NovelToon NovelToon
Bukan Sekedar Pengganti

Bukan Sekedar Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:38.8k
Nilai: 5
Nama Author: Triyani

Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.

Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?

Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?

Saksikan kisahnya disini….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.19

Keesokan harinya.

“Bersiaplah. Sore ini, sepertinya kita harus pulang.”

Alisa yang sedang fokus pada buku yang kemarin dibelikan oleh Harlan, perlahan menghentikan bacaannya.

Jemarinya masih menahan halaman yang belum selesai ia baca. Ia menoleh, menatap Harlan dengan dahi yang berkerut.

“Kenapa? Bukankah kita masih punya waktu satu hari lagi di sini?” tanyanya bingung.

Harlan menarik nafas panjang sebelum menjawab.

“Iya… tapi situasi di rumah sudah tidak memungkinkan. Kita harus segera kembali. Keluarga besar sudah berkumpul… dan kita harus menemui mereka untuk menjelaskan semuanya. Tentang apa yang terjadi dan tentang pernikahan kita.”

Deg.

Jantung Alisa seakan berhenti berdetak sesaat. Tangannya yang memegang buku perlahan melemah, hingga buku itu nyaris terlepas dari genggamannya.

Wajahnya memucat, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan terburuk yang akan ia terima.

Tidak bisa Alisa bayangkan, akan bagaimana respon keluarga besar Harlan saat tahu kalau wanita yang pria itu nikahi bukan mempelai wanita yang sebenarnya.

Nafasnya tiba-tiba terasa berat. Dada Alisa naik turun, berusaha menahan gelombang kecemasan yang tiba-tiba datang, menyelimuti.

“Lalu… apa yang harus kita lakukan?” tanyanya dengan nada yang lirih, hampir seperti bisikan.

Harlan terdiam sejenak, tidak langsung menjawab. Ia menatap Alisa, yang saat ini terlihat panik dan gelisah.

“Tentu saja mengatakan semuanya, tanpa ada yang disembunyikan.” ujarnya jujur, suaranya rendah namun tegas.

Ada jeda singkat sebelum Harlan melanjutkan ucapannya.

“Dan aku harap, apapun yang terjadi nanti… bagaimanapun respon mereka… aku ingin, agar kamu tetap berada disampingku dan mendukung semua keputusanku.”

Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat hati Alisa bergetar.

Di tengah rasa takut yang masih menyelimuti, ada kehangatan kecil yang perlahan menyelinap masuk ke dalam hatinya.

Alisa menunduk, menggenggam bukunya erat-erat, seakan itu adalah satu-satunya yang bisa ia andalkan sebagai pegangan.

Melihat kegelisahan Alisa, Harlan pun akhirnya mendekat, duduk di sampingnya, lalu mengulurkan tangan, menggenggam lembut tangan Alisa yang terasa dingin dan basah.

“Apa kamu takut?” tanya Harlan pelan, penuh dengan kehati-hatian.

Alisa menggeleng lemah. Sebenarnya, tidak ada yang ia takutkan, hanya saja. Ia terlalu bingung menyikapi semua yang terjadi saat ini.

“Aku sama sekali tidak takut, Mas. Bahkan, aku sudah menyiapkan diri untuk ini semua…”

Alisa menjeda ucapanya sejenak untuk mengambil nafas demi mengurai rasa sesak yang menyelimuti dadanya.

“Apapun yang terjadi nanti, aku sudah siap menerima semuanya. Meski harus menyandang status janda sekalipun, aku sudah siap, Mas.”

Deg.

Harlan tersentak kecil, ia tidak menyangka jika Alisa sudah berpikiran sejauh itu. Pria itu semakin menatap lekat wajah istrinya, genggaman tangannya pun semakin erat.

“Alisa… kenapa berpikir seperti itu? Kenapa kamu yakin sekali kalau kita akan bercerai?”

Alisa tidak menjawab, ia hanya semakin menundukkan kepalanya.

“Sekarang… apa, aku boleh bertanya sesuatu?” lanjut Harlan, membuat Alisa mengangkat kepalanya. Menoleh, lalu menatap ke arah Harlan.

“Boleh. Apa yang ingin Mas tanyakan?”

“Apa… di sana… kamu memiliki seseorang yang spesial?”

Alisa terdiam. Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba. Membuat Alisa menatap lekat ke arah Harlan, mencoba mencerna lagi pertanyaan dari pria itu.

“Seseorang yang spesial…?” ulangnya pelan.

Harlan mengangguk, meski sorot matanya tampak sedikit ragu, namun Harlan tetap menanyakan hal itu. Meski sejujurnya, ia juga tidak yakin kalau ia ingin mendengar jawabannya.

Alisa menggeleng perlahan, lalu menjawab.

“Tidak ada. Selama ini… hidupku sudah terlalu sibuk dengan kuliah dan pekerjaan. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal seperti itu. Memangnya, kenapa, Mas?” jawabnya jujur.

Jawaban itu membuat Harlan terdiam sejenak. Ada sesuatu yang terasa menghangat di dadanya, sebuah rasa lega pun langsung muncul. Membuat bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman.

Ia menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan, seolah sedang menenangkan diri dari gejolak yang ada di dadanya.

“Kalau begitu, apa yang kamu khawatirkan?”

Alisa kembali terdiam, bingung harus menjawab apa. Benar apa kata Harlan, ‘memangnya apa yang ia khawatirkan?’. Namun, tetap saja, hatinya merasa belum sepenuhnya merasa tenang.

“Dengarkan aku baik-baik Alisa… pernikahan ini memang terjadi karena keadaan. Dan kita… sama-sama tahu itu. Tapi… bukan berarti kita harus mengakhirinya begitu saja, kan,” lanjut Harlan dengan suara yang tenang, tapi penuh penekanan.

“Maksud, Mas… apa?” tanyanya pelan.

“Aku tidak ingin mengakhiri pernikahan ini. Seolah-olah pernikahan ini tidak berarti apa-apa. Aku ingin... mempertahankan pernikahan kita, Alisa.”

Deg.

Kata-kata itu membuat Alisa membeku. Jantungnya kembali berdetak tidak beraturan, kali ini bukan karena takut… tapi karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

Harlan menghela nafas panjang, lalu tanpa melepas genggaman tangannya, ia sedikit mendekat lagi, lebih dekat dari sebelumnya.

“Kalau kamu bersedia… aku ingin… kita mempertahankan pernikahan ini. Aku ingin menjalankan pernikahan ini dengan sesungguh-sungguhnya.” lanjut Harlan, suaranya kini terdengar lebih dalam, dan lebih serius. Tangannya masih menggenggam erat tangan Alisa. Kini, lebih erat lagi.

Perlahan, Alisa mengangkat wajahnya. Mata menatap lurus ke arah Harlan. Mencoba mencari keyakinan dari sorot mata pria itu.

Hingga akhirnya, Alisa pun mulai membuka suaranya. Lirih, sangat lirih, hingga seperti bisikan angin yang bertiup sesaat.

“Tapi… kalau suatu hari nanti… Mas menyesal bagaimana?” tanyanya lirih.

Harlan tidak langsung menjawab, namun ia mengulurkan tangan satunya lagi, membelai lembut pipi Alisa.

“Aku tidak tahu, karena aku tidak ingin membayangkan hal itu. Aku harap… kata ‘menyesal’ itu, tidak akan pernah ada. Baik itu di kamu, ataupun di aku.”

Deg.

Kali ini, Alisa benar-benar tidak bisa menahan perasaannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan, akhirnya jatuh juga, membasahi pipi.

Alisa menangis, tapi bukan karena sedih. Melainkan karena hatinya yang dulu terasa kosong, kini mulai terisi oleh sosok asing, yang tiba-tiba menjadi suaminya.

Harlan menariknya perlahan, masuk ke dalam pelukannya. Mendekap lembut tubuh istrinya.

“Jadi… kamu maukan, melanjutkan pernikahan ini denganku? Untuk selamanya?” bisiknya di dekat telinga Alisa.

Alisa mencengkeram pelan kemeja Harlan. Beberapa detik berlalu dalam diam, sampai akhirnya ia mengangguk kecil di dalam pelukan itu.

“Iya, Mas… aku bersedia.” jawabnya lirih, hampir tak terdengar.

Ia sedikit menjauh, menatap Harlan dengan senyum yang masih dibalut air mata. Untuk pertama kalinya, di antara semua ketidakpastian yang menanti mereka di depan. Keduanya pun akhirnya memutuskan untuk tetap berjalan bersama.

Mempertahankan hubungan yang sudah terlanjut terjalin. Meski diantara keduanya belum ada perasaan cinta, namun mereka sepakat untuk memulai semuanya dari awal sampai akhirnya, perasaan itu muncul dengan sendirinya.

1
Ani Basiati
lanjut thor💪💪💪
Ani Basiati
lanjut thor
Uba Muhammad Al-varo
Alisa, Harlan semoga mereka berdua cepat diberikan keturunan 💪💪💪
Reni Anjarwani
lama bgt upnya
Siti M Akil
hadeh bertahun² kma baru nyadar
Oma Gavin
keputusan yg terlambat tsoinlrbih baik dari pada tidak pernah sadar akan kesalahannya, pak ali jgn pernah lagi luluh sama rengekan dan tangisan yuni semua palsu
Ida Litong
mantap. lanjutttt
Lusi Hariyani
baru sadar pak ali...
Reni Anjarwani
harus tegas pak ali
Teh Yen
nah loh d cerai Bu.,,, wah engg nyangka deh pak Ali bakal talak Bu Yuni yah ku pikir mau marah besar aj gt eeh ternyata yah
Teh Yen
nah itulah fakta tentang putri kalian yg kalian bangga banggakan itu
Teh Yen
lagian kenapa demi perushaaan meminta bertukar posisi apakah dengan betukar posisi perusahaan pak Ali akan selamat oh Tidka dong Harlan Tidka sebodoh itu camkan itu yah
ih gedeg banget deh pengen tak petok keplana pak Ali sama palu biar sadar 😤😤😤
Teh Yen
kenapa.diam pak Ali kenapa masih membela mereka bukan ank kandung yg selma ini kamu acuhkan huuu dasar orang" engg tau malu kalian pikir bisa membuat Alisa terpojok ,terhina hemm Tidka lagi yah Tidka akan bisa ada Harlan yg akan setia berada d sisi Alisa dan membela nya jangan jangan harap rencana kalian berhasil
Teh Yen
ah pasti itu modus pak Ali intinya minta uang lagi tuh dia kan banyak utang dan blom bisa bayar pasti bikin alasan apapun buat mojokin Alisa dan minta uang dari harlan
Teh Yen
ah syukurlah ternyata Harlan sudah bertindak d belakang Alisa tanpa sepengetahuan nya
Ani Basiati
lanjut💪💪💪
Ida Sriwidodo
Semoga ajaa Marisa n maknya ngga malah bikin drama baru.. fitnah Harlan ke pak Ali dengan bilang klo itu anaknya Harlan 😭😭😤😤
partini: kebanyakan cerita kaya gitu ya sits
total 1 replies
Lusi Hariyani
akhir y terbongkar jg kebusukan marisa
Oma Gavin
Slh akhirnya terbongkar kebohongan marisa knp di aborsi suruh tanggung jawab dong yg menghamili kecuali Marisa memang jual diri jadi ngga tau siapa bapaknya kan banyak yg nyelip 😂
Ani Basiati
anak kandung dibuang anak tiri disayang ayah macam apa itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!