Arabella, dibesarkan oleh orangtua angkatnya yang cukup kaya raya, namun tidak pernah memberikannya kasih sayang. Hingga suatu hari, perusahaan orangtuanya terancam gulung tikar. Dan yang paling mengejutkan, bahwa dirinyalah yang menjadi jaminan atas semua hutang-hutang yang ada.
Elvan Aristides, seorang CEO dari sebuah perusahaan terbesar dan ternama. Status itu hanyalah peralihan dari kedudukannya, sebagai leader dunia bawah yang merupakan seorang psycopath dengan kekejamannya. Darinya tidak ada kata kasihan dan kesempatan kedua, bahkan dalam hidupnya tidak ada makhluk yang bernama wanita.
Dipertemukan oleh takdir, membawa mereka kedalam ikatan percintaan. Dipenuhi dengan berbagai halangan dan rintangan yang cukup berat, membuat ikatan tersebut semakin kokoh.
Sanggupkah Arabella untuk menghadapi dan menerima takdir tersebut?
Akankah seorang psycopath dan kejam mendapatkan cintanya?
Mohon dukungan like dan hadiahnya ya dan jangan lupa untuk tanggapannya, agar outhor menjadi semangat dalam berkarya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tsabita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20.
Semenjak kepergia Ara, Monic bersikap semakin semena-mena kepada para maid dirumah tersebut. Tidak ada lagi kehangatan di dalamnya, yang biasanya Ara akan selalu bercengkrama dengan para maid lainnya. Tidak ada batasan diantara mereka, dimana sifat Ara yang begitu santun kepada orang yang lebih tua walaupun status mereka berbeda.
" Mana sarapannya?" Suara monick bergema didalam rumah, mendapati meja makan yang masih kosong belum terdapat apapun selain air putih dan beberapa piring diatasnya.
Berjalan dengan begitu cepat, Mirna sang maid menghampiri tuannya. Tampak sekali ada kecemasan pada wajahnya, karena Monick sering kali berkata kasar pada mereka yang bekerja disana.
" Bik Mirna, kenapa belum ada satupun makanan? Ini sudah jam berapa, pasti kalian bermalas-malasan dibelakang." Cerca Monick dengan mulut pedasnya.
" Maafkan kami non, ada sedikit kendala pada kompornya. Mohon tunggu sebentar lagi non, makanannya akan diantarkan." Jelas Mirna dengan suara terbata-bata.
" Dasar kalian pemalas, cepat sana. Sudah lapar nih!"
" Baik non, permisi." Mirna segera lari lagi kembali menuju dapur.
Tak lama kemudian, Bagas dan Elliza juga ikut hadir di tempat makan tersebut. Mereka juga kaget dengan keadaan meja yang masih kosong, lalu mereka beralih untuk membahas sesuatu.
" Pi, bagaimana kabar Ara? Sepertinya kita sudah benar-benar melupakannya, coba Papi bertanya pada tuan Elvan, bagaimana keadaannya disana." Masih ada sisi baiknya dari seorang Elliza kepada anak angkatnya.
" Biarkan saja, masa bodoh dengan keadaannya saat ini. Yang pastinya perusahaan kita sudah baik-baik saja, ada atau tanpa dia disini."
" Benar sekali Pi, kenapa juga Mami masih mikirin anak yang nggak tahu diri itu. Lagian, dia disini juga nggak akan ngaruh sama kita." Monick dengan begitu jelasnya menolak sang Mami membicarakan rivalnya.
Mendapati anak dan suaminya semakin tidak perduli dengan keadaan Ara, hati Elliza sangat sakit mendengarnya. Walaupun hanya sebagai anak angkat, Ara sudah banyak membantu mereka. Bahkan mereka sendiri tidak menjalankan tugasnya sebagai orang tua sebagaimana mestinya. Rumah besar itu semakin terasa hampa, biasanya Ara akan selalu menghiasinya dengan sifatnya yang sangat baik.
" Mi, Mami melamun apaan sih?" Bagas yang mendapati istrinya hanya berdiam diri dihadapan mereka.
" Apa, ah Mami tidak melamun. Hanya sedang memikirkan kinerja orang dapur yang sangat lamban." Dengam cepat Elliza berkilah agar anak dan suaminya tidak curiga dengan dirinya.
" Lain kali kamu tegur mereka, jangan dibiasain seperti ini. Percuma saja mereka digaji tapi tidak becus bekerja." Bagas kembali mengeluarkan cercaan untuk para maid.
Elliza hanya bisa berdiam diri, ia tidak ingin memperburuk suasana di pagi hari. Ia saat ini begitu merindukan Ara, di dalam pikirannya. Ia akan menemui anaknya itu setelah Monick dan suaminya pergi. Mirna yang datang dengan beberapa maid lainnya, mereka segera menata berbagai macam menu makanan untuk sarapan. Monick dan Bagas menikmati sarapan mereka dengan begitu cepat, beralasan jika nanti mereka akan terlambat untuk menjalani aktivitasnya. Setelah keduanya pergi, Elliza dengan cepat mengambil keperluannya dan tas yang akan ia bawa.
" Jo, kenapa tidak menghantar bapak?" Tanya Elliza saat mendapati Johan masih berada di depan rumahnya.
" Tuan ingin mengendarai mobilnya sendiri nyonya." Jelas Johan, Elliza pun tampak sedang berpikir. Ada perasaan curiga terhadap suaminya itu, namun semuanya itu ia tepis.
" Jo, kamu hantar saya saja. Ayo berangkat sekarang, nanti tempatnya akan saya beritahu."
" Baik nyonya, segera saya siapkan mobilnya." Johan berjalan menuju garasi rumah dan menyiapkan kendaraan yang akan digunakan.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, Elliza memberitahukan alamat yang akan mereka tuju. Johan mengkerutkan keningnya, seperti mengetahui kemana arah mobil itu akan berhenti.
Ini kan alamatnya tuan Elvan! Mau apa nyonya kesana, apa mau bertemu dengan non Ara? Johan bergelut dengan alam pikirannya, mencoba mencerna kejadian yang ia hadapi.
Sementara itu, di mansion mewah sedang terjadi pertengkaran yang cukup hebat.
" Pergi! Aku tidak mau melihatmu, lebih baik aku mati daripada harus bertemu dengan monster mengerikan sepertimu!" Ara melempar sebuah guci kecil yang cukup berharga dikamar tersebut.
Prang!!
Tanpa sengaja, pecahan guci itu mengenai dan terinjak oleh kaki Elvan yang tanpa menggunakan alas kaki. Namun kejadian itu tidak membuatnya mengeluarkan satu kata apapun untuk merasakannya, jika orang lain yang mengalaminya maka akan berteriak sekeras mungkin. Ia terus melangkah untuk mendekati Ara, dimana wanita itu terus menghindar darinya.
" Aku bilang stop! Jangan dekati aku, aku benci sama kamu. Pergi, pergi!" Teriakan Ara semakin kuat.