Dua saudari terjatuh ke sumur tua—terbangun di hutan belantara, menjadi buruan para pemburu; berusaha bertahan hidup ditengah intrik istana dan konflik asmara.
(Jika berkenan, follow Author di ig&tiktok untuk dapat melihat ilustrasi karakter dan berbagai cerita Author yang lain)
ig = @refinawriters
tiktok = @refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa Sengaja Bertemu Xiao Yan
Pagi berikutnya, hari di mana Li Hua dan juga Shu Hua akan memulai berlatih mengendalikan kekuatan mereka. Terutama, Shu Hua. Shu Hua harus banyak-banyak belajar tentang bagaimana harus menahan amarah agar tidak selalu memanggil pedangnya untuk menebas seseorang.
"Untuk Li Hua, kamu bisa tenangkan dirimu dengan meditasi. Tenangkan pikiran dan kosongkan. Jangan biarkan hal-hal apapun masuk ke dalam pikiran kamu. Fokuskan semua kepada diri kamu sendiri, tenangkan dirimu dan jangan berhenti sampai aku memberimu izin untuk berhenti," ucap Guru Bai Yun kepada Li Hua.
Dan di sisi lain ada Shu Hua dan juga Mei yang belum diberikan perintah apapun pada saat itu.
"Dan untuk kalian berdua, pergilah ke hutan. Cari tanaman obat apapun yang bisa kalian temukan, dan jika bisa, langsung cari kayu bakar untuk memasak. Jika sudah selesai, kalian bisa kembali. Usahakan kembali sebelum jam makan siang. Kalian mengerti?"
Shu Hua tidak mengerti saat itu; Kakaknya benar-benar dilatih oleh Guru Bai Yun, tetapi dirinya sendiri tidak dilatih apapun tentang kekuatannya. Shu Hua yang tidak bisa menahan diri pun langsung bertanya kepada Guru Bai Yun.
"Kak Li Hua berlatih dengan giat di sini, tetapi kenapa aku harus mencari kayu bakar ke dalam hutan bersama dengan bocah ini?" tanya Shu Hua, merasa diperlakukan tidak adil. Padahal Shu Hua sudah sangat siap untuk mendapatkan pelatihan dari Guru Bai Yun.
"Mencari kayu bakar di hutan itu adalah bentuk latihan untukmu. Yang penting, lakukan saja. Nanti juga kamu akan mengerti," jawab Guru Bai Yun.
Shu Hua tidak ingin melakukan apa yang Guru Bai Yun perintahkan, tetapi Mei tidak demikian. Mei yang patuh pun langsung menarik Shu Hua untuk ikut bersama dengan dirinya, masuk ke dalam hutan dan kemudian mencari tanaman obat serta kayu bakar untuk memasak.
Selama mereka mencari-cari tanaman obat dan juga kayu bakar, Shu Hua terus mengomel tentang betapa tidak adilnya Guru Bai Yun kepada dirinya.
"Guru Bai itu benar-benar pilih kasih. Mentang-mentang Kak Li Hua itu tipe murid yang patuh, dia hanya peduli kepada Kak Li Hua. Sedangkan aku? Dia bahkan tidak memberikan pelajaran apapun! Dan apa-apaan ini?!" Shu Hua yang kesal, melemparkan batang kayu yang ada di tangannya.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Fokus saja bekerja. Guru meminta kita untuk segera pulang sebelum jam makan siang, jadi kalau bisa, tolong kamu bekerja dengan benar," pinta Mei dengan ekspresi wajah yang masih takut kepada Shu Hua.
Shu Hua menghela napas panjang.
"Kamu saja yang lakukan," kata Shu Hua.
"Eh?! Maksudnya?"
"Kamu tidak paham?"
Mei menggeleng.
"Maksudku, kamu saja yang cari tanaman obat dan juga kumpulkan kayu bakarnya. Cari disekitar sini saja," jelas Shu Hua.
"Lalu bagaimana dengan Kakak? Kakak tidak membantu?"
"Tentu saja aku akan membantu. Tidak mungkin aku tidak membantu. Tapi, aku hanya akan bantu membawanya kembali ke pondok. Dan untuk mencari, kamu harus cari sendiri," jelas Shu Hua dengan wajah tanpa rasa bersalah.
Di sisi lain, lagi-lagi Mei ingin dibuat menangis oleh Shu Hua.
"Jika aku yang mengerjakan semua, lalu Kakak melakukan apa? Bukankah akan membosankan jika hanya diam di situ saja? Lebih baik bergerak, Kak. Kakak bisa tolong aku dengan kayu bakar ini," ujar Mei.
"Tidak-tidak, Mei. Aku tidak akan bosan. Aku akan bersantai di sungai dekat sini. Dan saat kamu merasa sudah selesai dengan semua pekerjaan ini, kamu bisa datang kepadaku." Setelah berhasil membuat Mei mengerjakan semua pekerjaan yang ada, Shu Hua langsung pergi ke sungai yang tidak asing bagi Shu Hua.
Sungai itu adalah sungai yang dimana beberapa waktu yang lalu Shu Hua datangi bersama dengan Xiao Yan.
"Entah bagaimana kabarnya...?"
Selain Li Hua, Xiao Yan pun juga ditangkap kemarin atas tuduhan yang sama dengan Li Hua. Namun, saat itu Li Hua dan juga Xiao Yan ditempatkan di penjara yang berbeda. Karena itulah Shu Hua tidak sempat melihat Xiao Yan untuk terakhir kalinya sebelum Shu Hua pergi.
"Aku bahkan belum sempat berpamitan dengannya." Shu Hua benar-benar menyesal karena tidak pergi untuk menyelamatkan Xiao Yan juga.
"Sekarang tidak akan ada kemungkinan aku bisa bertemu dengannya lagi 'kan?" Shu Hua saat itu hanya bisa menerima nasib; nasib yang dengan jelas mengungkapkan jika tidak akan ada lagi kesempatan bagi Shu Hua untuk bertemu dengan Xiao Yan.
Namun terkadang takdir punya jalan ceritanya sendiri; buktinya, walaupun kemungkinan bagi Shu Hua untuk bertemu lagi dengan Xiao Yan adalah 0,0001%, mereka tetap saja masih bisa bertemu.
"Shu Hua?!"
Tiba-tiba saja Xiao Yan muncul di belakang Shu Hua. Awalnya Shu Hua pikir itu adalah hantu, tetapi ternyata yang berdiri di depannya benar-benar Xiao Yan.
"Xiao Yan? Ini benar-benar kamu? Bukan hantu?" tanya Shu Hua memastikan.
"Hantu? Tentu saja tidak. Aku masih hidup, Shu Hua. Kenapa aku harus jadi hantu?" Xiao Yan tertawa kecil mendengar pertanyaan konyol dari Shu Hua.
"Kamu baik-baik saja? Apakah orang-orang itu juga menyiksamu?" Senang melihat Xiao Yan ada di depan matanya, Shu Hua langsung memeriksa kondisi Xiao Yan dengan segera, memastikan tidak ada luka serius.
Namun, betapa terkejutnya Shu Hua ketika melihat begitu banyak bekas luka karena cambukan di tubuh Xiao Yan.
"Mereka benar-benar mencambuk kamu?" tanya Shu Hua dengan tatapan kosong. Ia merasa tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang pangeran mendapatkan hukuman cambuk seperti itu?
"Begitulah," jawab Xiao Yan.
"Kenapa mereka memukulmu? Kamu itu Pangeran Agung! Kenapa mereka begitu berani memukulmu? Harusnya kamu tunjukkan siapa yang kedudukannya lebih tinggi! Kenapa kamu harus menerima semua pukulan ini?" Jelas terlihat dari wajah Shu Hua jika ia sangat mengkhawatirkan Xiao Yan.
Dan di sisi lain, Xiao Yan yang diperhatikan oleh Shu Hua merasa senang. Bahkan sangat senang.
"Pangeran Agung itu hanya nama saja. Tidak ada artinya sama sekali. Apalagi di hadapan Ibu Ratu. Semua itu tidak ada gunanya, terlebih lagi aku adalah pangeran yang diasingkan dari Istana Kekaisaran. Jadi wajar saja jika tidak ada yang akan patuh kepadaku di sana," jelas Xiao Yan.
"Kenapa Ratu jahat itu begitu membencimu?" tanya Shu Hua.
"Dari yang ku tahu, semua itu karena Ibuku. Karena Ibuku adalah selir kesayangan Kaisar. Dia sangat membenci Ibuku dan aku. Dia selalu bilang untuk jangan bermimpi merebut tempatnya dan tempat Hao Lin. Padahal aku dan Ibuku tidak pernah sekalipun memiliki pemikiran seperti itu," ujar Xiao Yan.
"Ternyata dia benar-benar jahat! Jika aku melihatnya lagi, aku tidak akan memberikan dia ampun. Aku akan balas dendam untukmu. Aku berjanji. Anggap saja ini sebagai bayaran atas semua bantuan yang kamu berikan selama ini," ucap Shu Hua.
-Bersambung-
Sungguh penasaran pasti shu hua bakal ngecincang Hao Lin dan Xiao Yan bakal kena nih 😄