NovelToon NovelToon
CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:554k
Nilai: 5
Nama Author: Ough See Usi

Adisti harus memutuskan pertunangannya dengan Prasetyo Anggoro, seorang pewaris Anggoro Putra Group, saat 30 hari menjelang pernikahannya. Rita Gunaldi, desainer sekaligus MUA baju pengantin yang merupakan, pemilik The Ritz “mengambil” tunangannya tepat di depan matanya.

Siapa yang menyangka tepat di hari H yang sudah dibatalkan, Adisti jatuh dari tebing dan justru bertemu dengan jodoh yang sebenarnya di tengah jurang, Bramasta Sanjaya seorang pewaris Sanjaya Group dan perintis B Group. Pertama kali mereka bertatap mata di tengah jurang, pertama kalinya mereka merasakan jatuh cinta. Dan huruf “G” kecil tulisan tangan Adisti semakin meyakinkan hati Bramasta.

Keluarga Anggoro dendam. Begitupula Rita Gunaldi. Dendam menguak aib dan kejahatan yang mereka lakukan. Melibatkan Interpol dan polisi di dalamnya.

Cinta dan Dendam, kepada siapa nasib akan berpihak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ough See Usi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 – KERJASAMA

“Sudah sholat Ashar semua?” tanya Ayah sembari keluar dari kamar sementara Adisti. Dijawab dengan anggukan. Ayah duduk di salah satu sofa ruang tengah. Bramasta, Indra dan Agung menghentikan pekerjaannya. Merapikan berkas dan mematikan laptopnya. Bunda dan Mommy ikut duduk di sofa.

“Jadi bagaimana?” tanya Ayah langsung pada inti percakapan.

“Sebenarnya ini rencana dari salah satu proyek kerjasama antara Sanjaya dan B Group yang tertunda karena belum menemukan lahan yang cocok, Pak. Proyek dari divisi Farming kami. Sanjaya Group mempunyai pabrik pupuk dan obat pertanian dengan basis organik sedangkan B Group mempunyai rencana untuk agribisnis berbasis pertanian organik terpadu,” Bramasta mulai menjelaskan seperti melakukan presentasi, “Rencana yang kami buat nanti bukan hanya pertanian saja tetapi juga peternakan modern. Nilai ekonominya bukan hanya dari hasil pertanian dan peternakan saja melainkan juga dari pariwisata. Nilai edukasinya, lahan yang kami kelola menjadi lahan percontohan bagi pertanian dan peternakan organik di Indonesia dan insyaa Allah di Asia Tenggara.”

“Wah, butuh lahan besar dong,” kata Ayah. Bramasta mengangguk.

“Rencana awal kami membutuhkan sekitar 7 Ha lahan dengan kondisi lahan subur, tidak subur dan kritis. Masa sewa 10 tahun dan bila bisnis berjalan baik, masa sewanya akan kami perpanjang.”

“Lahan-lahan di sekitar punya kami sepertinya juga ada beberapa yang hendak dilepas pemiliknya. Nanti Bapak hubungi Pak Kades, karena dia yang tahu pemilik dan status tanah. Memang sih daripada dilepas lebih baik disewakan jangka panjang. Sayang menjual tanah sekarang. Investasi yang selalu naik harganya, seperti emas,” Ayah mengangguk setuju.

“Untuk masalah tanah, nanti ditangani oleh Anton, ya Pak. Nanti Pak Gumilar bisa ajak Anton untuk survey bareng ataupun menemui Pak Kades. Untuk tanah Pak Gumilar, deal untuk kami sewa?”

Ayah memandang Bunda lalu Agung. Keduanya mengangguk.

“Insyaa Allah, kami setuju.”

Bramasta memandang Agung. Agung mengangguk.

“Nanti perjanjian sewa disusun oleh Indra. DP sewa tanahnya nanti ditransfer setelah harga sewa disepakati ya Pak.”

“Sudah?” tanya Bunda, “Semudah itu langsung deal dan selesai? Gak pakai survey dulu, Nak?”

“A Agung sudah menceritakan sekilas tentang tanah Pak Gumilar, Bu. Feeling saya bagus dengan tanah tersebut tanpa harus lihat dulu lokasinya. Saya percaya feeling saya,” Bramasta tersenyum.

“Bun..” Adisti keluar dari kamar.

“Mau kemana, Dek?” Bunda menghampiri.

“Ke kamar mandi. Adek belum Ashar.”

“Ya udah atuh, buruan wudhu,” Bunda memegang tangan Adisti.

Bramasta memperhatikan hingga Adisti masuk ke dalam kamar mandi.

“Bos, gak usah dilihatin terus dong. Gak bakalan jatuh. Udah ada yang pegangin,” Indra berbisik sambil menyikut lengan Bramasta. Mommy menaikkan satu alisnya melihat mereka berdua saling berbisik.

“Mengenai trauma Adisti,” Bramasta berbicara dengan sedikit lantang, semua menoleh, “Bagaimana kalau Adisti mengunjungi tempat dia jatuh?”

“Maksudnya?”

“Ada memori yang hilang dari Adisti tentang penyebab dia jatuh. Apa yang menarik perhatiannya sampai ia nekat menuruni tebing. Siapa tahu, dengan mengunjungi lokasi, ingatannya bisa kembali lagi dan dia bisa menaklukkan traumanya.”

Semuanya mengangguk setuju.

“Tapi aman kan?” Agung bertanya cemas.

“Insyaa Allah aman. Semuanya ikut ya supaya Adisti merasa nyaman dikelilingi keluarganya.”

“Kapan, Nak?”

“Weekend saja ya? Jadwal saya dan Indra penuh beberapa hari ke depan. A Agung juga baru masuk kerja lagi setelah cuti, pasti sibuk banget ya A.”

Agung mengangguk. Indra membuka gawainya untuk melihat jadwal.

“Bos, Sabtu ini kita harus ke Jakarta.”

“Undangan peresmian dari Pandu Global ya? Kirim perwakilan saja, Ndra. Lagi gak mood dengan acara penuh basa-basi seperti itu,” Bramasta tersadar sesuatu, menoleh dengan cepat ke arah Mommy yang sedang menatap tajam.

“Eh, Mommy.. peace ya, Mom ..peace,” 2 jarinya teracung membentuk V.

“Apa?”

“Pandu Global punya teman Mommy, kan?”

“Kenapa emangnya?”

“Risih, Mom dengan anaknya. Tipikal uget-uget gitu..”

“Maksudnya?” Semuanya jadi tertarik menunggu penjelasan Bramasta.

“Sikapnya, cara bicaranya, cara jalannya juga cara berpakaiannya kayak uget-uget gitu Mom..” Bramasta memandang Indra dengan wajah bingung, “Ehm Ndra, gimana sih penjelasannya?”

“Tau.. dari tadi uget-uget mulu. Ini pasti gara-gara password wifi di rumah ini kan? Uget-uget 3?” Indra mendapat sikutan keras dari Bramasta. Semuanya tertawa.

“Udah ceritain aja apa adanya supaya Bos gak diudag-udag uget-uget mulu..”

“Cerita apa, Ndra? Bilang ke Mommy,” Mommy merapikan kerudungnya, “Ndra, kamu aja deh yang cerita. Kalau Bram yang cerita nanti serba uget-uget lagi yang disebut. Geli Tante dengarnya."

“Kejadiannya sewaktu Tante dan Om ke Kuala Lumpur, sebulan yang lalu ya Bos?” Bramasta mengangguk.

“Ada undangan dinner dari Pandu Global untuk bahas kerja sama dengan B Group. Saya dan Bramasta datang. Kami kira, undangan dinner bisnis. Ternyata dinner tersebut dihadiri juga oleh Esther, dengan dalih Esther calon penerus Pandu Global jadi harus belajar berhadapan dengan pebisnis lainnya. Cuma ya gitu, ujung-ujungnya dinner bisnisnya hanya sekedar modus saja. Lebih banyak ngomongin tentang Esther. Muji-muji Esther melulu. Tahu kan maksudnya gimana?”

Mommy mengangguk, “Terus uget-ugetnya dimana?”

“Nah itu, kayaknya Pak Benny ayahnya Esther, berniat banget untuk menjauhkan antara saya dan Bos. Saya diajak ke ruangan VIP yang terpisah dari Bram oleh sekretarisnya Pak Benny. Alasannya karena banyak berkas yang harus dilihat. Sampai akhirnya Bos nelepon. “Ndra, help.” Sambil bisik-bisik pula ngomongnya. Auto panik dong. Langsung ninggalin si sekretaris yang lagi ngomong apaan gak tau.”

“Terus?” Mommy memajukan tubuhnya ke arah Indra.

“Begitu buka pintu, Esther lagi jadi uget-uget. Tubuhnya ditempel-tempelin ke tubuh Bos. Bosnya gak bisa menghindar lagi karena udah nempel tembok. Langsung saya tarik tuh tangan si Bos. Auto kabur.”

“Whattt??!” Mommy terlihat merah wajahnya, “Kurang ajar tuh anaknya Benny. Emang anak gue cowok keren apaan sampai ditempel-tempel begitu. Si Esther ngomong apa aja?”

“Gak tahu. Dan gak peduli juga dia ngomong apa,” kata Bramasta.

“Tapi dilihat juga kan?” Adisti menatap Bramasta dengan tatapan menyelidik.

“Nggak..suer,” Bramasta mengangkat 2 jarinya membentuk V, “Gak berani lihatnya. Merem.”

“Lihat apa?” Agung ikut bertanya.

“Itu.. tumpah..”

“Apaan yang tumpah?”

“Itu.. bajunya terlalu…. Jadi tumpah.”

“Udah gak usah dijelasin. Malu-maluin,” Mommy memukul bahu Bramasta, “Kenapa gak cerita ke Mommy sih?” Bramasta mengernyit sakit.

“Mom, Bram udah 33 tahun loh. Masa urusan sepele kayak gitu lapor Mommy? Lagian semua juga sudah lewat, Bram gak kenapa-napa, Indra juga jagain Bram.”

“Alhamdulillah masih dilindungi Allah ya Nak Bram,” kata Ayah.

“Alhamdulillah Pak.”

“Boys, pulang sekarang. Biar Pak Gumilar dan keluarga bisa beristirahat,” kata Mommy pada Bramasta dan Indra, “Maafin anak-anak ya Pak, Bu.. Adisti istirahat ya. Syafakillah,” Mommy mengelus punggung Adisti.

“Gak apa-apa, Bu. Kita malah dibantu banget oleh Nak Bram dan Nak Indra.”

Indra membereskan berkas dan laptop.

“Jangan lupa ke tempat saya ya A,” Bramasta berucap pelan kepada Agung. Agung mengangguk.

“Thanks a lot for everything_terimakasih banyak untuk semuanya_ ya,” Agung dan Bramasta ber-hi five. Diikuti Indra.

“Pak Gumilar nanti kita teleponan aja ya Pak,” kata Indra sambil salim kepada Ayah dan Bunda.

“Disti, Abang pulang dulu ya. Jangan naik tangga dulu. Jangan pakai tangan kirinya dulu. Selalu pakai gendongan tangan supaya gak geser lagi sendinya. Minum obatnya. Makan yang banyak biar cepat sembuh. Gak usah mikir yang berat-berat dulu, fokusin untuk sembuh aja ya. Maaf nanti saat kontrol ke rumah sakit lagi Abang gak bisa nemenin. Jadwal Abang udah gak bisa digeser-geser lagi. Indra udah misuh-misuh terus gegara harus geser-geser jadwal mulu,” Bramasta menatap Adisti. Pipi Adisti bersemu.

“Udah pamitannya? Pamitan atau kesan dan pesan sih? Gak sekalian kata-kata mutiara? Atau pantun sekalian?” sindir Mommy, Ayah dan Bunda tertawa.

“Tau tuh. Pakai bawa-bawa nama Indra lagi..” Indra mengarahkan remote untuk membuka pintu mobil. Driver membantu membawakan berkas dan laptop dari tangan Indra.

“Gitu aja protes..” Bramasta memasang cengirannya, “Pamit semuanya ya.. assalamu’alaikum.”

Mobil Mommy tiba-tiba berhenti. Jendela mobilnya terbuka. Wajah Mommy muncul.

“Bu Gumilar, jangan lupa ya rencana kita nanti. Makan siang bareng a la Li Ziqi.”

Bunda mengacungkan dua ibu jarinya sambil tersenyum lebar.

“Siapa Li Ziqi?” tanya Ayah sambil memasuki rumah.

Saat Bunda menyiapkan makan malam, Ayah menghampiri.

“Mereka benar-benar berbeda ya dengan keluarga Anggoro.”

Bunda menoleh, “Padahal mereka lebih kaya dari Anggoro ya Yah. Tapi adab dan bagaimana mereka berinteraksi benar-benar berbeda.”

“Bramasta dan Adisti…” ucapan Ayah dipotong Bunda.

“Sudah, jangan dibicarakan. Biarkan saja apa adanya. Kita juga tidak tahu bagaimana perasaan Adisti.”

Ayah mengangguk setuju.

1
Ough See Usi
gak di ACC pihak NT.

Sama dengan Mr. Architect, awalnya pakai foto Taehyung BTS, tapi disuruh ganti.
Niken Dwi Handayani
Awalnya pakai photo Chow Yun Fat, kok bisa ganti jadi Hyun Bin Thor?
Ough See Usi: waduh salah kolom sayanya.. 🙏🏼

karena gak di ACC pihak NT
Ya gitu deh...
total 1 replies
Ough See Usi
Eric masih 11 tahun
Alif 8 tahun
Abay 5 tahun
Andra 2 tahun
Sidney 15 tahun
Niken Dwi Handayani
Di novel ini Eric umurnya berapa ya? Sebab di novel nya Anton, umurnya sudah 11 tahun kalau ga salah baca.
Ough See Usi: maaf salah naruh komen.
Author juga salah nempatin umur 🙏🏼🙏🏼

Belum direvisi 🙏🏼🙏🏼
Mau nge-revisi udah kelewat jauh.

Semua novel, masih ditahun yang sama.
total 1 replies
Syaiful Leli
kapan munculnya naga2 dalam tubuh merwka thor
Ough See Usi: ada di bab-bab ataupun cerita berikutnya

Keempat novel Author itu twtralogi, saling menyambung jalinan ceritanya.

Selamat membaca, semoga suka ya. 😍😍😘
total 1 replies
Ulla Hullasoh
halahhhh....... lupa tuh Indra
Ough See Usi: qqqqqq 😁🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
keluarga medusa emang keluarga bejad menyeramkan
Ough See Usi: jahara pokoknya..
total 1 replies
Ulla Hullasoh
Hadiah buat ayah mertua/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ough See Usi: ofcourse... 😁😁🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
wahhhhh ngebut nih Bram wkwkwk
Ulla Hullasoh
keren nih bang Bram tanjabbb tanpa basa basi...keren Thor
Ough See Usi: Bram gitu loh.... 🥰🥰
total 1 replies
Ulla Hullasoh
tamu nya Adisti pada kreatif wkwkwk
Ough See Usi: qqqqqq 🤣🤣🤣🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
waduhhhh mama toh yang membocorkan
Ough See Usi: Mommy memang gak bisa nge-keep cerita... 😁😁🤣
total 1 replies
Ulla Hullasoh
semangat Thorrr
Ough See Usi: siyyyaaaap
(walau sambil meriang...)
total 1 replies
Ulla Hullasoh
Anton keren kumplit nih laporannya
Ough See Usi: selalu dong... Anton... 😁😁
total 1 replies
Ulla Hullasoh
lanjut Thorrr ceritamu selalu bagus. kerennn
Ough See Usi: Hatur nuhun, hatur tengkyu

🥰🥰🥰🥰🌷🌷🌷
total 1 replies
Ulla Hullasoh
kerennn Thor...saya malah sdh duluan baca cerita Anton yg sdh menikah. kerennn
Ough See Usi: Author baru nemuin Reader yang membacanya dengan urutan terbalik... 🤭

Kalem, gak akan jadi bingung.
Paling, "Ooh jadi begitu benang merahnya..."


Selamat membaca ya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
amelia Adwin
ttp setia deh...tenang za...😘
Ough See Usi: 🥰🥰🥰 iya... iya.... 😁😁😁😘
total 1 replies
Noni Diani
Luar biasa
Ough See Usi: Terima kasih banyak🥰🥰
Ayo capcus ke novel berikutnya supaya lebih kenal dengan para Babang Ganteng di Kuping Merah 😁😁😉🌺
total 1 replies
Noni Diani
Biasa
Ough See Usi: Terimakasih banyak
Jangan lupa baca novel selanjutnya ya.. 🌷
total 1 replies
Septi Lahat
aq nggk ush baling-baling apapun tuh kak thor,, aq pengen punya kendaraan yg bisa anter jemput ank2 qu dg aman terlindungi dri panas n hujan 😁😁😁
Ough See Usi: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!