Hai aku Aram, pekerja kantoran bergaji standar UMR di pinggiran ibukota. Wanita umur 30-an yang sudah dikejar deadline “kapan menikah?” dari orangtuanya.
Orang yang hanya melihat kehidupan romasa orang lain dari balik kursi penonton. Ketika sudah siap menyambut kematian, aku malah diberi kesempatan kedua menjadi Arabella, calon putri mahkota di novel yang kubaca dulu. Klise!
Tentu saja, Arabella adalah antagonis! Double klise!
Mau mengubah takdir? Ngga dulu deh…
Lagipula, aku sudah terjebak dengan skenario takdir yang mendukung peranku jadi antagonis. Jadi, Mmari kita serius menjalani peran antagonis dan mengakhirnya dengan tragis seperti yang sudah ditentukan dalam cerita!
Hip Hip Hore untuk jadi jahat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ESOK., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ide Penyamaran
Tidak bisa….aku, menyerah!
Meskipun sudah memendamkan diri di kamar selama dua belas jam, ternyata aku bosan jika tanpa hiburan.
Perpustakaan tidak memiliki novel-novel yang bisa kubaca. Aku tidak mau berjalan sendirian di danau seperti orang bodoh, dan, tidak ada kesatria yang berlatih memanah karena mereka sibuk berjaga di malam terakhir festival bunga.
Aku yang percaya diri bisa bertahan ternyata teralihkan juga dengan dentuman kembang api yang sesekali terdengar. Padahal, masih ada waktu sekitar tiga jam sampai puncak acara dan penutupan festival.
Aku mengambil catatanku tentang ‘My Chiara’ dan membaca cepat untuk mengingat kembali alur yang saat ini sedang berlangsung.
Acara menari bersama dimulai di alun-alun ketika matahari telah sempurna tenggelam. Diantara kemeriahan itu, Chiara dan Thierry yang menyamar akan berada di tengah-tengahnya. Mereka juga ikut menarikan bersama-sama beberapa lagu.Yayy sungguh acara yang mengasyikkan!
Sementara aku harus apa? Aku bosan di sini!
Aku juga sudah berniat menjadi antagonis yang baik. Mendalami peran sebagai penjahat lalu mati tragis. Kenapa aku jadi tidak bisa menikmati hal-hal lain di luar itu, sih?
Aku mengatupkan kedua tanganku dan melihat ke atas seakan sedang berjanji. Aku hanya melihat-lihat festival dengan arah yang menjahui alun-alun. Tidak akan menganggu atau mengintip alur, kok!
Aku memantapkan hati dan membuka pintu kamar. Lanna tiba-tiba ikut keluar dari ruangan kecil di samping kamar itu. Oh, menarik, ternyata seperti itu caranya mereka bisa sangat cepat saat aku memanggil.
“No..Nona Arabella butuh sesuatu lagi? Biar saya ambilkan.”
“Ya.” Jawabku. “Aku ingin meminjam salah satu baju sederhanamu.”
“Baju saya?” Lanna membeo.
“Iya, Lanna.” Aku menekankan perkataanku, “Aku ingin keluar ke festival bunga.”
“Ta, tapi. Bukankah Nona bilang tidak bisa keluar kamar sampai malam ini berakhir? Tinggal beberapa jam lagi Nona, bertahanlah!” Lanna mengepal kedua tangannya di depan dada seakan sedang menyemangatiku.
Responnya yang variatif ini memang cukup menghibur, tapi, tetap saja menyebalkan untuk dihadapi.
“Aku bilang tidak mau keluar, bukannya tidak bisa. Sekarang aku sudah mau, jadi, siapkan saja apa yang aku suruh.”
“Tapi, Nona..” Aku melotot, mengancam Lanna dengan tatapan mengintimidasi.
“Maafkan saya, Nona. Akan saya cari baju yang paling bagus yang tidak pernah saya pakai.” Lanna yang mulai gemetaran undur diri, berlari-larian kecil di koridor menuju bagian kamar pelayan yang berada terpisah dari bagunan utama istana.
“Saya juga ikut ke festival?” Lanna masih dengan kebingungannya membantuku memakai baju miliknya.
Baju itu memang baru, tapi, puluhan kali lebih sederhana dibandingkan seluruh baju Arabella yang bertabur permata. Dengan penampilan seperti ini, aku tidak akan dikenali oleh bangsawan manapun. Jadi, tidak akan ada kesalahan yang sama dengan ceritaku saat bertemu Yorka.
“Ya, atau pelayan yang lain juga bisa. Di mana Elise?”
“Elise sedang tidur, Nona, karena memang saat ini giliran saya yang berjaga.” Lanna menjawab apa adanya. Aku ragu harus lagi-lagi membawa Lanna. Entah kenapa kalau bersamanya, rasanya nasib burukku bertambah sua kali lipat.
“Yasudah, karena hanya ada kau. Jadi, kau yang ikut aku ke festival bunga. Kita harus bergegas karena aku ingin makan semua jajanan di sana.”
“Baik, Nona.” Suara Lanna tampak bersemangat. Bisa-bisanya ekspresi bingung yang baru satu menit tadi hilang begitu saja.
“Oh iya, Nona, haruskan saya bawa keranjang makanan?” Aku menarik nafas panjang, kali ini, semoga keputusanku membawanya lagi tidak akan membawa bencana.