Warning : Cerita ini hanya untuk pembaca dewasa
Pasca berakhirnya pertunangan dengan mantan kekasihnya yang kasar dan super toxic, Lila memutuskan untuk kembali ke Brisbane, kota tempat ia tumbuh bersama empat sahabat masa kecilnya yang dulu ia perlakukan sebagai kacung.
Henry, Jacob, Aiden dan Pierre. Mereka yang dulu Lila anggap sebagai anak buah, kini menjelma menjadi empat pria dewasa yang super tampan dan sangat mapan. Sementara Lila justru bertahan dengan sisa tabungannya dan honor sebagai novelis tidak terkenal yang sangat sedikit.
Setelah dipermalukan oleh Henry di acara reuni SMA, Lila justru mendapatkan kejutan demi kejutan tak terduga dari keempat sahabat masa kecilnya yang diam-diam mencintainya sejak lama.
Jika kamu suka cerita ini, jangan lupa like, coment dan follow ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azmi McFadden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Pohon
Lila melangkah perlahan dengan perasaan yang berkecamuk di hatinya. Tempat ini, suasana ini terasa membawa kenangan yang membuat matanya berkaca-kaca.
Lila berdiri di depan pohon maple besar, di mana rumah pohon mereka masih berdiri kokoh di atas pohon. Tidak ada yang berubah, semuanya masih tetap sama seperti dulu.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Aiden yang langsung bisa memahami apa yang Lila rasakan.
"Aku tidak menyangka kalau rumah pohon ini masih ada."
"Tentu saja! Aku berjuang mati-matian untuk mempertahankan rumah pohon ini. Ya, meski si Henry bajingan itu berpikir tindakanku sangat konyol, tapi bagiku ini adalah tempat yang sangat aku sukai."
"Ya, karena dulu nenekmu sering menjemputmu ke tempat ini setiap kali kau dipukul ayahmu!"
"Ck, hahaha...kau masih mengingat semua yang memalukan ya?"
"Tentu saja! Tidak ada alasan untuk melupakannya!"
"Begitu ya? Jadi kenapa kau pergi tiba-tiba tanpa memberitahu kami? Apa tidak ada alasan bagimu untuk memberitahu kami?" Tanya Aiden yang sudah berdiri tepat di hadapan Lila dengan sorot mata yang menunggu jawaban darinya.
Lila tercenung, ia tak tahu bagaimana cara menjelaskan pada Aiden apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia hanya perlu menyimpannya di dalam hati.
"Lupakan saja! Itu sudah 10 tahun yang lalu. Aku pikir, kalian justru baik-baik saja tanpa aku. Bukankah itu bagus?"
Aiden menghela nafas sambil tertawa kecil, ia sudah menduga itulah jawaban yang akan Lila berikan. Ia sangat mengenal Lila lebih dari yang Lila ketahui.
"Ya, baiklah aku mengerti! Mau memanjat ke atas? Tangganya masih ada!" Aiden langsung memanjat pohon itu tanpa menggunakan anak tangga untuk sampai ke rumah pohon yang tingginya tak lebih dari tiga meter dari permukaan tanah.
Melihat Aiden yang dengan mudah memanjat membuatnya ingin memanjat juga. Namun ia sadar bahwa dia mengenakan rok pendek dan akan sangat memalukan jika memanjat begitu saja.
"Hei Aiden, kau yakin anak tangganya masih aman untuk diinjak? Masih kokohkan?" Lila merasa sedikit takut setiap mendengar bunyi berdecit saat ia menginjak anak tangga satu persatu.
"Tenang saja! Ulurkan tanganmu! Aku akan membantumu!"
Meski sedikit ragu, namun hanya Aiden yang bisa membantunya untuk saat ini agar ia bisa masuk ke rumah pohon.
Dan saat ia tiba di atas rumah pohon. Matanya terbelalak takjub melihat bagaimana tempat penuh kenangan ini tidak berubah sama sekali. Coretan di dinding kayu yang tertulis nama mereka berlima, gambar-gambar yang mereka tempel di dinding, poster pemain sepak bola favorit Pierre, poster pegulat smackdown favoritnya, poster pembalap profesional favorit Aiden, Poster Nikola Tesla milik Jacob dan poster Michael Jackson lengkap dengan tanda tangannya yang Henry dapatkan dari pamannya. Semuanya masih ada di tempat ini, begitu pula dengan puluhan buku komik dan radio yang dulu selalu mereka gunakan untuk mendengar musik.
Tanpa sadar, air matanya mengalir membasahi wajahnya. Sebuah foto dinding yang membuat dadanya terasa sesak karena kerinduan akan masa kecil yang tidak akan terulang kembali. Foto mereka berlima di rumah pohon ini, foto yang diambil Paman Pierre ketika musim semi tiba 15 tahun yang lalu.
"Kau baik-baik saja? Kau menangis?"
"Tidak, aku baik-baik saja! Aku hanya merasa seperti melintasi waktu ke masa kecil kita dulu."
"Kau benar! Lihatlah, matahari terbenam! Indah sekalikan?" Ujar Aiden sembari menatap ke arah matahari yang seolah terbenam melewati bukit di depan sana.
Padang bunga lavender yang berwarna ungu, berubah keemasan. Lila merasa takjub dan hatinya dipenuhi kebahagiaan. Di tempat ini, tempat yang membawa kenangan.
"Kau senang aku membawamu kesini?"
"Ya, begitulah!"
"Begitu ya? Tapi sepertinya kau tidak terlalu senang!"
"Terima kasih, Aiden!"
"Hmm?"
"Terima kasih karena kau tidak membenciku!"
"Hahahaha...siapa bilang aku tidak membencimu? Dasar curang!"
"Curang? Apa yang kau katakan?"
"Pierre, dia menginap di tempatmu semalam, iyakan?"
"A-apa? Apa yang kau-"
"Aku tahu! Tidak usah berbohong padaku. Aku ke rumahnya pagi ini, tapi ibunya bilang Pierre belum pulang sejak semalam. Aku tanya Henry dan Jake, mereka tidak tahu. Saat aku mau ke rumahmu pagi ini, aku melihat mobil Pierre keluar dari halaman. Dia menginap tadi malam, iyakan?"
"I-itu, dia-"
"Kenapa gelisah begitu? Apa terjadi sesuatu diantara kalian berdua?"
Aiden terus menatapnya tanpa berkedip, membuatnya semakin bingung dengan jawaban yang akan ia berikan. Mau bagaimanapun, rasanya mustahil memberitahu Aiden tentang apa yang terjadi antara ia dan Pierre tadi malam.
Ia hanya tertunduk dengan pipi yang bersemu merah, membuat Aiden menyadari bahwa sesuatu telah terjadi pada mereka berdua. Aiden menghela nafas sambil menahan tawa melihat kegugupan Lila.
"Aku- itu, tidak terjadi apa-apa-"
"Sudahlah! Kau tidak perlu memberitahuku jika itu membuatmu merasa terganggu. Kau boleh menyimpannya sendiri kalau kau mau!" Ucapnya. Aiden berbaring di pangkuannya begitu saja tanpa meminta izin darinya.
Lila terkejut karena dia sedang pakai rok kerjanya yang pendek. Namun Aiden justru menutup matanya seolah menikmati apa yang dia lakukan.
"Elus kepalaku dong!" Pinta Aiden sembari menarik tangan kanan Lila agar menyentuh kepalanya.
Lila merasa semakin gugup, ia merasa bahwa hal seperti ini tidak akan dilakukan oleh mereka yang bersahabat. Seorang pria duduk di pangkuan wanita dan meminta kepalanya dielus, itu adalah sesuatu yang intim yang biasanya dilakukan sepasang kekasih.
Namun, melihat bekas memar di sudut dahi Aiden membuat Lila merasa seolah tak bisa mengabaikannya. Ia tahu bahwa terjadi sesuatu pada Aiden dan itu membuatnya sangat khawatir.
"Dahimu memar! Apa kau sudah mengobatinya?"
"Hmm?" Aiden merespon singkat dengan mata yang terpejam.
"Tidak apa-apa, tidak perlu diobati!"
"Sejak dulu kau selalu bilang begitu, tapi setelah itu kepalamu jadi sering sakitkan? Apa sekarang masih sering sakit?" Lila menanyakan pertanyaan bertubi-tubi padanya, membuat Aiden terpaksa membuka matanya.
"Jika kau begitu peduli padaku, kau saja yang obati lukaku!"
"Apa?" Lila tak mengerti bukan karena ia tak peka. Melainkan karena ia tak ingin ada perasaan lain di antara mereka sekarang.
Ia dan Aiden hanya berdua di tempat ini, ia tak mau jika apa yang terjadi antara ia dan Pierre juga terjadi pada ia dan Aiden sekarang. Ia tak ingin hubungan mereka menjadi sangat canggung kedepannya karena telah melibatkan sex ke dalam hubungan persahabatan mereka.
Namun hal yang ia khawatirkan muncul, Aiden mengangkat kepalanya dan kini wajahnya hanya berjarak beberapa inci dan hadapannya. Itu membuatnya mau tak mau menatap mata amber Aiden yang berkilau keemasan.
"Mau melakukannya denganku juga?" Bisik Aiden.
Lila berhenti bernafas, tubuhnya tak bisa bergerak. Semua bayangan masa lalu terlintas di benaknya tentang bagaimana perjalanan persahabatan mereka selama 12 tahun.
"I-itu aku-aku-" Lila tak bisa menjawab, namun ia juga tak bisa mengatakan tidak.
Aiden memeluknya dan mengusap punggungnya, Lila bisa mencium aroma parfum Aiden yang sama persis dengan aroma parfum mantan tunangannya.
"Apa kau baik-baik saja selama tinggal di Indonesia?" Tanya Aiden. Lila yang sudah terlanjur gugup, bingung karena Aiden tidak mencoba untuk merangsangnya atau apapun.
"Y-ya, a-aku baik-baik saja. Kenapa kau tanya itu?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin memastikan saja! Soalnya jika terjadi sesuatu padamu di sana, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri." Ucapnya. Lila tecenung, kata-kata yang Aiden ucapkan membuatnya ingin menangis dan entah mengapa ia berharap saat ini Aiden hanya sedang bergurau seperti biasanya.
"Kau bicara apa? Jika terjadi sesuatu padakupun, itu tidak ada hubungannya denganmu!" Lila langsung menghentikan ucapannya saat ia sadar bahwa ia baru saja mengatakan sesuatu yang salah. Dan benar saja, Aiden langsung melepaskan pelukannya dan menatapnya dengan mata serigalanya yang sangat dingin.
"Kau benar! Sejak kapan aku menjadi orang yang penting dalam hidupmu, iyakan? Maaf, karena aku terlalu percaya diri!" Aiden tersenyum pahit, bertingkah seolah ia tidak terluka dengan kata-kata Lila.
Lila terdiam, ia ingin meminta maaf pada Aiden dan mengatakan bahwa ia tak benar-benar bermaksud mengatakan hal itu. Namun entah mengapa keangkuhannya memaksanya untuk tetap diam seperti seorang pecundang yang selalu merasa benar.
"Aiden, maksudku bukan-"
"Sudahlah, lupakan saja! Ngomong-ngomong, pizzanya sudah dingin. Sebaiknya kita makan sekarang!" Ucapnya sembari membuka sekotak pizza pepperoni dan sebotol besar cola.
Aiden menyantap pizza itu dengan lahap seolah tidak ada yang mengganggu pikirannya. Sementara di sampingnya, Lila dihantui perasaan bersalah karena ucapannya.
"Aku dengar dari Pierre sekarang kau bekerja sebagai pilot untuk pesawat pribadi ya?" Ucapnya mencoba mencairkan suasana yang canggung.
"Dulu, tapi sekarang tidak lagi!"
"Benarkah? Kenapa?"
"Kaukan tidak peduli padaku, untuk apa kau mengetahui semua itu?" Aiden tampaknya merajuk dan sikapnya itu sangat mudah terbaca.
"Maaf, aku tidak bilang kau tidak pentingkan? Aku hanya bilang bahwa apa yang terjadi padaku selama 10 tahun ini tidak ada hubungannya denganmu. Bukan hanya kau, tapi Henry, Jake dan Pierre juga. Karena itu-"
"Hahahaha..." Aiden tertawa terbahak-bahak dan tawanya itu benar-benar membuat Lila terkejut.
"Sialan! Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?"
"Hahahaha...bagaimana ya? Habisnya aku sempat khawatir kalau kau benar-benar berubah. Tapi ternyata kau tetap sama seperti yang dulu!"
"Apa maksudmu? Apanya yang sama?"
"Gila dan menyebalkan-"
Buuukkk...
Tanpa aba-aba, Lila langsung meninju pipi Aiden, memaksa pria ini untuk berhenti mengganggunya.
"Aduh...pukulanmu tetap sakit ya? Kau masih berlatih gulat?" Ujar Aiden sembari menyentuh pipinya yang terasa nyeri.
"Tutup mulutmu itu! Dasar brengsek! Huh, menyebalkan! Kau sama saja dengan Henry sialan itu, selalu saja menggangguku!"
"Siapa bilang?"
"Apa?"
"Kami berbeda! Aku menganggumu bukan karena aku benci atau dendam padamu!"
"Kalau begitu apa?"
"Aku merindukanmu! Aku senang kau kembali!"
***