Rumania negara eropa timur yang di selimuti banyak legenda dan mitos menarik. Mitos yang paling terkenal di semenanjung balkan adalah tentang mahluk penghisap darah legendaris Strigoi, Vampir dan Dracula.
Lumina bergetar hebat melihat temannya merintih kesakitan saat mahluk bermata hitam dengan tatapan tajam menghisap darah di lehernya dengan rakus.
• Sir Louis Alexander Abraham :
"Akan kupastikan kau akan mendesah hebat di bawah kungkungan ku."
• Lumina Cathleen :
"Demi tuhan aku tak kan pernah sudi menjadi budak iblis sepertimu."
Cerita pertamaku, pliss kritik dan sarannya yahh 🙏
Jika berkenan, kasi rating sebagai penyemangat ku 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Di dalam kamar, Lumina yang tengah terdiam dengan kesendiriannya sedikit penasaran akan siapa tamu yang mencari tuanya. Suara decit pintu seketika membuatnya menoleh, ia mendapati Louis yang masuk dengan raut muka masam. Lumina yang tak ingin terlibat percakapan dengan tuannya hanya diam tanpa ingin menegur.
Louis yang merasa terganggu akan kedatangan Lucille dan William langsung merebahkan dirinya diatas sofa, ia memberi isyarat agar Lumina mendekat kearah nya.
"Kemari" Lumina dengan ragu mendekat ke arah Louise, Secara tiba-tiba Louis menariknya untuk duduk diatas pangkuannya. Di dekapnya tubuh itu dan menelusupkan kepalanya di dada gadis itu. Louis memeluk erat dan mengendus kuat bau tubuh Lumina. Ia merasa sedikit tenang akan perlakuan tersebut. Sementara Lumina secara naluri mengusap lembut kepala tuannya, ia bisa menangkap suasana hati louis yang tengah gusar.
"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya sedikit perhatian karena tersentuh akan sikap lembut Louis. Ia mendongkak dan menatap lekat gadisnya.
"Tidak ada, hanya ada sedikit pengganggu yang datang kemari."
"Siapa?"
"Mereka kerabatku dari Basillica" Lumina hanya diam tak ingin menanggapinya lagi. Untuk sesaat ia seakan lupa akan kemarahannya pada pria itu, tapi di lubuk hatinya ia masih menyimpan dendam atas perlakuannya.
"Louis, bisakah aku keluar dari ruangan ini. aku ingin kembali bekerja seperti biasanya" Ia mengangkat pandangannya demi menunjukkan keyakinan serta kesedihan yang masih tersisa.
Louis tersenyum penuh maksud, "Selalu ada harga untuk sebuah kebebasan Lumina."
"Apa maksudmu?"
"Bukankah sudah pernah kukatakan kalau aku menginginkan mu, apakah kau sudah siap menyerahkan dirimu sepenuhnya kepadaku?"
Lumina tersenyum miris "Pernahkah terbesit dalam benakmu kalau kau begitu keras kepadaku, kau begitu egois" Ia menunduk sendu.
"Aku tau, tapi aku tetap menginginkanmu. Lagi pula pemberontakan mu akan sia-sia dan melukai dirimu, dan aku tak mengharapkan itu."
Louis membubuhkan ciuman di sudut lehernya dengan penuh gairah hingga turun ke pundaknya. Ia menarik gaun tidur Lumina hingga jatuh terulur ke lantai dan merebahkan dengan pelan di atas tempat tidur.
Satu tetes air mata berlinang di pipinya. Louis yang menyadari itu merasa menang atas kuasanya. Dibelai nya lembut tubuh polos yang hanya menyisakan cawat di bawah kungkungannya, di s*sap dan di kul*m penuh damba tubuh gadisnya.
Ia kembali menyambar bibirnya dan meng*lum penuh seluruhnya kedalam mulutnya sedikit liar. Lumina sedikit sesak karena louis menutup hidung dan mulutnya dengan ciuman. Saat menyadari gadisnya terlihat kesulitan ia menjaga jarak dan menjeda perlakuannya. Seketika gadis itu bernafas lega, di tatapnya mata yang seindah samudra tengah menatapnya dengan sendu. Ia menyadari jika gadis yang tengah bergulat dengan nya belum sepenuhnya siap menyerahkan dirinya.
Ia menarik tangan gadis itu ke bibirnya, mel*mat ujung jari dan menj*lat lengannya hingga naik keatas pundaknya. Louis terdiam sebentar dan mengecup kening Lumina.
"Tidurlah."
Ia menarik selimut menutupi tubuh polos gadisnya sebatas pinggang. Di dekapnya tubuh itu dan di usap pelan punggung polos seputih porselen hingga sang empunya tertidur lelap.
Di tatapnya wajah gadis yang mampu mergetakkan hatinya. Ia menyisihkan helai rambut yang menutupi paras cantiknya. Louis tidak menyangkal jika dirinya terlalu keras dan egois terhadap Lumina, yang semata mata ia lakukan demi menjerat gadis itu.
Ia beranjak berdiri dan melepas seluruh pakaiannya untuk segera berendam, tidak di pungkiri jika dirinya perlu meredam hasrat nya telah meluap akibat Lumina. Setelah merasa dirinya kembali stabil, Louis beranjak dari kamar mandi hanya menggunakan kimono satin hitamnya.
Suara ketukan pintu sedikit menghalangi langkahnya saat akan beranjak kembali ke tempat tidur. Ia kembali memastikan Lumina yang tengah tertidur lelap sebelum memeriksa seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
Saat ia membuka pintu, dilihatnya Lucille yang tengah berdiri tepat di hadapannya.