anak cowok. Makanya kamu dikasih anak cewek, dan kamu harus bersyukur.”

Papa menghela napas dan akhirnya memilih untuk pergi ke tempat kerja, meninggalkan Mama di rumah. Sedangkan Mama merasa bingung ada apa dengan Alia.

---

Sampai di sekolah

Arnold melihat ke arah Alia, tetapi Alia tidak mau menoleh ke arahnya. Ia masih mengingat kejadian semalam yang membuatnya marah besar pada Arnold.

Sebenarnya tidak ada salahnya dengan pertanyaan Arnold. Mungkin karena Alia lagi ada masalah dengan Papanya, jadinya ia terlalu terbawa emosi dan sensitif.

Arnold mengejar Alia, tetapi Alia hanya diam seperti patung.

“Al, aku minta maaf soal kemarin.”

“Kenapa harus minta maaf? Emang kamu ngerasa ada salah? Kalau nggak ada salah, ngapain harus minta maaf? Aneh banget.”

“Aku tahu ungkapan aku kemarin ke kamu itu bukan hal yang pantas untuk dibicarakan dalam situasi kamu. Aku juga tahu harusnya kamu lagi dinner sama orang tua kamu. Pasti itu hal yang berat. Jadi ya… maafin mulut aku yang kadang suka nggak tahu waktu.”

Alia merasa kasihan juga kepada Arnold. Tapi bagaimana pun, posisi kemarin memang bukan hal yang bisa dibercandakan.

Akhirnya Alia mencoba memaafkan Arnold dan berdamai dengan hari itu. Karena tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, dan tiap hari pasti selalu ada masalah yang harus dilalui.

“Ya udah, permintaan maaf kamu aku terima. Aku juga minta maaf kalau aku ada salah kata ke kamu. Kemarin mood aku memang lagi nggak baik, jadinya kena ke kamu. Maafin aku ya.”

“Nggak apa-apa kok, aku paham. Lagian bukan salah kamu juga. Aku juga harusnya lebih bisa ngertiin kamu sebagai pasangan. Aku harusnya bisa paham sih apa yang kamu mau.”

“Ya, makasih ya. Ya udah deh kalau gitu aku ke kelas dulu. Kamu juga mau ke kelas kan? Aku duluan ya, bye-bye.”

Akhirnya perdamaian mereka berjalan lancar. Tapi mereka pergi ke kelas masing-masing tanpa saling menemani, berbeda dengan biasanya.

Biasanya, tiap kali mereka mau ke kelas, salah satu selalu rela mengorbankan diri untuk menemani. Namun kali ini tidak. Mungkin karena mereka baru berdamai atas kejadian kemarin, jadinya mereka berjaga-jaga agar tidak berantem lagi.

---

Alia di kelas hanya diam dan termenung. Ia tidak tahu apakah harus terus mendiamkan Papanya, padahal ia tidak tahan.

Terkadang yang Alia mau hanyalah bisa dekat dengan Papanya. Tetapi itu terasa susah, karena Papanya sangat sibuk bekerja demi mencari nafkah untuk keluarga.

Salah satu hal itulah yang membuat Alia berpikir: tidak ada salahnya sesekali mengalah. Namun, semakin ia mengalah, semakin sakit hati yang ia rasakan.

Mungkin Alia kebanyakan berpikir. Ada kalanya ia harus istirahat agar pikirannya tidak melayang ke hal-hal yang tidak perlu.

Namun, setiap mencoba berpikir relevan, selalu terasa sulit bagi dirinya sendiri. Apakah dirinya memang ditakdirkan sendirian, tanpa ada yang bisa menemani? Entah mengapa ia selalu ingin ada seseorang yang menemani, walau hanya satu orang saja.

Selama pelajaran, Alia hanya diam mendengarkan guru. Anehnya, kali ini ia sulit fokus. Padahal biasanya belajar adalah hal yang ia sukai.

---

Saat bel istirahat

Arnold menghampiri Alia, tapi tidak ada wajah bahagia di sana. Yang keluar hanya wajah muram dari pacarnya itu.

“Al…”

Arnold terus memanggil, tapi Alia tidak peduli, seolah-olah tidak mendengar.

“Al, kamu denger aku bicara sama kamu nggak sih dari tadi?”

Seketika Alia baru sadar ketika Arnold sudah berbicara panjang kali lebar, tapi tidak ada satu pun yang ia dengar.

“Maaf ya, tadi aku lagi bengong. Ada apa emangnya?”

“Parah. Jadi apa yang aku omongin dari tadi kamu nggak denger sama sekali? Kenapa sih kamu? Ada apa?”

“Aku lagi ada masalah aja sama Papa aku. Jadinya aku nggak semangat. Emangnya ada apa? Penting banget yang kamu bicarain tadi?”

“Penting nggak penting ya hargain aku ngomong. Lagian, kamu sama Papa kamu kan sering berantem. Kenapa tiba-tiba kamu jadi mikirin banget, seolah-olah aku nggak penting sama sekali di pikiran kamu. Emang aku tuh sebegitu nggak pentingnya buat kamu?”

Alia merasa sensitif dengan perkataan Arnold tentang Papanya. Ia tidak suka Papanya dijelek-jelekkan, walau oleh orang yang ia cintai sekalipun.

“Maksud kamu apa bicara kayak gitu? Aku nggak suka ya kalau kamu ngomong begitu soal Papa aku. Lagian, kamu tuh nggak kenal sama Papa aku kayak aku kenal dia.”

“Ya kan apa yang aku bilang emang bener. Kamunya aja yang berlebihan. Lagian, kenapa sih harus apa-apa Papa kamu? Emangnya nggak bisa kamu mentingin aku dulu baru Papa kamu?”

“Gila ya, ngomong apa sih kamu? Makin hari makin ngelantur aja! Kamu tahu nggak sih siapa yang kamu bicarain? Itu Papa aku loh! Berani banget kamu bicara kayak gitu. Untung nggak didengar sama dia. Kalau didengar, bisa-bisa aku nggak nikah sama kamu!”

“Lagian, kalau Papa kamu itu nggak menghargai kamu, kenapa harus kamu hargai balik? Aneh banget sih. Nggak semua hal itu harus kamu hargain kali.”

Plak!

Alia menampar Arnold karena kesal dengan cara bicaranya.

“Kurang ajar! Kamu sungguh keterlaluan! Aku nggak habis pikir ada pria kayak kamu. Lebih baik kita nggak usah lagi menjalin hubungan ini. Capek!”

“Ya udah. Kalau emang kamu nggak mau, aku juga nggak berharap kok. Lagian, capek juga sama cewek kayak kamu. Cantik nggak, belagu iya.”

“Kamu kira kamu ganteng? Banyak yang lebih ganteng dari kamu. Jadi jangan merasa kamu paling ganteng sedunia. Malesin banget sih cowok kayak kamu. Ternyata kamu sama aja kayak orang lain—sok ganteng, punya jiwa-jiwa pangeran.”

Alia pergi meninggalkan Arnold, begitu juga sebaliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!