"Satu malam yang salah, satu rahasia yang terkunci rapat, dan satu pertemuan yang tak terelakkan."
Bagi Naira, malam di dalam mobil mewah lima tahun lalu adalah sebuah kutukan sekaligus anugerah yang tak sengaja. Terjebak dalam situasi yang tak terkendali bersama seorang pria asing yang dingin, Naira kehilangan mahkotanya. Ketakutan akan kehancuran nama baik keluarganya membuat Naira melarikan diri ke pelosok Jombang, membawa rahasia besar di dalam rahimnya.
Lima tahun ia berjuang sendirian menjadi ibu tunggal bagi Arkana, putra kecilnya yang cerdas namun terus menanyakan sosok ayah. Demi menyambung hidup, Naira terpaksa kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai Office Girl di sebuah perusahaan raksasa, Wiratama Group.
Namun, dunia Naira runtuh saat ia pertama kali mengantarkan kopi ke ruang CEO. Pria yang duduk di kursi kebesaran itu adalah Nevan Adhiguna Wiratama—pria yang sama dengan pria di mobil malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jeritan Asam di Ujung Takdir
Mobil van itu berbelok masuk ke sebuah kawasan pergudangan tua yang terbengkalai di pinggiran Jakarta Timur. Lokasi yang sangat terpencil, jauh dari jangkauan patroli polisi biasa.
Nevan melompat ke dalam mobil SUV hitam milik Dimas yang baru saja tiba dengan kecepatan tinggi. Di kursi penumpang, Dimas sudah membuka laptopnya, menampilkan titik koordinat GPS yang berkedip merah.
"Mereka mematikan ponsel Ibu Naira, tapi saya berhasil melacak signal jammer yang mereka gunakan. Mereka bergerak ke arah timur, Pak. Kawasan industri tua," lapor Dimas cepat.
"Gas pol, Dim!" perintah Nevan. Wajahnya gelap, sekeras batu karang.
"AKP Fabian sudah mengerahkan tim Brimob untuk mengepung area, tapi mereka harus hati-hati agar sandera tidak dalam bahaya," tambah Dimas.
"Gue nggak butuh Brimob kalau mereka kelamaan! Gue cuma butuh istri gue balik!" Nevan mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di tangannya tampak menonjol.
Di gudang tua yang pengap, Naira diseret turun dari van dan diikat pada sebuah kursi kayu di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu bohlam kuning yang berkedip. Nadia berdiri di hadapannya, memegang sebuah botol kecil berisi cairan bening.
"Lo tahu ini apa, Naira?" Nadia menunjukkan botol itu. "Ini asam sulfat pekat. Cuma butuh satu tetes buat bikin wajah cantik yang dipuja-puja Nevan ini jadi menjijikkan. Kita lihat, apa kaisar kesayangan lo itu masih mau menatap lo kalau muka lo udah hancur kayak monster?"
Naira menggeleng kuat, air mata mengalir deras membasahi lakbannya. Rasa sakit di lehernya semakin menyiksa, namun ketakutan akan kehilangan wajahnya jauh lebih mengerikan.
Nadia membuka tutup botol itu. Bau menyengat langsung memenuhi hidung Naira. Saat Nadia baru saja hendak menyiramkan cairan itu, suara raungan mesin mobil dan decitan ban terdengar keras dari luar gudang.
BRAKKK!
Pintu gerbang gudang yang berkarat itu ditabrak hingga roboh oleh mobil SUV Nevan. Cahaya lampu jauh mobil menyilaukan mata Nadia dan anak buahnya. Nevan melompat keluar bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti.
"LEPASKAN ISTRI GUE, NADIA!" suara Nevan menggelegar, mengguncang langit-langit gudang yang tua.
Nadia terkejut, namun ia segera menempelkan ujung pisau ke leher Naira. "Jangan mendekat, Nevan! Satu langkah lagi, gue pastiin leher istri kesayangan lo ini robek!"
Nevan berhenti mendadak. Matanya tertuju pada Naira yang terisak ketakutan. Melihat kondisi istrinya yang terikat dan terancam, amarah Nevan mencapai puncaknya, namun ia tahu ia harus bermain cantik.
"Nadia, lo mau gue, kan? Ambil gue! Tapi lepasin Naira. Dia nggak ada hubungannya sama masalah kita!" Nevan mencoba bernegosiasi, suaranya kini terdengar rendah dan sangat berbahaya.
"Nggak, Nevan! Gue mau lo ngerasain apa yang gue rasain! Rasa sakit kehilangan sesuatu yang berharga!" Nadia berteriak histeris, tangannya gemetar memegang pisau.
Di saat Nadia sedang emosional, Dimas yang mengendap-endap dari pintu samping memberikan isyarat kepada AKP Fabian yang sudah mengepung dari luar. Sebuah titik merah laser dari penembak jitu mulai membidik lengan Nadia yang memegang pisau.
"Terakhir kali, Nadia. Lepasin dia sekarang, atau gue pastiin ayah lo bakal jemput jenazah lo malam ini juga," ancam Nevan dengan tatapan mata yang tidak lagi menunjukkan rasa kasihan.
Suasana menjadi sangat tegang. Nyawa Naira berada di ujung tanduk, sementara Sang Kaisar siap meledakkan kemarahannya yang paling dahsyat. Di malam yang sunyi itu, hanya suara detak jantung yang terdengar, menunggu siapa yang akan menarik pelatuk lebih dulu.
Gudang tua di pinggiran Jakarta Timur itu kini terkepung total. Lampu tembak dari mobil taktis polisi membelah kegelapan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding seng yang berkarat. Sirine meraung-raung, saling bersahutan, seolah sedang meneriakkan kemarahan alam semesta atas kejahatan yang sedang terjadi di dalamnya.
Di dalam gedung yang pengap itu, waktu seolah berhenti. Nadia berdiri dengan napas yang memburu, matanya merah karena dendam yang sudah melampaui batas kewarasan. Di hadapannya, Naira terikat tak berdaya pada sebuah kursi kayu tua. Di tangan kanan Nadia, sebuah botol kaca berisi cairan bening berasap tipis tampak berkilauan tertimpa cahaya lampu bohlam yang berkedip.
"Kalau aku nggak bisa memilikimu, Nevan... maka nggak boleh ada satu wanita pun yang bisa melihat wajah cantik ini lagi!" Nadia tertawa histeris. Air mata mengalir di pipinya, namun bukan air mata penyesalan, melainkan air mata kegilaan.
"NADIA! JANGAN! HENTIKAN!" teriak Nevan dari kejauhan. Ia mencoba menerjang maju, namun Dimas dan beberapa petugas menahannya karena area tersebut masih sangat berbahaya.
"Selamat tinggal, Naira!"
Tanpa ragu sedikit pun, Nadia mengayunkan tangannya. Cairan asam sulfat pekat itu meluncur di udara, menyiram tepat ke wajah Naira yang malang.
"AAAAAAGGGHHH! PANAS! MAS NEVAN! TOLOOOONG!"
Jeritan itu pecah. Melengking memilukan hingga menggetarkan langit-langit gudang yang tua. Asap putih mengepul dari kulit wajah Naira yang halus. Rasa sakit yang tak terbayangkan menghantam seluruh sarafnya, jauh lebih menyiksa daripada saraf kesembilan yang terjepit tempo hari. Tubuh Naira mengejang hebat, kursi kayunya berderit keras saat ia mencoba melawan rasa terbakar yang seolah-olah sedang menguliti wajahnya hidup-hidup.
Nevan yang melihat pemandangan itu merasa dunianya runtuh. Ia berhasil melepaskan diri dari pegangan Dimas dan menerjang maju, namun lagi-lagi ditahan oleh anak buah AKP Fabian agar tidak terkena sisa percikan zat kimia yang masih tercecer di lantai.
"FABIAN! TANGKAP DIA! JANGAN BIARKAN DIA MATI DENGAN MUDAH!" Nevan meraung, suaranya parau penuh murka. Matanya merah, menatap Nadia dengan kebencian yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun. "SERET DIA KE PENJARA SEKARANG! SAYA MAU DIA MEMBUSUK DI SANA!"
AKP Fabian tidak membuang waktu. Dengan gerakan taktis yang cepat, ia menerjang Nadia, membanting wanita itu ke lantai semen yang kotor hingga botol kacanya pecah berkeping-keping.
"Nadia! Anda ditahan atas percobaan pembunuhan dan penganiayaan berat!" teriak Fabian sambil menekan punggung Nadia. "Borgol dia! Bawa ke Polda sekarang!"
Nadia tidak melawan. Ia hanya tertawa kosong saat tangannya diborgol ke belakang. Ia menatap Nevan dengan tatapan iblis yang puas, seolah jeritan kesakitan Naira adalah simfoni terindah yang pernah ia dengar.
Nevan tidak mempedulikan penangkapan itu lagi. Ia langsung menghambur ke arah Naira. Dengan tangan gemetar, ia memotong tali pengikat istrinya dan menggendong tubuh mungil itu. Wajah Naira sebagian tertutup kain yang sudah terbakar, baunya sangat menyengat.
"Tahan, Sayang... tahan. Mas di sini. Kamu kuat, Naira. Tolong jangan tinggalin Mas..." bisik Nevan, suaranya bergetar hebat. Ia menggendong Naira menuju mobil SUV hitam yang mesinnya sudah meraung di depan gudang.
Di kursi kemudi, Dimas sudah bersiap dengan tangan mencengkeram kemudi erat. Begitu Nevan masuk ke kursi belakang sambil memeluk kepala Naira di pangkuannya, Dimas langsung menginjak gas.
"Mas... sakit... gelap..." suara Naira melemah, napasnya tersengal-sengal, setiap tarikan napas terasa seperti bara api yang masuk ke paru-parunya.
Tiba-tiba, tubuh Naira menjadi sangat lemas. Genggaman tangannya pada kemeja Nevan terlepas. Matanya terpejam rapat. Ia pingsan karena syok hebat yang tak sanggup lagi ditanggung oleh kesadarannya.
"Nai? Naira! Bangun! Jangan tidur, Sayang!" Nevan panik luar biasa. Ia menepuk-nepuk pipi Naira yang tidak terkena cairan, mencoba mencari tanda-tanda kehidupan. "DIMAS! JALAN SEKARANG!"
"Siap, Pak! Bertahanlah, Bu Naira!" Dimas memutar kemudi dengan gila, mobil SUV itu melompat keluar dari area gudang, menghantam tumpukan sampah hingga berantakan.
"LEBIH CEPAT, DIMAS! TABRAK SEMUA LAMPU MERAH! AKU NGGAK PEDULI!" teriak Nevan ke arah depan, air matanya kini jatuh membasahi wajah istrinya. "KALAU SAMPAI TERJADI APA-APA SAMA ISTRIKU, AKU NGGAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN DIRIKU SENDIRI! CEPATTT!!!"
Mobil SUV hitam itu melesat membelah jalanan kota Jakarta dengan kecepatan di luar nalar. Di depannya, dua motor polisi yang diperintahkan Fabian membuka jalan dengan sirine yang terus meraung, memaksa setiap kendaraan untuk menepi.
Setiap detik terasa seperti satu tahun bagi Nevan. Ia terus membisikkan doa dan kata-kata penguat di telinga Naira yang tak sadarkan diri. Di dalam mobil yang melaju kencang, ia baru menyadari betapa rapuhnya kekuasaan yang ia miliki selama ini jika tidak bisa melindungi orang yang paling ia cintai.
"Jangan ambil dia, Tuhan... jangan ambil dia," isaknya sambil mendekap erat tubuh Naira.
Sesampainya di lobi darurat Rumah Sakit Pusat, mobil bahkan belum berhenti sempurna saat Nevan sudah berteriak memanggil bantuan. "BRANKAR! CEPAT! ISTRI SAYA TERKENA ZAT KIMIA!"
Tim medis langsung berhamburan. Naira segera dilarikan ke ruang isolasi trauma. Nevan mencoba ikut masuk, namun tertahan oleh pintu kaca yang tertutup rapat. Ia berdiri di sana, menatap melalui kaca kecil, melihat tim dokter menyiramkan cairan penetral ke wajah istrinya.
Dimas berdiri di samping Nevan, napasnya juga belum teratur. "Mas... Bapak harus tenang. Tim medis terbaik sudah menangani Ibu."
Nevan berbalik, mencengkeram kerah baju Dimas dengan mata yang menyala. "Tenang? Bagaimana gue bisa tenang, Dim? Istri gue disiram air keras di depan mata gue sendiri!"
Ia kemudian melepaskan cengkeramannya dan terduduk lemas di lantai rumah sakit yang dingin. Sang Kaisar Wiratama itu kini tampak begitu hancur. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, pundaknya berguncang hebat.
Di saat yang sama, ponsel Nevan bergetar. Sebuah pesan masuk dari Pak Darmawan, sang pengacara.
'Mas Nevan, berkas penahanan Nadia dan ayahnya sudah saya proses. Tidak akan ada jaminan. Mereka akan membayar ini di pengadilan—dan di luar pengadilan.'
Nevan menatap layar ponselnya, lalu menatap ke arah pintu ruang operasi yang lampu merahnya baru saja menyala. "Pengadilan tidak akan cukup, Pak Darmawan," desis Nevan dingin. "Saya ingin mereka merasakan apa itu neraka di dunia sebelum mereka sampai ke neraka yang sebenarnya."