Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CARI GARA-GARA
"Pak Lingga datang, Tan!" ucap Siska dengan bahagia, baru saja membaca chat grup tim keuangan kalau Lingga sudah sampai lobby, sengaja datang ke kantor sang abang, iseng aja katanya kangen dengan suasana kantor ini. Tania yang sempat membaca pesan tadi hanya mengangguk, dan fokus pada pekerjaan saja.
Tumben juga Lingga ke kantor ini, mendadak Tania curiga saja, karena tak ada kepentingan urgent yang mengharuskan kehadirannya. "Kok kamu kelihatan gak seneng gitu sih, Tan?" tanya Siska melihat gelagat Tania yang tak antusias menyambut kedatangan Lingga.
"Ya elah, terus aku harus ngapain. Jingkrak-jingkrak, datang ya datang saja sih, dia bukan presiden yang perlu disambut," Siska mengerutkan dahi, aneh dengan tanggapan Tania.
Lingga masuk ke devisi keuangan, Siska langsung heboh bahkan ingin memeluk Lingga, saking kangennya. Ya memang saat Lingga menjadi manajer di sini, dia baik, meski pelit omongan. "Bapak apa kabar? Makin ganteng deh, pasti Nona Calista mengajak Pak Lingga perawatan ya, cakep banget loh suami orang," ucap Siska yang hanya ditanggapi senyuman tipis oleh Lingga.
Menyinggung nama Calista, Lingga menatap Tania sekilas, dan agak kecewa Tania hanya diam saja saat Lingga datang. "Apa kabar Tania?" tanya Lingga, tak tahan untuk menyapa perempuan itu.
Tania hanya tersenyum dan mengangguk pelan, tanpa sambutan berlebih. "Kelihatan lemes banget, seperti wanita hamil saja," ceplos Lingga, sengaja. Ekspresi Tania mendadak tegang. "Atau kamu sakit?" tanya Lingga lagi, sok perhatian.
"Enggak, Pak. Saya baik-baik saja!" jawab Tania dongkol setengah mati. Tak menyangka Lingga akan berani menyinggung kehamilannya.
"Kalau sakit atau ngidam, lebih baik minta bantuan Siska, daripada dipendam, malah gak enak nanti!" lanjut Lingga kemudian pamit mau ke ruangan Siska.
Siska mengamati perubahan ekspresi Tania, lama tak bertemu dengan Lingga, kenapa mantan manajer mereka menyinggung kehamilan pada Tania. Pasti ada sesuatu, tak mungkin Lingga bisa menyinggung kehamilan bila tak ada fakta itu.
"Kenapa Pak Lingga menyinggung kehamilan padamu, Tania?" tanya Bu Prita menaruh curiga. Bahkan beliau melihat wajah Tania seksama, tapi perutnya memang masih rata.
"Tanya saja ke Pak Lingga, Bu. Saya juga gak tahu kenapa beliau menyinggung kehamilan pada saya," jawab Tania berusaha setenang mungkin.
Siska pun tak puas dengan jawaban Tania, ia memberanikan diri untuk mengirim pesan pada Pak Lingga. Pak Lingga, mohon maaf sebelumnya apakah ada yang tidak kami ketahui soal Tania?
Kenapa? Lingga menjawab pesan itu fast respon.
Ya penasaran saja, Pak. Bapak datang tiba-tiba kok bahas kehamilan pada Tania. Jangan-jangan Pak Lingga? Pancing Siska tapi tak berani melanjutkan.
Saya bukan ayah dalam kandungan Tania. Dia cewek murahan kali, sampai tak tahu siapa suaminya. Lingga terpancing emosi kalau sudah bahas kehamilan Tania.
Pak? Bapak yakin ngomong begini?
Baru deh Lingga tak menjawab, Siska menarik tangan Tania untuk ke kantin kantor, toh kurang 10 menit lagi ishoma. "Kerjaan aku banyak, Sis!" tolak Tania dengan memperlambat langkahnya.
"Gak usah banyak alasan, aku yakin kamu sedang menghindari pembahasan kehamilan!" ucap Siska, Tania langsung menghempaskan tangan Siska sekuat mungkin.
"Kenapa diperpanjang omongan Pak Lingga yang asal ceplos itu?" bantah Tania tak suka. Siska menatap Tania sinis, kemudian tersenyum meremehkan.
"Kayaknya benar omongan Pak Lingga kalau kamu memang hamil. Harusnya kalau enggak hamil, kamu biasa aja!" Siska makin yakin bahwa ada yang disembunyikan oleh rekan kerjanya.
"Ya aku biasa saja, cuma kenapa harus meladeni omongan Pak Lingga yang tak mendasar itu. Seenaknya saja bilang aku hamil, punya bukti?" Tania pun tak kalah jutek, benar-benar tak mau orang lain tahu soal kehamilannya.
"Kalau kamu, bisa membuktikan kamu gak hamil?" tantang Siska, entah kenapa dia lebih condong ke ucapan Lingga. Bukan mau mencampuri urusan Tania atau kehidupan rekan kerjanya itu, tapi kalau memang itu benar, Siska ingin membantu Tania untuk mencari siapa bapaknya. Siska tak bisa membayangkan kalau Tania sampai membesarkan anak seorang diri, sedangkan dirinya saja diabaikan oleh kedua orang tuanya.
"Buat apa?" tanya Tania.
"Tan, kalau kamu hamil kamu harus tahu siapa ayah anak kamu, Tan. Kamu siap hidup sendiri?" tantang Siska memikirkan masa depan rekan kerjanya.
"Aku sudah terbiasa hidup sendiri, Sis. Mau sehebat apapun masalahnya aku bisa mengatasi sendiri, termasuk bila aku hamil!" ucap Tania, menahan agar tak keceplosan. Dalam hatinya terus memohon maaf pada si bayi, untuk tetap menyembunyikan kehadirannya.
"Semakin kamu kekeh begini, aku semakin yakin dengan omongan Pak Lingga!" ucap Siska lalu pergi, tak mau bertengkar lebih dengan Tania.
Selepas Siska pergi, Tania mencari kursi, tubuhnya tak sekuat saat berhadapan dengan Siska barusan, air matanya pun lekas turun, dan buru-buru ia usap.
"Lingga brengse*, maunya dia apa sih," kesal Tania. Ia pun merogoh ponselnya, membuka blokir pada nomor Lingga.
Apa sih maksud kamu menyinggung kehamilanku. Toh kehamilan ini juga gak berefek pada hidup kamu. Jalan masing-masing saja tanpa menyenggol bisa? Tania kesal setengah mati. Rencana yang ia susun untuk resign saat perutnya mulai membuncit, bisa jadi gagal karena ocehan Lingga tadi.
Akhirnya kamu membuka blokiran ini. Kenapa tak terima? Kenyataannya kamu hamil kan? Lingga membalas seakan dia sangat membenci Tania. Terkesan menghancurkan hidup Tania, karena dirinya juga hancur, tak bisa memiliki perempuan itu.
Aku gak pernah ganggu hidup kamu. Tapi kenapa kamu datang, dan cari gara-gara begini? Mau kamu apa sih, Ngga.
Bilang sama aku siapa ayah bayi yang kamu kandung!
Buat apa? Percuma kamu tahu karena kamu juga gak bisa berbuat apa-apa. Sudah terlanjur jadi. Maksud Tania, kondisi mereka sudah tidak normal, Lingga suami orang, dan Tania tak mau meminta pertanggung jawaban. Biarkan saja Lingga menuduhnya hamil dengan lelaki lain.
Sehebat apa sih, cowok itu. Sampai kamu melindungi sekeras ini. Kamu takut aku bunuh dia? Ya memang mungkin itu yang akan aku lakukan, apalagi aku punya uang untuk membayar orang agar eksekusi cowok itu.
Terserah kamu, Ngga. Terserah kamu ngomong apa. Yang jelas please gak usah ganggu hidup aku lagi. Pinta Tania, agar bisa menuntaskan rencana yang telah ia susun.
Kenapa sih kamu gak mau orang-orang tahu kalau kamu hamil? Kamu malu? Kalau malu kenapa saat berbuat sama cowok itu gak ada antisipasi.
Bukan urusan kamu. Aku hamil juga bukan urusan kamu.
Lingga marah, tak terima Tania sangat melindungi lelaki itu. Ia sengaja screen shoot percakapan Tania bagian akhir, lalu mengunggahnya ke status dan mengizinkan hanya tim keuangan yang bisa melihat status itu.
Katanya cewek baik-baik, nyatanya hamil tanpa suami. Auh ah gelap.
Begitu caption yang sengaja ditulis Lingga menyertai tangkapan layar obrolan dengan Tania. "Aku hancur, maka kamu juga harus hancur, Tania!" gumam Lingga.
GO go Tania semangat