NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Trauma masa lalu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.

"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.

Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.

Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menangislah, Sayang!

Satura memarkirkan mobil di halaman rumah lamanya. Jantungnya berdegup kencang melihat suasana yang familiar namun terasa asing. Saat pintu terbuka, anak-anak langsung berlarian menyambutnya.

"Papa!" seru Connan dan Cia serentak. Mereka memeluk leher Satura dengan erat.

Satura membalas pelukan itu kuat-kuat. Ia menyerap kehangatan mereka, meski hatinya terasa perih menyadari posisinya kini.

Vandini berdiri diam di ambang pintu. Posturnya kaku, tak ada senyum hangat yang dulu selalu menyambutnya. Tatapan wanita itu kini terasa dingin dan jauh.

"Hai," sapa Satura, suaranya terdengar lemah.

"Halo, Satura," jawab Vandini datar. Pandangannya berpaling ke sisi lain, menghindari kontak mata.

Anak-anak sibuk menceritakan kegiatan mereka, mencairkan suasana yang canggung. Namun, rasa hampa tetap menyergap hati Satura. Ia merindukan kehangatan yang telah ia hancurkan sendiri. Satura menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.

"Em ... kamu mau makan malam bareng kita nggak? Cuma kita berempat, kayak dulu lagi," tanyanya berharap.

Mata Vandini membelalak kaget. Ia tampak berpikir keras, sedang menimbang-nimbang tawaran itu.

Keragu-raguan itu bagaikan pisau yang menikam jantung Satura. Ia menahan napas, berusaha tetap terlihat tenang meski panik di dalam hatinya. Ia tak ingin kehilangan momen ini.

"Plis ... tolong iya," bisik hatinya.

"Tolong, Van. Cuma makan malam doang kok. Setidaknya demi anak-anak."

Vandini menatapnya. Tatapannya mengeras sesaat sedang menimbang segala risiko. Satura memperhatikan dengan saksama. Ia menahan napas, ketakutan setengah mati kalau-kalau ditolak.

Benteng pertahanan Vandini terlihat sangat kokoh. Keinginannya untuk melindungi diri sangat jelas terpancar. Satura sadar, ia bahkan tak punya hak meminta hal semudah ini.

Akhirnya Vandini menghela napas panjang. Ia melirik anak-anak sebentar sebelum kembali menatap Satura dengan tegas, meski masih terselip keraguan.

"Oke deh," ucapnya pelan tapi pasti. "Satu kali aja makan malam."

Rasa lega langsung menerjang dada Satura. Disertai secercah harapan yang ia coba tahan sekuat tenaga saat mengangguk. Ia tak ingin menunjukkan betapa berartinya hal ini baginya.

"Makasih ya," gumamnya, suaranya terdengar serak. Ia tahu ini hanya langkah kecil, tapi rasanya begitu besar. Sepotong kesempatan kedua yang sangat ia dambakan.

...***...

Meja makan itu menjadi jendela yang memperlihatkan kehidupan keluarga yang sangat dirindukan Satura. Mereka sudah memesan makanan, dan anak-anak asyik mengobrol soal sekolah.

Cia makan dengan lahap. Sementara Connan tampak melamun sambil mengaduk-aduk makanannya.

Satura menyadari wajah Connan makin terlihat cemas. Tangan kecilnya terus memainkan serbet makan. Ia mengulurkan tangan dan menepuk bahu anaknya pelan.

"Kenapa? Kamu baik-baik aja kan?" tanyanya berusaha terdengar santai.

Connan menatap ayahnya, lalu melirik Vandini. Akhirnya ia menunduk dan bergumam, "Enggak apa-apa, Pa. Aku baik-baik aja."

Tapi suaranya bergetar. Satura bisa melihat betapa tegangnya bahu mungil itu.

Vandini segera mendekat. Wajahnya lembut dan penuh perhatian. Satura memperhatikan saat istrinya mengusap punggung Connan dengan lembut.

"Gak apa-apa, Sayang," kata Vandini dengan suara yang menenangkan. "Kalau ada sesuatu yang ganggu, kamu boleh cerita sama Papa dan Mama. Kita dengerin kok."

Connan menatap ibunya. Bibirnya gemetar menahan tangis. Akhirnya ia menghela napas pendek dan berbisik, "Teman-teman di sekolah... mereka ngetawain gambar aku. Katanya gambarnya aneh dan bodoh."

Matanya berkedip-kedip cepat, berusaha menahan air mata agar tak jatuh.

"Aduh, sayangku," gumam Vandini seraya menarik tubuh kecil itu mendekat. Tangannya terus mengusap punggung anaknya. "Mama sedih denger nya. Pasti rasanya nyesek banget ya."

Vandini memeluknya erat. "Connan, kamu tahu kan kalau kamu boleh sedih? Kamu nggak perlu pendem semuanya sendirian."

Connan menatapnya dengan mata penuh keraguan. "Tapi... kakak-kakak di sekolah bilang kalau nangis itu cuma buat bayi. Mereka bilang cowok nggak boleh nangis."

Wajah Vandini menjadi lebih lembut. Ia menggeleng pelan namun tegas.

"Ah, itu nggak bener, Sayang. Nangis nggak bikin kamu jadi lemah. Itu cuma cara perasaan kamu yang keluar, sama kayak kalau kamu ngobrol atau ketawa."

Ia mendekapkan tangan di punggung anaknya. "Cowok boleh kok nangis. Itu nggak berarti kamu nggak kuat. Justru itu tandanya kamu jujur sama perasaan kamu sendiri."

Raut wajah Connan mulai luluh. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya saat ia menyandar ke pelukan ibunya.

"Tapi aku nggak mau mereka pikir aku bayi."

Vandini tersenyum hangat dan mengusap air mata di pipi anaknya. "Kamu bukan bayi, Sayang. Kamu anak yang pemberani. Butuh keberanian lho buat mau ngerasain perasaan itu, apalagi kalau rasanya sakit. Papa dan Mama bakal selalu ada buat kamu, apa pun yang terjadi."

Satura merasa tenggorokannya tercekat mendengar percakapan itu. Kata-kata Vandini menembus jauh ke dalam jiwanya.

Wanita itu memberikan pelajaran pada Connan yang dulu tak pernah Satura dapatkan. Satura tumbuh dengan keyakinan bahwa kuat itu artinya diam, bahwa laki-laki tak boleh menangis atau terlihat lemah.

Namun di sana, Vandini justru menunjukkan pada anaknya bahwa kekuatan sejati bukan bersembunyi, tapi berani jujur pada diri sendiri.

Connan mengangguk. Ia menyandarkan kepalanya dengan tenang di bahu ibunya. Perlahan ketegangan di tubuhnya hilang.

Hati Satura terasa diremas. Bercampur rasa kagum dan sesal melihat betapa sabar dan pengertiannya Vandini menghadapi anak mereka. Ia tahu persis cara menyentuh hati Connan. Memberikan ruang agar anak itu bisa bersedih tanpa merasa dihakimi. Suara dan kehadirannya memancarkan ketenangan.

Pandangan Satura tertuju pada Vandini. Tiba-tiba Satura sadar bahwa selama ini ia selalu bergantung pada Vandini untuk menjadi sosok yang penuh empati.

Sementara ia sendiri selalu menjaga jarak, canggung, dan tak tahu cara mengelola perasaannya sendiri. Ia bisa mengatur jadwal, menyelesaikan tugas, tapi tak pernah benar-benar hadir secara emosional.

Rasa malu dan sedih menyelimuti hatinya. Ia menatap tangannya sendiri, teringat betapa seringnya ia memendam rasa sakit sendirian.

Ia selama ini bersembunyi dari dirinya sendiri. Tapi kini ia sadar, ia tak bisa terus bersembunyi kalau ingin menjadi ayah dan pasangan yang sebenarnya. Vandini bisa melakukan itu karena ia berani menghadapi perasaannya sendiri. Berani merasakan sakit, dan mengatasi segalanya dengan cara yang tak pernah Satura pelajari.

Satura selalu menekan perasaannya, menghindari emosi yang sulit. Kini ia sadar betapa banyak hal yang ia kubur, dan betapa banyak emosi yang terpendam, itulah yang mendorongnya mengambil keputusan-keputusan bodoh di masa lalu.

Satura menelan ludah. Ia menatap Connan yang air matanya sudah kering dan napasnya sudah tenang di pelukan Vandini.

Tiba-tiba muncul keinginan yang begitu kuat untuk menjadi lebih baik, untuk berubah, demi mereka, dan demi dirinya sendiri. Ia tak tahu bagaimana caranya, tapi ia bisa merasakan dengan sangat jelas bahwa inilah langkah yang harus ia ambil.

"Aku butuh bantuan," batinnya berteriak. "Aku harus pergi ke psikiater."

1
Eva Rosita
bagus
Fifi: makasi,kak 🥰
total 1 replies
Uthie
bertahan wanita hebat 👍👍😡
Uthie
bangkit lah wanita-wanita hebat yg tersakiti oleh pasangan gak tau diri kalian 👍😡😡
Uthie
mungkin kondisi di jaman sekarang yaa... yg sewajarkan apa yg terlihat saja, namun main di belakang ☹️
Uthie
sakit banget itu pasti... sesak 😢
Uthie
Mampir 👍👍👍👍
Fifi: makasih kak, udah berkenan mampir🙏😍
total 1 replies
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Fifi: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!