NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Di Kota Batu

Kupu-Kupu Di Kota Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mantan / Obsesi
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.

Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.

Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berada di Sisinya

Dadanya naik turun dengan cepat. Matanya bergerak gelisah, bolak-balik menatap kedua mata Vito. Vito pun menyeringai tipis.

"Iya. Aku juga mikirnya gitu," ujarnya sambil mengusap rahang Nowi dengan lembut. "Jangan ngomong hal konyol kayak tadi lagi ya!"

Nowi duduk diam di atas ranjang. Ia mengusap bibirnya berulang kali dengan jari, pikirannya masih kacau dan tidak menentu.

"Jawab aku, Nowi. Kalau sekarang aku sentuh kamu, apa yang bakal aku temuin?"

Vito mengusap janggut tipis di wajahnya. Ia menatap Nowi lekat-lekat, dirinya sendiri terkejut baru saja mengucapkan kalimat itu. Malam ini penuh kekacauan, dan Nowi belum sepenuhnya memahami perubahan pada diri Vito. Pria itu berubah drastis. Tidak dapat disangkal, kini ia terlihat sangat dewasa dengan bentuk tubuh yang padat dan berisi.

Jelas sekali ia rajin menjaga tubuhnya, dan Nowi jadi penasaran apakah ia masih sering berlatih tinju bersama saudara-saudaranya. Nowi memang selalu lemah jika sudah berhadapan dengan Vito.

"Tidur sana, Nowi. Hari kamu berat banget kan."

Suara Vito membuat Nowi sadar kembali dari lamunannya. Ia melihat Vito berjalan menuju pintu kamar yang terbuka.

"Mau ke mana?" tanyanya pelan, bingung dan tak rela dia pergi.

"Ke sofa."

"Vito, kamu nggak perlu tidur di sofa."

"Tapi aku mau." Vito menatapnya tenang. "Banyak hal yang harus kita bahas nanti, dan nggak bakal beres kalau kita tidur sebelahan. Aku gak mau makin jauh dari kamu, Nowi. Percaya sama aku."

Ucapannya benar, tetapi tetap saja terasa menusuk hati. Air mata mulai menggenang lagi di mata Nowi, dan ia berusaha keras menahannya agar tidak jatuh. Vito berjalan kembali ke sisi ranjang. Dengan lembut, ia menyelipkan rambut Nowi ke belakang telinga lalu memegang dagunya menggunakan kedua tangannya yang besar. Ia mengangkat wajah Nowi sampai wanita itu terpaksa menatap matanya secara langsung.

"Nggak usah nangis lagi. Istirahat ya. Besok pagi kita ngobrol lagi." Nada bicaranya lembut. "Kamu mungkin ngerasa harus ngadepin semuanya sendirian, tapi nggak harus gitu lho. Di kota ini ada orang-orang yang sayang banget sama kamu, Nowi. Kamu bisa punya hidup sebaik apa pun yang kamu mau, asalkan kamu jalanin itu buat diri sendiri. Bukan buat mama kamu. Bukan buat aku. Tapi buat diri kamu sendiri."

Cara Vito menatapnya membuat dada Nowi terasa sesak sekali. Bukan karena dampaknya bagi Vito, melainkan karena ia tidak kuat melihat Nowi hidup terus dalam keadaan seperti itu.

Vito mengusap sisa air mata yang lolos di pipi Nowi menggunakan ibu jarinya, lalu menunduk dan mengecup dahinya dengan bibirnya yang hangat dan lembut. Nowi memejamkan mata dan akhirnya dapat bernapas lega

"Tetap di sini pas aku bangun nanti, ya. Jangan kabur."

Vito pun pergi meninggalkannya sendirian di kamar itu. Pintu ditutup perlahan, dan Nowi mendengar langkah kakinya menjauh di lorong sampai akhirnya suasana menjadi hening sepenuhnya. Nowi meringkuk di atas kasur Vito dan menarik selimutnya hingga menutupi bahu, ujung kain itu berada tepat di bawah dagu.

Ia merasakan kehangatan sisa tubuh Vito yang menempel di kain itu, lengkap dengan aromanya yang tercium kuat. Rasanya sangat nyaman. Seperti pulang ke rumah sendiri.

Meskipun Vito sudah meminta agar ia berhenti menangis, Nowi tetap terisak hingga akhirnya tertidur.

Apakah selama ini ia hanya hidup sesuai kemauan ibunya?

Atau apakah ia benar-benar hidup untuk dirinya sendiri?

Ibunya tidak pernah sempat menikmati indahnya dunia. Dulu ia berusaha keras agar tidak berakhir sama seperti ibunya, serta memastikan ia dapat merasakan segala hal yang dulu tidak sempat didapatkan wanita itu.

Namun nyatanya, Nowi malah tidak pernah berani mengejar apa yang paling ia inginkan. Yaitu hidup bahagia bersama Vito di sisinya.

1
Aya Ansyar
hai thor, aku hadir membawa boomlike untukmu. jika berkenan, silahkan mampir juga ya ke karyaku. dukunganmu sangat berarti untukku. semangat terus berkarya, thor 👍🏻💪🏻
Aya Ansyar
hai thor, aku mampir. nyicil baca yaa. semangat thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!