Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.
Ditengah sesi makan siang tiba-tiba ada seorang anak dari salah seorang pegawai yang kebetulan hari itu terpaksa di ajak oleh ibunya ke tempat kerja, terdengar menangis hingga menjadi pusat perhatian semua orang, termasuk Sandi.
Sandi yang awalnya tidak menyadari keberadaan bocah itu, kini berdiri dari tempat duduknya dan beranjak menghampiri si anak dan juga ibunya.
Ibu dari anak tersebut sudah tampak ketakutan, mengingat aturan hotel tidak memperbolehkan pegawainya mengajak serta anak kecil ke tempat kerja.
"Maafkan saya, tuan. Saya terpaksa mengajak serta anak saya karena neneknya sedang ada urusan penting sehingga tidak bisa menjaganya untuk hari ini. Tapi saya janji tuan, ini kali pertama dan terakhir saya mengajak anak saya ke tempat kerja." Tutur ibu muda tersebut sebelum Sandi mengatakan sepatah katapun. Kejadian itu semakin menyita perhatian dari para pegawai lainnya. Tidak sedikit yang mengkhawatirkan nasib pegawai yang bergabung dalam departemen housekeeping tersebut. Khawatir wanita itu akan dipecat karena dianggap melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh pihak hotel semenjak masih berada dalam pimpinan lama.
"Tidak perlu minta maaf! Saya mengerti dengan situasi anda, karena saya pun memiliki seorang putri. Jika seandainya saya yang berada dalam posisi dan situasi anda saat ini, pasti saya juga rela melanggar aturan demi putri saya."
Vania yang saat itu turut mendengar perkataan Sandi dibuat terenyuh. Secara tidak langsung Sandi telah mengakui keberadaan Sesil dihadapan semua pegawainya.
Hampir semua pegawai hotel fokus pada pengakuan secara tidak langsung dari bos mereka yang ternyata telah memiliki seorang putri. Jika telah memiliki seorang putri, bukankah itu artinya Sandi sudah menikah.
Berita hangat siang ini, rupanya pimpinan hotel Admodjo Group sudah menikah dan juga sudah memiliki seorang putri. Tidak sedikit yang merasa penasaran pada sosok wanita beruntung yang telah berhasil menaklukkan hati bos mereka tersebut, termasuk Cika.
"Rupanya tuan Sandi sudah menikah dan sudah memiliki seorang putri. Aku jadi penasaran pada sosok wanita beruntung itu." Gumam Vania. Kini Cika dan Vania tengah berada di dalam lift yang akan mengantarkan mereka menuju lantai di mana ruangan mereka berada.
"Aku jadi penasaran deh...Bagaimana ya rasanya berada dibawah kung-kungan pria setampan tuan Sandi." Lanjut Cika dengan gaya lebay nya.
"Bisa-bisanya kamu punya pikiran ngeres kayak gitu." Vania geleng kepala. Di saat ia ingin sekali melupakan kejadian yang pernah terjadi antara dirinya dan Sandi malam itu, rupanya diluar sana tidak sedikit wanita yang ingin merasakan berada di posisinya. Ya, bukan hanya Cika, namun ada banyak rekan kerjanya yang melontarkan kata-kata yang tidak jauh berbeda dengan sahabatnya itu.
*
Malam harinya.
Mereka semua tengah berada di meja makan untuk menikmati makan malam bersama. Suapan ibu terhenti di udara ketika menyaksikan Sandi dan Sesil tengah melakukan hal yang sama, yakni menyingkirkan wortel dari piring masing-masing. Ya, malam ini sayur sup menjadi salah satu menu yang terhidang di meja makan.
"Sesil nggak suka wortel juga rupanya, sama seperti Sandi." Perkataan ibu berhasil menghentikan pergerakan Vania yang hendak meneguk air minumnya. Begitu pun dengan Sandi, pria itu langsung memandang pada Sesil. Gadis kecil itu nampak melakukan hal serupa dengannya, menyingkirkan wortel ke pinggiran piringnya.
"Bukan hanya wortel tapi Sesil juga nggak suka selai kacang, karena setelah memakan selai kacang sekujur tubuh Sesil timbul bintik-bintik merah, Oma."
Deg.
Sendok dari tangan Sandi nyaris terjatuh dengan sendirinya saat mendengar pengakuan Sesil. Pasalnya, ia pun memiliki alergi pada kacang.
"Benarkah? Rupanya Sesil punya banyak kesamaan dengan papahnya Sesil." Kata ibu sambil mengelus rambut panjang bocah itu.
Entah mengapa pengakuan Sesil membuat Sandi jadi kepikiran. Terlebih, ada beberapa orang yang pernah mengatakan bahwa senyuman mereka terlihat mirip. Apa mungkin semua itu bisa saja terjadi karena dirinya telah menganggap Sesil layaknya anak kandung sendiri? Sandi bertanya-tanya dalam hati.
Seusai makan malam, Vania menemani Sesil hingga bocah itu tertidur. Setelahnya barulah ia kembali ke kamarnya. Malam ini Sandi tak sempat membacakan buku cerita sebagai pengantar tidur bocah perempuan nan menggemaskan itu, sebab Sandi sedang sibuk mengecek beberapa laporan tentang perusahaan. Ya, meskipun telah menduduki posisi sebagai pimpinan di hotel, Sandi tidak bisa sepenuhnya melepas tanggung jawab perusahaan kepada ayah.
"Apa Sesil sudah tidur?." Tanya Sandi menyadari Vania telah kembali ke kamar.
"Sudah, tuan."
Sandi sontak saja menatap pada Vania.
"Kau istriku, bukan pembantuku. Jadi berhentilah memanggilku dengan sebutan tuan!."
"Lalu saya harus memanggil anda dengan sebutan apa?."
"Terserah kau saja! Asalkan bukan tuan, telingaku sakit mendengarnya."
"Kalau aku panggil mas Sandi, boleh?." Sebaiknya bertanya lebih dulu, karena belum tentu Sandi berkenan dengan panggilannya itu.
"Terserah!." Di mulut bilangnya terserah wajah pun nampak datar, namun kenyataannya ada perasaan hangat yang menjalar di hati Sandi ketika mendengar Vania memanggil dirinya dengan sebutan mas.
Setelahnya, Vania beranjak dari posisi duduknya di tepian ranjang. Wanita itu hendak mengganti pakaiannya dengan baju tidur biar lebih nyaman. Untuk malam ini Vania tak lagi mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi melainkan di ruang ganti. "Lain kali kalau mau ganti baju, lakukan diruang ganti!." Vania masih ingat betul dengan perkataan Sandi sore tadi.
Deg
Baju tidur yang dikenakan Vania malam ini nyaris serupa dengan baju tidur yang dikenakan oleh wanita itu malam kemarin, hanya warnanya saja yang berbeda. Jika malam kemarin Vania mengenakan baju tidur berwarna hitam, malam ini wanita itu mengenakan baju tidur berwarna merah terang hingga membuat kulit putihnya terlihat semakin bersinar.
"Apa kau tidak kedinginan tidur dengan berpakaian seperti itu." Terlepas bagaimanapun perasaannya terhadap Vania, ia tetaplah seorang pria normal yang tentunya memiliki has-rat. Sandi khawatir tak sanggup menahan diri jika terus melihat Vania dengan penampilan seperti saat ini. Sandi tidak menyangka sekuat itu pesona seorang Vania Damayanti, Hingga pria itu pun menyesali perkataannya semalam, di mana ia mengatakan tidak berminat menyentuh istrinya itu.
Vania langsung menoleh pada Sandi.
"Masalahnya, baju tidur yang ada di dalam lemari bentukannya seperti ini semua, mas." Jujur, ditegur demikian oleh Sandi membuat Vania merasa seperti wanita peng-goda. Padahal, sebenarnya ia pun kurang nyaman mengenakan pakaian tidur modelan begitu, mengingat selama ini Vania selalu mengenakan piyama.
"Ini pasti kerjaan mamah." Batin Sandi.
Beberapa saat kemudian.
"Kau mau kemana?." Tanya Sandi melihat Vania bukannya langsung naik ke ranjang tapi justru berbalik badan.
"Mau ganti baju." Vania hendak kembali ke ruang ganti untuk mengganti baju tidur yang kini dikenakannya dengan baju kaos dan juga celana panjang. Ia berpikir Sandi risih melihatnya berpakaian seperti itu.
"Tidak perlu!."
Vania mengeryit bingung namun tak berani bertanya alasan mengapa kini Sandi berkata demikian, padahal tadinya pria itu sepertinya risih dengan penampilannya. Ya, menurut kesimpulan Vania, teguran Sandi tadi merupakan bentuk protes akibat risih dengan penampilannya.
"Sepertinya besok aku harus membeli beberapa piyama baru." Batin Vania, Ia tidak ingin sampai Sandi berpikir ia haus akan sentuhan pria hingga sengaja mengenakan baju tidur modelan begitu.
Jangan lupa dukungannya ya sayang-sayangku.... biar aku makin semangat lagi updatenya....! 🙏🙏😘😘🥰🥰 Love you all.....
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆
ditunggu lagiii upnyaaa thorrrr