Di pernikahan Rachel dan Arlan yang baru seumur jagung, Arlan mengalami hal tak terduga yang membuatnya di pisahkan oleh sang istri. Namun, takdir kembali mempertemukan mereka dalam kondisi yang berbeda.
****
Kehidupan Arlan sebagai Dokter terbilang lurus-lurus saja. Tidak pernah tersandung kasus apapun, apalagi tidur dengan wanita.
Namun kejadian malam itu ketika dia berniat menolong Rachel, anak dari keluarga pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Namun harus berakhir menjadi tuduhan berdasar dan membuat Arlan mau tidak mau harus menikahi Rachel.
Rachel terkenal cukup bermasalah, disebut pembuat onar dan tingkat kenakalannya diluar batas. Terbukti Rachel berniat menjebak seorang wanita yang sudah beristri agar tidur dengan pria lain yang merupakan orang suruhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Rachel memalingkan wajahnya yang bersemu merah karna malu. Dia mengibaskan satu tangannya di depan wajah. Rachel merasa suhu tubuhnya mendadak panas setelah menciumi leher dan bibirnya.
Sementara itu, Arlan beranjak dari ruangan keluarga untuk menyimpan kembali kotak obat di tempatnya. Sebenarnya Arlan sengaja meninggalkan Rachel sendiri karna Rachel terlihat sangat malu dan salah tingkah. Arlan membiarkan Rachel menenangkan diri setelah apa yang tadi dia lakukan padanya.
Rachel menggeleng cepat seakan ingin menyadarkan dirinya dari pikiran-pikiran aneh yang tiba-tiba memenuhi kepalanya.
“Tidak, tidak mungkin aku menyukai perlakuannya.” Rachel berusaha menyangkal isi kepalanya, meski bibir dan respon tubuhnya berkata lain. Kalau memang Rachel tidak menyukai apa yang Arlan lakukan, pasti Rachel akan mencegah Arlan saat pertama kali mencium lehernya. Faktanya Rachel malah membiarkan hal itu terus berlanjut hingga ciuman Arlan pindah ke bibirnya dan tidak ada penolakan sama sekali.
“Aku pasti sudah gila gara-gara perbuatan Robby,,” Gumamnya sambil memukuli kepala sendiri berkali-kali. Rachel pikir dia tidak menolak saat Arlan menciumnya karna pikirannya mungkin mulai gila akibat kejadian buruk kemarin.
Arlan tanpa sengaja melihat Rachel sedang memukuli kepalanya sendiri, tanpa pikir panjang segera menghampiri Rachel dan memegangi tangannya agar berhenti memukuli kepalanya sendiri.
“Kenapa? Kepalamu sakit?” Tanya Arlan khawatir.
Rachel langsung menarik tangannya. “Hanya sedikit pusing." Jawab Rachel bohong. Tidak mungkin dia jujur pada Arlan kenapa tiba-tiba memukuli kepalanya sendiri.
Arlan percaya begitu saja dengan jawaban Rachel, mengingat kondisi Rachel sempat terguncang dan terluka dibagian leher, wajar jika Rachel merasakan pusing.
“Tunggu disini, aku ambilkan obat.” Arlan ingin beranjak, tapi Rachel menahannya.
“Aku tidak mau minum obat, lagipula hanya pusing biasa nanti juga sembuh sendiri.” Ujarnya.
Arlan tidak memaksa, dia akhirnya menyuruh Rachel kembali ke kamar untuk istirahat.
Seharian itu Arlan menemani dan merawat Rachel. Jika biasanya ada perdebatan sengit dan tingkah Rachel yang membuat Arlan sakit kepala, kali ini suasana di apartemen terasa lebih kondusif sejak kemarin. Arlan merasa ketenangannya sudah kembali setelah 1 bulan dibuat pusing oleh Rachel.
...******...
Rachel berjalan mengimbangi langkah Arlan. Keduanya memasuki rumah sakit milik orang tua Rachel sekaligus tempat Arlan bekerja. Pagi ini Rachel akan melakukan visum untuk melengkapi bekas perkara di pengadilan atas tindakan pelecehan dan kekerasan yang dilakukan oleh Robby. Meski Robby sudah bisa ditahan tanpa adanya bukti-bukti yang lengkap, Arlan tetap ingin mengirim bukti visum untuk memperberat hukuman Robby.
“Pagi Dok,,”
“Pagi Dokter,,”
“Selamat pagi Dok,,”
Entah berapa banyak perawat dan petugas yang silih berganti menyapa Arlan saat berpapasan. Arlan tampak ramah menjawab sapaan mereka.
“Kita ke kantor dulu, Dokter visumnya datang satu jam lagi.” Ucap Arlan yang sontak membuat mata Rachel melotot.
“Kalau masih selama itu, kenapa harus datang sekarang?" Protesnya pelan.
“Ada beberapa dokumen yang harus aku tanda tangani, lagipula jam praktek ku 30 menit lagi. Jika kamu tidak datang denganku, siapa yang akan mengantarmu kesini?” Arlan menjelaskan dengan sabar.
Rachel hanya berdecak pelan dan tidak menjawab lagi. Dia mengikuti Arlan yang membawanya ke dalam lift. Saat pintu lift sudah setengah tertutup, tiba-tiba seseorang datang mengulurkan tangannya dan membuat pintu lift kembali terbuka lebar.
Tampak seorang wanita yang memakai jas putih tersenyum pada Arlan sebelum masuk ke dalam lift.
“Pagi Dokter Arlan.” Sapanya ramah.
“Pagi Marisa,,” Arlan membalas sapaannya dan tersenyum ramah seperti saat menjawab sapaan orang lain.
Sementara itu, Marisa yang sempat melihat Rachel berdiri disebelah Arlan tampak tidak menghiraukan keberadaan Rachel karna mengira Rachel adalah pasien yang akan berobat di rumah sakit ini. Jadi Marisa mengabaikan keberadaan Rachel dan fokus mengajak Arlan bicara.
“Nanti siang makan dimana Dok? Saya boleh ikut makan siang bersama?” Tanya Marisa.
Arlan melirik Rachel sebentar, tapi Rachel menunjukkan ekspresi santai dan tampak tidak terganggu sedikitpun dengan kehadiran Marisa.
“Jam praktek saya hari ini sampai pukul setengah 12 saja karna ada urusan mendesak di luar.”
Marisa tampak mengangguk-angguk mendengar jawaban Arlan. “Begitu ya? Baiklah, mungkin lain kali kita bisa makan siang bersama.”
Rachel melangkah maju saat melihat pintu lift terbuka. Dia ingin keluar lebih dulu karna berfikir sudah sampai, tapi tangannya tiba-tiba di tahan oleh Arlan.
“Masih ada 3 lantai lagi.” Kata Arlan memberi tau.
Marisa sempat terdiam melihat interaksi Arlan dan wanita muda itu. Dia yang seharusnya keluar dari lift, akhirnya tetap barada di dalam karna penasaran.
“Dokter Arlan, siapa gadis ini?” Tanyanya. Jika sebelumnya Marisa berfikir Rachel adalah pasien di rumah sakit ini, sekarang setelah dia melihat Arlan memegang tangan Rachel, rasa penasaran Marisa bergejolak.
“Dia,,”
“Aku adiknya, kenapa?!” Ketus Rachel dengan wajah angkuhnya. Dia memotong ucapan Arlan yang sebenarnya ingin memberitahu siapa Rachel sebenarnya.
“Adik? Dokter punya adik perempuan? Aku pikir Dokter tidak punya adik.” Ujar Marisa.
“Memangnya kenapa kalau punya adik?” Tanya Rachel.
Marisa menggeleng. “Siapa namamu?” Marisa bertanya dengan ekspresi ramah dan mengulurkan tangannya pada Rachel.
Rachel menatap malas tangan Marisa dan enggan menjabat tangannya. Bahkan Rachel tidak berniat memberitahu namanya pada Marisa.
“Rachel?” Tegur Arlan pelan. Dia memberi isyarat agar Rachel mau berjabat tangan dengan Marisa. Namun Rachel malah pura-pura tidak tau.
“Sudah sampai ya?” Ujarnya lalu segera keluar saat pintu lift terbuka.
Marisa tampak tersenyum kaku pada Arlan dan menyimpan kekesalan pada Rachel.
“Maaf atas sikapnya. Saya duluan,,” Pamit Arlan pada Marisa.
Sikap Rachel yang menolak berkenalan membuat Marisa menatap kesal punggung Rachel. “Sombong sekali.” Gumamnya sebal. Marisa menahan diri dan tidak menunjukkan kekesalannya karna memandang Arlan. Marisa percaya begitu saja dengan pengakuan Rachel yang menyebut jika dirinya adalah adik perempuan Arlan. Itu sebabnya Marisa tidak berani menegur sikap sombong Rachel.
...*****...
Rachel langsung menduduki sofa di ruangan Arlan. Ruangan yang baru beberapa minggu menjadi miliknya karna ditunjuk sebagai kepala rumah sakit oleh Ayah mertuanya.
“Lain kali jangan mengabaikan orang yang ingin mengajakmu berkenalan secara baik-baik.” Tutur Arlan menasehati.
“Apanya yang baik? Dia mengajakku berkenalan setelah aku mengaku sebagai adikmu. Jika aku mengaku sebagai istrimu, aku yakin dia tidak akan mengulurkan tangannya.” Sahut Rachel. Sejak awal melihat Marisa menatap dan melempar senyum pada Arlan, Rachel langsung bisa menebak perasaan Marisa terhadap Arlan. Jelas sekali Marisa menyukai Arlan.
“Lalu kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya? Kamu malah mencegahku.” Protes Arlan. Dia hampir saja mengatakan jika Rachel adalah istrinya, tapi setelah mendengar Rachel mengaku sebagai adiknya, Arlan pikir Rachel masih ingin merahasiakan pernikahan mereka.
“Aku tidak mau orang-orang tau kalau aku sudah menikah. Lagipula tidak ada untungnya memberitahukan pernikahan ini pada orang lain.” Jawab Rachel santai.
Arlan memilih diam karna tidak mau berdebat. Dia juga memiliki pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
Udah ditunggu hampir sebulan kak
Kisah David dan Elena 🙏
Udah gak sabar nungguin novel baru nih
udah kutunggu loh😊