“Apa yang ada di dalam fikiran kamu, dia itu adikmu?”
Sakti menundukkan kepalanya saat bentakan itu datang dari sang Bunda. Tak pernah sekalipun ia mendapat hal seperti ini dari kedua orang tuanya. Ia adalah seorang pemuda yang patuh, tak sekalipun ia membantah perintah dan keinginan orang tuanya. Termasuk memilih jalan hidupnya, ia pasrahkan pada kedua malaikat tak bersayapnya itu. Tetapi untuk masalah jodoh, entah kenapa ia sendiri pun tak pernah menyangka jika ia akan jatuh cinta pada Ayra. Gadis yang menyandang predikat resmi sebagai adik kandungnya sendiri.
Apakah yang Sakti fikirkan sehingga ia mencintai adiknya sendiri?
Bagaimanakah kisah cintanya akan berakhir?
Dapatkah semua orang menerima perasaannya yang tak lazim ini?
A story by : Myhani
Ig : Srihani.92
Fb : Srihani
Tg : Srihani.92
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan maaf Sakti-2
Ayra berusaha melepaskan tubuh dari kungkungan Abangnya. Tapi sekuat apapun ia memberontak, tenaganya tak bisa mengalahkan kekuatan Sakti. Akhirnya ia pasrah dalam dekapan sang kakak. Walaupun ia tak membalas pelukkan Sakti, setidaknya ia akan membiarkan Sakti memeluknya untuk beberapa saat.
“Kamu mau kan maaffin Abang?” Sakti melepaskan tubuhnya dari Ayra. Kini ia menunduk menatap wajah Ayra yang memang tinggi mereka berbeda jauh.
“Tergantung.” Sebelah alis Sakti terangkat, mendengar jawaban Ayra. “penjelasan Abang masuk akal atau tidak? Dan, tergantung apa Abang mau menuruti permintaan Ay?”
“Cih!” Sakti melengos membuang muka, antara sebal juga gemas.
Ternyata Ayra memang tak pernah berubah sejak dia masih kecil, dan Sakti faham apa yang dimaksud Ayra barusan. Tangannya terulur mengusak gemas puncak kepala sang adik.
“Dengar!” Sakti mengajak Ayra duduk di tepi pembaringan. Kedua tangannya bertumpu pada pundak Ayra.
“Sebagai dosen, tentu Abang harus bersikap propesional. Abang tahu, kok. Mereka yang salah, karena sudah menggosipkan hubungan kita. Tapi, tadi itu yang salah kamu!” Sakti mencolek hidung Ayra yang sedikit mancung dengan telunjuknya. Membuat bibir Ayra mengerucut lucu.
“Kamu yang memulai pertengkaran itu. Jadi kamu faham 'kan kenapa Abang tidak membela kamu?” Sakti menatap lebih dalam netra gelap Ayra. Gadis itu menganggukkan kepalanya dua kali, menandakan bahwa ia faham.
“Terus perlakuan Abang, pada Kak Arsa juga. Apa itu termasuk propesional kerja?” tanya Ayra, setelah sekian menit hening menyelimuti keduanya.
“Ya_ itu, mungkin?” jawab Sakti dengan asal. Ia memutar bola matanya melihat ke sana ke mari, yang jelas tidak ingin bersitatap langsung dengan mata Ayra.
“Abang bohong?” Ayra mencubit paha Sakti dengan kencang. Membuat laki-laki itu mengaduh dengan sebelah tangan mengusap pahanya yang terasa pedih. “Abang tuh nggak boleh seperti itu sama teman-teman Ayra, nanti Ay nggak punya teman loh. Emang Abang mau jadi teman Ayra selamanya?” Ayra mencondongkan wajahnya lebih dekat pada wajah Sakti.
Seketika tatapan mereka bertemu.
Deg
Entah suara jantung siapa yang terdengar lebih kencang duluan. Yang jelas mereka berdua, memalingkan wajah secara bersamaan. Dengan dada naik turun, berusaha menormalkan detak jantung masing-masing.
“Ya, nggak apa-apa. Abang bakal jadi teman kamu selamanya.” sahut Sakti, seraya bediri. Lebih tepatnya ia menghindari debaran aneh yang mulai menggila. Dialam bawah sadarnya.
“Cek! Abang bisa bicara seperti itu sekarang. Tapi nanti aja, setelah bertemu dengan perempuan yang bisa mengisi hati Abang, pasti deh Ayra dilupain.” gerutu Ayra. Dari nada bicaranya, Sakti menangkap jika adiknya itu merasa takut, takut jika ia akan dilupakan.
“Itu nggak mungkin, kamu tetap akan menjadi nomor satu dihati Abang.” Sakti kembali duduk, ia memegang kedua tangan Ayra yang berada di pangkuannya.
Sikapnya persis seperti seorang laki-laki yang sedang meyakinkan kekasihnya. Namun mungkin kedunya tidak menyadari hal itu, karena memang mereka berdua sudah terbiasa seperti itu.
“Abang?” Sakti mengangkat kedua alisnya sebagai jawaban. “Sudah berapa perempuan yang Abang gombalin?” lanjut Ayra. Membuat kedua bola mata Sakti membulat.
“Enak saja, memang kamu fikir Abang playboy.”
Sakti menarik tubuh Ayra jatuh ketempat tidur, bersamaan dengan tubuhnya yang lebih dulu telah mendarat di sana. Tangan Sakti tak henti menggelitiki perut Ayra, sehingga tawa terdengar santer keduanya di kamar itu.
hubungan sakti sama ayra tu sesungguhnya apa..