Nyai sekar ayu hanindia dikenal sebagai dukun manten yang cerdas, cantik dan berhati suci di desa terpencil yang masih menganut budaya jawa kejawen yang kental.
Ilmu dukun manten merupakan ilmu ma'rifat yang turun temurun didapat sejak zaman kerajaan terdahulu. Tidak sembarang orang mampu mewarisi ilmu ma'rifat tersebut.
Dalam lingkungan masyarakat kerajaan terdahulu dukun manten memiliki tujuan membangun kerukunan sesama manusia melalui budaya, adat, wuku dan tahun.
Apa jadinya kalau keempat sahabat. Leo Radin Syah, Elang rahardika, intan champa dan Sundari harus mengalami hal supranatural sehingga melibatkan sang DUKUN MANTEN, Nyai sekar ayu hanindia harus turun tangan membantu konflik mereka??
Dapatkah mereka terbebas dari segala konflik BLACK MAGIC atau supranatural lainnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laura Hussein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sajen??? (alur masa lalu)
Leo berjalan menuju motornya dan menyalakan mesin motor.
Brum..Brum!!
Sebelum pergi, Leo mengegas motor dengan begitu keras karena kondisi motor masih dalam posisi standar 2, hingga ibunya turut keluar menghampiri putranya Leo.
"Kamu mau kemana lagi, toh Le?? Baru pulang kuliah sudah mau pergi lagi??" Sahut ibunya sedikit kesal.
Leo mematikan mesin motornya, lalu menghampiri sang ibu yang tengah berdiri cemas.
"Leo mau kerumah Elang, bu. Mengingatkan Elang kalau bada ashar nanti Elang bisa datang mengajar silat TAPAK SUCI di desa sebelah, bu.." terang Leo jelas.
"Kenapa harus diuja kesana? Tidak coba ingatkan via ponsel saja??" Tanya ibunya cemas.
"Ibu takut, akhir-akhir ini banyak warga sekitar meninggal. Konon katanya menjadi tumbal pesugihan siluman babi ngepet.." sambung ibunya semakin cemas jika putranya pergi-pergian terus dari rumah.
"Bu, setiap makhluk di dunia ini hanya milik ALLAH. Hidup, mati, rizqi dll semuanya sudah menjadi ketetapan Allah. Ibu tenang,ya!! Leo bisa jaga diri Leo.." jawab Leo seraya menggenggam tangan ibunya menenangkan.
"Lagipula Leo hanya pergi ke rumah Elang. Tidak jauh dari sini.." sambung Leo seraya tersenyum.
"Hati-hati ya, nak. Lekas pulang kalau sudah selesai.." tukas ibu Leo seraya menyentuh pundak putranya pelan.
"Ibu tenang saja!! Ya sudah, Leo pamit ke rumah Elang.." tutur Leo seraya mencium punggung tangan ibunya.
"Assalamualaikum.." sambung Leo seraya melajukan motornya menuju ke rumah Elang.
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.." jawab ibunya lengkap seraya memperhatikan putranya pergi hingga hilang di persimpangan jalan.
💨💨💨💨💨💨💨
Sayup-sayup terdengar suara musik kencang dari kejauhan dan benar saja, didepan jalan ditutup karena ada orang hajatan, Leo baru ingat bahwa sundari, putri pak Jatmiko akan menikah dengan pemuda dari kota.
"Waduh, terpaksa harus muter jalan. Padahal rumah Elang lebih dekat dari sini. Apa boleh buat??" ucap Leo bermonolog seraya memutar kemudinya memasuki jalan lain yang tentu lebih jauh jaraknya.
Jalanan yang Leo tempuh melewati sanggar tari Bedaya manten. Pandangan mata Leo tertuju kesana saat melintas.
"Lah, itu ada pak Jatmiko. Si pemilik sanggar. Ngapain dia disini?? Bukankah seharusnya ia mengurus hajatan putrinya manten??" Tutur Leo seraya menghentikan laju motornya
Leo memfokuskan pandangan kearah sanggar, turut melihat apa yang dilakukan pak Jatmiko.
"Sesajen??" Tanya Leo bermonolog.
"Untuk apa pak Jatmiko meletakkan sajen di belakang sanggar?? Dari tindak-tanduknya terlihat mencurigakan.." tutur Leo seraya berfikir keras dan terus mengamati pak Jatmiko dari kejauhan.
"Setahuku, hajatan putrinya. Beliau mengundang dukun manten tersohor dari desa sebelah, Nyai sekar ayu hanindia, yang sudah tidak diragukan lagi dalam merias manten. Lalu untuk apa sajen itu?? Dan mengapa harus di sanggar bukan ditempat ia menyelenggarakan hajatan.." Leo bermonolog heran dan merasa ada kejanggalan disini. Entahlah firasatnya mengatakan pak Jatmiko mencurigakan.
Hal mengerikan terjadi saat Leo mulai fokus memandangi sajen yang diletakkan pak jatmiko tadi.
Tepat saat pak Jatmiko berbalik meninggalkan belakang sanggar, Leo melihat sosok hitam besar berkulit seperti biawak. Sosok itu bertaring panjang dan memiliki wajah yang menyeramkan.
Sontak tubuh Leo bergetar hebat, Ia hendak berteriak namun tidak bisa. Hal tersebut biasa dinamai Kamitenggengan. Jadi melihat sosok yang menakutkan namun tubuh seakan kelu tidak bisa berontak apalagi berlari.
Mendapati tubuh Leo yang bergetar dan peluh yang bercucuran. Perlahan tangan seseorang mengguncang badan Leo dan mencengkeramnya kuat membuat seseorang itu kebingungan dan khawatir.
"Mas Leo, kenapa mas??" Tanya intan, salah satu penari sanggar yang kebetulan lewat.
Ketika melongok ke arah sumber tangan yang mencengkramnya, Leo merasa lega. Karena ternyata tangan tersebut. Tangan dari gadis, sang penari bedaya manten yang cantik dan bahenol di kampung ini.
"Intan??" Tanya Leo.
"Ada apa mas?? Kenapa mas Leo seperti orang ketakutan??" Tanya intan kebingungan.
"Kalau aku jawab jujur, ke intan aku ketakutan melihat sosok yang tengah menyerap saripati sajen yang pak jatmiko letakkan dibelakang sanggar, bisa jatuh image keGAGAHAn ku sebagai pria.."gumam Leo dalam batin.
Leo terkekeh kecil berusaha mengelabui intan.
"I-itu intan tiba-tiba motor mas Leo mati mesin.."
"A-pa bensinnya habis, mas??" Tanya intan berspekulasi seraya mengernyit.
"Bi-bisa jadi.." Jawab leo pura-pura mengecek bensin. Padahal jelas-jelas Leo tahu tank bensin motornya full.
"Gimana, habis bensin, mas??" Tanya intan memastikan. Leo menjawab dengan kekehan kecil dan gelengan kepala.
"M-masih full kok, tank nya.."terang Leo pura-pura menggaruk kepala padahal tidak gatal. Bisa ae, Ciplukan!!
"Lalu bagaimana caranya agar motor mas Leo bisa hidup lagi??" Tanya intan merasa kasihan kalau melihat motor mogok ditengah sanggar seperti ini. Apalagi dibelakang sanggar itu, jelas-jelas kuburan. Walaupun siang hari, namun tetap saja menakutkan.
"Tenang saja, bisa hidup lagi kok dengan Korek.." celetuk Leo mulai guyon.
Mendengar jawaban Leo yang nyeleneh, intan tersenyum kecil.
"Memangnya rokok, bisa nyala dengan korek. Mas Leo, guyon wae .." sergah intan seraya menggelengkan kepala.
Leo pura-pura starter motor. Padahal jelas-jelas Leo tahu betul motornya dalam kondisi baik.
Brum.. Brum..
Suara motor matic 250 cc itu menyala.
"Lah, itu sudah nyala mas. Alhamdulillah.." tutur intan merasa lega.
"Kenapa intan takut ya, mas mintain dorong motor hingga ke bengkel desa??" Tanya Leo mulai rese.
"Intan mau kemana?? Kok lewat sini??" Sambung Leo.
"Intan mau ke hajatan, ke kediaman pak Jatmiko. Intan ikut menari bedaya manten untuk memeriahkan pernikahan sundari. Karena jalanan ditutup terpaksa intan lewat area pemakaman.." terang intan panjang lebar
"Kenapa sendirian, tidak bersama penari yang lain?? Mas gak rela, gadis secantik dan sebening intan, jalan sendirian di dekat makam.." celetuk Leo mulai menggombal ria.
"Mas bisa saja. Penari yang lain sudah duluan kesana.." jawab intan tersipu malu.
"Tapi ini beneran intan kan, atau jangan-jangan??" Leo sengaja tidak melanjutkan ucapannya karena horor.
Jelas saja Leo merasa parno bertemu intan dengan berpakaian lengkap seperti sintren dengan aksesoris dan selendang yang digunakan di kawasan sekitaran makam yang letaknya tak jauh dari sanggar.
Sepertinya intan menangkap apa yang Leo pikirkan. Intan menyingkap sedikit kain jariknya ke atas untuk memastikan ke Leo, jika kaki intan menapak tanah dan bukan hantu sintren seperti yang leo duga.
"Aku beneran intan, mas Leo. Lihatlah kaki intan menapak tanah.." terang intan memastikan.
Leo terkesima memandang betis intan yang indah, putih, bersih dan mulus. Baru memperlihatkan betis kakinya saja, Leo sudah gemetaran bagaimana area tubuh yang lain.
Leo memukul kepalanya sendiri pelan tanda protes pada pikirannya yang mulai berfikiran kotor dan aneh-aneh.
"Lagipula, siang-siang begini mana mungkin ada hantu.." sahut Leo seraya terkekeh.
"Bagaimana kalau intan, mas antar ke tempat hajatan.." saran Leo berharap intan tak menolak.
"Nanti merepotkan, mas Leo??" Sahut intan menggah.
"Oo..tentu tidak!! Jangankan mengantar intan ke rumah pak Jatmiko. Mengantar intan ke pelaminan pun, mas Leo rela.." celetuk Leo mulai kumat bergombal ria.
Intan menggelengkan kepala seraya tersipu malu digombali Leo. Apalagi dengan gaya romantisnya Leo mempersilahkan intan untuk membonceng motor layaknya prajurit yang melayani putri raja, naik kereta kuda. Membuat intan merasa menjadi wanita paling istimewa dimata Leo.
"Pegangan yang erat ya?! Mas, takut kamu jatuh.." tutur Leo secara halus memerintah intan untuk berpegangan ke pinggang leo saat membonceng motor. Bisa ae rengginang, modus!!
kalau buah kutilayu mungkin d tempat ku namanya buah klayu x ya. jd penasaran gambarnya kekmana
kasian ibunya elang.
burung gagak petanda akan meninggalnya ibu elang.
kasian Ratnya jiwanya d bawa pergi sm s luman d jd kan ratunya.
mari saling dukung
Salken ya...
Mampir yuk di novelku
GADIS TIGA KARAKTER