Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.
Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantor Polisi
Kantor polisi itu kecil. Hanya satu bangunan dengan cat biru yang mengelupas di beberapa tempat. Atapnya seng, berkarat di bagian tepi. Di halaman depan, ada tiang bendera dengan bendera merah putih yang sudah pudar warnanya. Sebuah sepeda motor tua terparkir di samping pintu. Tidak ada mobil. Tidak ada orang. Hanya kesunyian yang terasa aneh untuk sebuah kantor polisi.
Bambang berdiri di depan pintu. Tubuhnya gemetar. Bukan karena dingin. Tapi karena perasaan campur aduk antara lega, takut, dan marah. Setelah berhari-hari berlari, setelah bermalam-malam bersembunyi, setelah melihat teman-temannya berubah satu per satu, akhirnya dia sampai di sini. Di tempat di mana seharusnya keadilan dimulai.
"Kamu yakin kita lapor?" tanya Ucok dari belakang.
"Kita tidak punya pilihan lain, Ucok."
"Mereka bisa saja tidak percaya. Mereka bisa saja mengusir kita. Atau lebih buruk, mereka bisa saja bekerja sama dengan perusahaan."
"Kalau begitu kita cari wartawan. Atau LSM. Atau siapa saja yang mau dengar. Tapi mulai dari sini dulu."
Bambang mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Dia mengetuk lagi, lebih keras. Masih tidak ada jawaban. Dia mendorong pintu perlahan. Pintu itu terbuka.
Di dalam, ruangan yang sempit. Satu meja kayu di tengah. Beberapa kursi plastik. Sebuah lemari arsip besi yang berkarat. Di dinding, poster-poster tentang bahaya narkoba dan tertib berlalu lintas. Di sudut ruangan, seorang pria berseragam polisi sedang tidur di kursi. Topinya menutupi wajah. Dadanya naik turun pelan.
"Permisi, Pak," sapa Bambang pelan.
Pria itu tidak bergerak.
"Pak!" panggil Bambang lebih keras.
Pria itu tersentak. Topinya jatuh ke lantai. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menatap Bambang dengan sorot bingung. Wajahnya bulat, kumisnya tebal, matanya masih sayu karena baru bangun tidur.
"Ada apa, heh? Jam segini sudah teriak-teriak?" bentak pria itu dengan suara serak.
"Maaf, Pak. Kami mau lapor."
"Lapor apa? Kehilangan? Kecelakaan? Jambret?" Pria itu mengucek matanya. "Lihat tuh jam. Baru setengah sembilan pagi. Belum waktunya lapor-laporan. Orang lapor itu biasanya sore."
"Pak, ini darurat. Kami dari pabrik karet di dalam hutan. Kami kabur. Ada... ada banyak kematian di sana. Kami butuh bantuan."
Pria itu berhenti mengucek matanya. Wajahnya berubah. Tidak lagi bingung. Tapi waspada. Matanya menyipit menatap Bambang dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kemudian matanya beralih ke Ucok yang berdiri di belakang Bambang dengan tubuh besar dan wajah menyeramkan.
"Kalian dari pabrik karet?" tanya pria itu perlahan.
"Iya, Pak. PT. Karet Nusantara."
Pria itu berdiri. Tangannya meraih topi yang jatuh di lantai. Dia menepuk-nepuk debu dari topi itu, lalu memakainya. Matanya tidak lepas dari Bambang.
"Tunggu di sini," kata pria itu.
Dia berjalan ke pintu di belakang ruangan. Pintu itu terbuka. Dia masuk ke dalam dan menutup pintu di belakangnya. Bambang mendengar suara bisikan. Dua suara. Mungkin tiga. Pria itu bicara dengan orang lain di dalam.
"Ucok, ada yang tidak beres," bisik Bambang.
"Aku juga merasakannya."
"Mereka tidak kaget. Mereka tidak terkejut. Seperti mereka sudah tahu."
"Atau seperti mereka sudah diatur untuk tidak kaget."
Pintu terbuka. Pria itu keluar, diikuti oleh seorang pria lain dengan seragam yang sama, tapi pangkatnya lebih tinggi. Pria itu lebih tua. Rambutnya sudah beruban. Wajahnya keras. Matanya tajam.
"Saya Ipda Suryono, kepala polisi sektor ini," kata pria tua itu. "Kalian bilang kalian dari pabrik karet?"
"Iya, Pak. Saya Bambang. Ini Ucok. Kami satpam di sana. Kami kabur karena... karena banyak hal mengerikan terjadi."
"Mengerikan maksudnya apa?"
Bambang menarik napas panjang. Dia harus berhati-hati. Tidak bisa langsung cerita tentang makhluk karet. Polisi ini mungkin tidak akan percaya.
"Pak, di pabrik itu ada kecelakaan kerja berulang. Banyak satpam yang tewas. Atau hilang. Atasannya mengancam kami dengan kontrak yang tidak masuk akal. Denda lima ratus juta kalau berhenti sebelum satu tahun. Mereka tidak boleh cerita ke siapa pun. Saya punya bukti. Kontrak. Buku harian teman saya yang sudah meninggal."
Ipda Suryono mengangguk pelan. Wajahnya tidak berubah. Tidak ada ekspresi terkejut. Tidak ada ekspresi iba. Hanya wajah keras yang sulit dibaca.
"Kalian tunggu di sini," katanya. "Saya akan panggil bantuan dari kota."
"Berapa lama, Pak?"
"Entahlah. Beberapa jam. Mungkin satu hari. Jalan ke sini tidak bagus. Tapi kalian jangan ke mana-mana. Nanti saya panggil kalau sudah ada kabar."
Ipda Suryono berbalik dan masuk ke ruangan dalam. Pria pertama tadi mengikuti. Pintu ditutup. Bambang dan Ucok ditinggal sendirian di ruang tamu kantor polisi yang sempit.
"Ucok, kamu percaya mereka?" tanya Bambang.
"Tidak."
"Tapi kita tidak punya pilihan."
"Kita punya pilihan. Kita bisa pergi. Cari wartawan sendiri. Atau cari LSM. Atau langsung ke kota."
"Kaki kita tidak kuat, Ucok. Kita butuh istirahat. Kita butuh makanan. Kita butuh perban untuk luka kita. Setidaknya di sini kita bisa minta itu."
Ucok tidak menjawab. Dia duduk di kursi plastik dekat dinding. Matanya tertutup. Dadanya naik turun pelan. Bambang tahu Ucok tidak tidur. Ucok hanya mencoba menghemat energi.
Bambang duduk di kursi seberang. Matanya menjelajahi ruangan. Poster-poster di dinding. Lemari arsip. Meja kayu dengan laci yang tidak terkunci. Telepon di atas meja. Telepon kabel. Warna hitam. Tutupnya berdebu. Tapi sepertinya berfungsi. Kabelnya terhubung ke stopkontak di dinding.
Bambang berdiri dan berjalan ke meja. Tangannya meraih gagang telepon.
"Bambang, jangan," bisik Ucok membuka mata.
"Aku mau telepon ibuku. Sebentar saja."
"Kalau mereka tahu kamu telepon, mereka bisa lacak."
"Lacak? Telepon kabel? Mana bisa."
"Kamu tidak tahu. Di tempat sekecil ini, semuanya bisa. Lebih baik jangan ambil risiko."
Bambang ragu. Tangannya masih menggantung di atas gagang telepon. Dia ingin mendengar suara Ibu. Ingin bilang bahwa dia baik-baik saja. Ingin bilang bahwa dia akan pulang. Tapi Ucok benar. Risikonya terlalu besar.
Dia melepaskan gagang telepon dan kembali ke kursinya.
Mereka menunggu. Satu jam. Dua jam. Tidak ada yang keluar dari ruangan dalam. Tidak ada yang menawari mereka minum atau makan. Tidak ada yang memperhatikan mereka.
Jam menunjukkan pukul dua belas siang ketika pintu ruangan dalam terbuka. Ipda Suryono keluar dengan wajah yang lebih keras dari sebelumnya. Di belakangnya, pria pertama tadi membawa map.
"Kami sudah hubungi perusahaan," kata Ipda Suryono.
Bambang terkejut. "Perusahaan? Maksudnya PT. Karet Nusantara?"
"Iya. Mereka sudah tahu kalian kabur. Mereka sudah melapor ke kami dua hari lalu. Katanya kalian melarikan diri setelah mencuri uang perusahaan. Puluhan juta."
"Apa? Itu bohong, Pak! Kami tidak pernah mencuri! Kami kabur karena kami takut mati!"
"Kami hanya bekerja berdasarkan laporan. Perusahaan punya bukti. Kontrak kalian. Klausa denda. Kalian melanggar kontrak. Itu sudah cukup untuk menahan kalian."
"Menahan? Kami yang jadi korban, Pak! Banyak teman kami yang tewas di sana! Dul! Joni! Herman! Mereka semua..."
"Tidak ada laporan kematian dari perusahaan," potong Ipda Suryono dingin. "Semua pekerja masih hidup dan bekerja dengan baik. Perusahaan bahkan mengirim foto terbaru. Lihat."
Ipda Suryono mengeluarkan foto dari map. Foto itu menunjukkan beberapa orang berdiri di depan gerbang pabrik. Ada Herman. Ada Joni. Ada Dul. Ada Ucok. Ada Bambang. Semua tersenyum. Semua terlihat sehat. Foto itu diambil kemarin. Atau setidaknya tanggal di foto itu kemarin.
"Pak, itu palsu!" teriak Bambang. "Herman sudah tewas! Joni sudah berubah! Dul sudah jadi makhluk! Saya di sini! Ucok di sini! Mana mungkin foto kami bersama di pabrik kemarin!"
Ipda Suryono tidak bergeming. "Kami tidak tahu mana yang benar. Yang jelas, perusahaan sudah melapor. Kalian sudah dilaporkan. Kami harus mengamankan kalian sampai perusahaan datang menjemput."
"Menjemput? Kami tidak mau kembali ke sana, Pak! Kami akan mati di sana!"
"Kalian tidak akan mati. Kalian hanya akan diproses sesuai hukum."
Bambang ingin berteriak. Ingin membanting meja. Ingin merobek foto palsu itu. Tapi dia tahu itu tidak akan berguna. Polisi ini sudah dibeli. Atau polisi ini takut. Atau polisi ini tidak mau tahu.
Ucok berdiri. Tubuhnya yang besar menaungi Bambang. Wajahnya menyeramkan. Matanya tajam menatap Ipda Suryono.
"Pak, saya punya anak. Perempuan. Umur tujuh tahun. Namanya Laras. Dia di kampung, dijaga adik saya. Saya tidak akan berbohong untuk urusan anak saya. Saya tidak pernah mencuri. Saya tidak pernah melakukan kejahatan apapun. Yang saya lakukan hanyalah bertahan hidup. Dan sekarang saya minta tolong. Lepaskan kami. Biarkan kami pergi ke kota. Biarkan kami cari keadilan sendiri."
Ipda Suryono terdiam. Matanya tidak lagi tajam. Ada keraguan di sana. Keraguan yang berusaha dia sembunyikan.
"Pak," kata Bambang memanfaatkan momen. "Saya juga punya orang tua. Bapak saya stroke. Ibu saya menjahit untuk makan. Saya ambil kerja ini karena saya mau bantu mereka. Saya tidak pernah mencuri. Saya tidak mungkin mencuri. Saya hanya ingin pulang. Itu saja."
Ipda Suryono menghela napas panjang. Dia menoleh ke pria pertama tadi. Mereka bertukar pandang. Terjadi perdebatan bisu di antara mereka.
"Kalian tunggu di luar," kata Ipda Suryono akhirnya.
"Di luar maksudnya di mana, Pak?"
"Di luar kantor. Di halaman. Jangan ke mana-mana."
Bambang dan Ucok berjalan keluar. Matahari di halaman terik. Tidak ada tempat berteduh selain di bawah pohon mangga yang tumbuh di samping pagar. Mereka duduk di bawah pohon itu. Tanahnya kering dan berdebu.
"Ucok, mereka tidak akan lepaskan kita," bisik Bambang.
"Aku tahu."
"Perusahaan akan datang menjemput. Mereka akan bawa kita kembali ke pabrik."
"Aku tahu."
"Kita harus kabur lagi."
"Aku tahu. Tapi tidak sekarang. Mereka masih mengawasi kita."
Bambang menoleh ke kantor polisi. Dari balik jendela, dia melihat pria pertama tadi sedang menatap mereka. Ponsel di tangannya. Dia sedang bicara dengan seseorang.
"Mereka sudah nelpon perusahaan," kata Bambang.
"Biarkan. Kita akan kabur malam ini. Saat mereka lengah."
"Kaki kita. Kita tidak bisa lari."
"Kita tidak perlu lari. Kita perlu bersembunyi. Sampai mereka menyerah mencari. Atau sampai kita dapat kesempatan untuk pergi ke kota."
Bambang memejamkan mata. Panas matahari terasa menyengat kulitnya yang sudah luka-luka. Tapi dia tidak keberatan. Setidaknya panas ini mengingatkannya bahwa dia masih hidup. Bahwa dia masih manusia. Bahwa dia belum berubah.
"Ucok, kalau kita selamat dari ini, apa yang akan kamu lakukan?"
"Pulang. Peluk Laras. Tidak pernah pergi lagi."
"Kalau perusahaan mengejar? Kalau mereka minta denda?"
"Biarkan. Lebih baik berhutang seumur hidup daripada mati di sana."
Bambang mengangguk. Ucok benar. Lebih baik berhutang. Lebih baik miskin. Lebih baik jadi pengangguran lagi. Daripada menjadi makhluk. Daripada kehilangan jati diri. Daripada berdiri di tepi hutan dengan mata kosong dan kulit hitam.
"Aku juga akan pulang," kata Bambang. "Aku akan peluk Ibu. Aku akan cium tangan Bapak. Aku akan tidur di kamar sempitku. Dan aku tidak akan pernah mengeluh lagi. Tidak akan pernah."
Mereka berdua terdiam. Menunggu. Menunggu malam. Menunggu kesempatan. Menunggu saat yang tepat untuk kabur lagi.
Di dalam kantor polisi, Ipda Suryono keluar. Dia berjalan ke arah mereka dengan langkah berat. Wajahnya tidak lagi keras. Ada sesuatu yang mirip dengan rasa bersalah.
"Kalian harus pergi," katanya pelan.
Bambang terkejut. "Maksud Bapak?"
"Perusahaan akan datang besok pagi. Mereka minta kalian diserahkan. Tapi saya... saya tidak tega. Saya punya anak juga. Saya tidak mau anak saya mengalami apa yang kalian alami."
"Bapak percaya cerita kami?"
"Saya tidak tahu harus percaya yang mana. Tapi saya lihat mata kalian. Mata kalian jujur. Tidak seperti mata orang yang mencuri. Jadi... pergilah. Sekarang. Sebelum mereka datang."
"Terima kasih, Pak," kata Bambang dengan suara bergetar.
"Jangan ke selatan. Perusahaan akan mencari kalian ke selatan. Ke barat. Ada hutan. Lewati hutan itu. Dua hari lagi kalian akan sampai di kota lain. Lebih besar. Ada kantor polisi yang lebih besar. Ada wartawan. Ada LSM. Coba di sana."
"Tapi hutan..."
"Saya tahu. Tapi lebih baik hutan daripada kembali ke pabrik itu. Setidaknya di hutan kalian masih bisa berlari."
Bambang berdiri. Kakinya terasa berat. Tapi dia tidak peduli. Dia menggandeng lengan Ucok. Mereka berjalan ke barat. Meninggalkan kantor polisi. Meninggalkan desa. Meninggalkan satu-satunya harapan yang ternyata palsu.
Di belakang mereka, Ipda Suryono berdiri di halaman. Matanya mengikuti mereka sampai hilang di balik pepohonan.
"Maafkan saya," bisiknya pelan. "Saya hanya polisi kecil. Saya tidak bisa melawan mereka."
Tapi Bambang tidak mendengar. Yang dia dengar hanya suara langkah kakinya sendiri. Suara detak jantungnya sendiri. Dan dari kejauhan, suara yang sudah terlalu familiar. Suara seperti karet diregangkan.
Mereka sudah tahu. Mereka sudah mengikuti. Dan mereka tidak akan berhenti sampai Bambang dan Ucok kembali ke pabrik. Atau sampai mereka berubah menjadi makhluk. Atau sampai mereka mati.
Tapi Bambang tidak akan menyerah. Tidak sekarang. Tidak setelah semua yang dia lalui.
Dia terus berjalan. Bersama Ucok. Menuju barat. Menuju hutan. Menuju ketidakpastian.
Tapi setidaknya, dia tidak sendirian.
Setidaknya, dia masih punya harapan.
Setidaknya, dia masih manusia.