Melati, seorang gadis berumur 15 tahun yang menjalani hari-harinya sebagai anak homeschooling dan murid Starlight Bimbel. Hidup berdua bersama sang ayah tak membuatnya merasa kekurangan kasih sayang. Dia juga memiliki sahabat bernama Tita.
Suatu malam, Melati terpaksa harus mendatangi tempat terkutuk yang sering disebut club untuk menghadiri acara ulang tahun sahabatnya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Melati bertemu seorang pria dewasa yang membuat hidupnya berubah drastis.
Rupanya, malam itu menjadi awal mula dari kejutan-kejutan yang menghampirinya di kemudian hari. Puncaknya adalah, saat Melati terpaksa bersedia menjadi calon istri dari seseorang yang ia beri julukan 'Om-om Bastard'.
Problema hidup yang dialami seorang Putri Ayla Melati tidak cukup sampai di sana. Begitu banyak rintangan yang terus-menerus mendatanginya.
Bagaimana kelanjutan cerita Melati? Siapa 'Om-om Bastard' ini sebenarnya? Cari tahu kisah lengkapnya di novel "My Beloved Bastard".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Kara Alaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
"Bagas?"
Sang pemilik nama tersenyum. Dengan genggaman yang tak lepas dari pergelangan tanganku, satu tangan lainnya menepuk-nepuk rumput liar di samping kanannya, memintaku kembali duduk.
"Duduk. Gue mau ngobrol bentar," katanya.
Aku menghela napas, lalu mengangguk singkat seraya kembali duduk menghadap danau. Semoga saja Pak Glenn sibuk dan tidak menyadari keberadaanku juga Bagas di sini.
"Ada apa?" tanyaku.
"Mau?" Bagas menyodorkan sepotong roti padaku.
Aku menggeleng. "Belum laper."
Pemuda berkaos krem lengan panjang itu hanya manggut-manggut seraya kembali melahap sisa roti miliknya. Manik mata Bagas menatap lurus dengan pelupuk menyipit dan sarat menerawang. Entah apa yang tengah menari di pikirannya, namun Bagas terdiam cukup lama.
"Gas?" Dia menoleh. "Katanya mau ngobrol?"
Bagas menoleh, menatapku sekilas, kemudian tersenyum nyengir, membuat dahiku berkerut heran. "Bohong, deng. Cuma pengin duduk berdua sama lo."
Hm. Mengapa firasatku mendadak terasa kurang enak, ya?
"Ehem!" Suara bariton itu membuat aku dan Bagas sama-sama menoleh ke belakang. Tampak sosok Pak Glenn tengah berjalan ke arah kami—tepatnya, ke arahku—sambil membawa kotak makan warna hitam. "Melati, waktunya makan siang." Dia duduk di samping kananku dengan santai, seolah Bagas adalah makhluk tak kasat mata.
"Ehem, Mel," ucap Bagas dengan nada canggung yang kentara. "Gue ke tenda dulu, ya."
Tidak ada yang bisa kulakukan selain mengangguk dan membiarkan Bagas enyah. Begini rasanya diperebutkan dua lelaki? Aku tidak menyangka bahwa rasanya akan seburuk ini. Dulu, aku pernah berandai-andai tentang nasibku yang diperebutkan banyak kaum adam. Tapi, setelah merasakannya sendiri, aku sungguh menyesal pernah membayangkan hal itu merupakan sesuatu yang indah.
Aku terkesiap begitu menoleh ke kanan. Niat hati ingin melirik, ternyata Pak Glenn sedang menatapku lamat-lamat.
"Ke-kenapa?" tanyaku, gugup.
"Tadi bocah itu ngomong apa sama kamu?"
"Hah?" Ish! Mengapa otakku mendadak lemot?!
Pak Glenn menggeleng. "Nggak. Kamu pasti belum makan siang, 'kan?" Dia mengambil alih kotak makan yang semula tergeletak di atas rumput liar, lalu mengulurkannya padaku.
Aku menatap Pak Glenn dan kotak makan di genggamannya secara bergantian, ragu. Karena aku hanya bergeming, Pak Glenn meraih tanganku dan meletakkan kotak makannya.
"Aku belum lapar."
"Oh, kamu mau aku suapin?" Tangan Pak Glenn hendak mengambil kembali kotak makan di pangkuanku.
Dengan sigap, aku segera membuka kotak makan itu. "Bisa makan sendiri!" ketusku seraya membuang muka.
Pak Glenn mengacak puncak kepalaku. Ih. Lancang sekali tangannya itu. "Good girl, Echi!"
Ragaku menegang. Kuletakkan kotak makan yang semula berada di tanganku ke sembarang tempat. Aku ... tidak salah dengar, 'kan?
"Boleh, kan, aku panggil kamu dengan sebutan Echi, lagi?"
"Pak Glenn ...?" Dia mengangguk, membuatku lantas menghambur ke pelukannya.
***
"Sesaat lagi, kita akan melaksanakan acara inti, yaitu jelajah malam. Setiap pembina telah memegang denah kelompok masing-masing. Untuk pemimpin, tugas kalian adalah memastikan jumlah anggota selalu lengkap, sampai finish. Masing-masing kelompok akan melewati jalur start yang berbeda. Bagi kelompok yang sampai finish dengan waktu tercepat dan jumlah anggota lengkap, itulah pemenangnya. Paham?!"
"Paham!!!"
Jelajah malam. Bagaimana rasanya? Apa akan ada rintangan? Ah! Aku tidak tahu. Ini akan menjadi pengalaman pertama untukku.
Pak Romi membubarkan barisan. Jeda sepuluh menit untuk mempersiapkan apa saja yang akan dibawa.
"Mel," panggil Tita.
"Hm?" Aku menyahut dengan tangan yang sibuk memasukkan beberapa barang ke tas ransel hitam milikku. Air minum, snack, senter, sarung tangan dan kaos kaki cadangan, ponsel, serta topi penutup telinga.
"Sweeter lo sama Pak Glenn couple-an, ya?"
"Hah?!"
Tita membekap wajahku, kemudian memutarnya ke arah Pak Glenn yang tengah berbincang dengan salah seorang tutor pria. Setelah tangan Tita menyingkir, aku menyipitkan mata, berusaha fokus pada model sweeter yang membalut tubuh Pak Glenn. Lalu, pandanganku mengamati sweeter Pak Glenn dan sweeter yang kupakai secara bergantian.
King and ... Queen?
Mulutku menganga. Jadi ... satu sweeter yang Pak Glenn beli di butik waktu itu ... couple?!
"Woy!" Sentakan di bahu kanan membuatku terseret kembali ke dunia nyata. "Mau sampai kapan bengong? Udah pada ngumpul, tuh!"
"Eh! I-iya. Tungguin, Tit!" Aku bergegas menutup resleting tas yang telah terisi setengah, memakai jaket parasut tebal pemberian Pak Glenn, lalu menyusul Tita dan baris di belakang Aldi.
Pak Glenn menghampiriku. "Udah lengkap semuanya?" Aku mengangguk. "Senter? Sarung tangan? Kaos kaki? Minum? Snack? Topi? Handphone? Terus ... mmm ... apa lagi, ya?"
Aku memutar bola mata. "Sudah, Bapak."
"Obat?"
Obat? Obat? Obat ...? Ah! Masih di tenda.
"Lupa, ya?" tanya Pak Glenn sambil menatapku curiga.
Aku tersenyum nyengir. "Aku ambil dulu, ya?"
"Biar aku aja." Pak Glenn melenggang pergi tanpa menghiraukan reaksiku berikutnya.
Lima belas menit briefing. Dan ...
'Pritttt!!!' ... pluit tanda start jelajah malam pun berbunyi nyaring.
Baru beberapa langkah aku mengekori Aldi, Pak Glenn menarik pergelangan tanganku sambil berkata, "Kamu di belakang aja, sama saya."
Aku menaikkan kedua alis. Oke. No problem. Lagi pula, di belakang ada Tita.
"Kok, Bapak di belakang?" tanya Zaki—murid kelas biologi 2. "Bukannya Pak Glenn yang bawa denah?"
Benar juga.
"Sudah saya kasih ke Aldi."
"Oh."
"Ngomong-ngomong, di hutan malam-malam gini, serem juga, ya?" celetuk Tita.
"Iya," sahut Dara, gadis berumur 16 tahun yang berjalan di depan Tita. "Nggak kebayang, deh, rasanya jalan di sini sendirian."
"Mending mati, dah, gue!" balas Tita.
Hm. Melihat Tita bersungut-sungut seperti ini, aku jadi teringat bahwa belum menanyakan soal kejadian di bus tadi.
"BREAK!" Suara Aldi yang menggema di tengah pekatnya kegelapan membuat kami semua lantas menghela napas lega dan duduk berjejer.
"Tit, temenin gue kencing, dong," bisikku pada Tita yang duduk seraya menyomot camilan di sebelah kananku.
"Hah? Ogah! Takut gue."
"Yah ... Tit ... please ...."
"Biar saya aja."
Aku menoleh cepat. "Tita aja. Ya, kan, Tit?!" Sebelah mataku berkedip, berharap Tita mengiyakan permintaanku.
Tita nyengir. Manik matanya beralih menatap Pak Glenn. "Tolong, ya, Pak."
"Ayo!" Pak Glenn menarik pergelangan tanganku. Awas, ya, Tita! Sahabat macam apa, tuh!
"Aku tunggu di sini," ucap Pak Glenn setelah kami berdiri cukup jauh dari rombongan.
Aku mengangguk, lalu segera melenggang dengan jarak lumayan jauh, kemudian bergegas menyelesaikan 'urusanku'. Ah! Akhirnya. Lega. Baru aku akan kembali, tiba-tiba jantungku berdetak kencang. Refleks, tanganku menekan dada yang terasa berdenyut. Kenapa ini?
"Awh!" Jantungku semakin berdebar. Semakin lama, debaran itu makin cepat. Aku beringsut. Tak lagi kuat untuk menopang beban tubuh.
"P-pak Glenn ...." Ah! Suaraku lirih sekali. Bagaimana Pak Glenn bisa mendengarnya?!
"Pa-pak ...."
Dan semuanya menjadi benar-benar gelap.
***
Titik-titik putih perlahan menyebar. Manik mataku masih menetralisir cahaya serta memotret bayangan di depan sana. Saat semuanya semakin jelas, otakku memutar kembali kejadian terakhir. Ah! Aku ingat. Sebelum semuanya mendadak gelap, dadaku terasa layaknya ditusuk-tusuk. Sakit. Sakit sekali.
Lalu? Di mana aku sekarang?
Jika dirasakan baik-baik, sepertinya tubuhku sedang dalam posisi terbaring. Mataku mengerjap sekali lagi, berusaha memindai lebih fokus untuk mengenali suasana sekarang.
Pak Glenn? Itu Pak Glenn, kan? Aku ... aku tidur di pangkuanku Pak Glenn?!
"Pak Glenn?" Niat hati ingin berteriak, namun yang terdengar malah suara lirih.
Dia menunduk. Kala manik mata kami bertemu, aku dapat menangkap sarat kegelisahan di balik bola matanya. Aku dapat merasakan tubuhku bergetar. Ah! Ini di dalam mobil?
Aku berusaha bangkit. Perlahan, Pak Glenn membantuku duduk dan bersandar di kursi mobi—taksi lebih tepatnya. Kulirik pemandangan ke luar jendela sejenak. Gelap.
"Kita mau ke mana?" tanyaku, sesaat usai kembali menatapnya.
"Rumah sakit." Pak Glenn menatapku lekat. Entahlah, aku tidak tahu makna di balik tatapannya. Yang jelas, dia tak mengizinkan pandanganku berpaling.
"Rumah sakit? Ngapain?"
Pak Glenn menegakkan badan. Tatapannya menusuk manik mataku semakin dalam. "Kamu nggak ingat apa yang barusan terjadi?"
Aku menghela napas. "Aku nggak apa-apa. Kita balik ke lokasi camping, ya?"
"Tidak."
"Kak ...."
"Chi ...." Ah! Panggilan itu. Masih terdengar sama seperti beberapa tahun silam: menenangkan. "Kita ke rumah sakit."
"Pulang aja, ya?" tawarku.
"Nggak."
"Aku cuma butuh istirahat. Kita pulang aja, ya?"
"Kamu harus periksa dulu."
"Cuma kecapekan, Kak ...."
"Bener?"
Aku mengangguk.
"Ya udah." Pak Glenn menoleh ke arah depan, lalu meminta supir taksi untuk membawa kami ke alamat rumahku.
Setelah itu, Pak Glenn kembali menatapku. Tangan kirinya meraih kepalaku, kemudian menyadarkannya di bahu kiri Pak Glenn. Kali ini, dengan senang hati aku menerimanya.
***
Jam dinding di kamar menunjukkan pukul 01.14 saat perutku terasa perih. Ah! Aku baru ingat, terakhir kali perutku terisi, kan, waktu makan siang di puncak. Dengan mengabaikan cacing-cacing perutku yang tengah meronta-ronta, aku kembali memejamkan mata. Namun, rasa lapar ini sungguh menyiksa, membuatku mendengkus keras.
Baiklah, cacing-cacing! Sabar!
Dengan malas, aku bangun, beranjak dari kasur, keluar kamar, lalu menuruni anak tangga menuju dapur. Semoga saja ada yang bisa kumakan di sana. Tetapi, langkahku terhenti begitu pandanganku menangkap sesuatu di ruang tengah. Alih-alih melangkah ke dapur, kakiku malah berputar dari menghampiri Pak Glenn yang masih memangku laptop dengan mata terpejam, serta tubuh bersandar pada punggung sofa.
"Kak ...?" panggilku sepelan mungkin, agar tidak membuatnya terkejut. Namun, Pak Glenn tetap bergeming. Melihat matanya terpejam seperti ini, doktrin 'bastard' yang melekat pada dirinya, entah kemana perginya. Hanya raut wajah akan sarat kedamaian yang tersisa.
Tanpa sadar, kedua sudut bibirku terangkat, membentuk senyuman yang begitu lebar. Andai semesta mengizinkan, aku ingin waktu berhenti sebentar saja. Agar aku bisa menikmati wajah malaikatnya yang menyejukkan. Ah! Aku jadi teringat pada kejadian di puncak tadi, membuat memoriku lantas melayang pada kejadian sembilan tahun lalu.
Flashback On.
Meski baru berumur empat tahun, papa tidak pernah mendidikku menjadi gadis penakut nan cengeng. Papaku memang selalu sibuk kerja, namun tidak pernah melupakan putri kecilnya. Papa juga menanamkan keberanian yang lambat laun mengakar di lubuk hatiku. Maka, pada hari itu, saat aku bermain di teras rumah dan melihat seorang anak laki-laki berpakaian seragam khas SD sedang dikroyok oleh kawan-kawannya, aku segera mengambil apa saja yang bisa kujadikan senjata.
Dengan penuh keyakinan dan sapu di genggaman, aku menyerang tiga anak laki-laki tengil itu dengan brutal. Setelah berhasil, aku membalikkan badan, lalu tatapanku beradu dengan bola mata hitam milik si korban.
"Kakak nggak apa-apa?" tanyaku.
Bukannya menjawab, dia malah balik bertanya. "Nama kamu siapa?"
"Echi," jawabku, sebab saat itu kata 'Melati' terlalu rumit untuk lidah bocah berumur empat tahun sepertiku.
Dia mengulurkan tangan. "Glennio."
"Ennn ... Nio?" Ah! Mengapa susah sekali mengucapkan namanya dengan benar?
"Glenn. Aku biasa dipanggil Glenn."
"Ennn ... En?" Ish!
"Nio. Panggil aku Nio."
Flashback Off.
"Aku setampan itu, ya?"
Suara bariton dari pria yang masih memejamkan mata itu membuatku terkesiap. Entah sejak kapan kedua telapak tangannya bertumpu di lutut dan manik mataku menatap wajahnya begitu dalam. Karena terkejut, keseimbangan tubuhku melayang entah ke mana.
Aku memejamkan mata rapat-rapat, bersiap menerima rasa sakit sekaligus malu saat ragaku jatuh di hadapan Pak Glenn. Namun, tak pernah kuduga bahwa yang terjadi berikutnya lebih parah dari yang kubayangkan. Pak Glenn menarik pinggangku sebelum tubuhku benar-benar terjerambab.
"Kamu itu kenapa, sih?"
"Hah?" Setelah fungsi kakiku kembali, aku segera berdiri tegak. "Ng ... nggak! Nggak apa-apa."
"Kenapa belum tidur?"
"Tadi udah tidur, tapi kebangun." Akhirnya, semuanya kembali normal!
"Kenapa?"
"Haus."
Pak Glenn manggut-manggut. Melihatnya tak bersuara, aku bertanya, "Kakak ngapain tidur di sini?"
"Aku nggak tidur. Tadi kerjaan baru selesai, senderan bentar, capek soalnya. Eh, tahu-tahu ada wajah kamu waktu aku buka mata, jadi hilang capeknya," jelasnya sambil mengulas senyum manis.
'Blush!'
Senyumnya itu, lho!!!
Tuhan ... tolong ....
Masih dengan senyum yang terpatri, Pak Glenn menarik pergelangan tanganku, membuatku duduk tepat di samping kanannya.
"Temenin aku nonton, ya?"
Aku menatapnya heran. "Nggak tidur? Ini udah hampir tengah malam."
Dia menggeleng. "Aku kangen kamu," lirihnya sambil melingkarkan lengan ke belakang leherku.
Aku terkekeh pelan. "Kayak udah pisah lama aja."
"Tiga jam sejak kamu di dalam kamar."
"Cuma tiga jam."
"Sudah tiga jam!"
Aku menghela napas, mengalah. "Jadi nonton apa?"
Selama satu jam nonton, aku dan Pak Glenn sama-sama enggan membuka suara. Hanya suara televisi yang menjadi pengisi ruang tengah rumahku. Lengan Pak Glenn masih setia bertengger di belakang leherku, dan aku pun dengan senang hati menjadikan bahunya sebagai sandaran. Sayup-sayup kantuk menghampiri pelupuk mataku, membuat pandanganku terasa berat. Hingga pada akhirnya, aku pun tertidur dalam dekapan Pak Glenn. Ah! Ralat. Dalam dekapan si om-om bastard.
*
*
*
*
*
NAH, LHO! GIMANA RASANYA, TUH, KALAU ADA DI POSISI MELATI? MALU ABIS PASTI! ENAK-ENAK NATAP WAJAH SI DOI YANG LAGI TIDUR, EH, TERNYATA KEPERGOK. 😆
Jangan lupa vote, rate, like, dan komen, ya!
See you :)
Kpn lanjutannya..???
Di tunggu lho....😊😊
ngilu bayang kan nya..