Aztiel, nama dari kerajaan yang ada di Mascus, 1 dari 3 negara terbesar di planet Jana dan masih berkembang. Monster, Manusia, Iblis dan hal hal lainya sudah tak asing di sana, Istana yang megah di kuasai oleh raja Farlov Von Grief dan Desmon menjadi salah satu Tentara "elite" di sana yang sangat loyal terhadap kerajaan, bahkan salah satu gereja terbesar yaitu Ferus sempat membantu Desmon untuk menjadi pengikutnya. Suatu hari di siang yang cukup panas ia di tugaskan oleh sang raja untuk mengantarkan sebuah surat untuk kerajaan yang ada di sebrang bersama 4 teman lamanya. Awalnya semua berjalan dengan baik namun tragedi mengenaskan menghancurkan semuanya.
Akankah dia berhasil bertahan hidup dari masalah yang akan ia lalui dan membuka masalalu sebelum semua ini terjadi?
(Web novel ini mengandung kekerasan yang berlebihan dan konten seksual,bagi para pembaca yang masih di bawah umur diharapkan agar tidak membaca atau meminta izin dari orang tua agar bisa membaca Web novel ini.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K A Z A R O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chamber Of Weakness
Suara serangga pohon terdengar jelas di malam hari yang sunyi, aku dan Regin sedang berdiskusi untuk perjalanan selanjutnya, sebuah rahasia ingin ku buka secara paksa.
"apa kau sudah memikirkan rencana selanjutnya Desmon?." Tanya Regin dengan expresi serius, aku tak bisa mengatakan bahwa rencanaku adalah membunuh semua komplotan di kerajaan, mungkin ia tidak akan menyetujuinya.
"Ya, aku sudah memiliki rencana."
"Rencana apa?"
"Entah, aku tak bisa menjelaskanya."
Regin menatapku dengan raut wajah curiga, aku berusaha untuk tidak mendapatkan perhatianya.
"Apa kau akan ikut denganku?." Tanyaku kepada Regin, expresinya seperti serius tetapi perlahan tersenyum,
"Tentu saja aku akan ikut denganmu." Ucapnya sembari tertawa kepadaku.
Aku dan Regin duduk di kursi dan mengobrol tentang kehidupan sehari hari, ia ternyata keluar dari kesatria setelah mendengar kabar kematianku.
"Kenapa kau keluar?." Aku bertanya serius kepadanya, tetapi ia menjawab dengan candaan.
"Entah, aku tak ingin menjadi kesatria kalau tidak ada dirimu."
Regin dan aku tertawa mendengar omonganya, berjalan ke arah dapur dan mengambil segelas air. Aku melihat ke arah jendela sebentar dan memperhatikan bintang bintang tertutup dengan awan dan angin berhembus kencang.
"Sepertinya esok akan hujan di sore hari, aku lebih baik berangkat di pagi hari."
Di saat aku sedang berjalan kembali menemui Regin, aku tersandung ke ujung kaki meja, kaki ku berdarah oleh ujung kayu, yang membuatku kebingungan adalah bagaimana bisa kayu tebal patah karna tersandung oleh kakiku.
Aku hanya bisa diam ketika barang barang di meja mulai berjatuhan, Regin, Jeanie, dan Fiora datang ke arahku untuk melihat apa yang terjadi.
"ADA APA DESMON?." Ucap Regin sembari mendekatiku dengan expresi kaget.
"Uh, aku tersandung ke meja....."
"Huh? apa maksudmu?."
"Sudah ku bilang aku tersandung."
"Kau bohong kan?." Jeanie seperti tidak percaya kepadaku dengan expresi terkejut.
"Apa kau terluka?." Fiora menghampiriku untuk melihat bekas luka di kakiku, tetapi lukanya telah menghilang karna regenerasi milik ku.
"Aku tak apa apa Fiora, maaf untuk ini Regin. Aku tak bermaksud merepotkanmu." Ucapku dengan expresi sedih, jujur aku merasa tak enak dengan ini.
Aku membantu membereskan barang barang yang terjatuh dari meja, setelah selesai dengan itu aku dan kembali ke dalam bersama Jeanie dan yang lainya. Entah kenapa aku merasakan firasat yang buruk.
"Bagaimana bisa kau mematahkan kayu itu hanya karna tersandung?." Ucap Regin seperti kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Entah, aku tak tau kenapa, mungkin kayunya sudah di makan rayap."
"Tidak mungkin, meja itu baru saja ku buat minggu lalu, tidak mungkin sudah di makan rayap."
"Ya..... Aku tak tau, tidak mungkin itu karna tenagaku." Aku tertawa kecil setelah mengatakan itu agar Regin percaya dengan omonganku.
"Tidak, itu karna kekuatan mu." Ucap Fury.
"Apa maksudmu?." Ucapku tak percaya dengan omonganya.
"Kekuatanmu telah tumbuh karna kau sudah banyak membunuh, kau ingat dengan apa yang ku katakan waktu itu?."
"Ya aku ingat, tetapi bagaimana bisa?."
"Aku bilang bahwa kekuatanmu akan bertambah kalau kau membunuh? itu juga akan bertambah dengan tingkat kesulitan musuh yang kau bunuh."
Setelah mendengar omongan Fury, Itu menjelaskan kepadaku kenapa setiap kali aku menyerang musuh musuhku terasa lebih mudah dari pertama kali aku mendapatkan kekuatan atau kutukan ini.
"Kenapa kau tiba tiba melamun? kau memikirkan apa?." Ucap Regin seperti curiga denganku.
"Ah tidak, aku tak memikirkan apa apa."
Setelah selesai membicarakan kejadian tadi, aku melanjutkan perbincangan tadi dengan Regin, Ia bertanya kepadaku tentang kejadian di hutan saat aku di beri tugas dan di kabarkan meninggal. Aku menjelaskan cerita yang sama dengan cerita yang ku berikan ke Reimi kemarin.
"Aku tak percaya bahwa kau di bangkitkan kembali, tetapi aku pernah mendengar tentang seseorang di bangkitkan."
"Ya aku tau cerita itu." Ucapku yang berusaha meyakinkannya dengan ceritaku yang setengah ku buat buat.
"Tapi setauku orang bisa di bangkitkan oleh pendeta suci, dan itu membutuhkan banyak orang sementara kau hanya di bangkitkan sendirian di tengah hutan, aku bingung."
Aku hanya bisa diam, malam terasa semakin dingin dan sunyi. Regin bersiap tidur di lantai dengan selimbut dan bantal yang Jeanie sediakan. Aku keluar dari rumah untuk mencari udara segar di malam hari.
Langit biru berbintang di sinari rembulan malam hari, aku berjalan menyusuri bukit dekat dengan rumah Regin. Pohon yang dulu masih terlihat sama, aku duduk bersandar dan mengingat semua kejadian yang terjadi kepadaku.
"Hidup tak bisa di tebak."
"Hidup berjalan seiring kau memilih kemana kau akan pergi." Ucap Fury sembari tertawa.
Ketika aku sedang melamun di bawah langit malam, aku tiba tiba melihat semua area sekitar menjadi menghitam.
Di dalam kejauhan aku melihat seseorang sedang menghampiriku, aku tak tau itu siapa dan memegang pedangku bersiap jikalau ia menyerangku.
Ia semakin mendekat dan terlihat ia membawa sabit yang cukup besar. Ku perhatikan sabit itu bersimbah darah, aku hanya bisa menunggu apa yang akan ia lakukan.
Ia mulai memperlihatkan wajahnya, Kosong seperti tak memiliki kepala dan hanya ada darah bercampur api keluar dari lehernya. Aku tau ada yang tidak beres dengan ini.
"Hei, ia sepertinya berusaha membunuhmu, berhatihatilah." Ucap Fury yang ada di atas pohon, ia duduk di ranting dan melihat ke arahku.
"Kau? berarti aku sedang berada di-" sebelum aku selesai mengucapkanya, monster yang ada di depanku tiba tiba mengayunkan sabitnya ke arah kepalaku, aku bisa menahanya dengan pedangku.
Aku menyerang balik ke arahnya, ia menghindari seranganku dengan cukup cepat. Sepertinya lawanku kali ini cukup sulit untuk di kalahkan.
Ia kembali menyerangku dan berhasil melukaiku tepat di area dada. regenerasi yang cepat menyebuhkanku dan aku menyerangnya dengan serangan kejutan.
Tubuhnya berhasil ku lukai tetapi itu sepertinya menyatu kembali.
Ia menyerang balik ke arahku, beruntung karna aku berhasil menghindar serangannya.
"Kau masih bisa mati loh, berhati hatilah." Ucap Fury dengan nada candaan. kupikir kalau aku terbunuh di sini aku akan tetap hidup di dunia biasa.
Aku berusaha membelah tubuhnya tetapi tubuhnya selalu menyatu seperti angin, ia mengayunkan sabitnya ke arah kepalaku dan aku berhasil menghindari serangannya, tetapi telingaku putus karna seranganya.
Disaat aku sedang memperhatikan gerak geriknya, ia tiba tiba berpindah tempat di belakangku, area yang hitam berubah menjadi tengkorak dan tulang dengan darah menetes di selah selah.
Sial, kupikir ini adalah akhirnya. tetapi Regin membangunkanku.
"Kau sedang apa di sini Desmon?."
"Sial, aku selamat." Ucapku setengah ketakutan.
"Kenapa? ada apa?." Regin seperti kebingungan. ia menyuruhku kembali ke rumah dan tidur.
Aku mengikutinya sembari setengah kelelahan.
"Heh, ternyata kau masih lemah untuk melawannya, jika kau tetap seperti itu kau tidak akan selamat dengan tujuanmu yang sekarang."