Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.19
Keesokan harinya.
“Bersiaplah. Sore ini, sepertinya kita harus pulang.”
Alisa yang sedang fokus pada buku yang kemarin dibelikan oleh Harlan, perlahan menghentikan bacaannya.
Jemarinya masih menahan halaman yang belum selesai ia baca. Ia menoleh, menatap Harlan dengan dahi yang berkerut.
“Kenapa? Bukankah kita masih punya waktu satu hari lagi di sini?” tanyanya bingung.
Harlan menarik nafas panjang sebelum menjawab.
“Iya… tapi situasi di rumah sudah tidak memungkinkan. Kita harus segera kembali. Keluarga besar sudah berkumpul… dan kita harus menemui mereka untuk menjelaskan semuanya. Tentang apa yang terjadi dan tentang pernikahan kita.”
Deg.
Jantung Alisa seakan berhenti berdetak sesaat. Tangannya yang memegang buku perlahan melemah, hingga buku itu nyaris terlepas dari genggamannya.
Wajahnya memucat, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan terburuk yang akan ia terima.
Tidak bisa Alisa bayangkan, akan bagaimana respon keluarga besar Harlan saat tahu kalau wanita yang pria itu nikahi bukan mempelai wanita yang sebenarnya.
Nafasnya tiba-tiba terasa berat. Dada Alisa naik turun, berusaha menahan gelombang kecemasan yang tiba-tiba datang, menyelimuti.
“Lalu… apa yang harus kita lakukan?” tanyanya dengan nada yang lirih, hampir seperti bisikan.
Harlan terdiam sejenak, tidak langsung menjawab. Ia menatap Alisa, yang saat ini terlihat panik dan gelisah.
“Tentu saja mengatakan semuanya, tanpa ada yang disembunyikan.” ujarnya jujur, suaranya rendah namun tegas.
Ada jeda singkat sebelum Harlan melanjutkan ucapannya.
“Dan aku harap, apapun yang terjadi nanti… bagaimanapun respon mereka… aku ingin, agar kamu tetap berada disampingku dan mendukung semua keputusanku.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat hati Alisa bergetar.
Di tengah rasa takut yang masih menyelimuti, ada kehangatan kecil yang perlahan menyelinap masuk ke dalam hatinya.
Alisa menunduk, menggenggam bukunya erat-erat, seakan itu adalah satu-satunya yang bisa ia andalkan sebagai pegangan.
Melihat kegelisahan Alisa, Harlan pun akhirnya mendekat, duduk di sampingnya, lalu mengulurkan tangan, menggenggam lembut tangan Alisa yang terasa dingin dan basah.
“Apa kamu takut?” tanya Harlan pelan, penuh dengan kehati-hatian.
Alisa menggeleng lemah. Sebenarnya, tidak ada yang ia takutkan, hanya saja. Ia terlalu bingung menyikapi semua yang terjadi saat ini.
“Aku sama sekali tidak takut, Mas. Bahkan, aku sudah menyiapkan diri untuk ini semua…”
Alisa menjeda ucapanya sejenak untuk mengambil nafas demi mengurai rasa sesak yang menyelimuti dadanya.
“Apapun yang terjadi nanti, aku sudah siap menerima semuanya. Meski harus menyandang status janda sekalipun, aku sudah siap, Mas.”
Deg.
Harlan tersentak kecil, ia tidak menyangka jika Alisa sudah berpikiran sejauh itu. Pria itu semakin menatap lekat wajah istrinya, genggaman tangannya pun semakin erat.
“Alisa… kenapa berpikir seperti itu? Kenapa kamu yakin sekali kalau kita akan bercerai?”
Alisa tidak menjawab, ia hanya semakin menundukkan kepalanya.
“Sekarang… apa, aku boleh bertanya sesuatu?” lanjut Harlan, membuat Alisa mengangkat kepalanya. Menoleh, lalu menatap ke arah Harlan.
“Boleh. Apa yang ingin Mas tanyakan?”
“Apa… di sana… kamu memiliki seseorang yang spesial?”
Alisa terdiam. Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba. Membuat Alisa menatap lekat ke arah Harlan, mencoba mencerna lagi pertanyaan dari pria itu.
“Seseorang yang spesial…?” ulangnya pelan.
Harlan mengangguk, meski sorot matanya tampak sedikit ragu, namun Harlan tetap menanyakan hal itu. Meski sejujurnya, ia juga tidak yakin kalau ia ingin mendengar jawabannya.
Alisa menggeleng perlahan, lalu menjawab.
“Tidak ada. Selama ini… hidupku sudah terlalu sibuk dengan kuliah dan pekerjaan. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal seperti itu. Memangnya, kenapa, Mas?” jawabnya jujur.
Jawaban itu membuat Harlan terdiam sejenak. Ada sesuatu yang terasa menghangat di dadanya, sebuah rasa lega pun langsung muncul. Membuat bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman.
Ia menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan, seolah sedang menenangkan diri dari gejolak yang ada di dadanya.
“Kalau begitu, apa yang kamu khawatirkan?”
Alisa kembali terdiam, bingung harus menjawab apa. Benar apa kata Harlan, ‘memangnya apa yang ia khawatirkan?’. Namun, tetap saja, hatinya merasa belum sepenuhnya merasa tenang.
“Dengarkan aku baik-baik Alisa… pernikahan ini memang terjadi karena keadaan. Dan kita… sama-sama tahu itu. Tapi… bukan berarti kita harus mengakhirinya begitu saja, kan,” lanjut Harlan dengan suara yang tenang, tapi penuh penekanan.
“Maksud, Mas… apa?” tanyanya pelan.
“Aku tidak ingin mengakhiri pernikahan ini. Seolah-olah pernikahan ini tidak berarti apa-apa. Aku ingin... mempertahankan pernikahan kita, Alisa.”
Deg.
Kata-kata itu membuat Alisa membeku. Jantungnya kembali berdetak tidak beraturan, kali ini bukan karena takut… tapi karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Harlan menghela nafas panjang, lalu tanpa melepas genggaman tangannya, ia sedikit mendekat lagi, lebih dekat dari sebelumnya.
“Kalau kamu bersedia… aku ingin… kita mempertahankan pernikahan ini. Aku ingin menjalankan pernikahan ini dengan sesungguh-sungguhnya.” lanjut Harlan, suaranya kini terdengar lebih dalam, dan lebih serius. Tangannya masih menggenggam erat tangan Alisa. Kini, lebih erat lagi.
Perlahan, Alisa mengangkat wajahnya. Mata menatap lurus ke arah Harlan. Mencoba mencari keyakinan dari sorot mata pria itu.
Hingga akhirnya, Alisa pun mulai membuka suaranya. Lirih, sangat lirih, hingga seperti bisikan angin yang bertiup sesaat.
“Tapi… kalau suatu hari nanti… Mas menyesal bagaimana?” tanyanya lirih.
Harlan tidak langsung menjawab, namun ia mengulurkan tangan satunya lagi, membelai lembut pipi Alisa.
“Aku tidak tahu, karena aku tidak ingin membayangkan hal itu. Aku harap… kata ‘menyesal’ itu, tidak akan pernah ada. Baik itu di kamu, ataupun di aku.”
Deg.
Kali ini, Alisa benar-benar tidak bisa menahan perasaannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan, akhirnya jatuh juga, membasahi pipi.
Alisa menangis, tapi bukan karena sedih. Melainkan karena hatinya yang dulu terasa kosong, kini mulai terisi oleh sosok asing, yang tiba-tiba menjadi suaminya.
Harlan menariknya perlahan, masuk ke dalam pelukannya. Mendekap lembut tubuh istrinya.
“Jadi… kamu maukan, melanjutkan pernikahan ini denganku? Untuk selamanya?” bisiknya di dekat telinga Alisa.
Alisa mencengkeram pelan kemeja Harlan. Beberapa detik berlalu dalam diam, sampai akhirnya ia mengangguk kecil di dalam pelukan itu.
“Iya, Mas… aku bersedia.” jawabnya lirih, hampir tak terdengar.
Ia sedikit menjauh, menatap Harlan dengan senyum yang masih dibalut air mata. Untuk pertama kalinya, di antara semua ketidakpastian yang menanti mereka di depan. Keduanya pun akhirnya memutuskan untuk tetap berjalan bersama.
Mempertahankan hubungan yang sudah terlanjut terjalin. Meski diantara keduanya belum ada perasaan cinta, namun mereka sepakat untuk memulai semuanya dari awal sampai akhirnya, perasaan itu muncul dengan sendirinya.