Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Lani perlahan membuka matanya. Suasana kamar terasa sunyi dan gelap, hanya diterangi cahaya lampu tidur yang temaram.
Ia melirik jam dinding di atas meja nakas; jarum pendek menunjukkan angka satu, sementara jarum panjang menunjuk angka dua belas.
"Kenapa aku sudah di sini? Perasaan tadi aku masih di mobil..." gumam Lani pelan.
Ia menyentuh keningnya yang baru saja dikecup Afrain beberapa jam lalu.
"Jangan-jangan, Mas Afrain membopongku sampai ke kamar?"
Lani tersipu malu sendiri, jantungnya berdegup tak beraturan saat bayangan di bendungan tadi kembali terlintas—khususnya lamaran pria itu.
Krucuk... krucuk...
Perut Lani tiba-tiba berdemo, mengingatkannya bahwa ia belum makan malam karena tertidur pulas.
Dengan langkah pelan, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur.
Ia mengeluarkan sebungkus mie instan dari lemari, lalu menghidupkan kompor untuk merebus air.
"Buat apa?"
"Astaghfirullah, Mas! Jangan mengagetkan aku," pekik Lani sambil mengelus dada karena terkejut mendapati Afrain berdiri di ambang pintu dapur, bersandar pada kusen dengan kaos rumahan yang santai.
Afrain tertawa kecil, suara baritonnya memenuhi dapur yang sepi.
"Habisnya kamu diam-diam saja seperti pencuri, Lan."
"Aku lapar, Mas, dan cuma terpikir buat mie instan," jawab Lani malu-malu sambil mematikan kompor.
Afrain melangkah mendekat, lalu mematikan api sepenuhnya.
"Matikan kompornya dan ayo ikut aku."
"Ke mana, Mas?" tanya Lani bingung.
"Sudah, ikuti saja."
Lani pun mengambil jaketnya dari gantungan dan mengikuti Afrain melangkah keluar rumah di tengah dinginnya malam.
Mereka berjalan kaki menyusuri jalanan kompleks yang sepi hingga sampai di sebuah warung angkringan yang masih buka dan ramai oleh beberapa warga yang sedang mengobrol.
Udara malam itu memang menusuk tulang. Saat berjalan, Afrain dengan sigap menggenggam tangan Lani, lalu menariknya masuk ke dalam saku jaket pria itu agar terasa hangat.
"Dingin, ya?" tanya Afrain lembut.
Lani hanya mengangguk, merasa nyaman dengan kehangatan tangan Afrain di dalam saku jaket yang menyatu itu.
Sesampainya di angkringan, Afrain memesan empat bungkus nasi kucing, berbagai jenis sate—usus dan telur puyuh—tiga tusuk sayap ayam panggang, serta dua gelas susu jahe panas yang mengepul.
Mereka duduk di tikar yang digelar, menikmati suasana malam yang tenang di bawah cahaya lampu jalan yang redup, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
"Aku tadi sebenarnya juga lapar, Lan. Dan untungnya kamu bangun tepat waktu," ujar Afrain sambil memandangi deretan sate yang sedang dibakar di atas arang, aromanya yang gurih semakin menggugah selera.
Lani tertawa kecil mendengarnya. "Sore tadi kita hanya makan jagung rebus, Mas. Lagipula, kenapa Mas tidak membangunkan aku saja tadi pas sampai rumah?"
"Kamu tidurnya pulas sekali, wajahmu juga kelihatan lelah banget. Aku mana tega membangunkanmu," jawab Afrain jujur, menatap Lani dengan binar mata yang hangat.
Tak berselang lama, pelayan angkringan datang dan memberikan pesanan mereka.
Piring berisi sate-satean yang sudah dibakar ulang, empat bungkus nasi kucing, dan dua gelas susu jahe hangat langsung disajikan di atas meja kayu kecil di hadapan mereka.
"Ayo dimakan, Lan," ajak Afrain ramah.
Lani menganggukkan kepalanya dengan antusias.
Ia membuka satu bungkus nasi kucing yang berisi sambal teri, lalu menyuapnya perlahan bersama potongan sate telur puyuh. Matanya langsung berbinar.
"Hm, enak sekali, Mas. Nasi kucingnya masih hangat."
Afrain menganggukkan kepalanya setuju, ikut menikmati bagian nasinya dengan lahap.
Di sela-sela kunyahannya, Lani tiba-tiba meletakkan bungkusan nasinya sejenak. Ia menatap Afrain yang sedang fokus makan.
"Mas..." panggil Lani pelan.
"Hm, ada apa? Mau tambah nasi atau satenya lagi?" tanya Afrain tanpa mengalihkan pandangannya dari piring.
"Nggak, Mas. Bukan itu."
"Lalu?" Afrain akhirnya mendongak, menatap Lani dengan dahi berkerut bingung.
Lani menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keyakinan yang mengendap di dadanya sepanjang malam tadi.
"Aku mau, Mas."
"Mau apa?" tanya Afrain masih belum menangkap arah pembicaraan.
"Aku mau menikah dengan Mas Afrain."
Uhuk! Uhuk!
Afrain yang benar-benar terkejut langsung tersedak makanan.
Ia memegangi dadanya dengan wajah yang seketika memerah karena kaget dan batuk-batuk kecil.
Lamaran yang ia kira butuh waktu berminggu-minggu untuk dijawab, ternyata langsung diterima malam ini juga di sebuah warung angkringan.
"Mas, minum dulu.. ini minum," ucap Lani panik, dengan cekatan menyodorkan gelas susu jahe hangat milik Afrain.
Afrain menyambarnya dengan cepat dan meminumnya hingga setengah gelas.
Setelah napasnya kembali teratur dan rasa sesak di tenggorokannya reda, ia menaruh gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Ia menatap Lani lekat-lekat, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar karena efek mengantuk.
"Lan,.kamu yakin dengan ucapanmu?" tanya Afrain dengan suara yang dalam, memastikan tidak ada keraguan di mata wanita itu.
Lani tersenyum manis—sebuah senyuman paling lepas yang pernah ia tunjukkan setelah sekian lama dirundung kesedihan.
Ia menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Aku yakin, Mas. Aku mau memulai lembaran baru bersama Mas Afrain."
Afrain tidak bisa lagi membendung rasa bahagia yang membuncah di dadanya.
Tanpa memedulikan tempat mereka yang berada di warung angkringan terbuka, Afrain langsung menarik tubuh Lani ke dalam pelukannya.
Ia mendekap Lani dengan sangat erat, menyalurkan rasa lega dan syukur yang teramat besar karena wanita itu akhirnya memilihnya.
Lani sempat terkejut, namun sedetik kemudian ia tersenyum dan membalas pelukan hangat Afrain dengan perasaan damai.
Saking bahagianya, Afrain langsung melepas pelukannya, berdiri, dan berseru kepada seluruh pengunjung yang sedang asyik menongkrong di sana.
"Bapak-bapak semuanya, malam ini saya traktir! Makan dan minum sepuasnya, silakan!" teriak Afrain dengan wajah yang berbinar-binar.
Pemilik angkringan dan beberapa bapak-bapak yang sedang asyik mengobrol langsung menoleh dengan mata berbinar.
"Wah, ada angin apa ini, Mas?" tanya salah satu warga.
"Lamaran saya diterima!" jawab Afrain dengan kelancaran dan nada bangga yang luar biasa, sambil menunjuk ke arah Lani yang wajahnya kini sudah memerah merona seperti kepiting rebus karena malu sekaligus bahagia.
Seketika, suasana angkringan pinggir jalan itu riuh dengan sorak-sorai dan tepuk tangan dari para pengunjung malam.
"Waduh, Pak Afrain! Terima kasih banyak traktirannya! Selamat, ya!" sahut si pemilik angkringan dengan senyum lebar.
"Mantap, Pak! Jangan lupa undangannya, ya! Semoga lancar sampai hari H!" timpal bapak-bapak lainnya sambil mengacungkan jempol mereka tinggi-tinggi.
Lani hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik pundak Afrain, menahan tawa melihat tingkah calon suaminya yang biasanya begitu dingin dan jaim di kantor, kini mendadak berubah menjadi sangat ekspresif dan menggemaskan hanya karena dirinya.
Malam yang semula dingin dan penuh luka lama kini telah berubah menjadi malam yang paling hangat dan penuh tawa bagi lembaran baru kehidupan Lani.
Sementara itu, di tempat lain yang dipenuhi oleh dentuman musik bising dan kerlap-kerlip lampu neon yang menyilaukan, Alex berada di sebuah diskotik di pusat kota.
Di depannya, beberapa botol minuman keras sudah kosong melompong.
Ego lelakinya yang hancur setelah ditampar Lani dan dipermalukan di depan mitranya membuat Alex melarikan diri ke tempat ini.
Ia benar-benar muak dan tidak mau pulang ke rumah kontrakan untuk bertemu dengan Mira.
Membayangkan wajah Mira yang selalu menuntut uang dan merengek hanya membuat kepalanya makin pecah.
"Lani... Lani, ayo kita rujuk... Aku janji... kita mulai dari awal," racau Alex dengan kondisi mabuk berat.
Kesadarannya sudah hilang separuh, kepalanya terkulai di atas meja bar sambil terus menggumamkan nama mantan istrinya itu dengan penyesalan yang terlambat.
Melihat kondisi Alex yang sudah tidak kondusif dan mengganggu kenyamanan, pihak pengelola diskotik segera memeriksa ponsel Alex yang tergeletak di meja.
Mereka mencari kontak keluarga dan akhirnya memutuskan untuk menghubungi Dimas, adik kandung Alex, agar segera membawanya pulang sebelum membuat keributan yang lebih besar.
Di rumahnya, Dimas yang sudah tertidur pulas sejak jam sebelas malam mendadak terbangun karena dering telepon yang terus-menerus berbunyi.
Dengan mata yang masih berat, ia mengangkat telepon tersebut.
Begitu mendengar kabar bahwa kakak kandungnya teler di sebuah klub malam, Dimas langsung menghela napas panjang sembari memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
"Selalu saja bikin masalah," gerutu Dimas kesal.
Mau tidak mau, dengan rasa kantuk yang teramat sangat, Dimas bangkit dari tempat tidurnya, menyambar kunci mobil, dan akhirnya pergi menjemput kakaknya yang tidak tahu diri itu di tengah larutnya malam.