Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa kecil
"Wah! Hutannya indah sekali..." gumam gadis kecil berusia tiga belas tahun itu sesaat setelah melangkah keluar dari mobil.
Manik cokelatnya tak henti memindai suasana asing nan menyejukkan di sekelilingnya. Kaki mungilnya yang beralas sepatu kets berpijak di atas rumput hijau yang menghiasi tanah lapang. Sejauh mata memandang, pepohonan rimbun berdiri tegak, memayungi dunia dengan kanopi hijau yang rapat. Senyum sempurna terukir di bibir Myra.
KWAK!!
Suara kicauan burung yang melengking tiba-tiba memecah kesunyian.
"Ah!" Myra tersentak, namun sedetik kemudian ia terkekeh melihat puluhan burung terbang mengepakkan sayap ke angkasa.
"Pasti lebih cantik kalau ada banyak bunga di sini. Atau tanaman anggrek di setiap batang pohon," gumamnya mengoceh sendiri. Ia memejamkan mata, menikmati embusan angin yang membelai lembut wajahnya, membiarkan poni pendeknya terurai berantakan.
"Myra!"
Suara Yosep, remaja laki-laki berusia lima belas tahun, memanggil dari kejauhan. Myra menoleh, mencari asal suara dan mulai berlari kecil. Aneh. Kenapa jalan ini terasa jauh? Padahal ia merasa baru melangkah beberapa depa saja. Sepertinya karena terlalu terbuai suasana, tanpa sadar Myra terpisah dari rombongan.
Meski begitu, ia tidak panik. Myra tetap melangkah perlahan sambil berusaha mengingat jalan setapak yang tadi ia lalui.
"Myra, dari mana saja kamu? Hutan ini luas sekali, bagaimana kalau kamu tersesat!" omel Yosep dengan nada kasar yang khas.
Alis remaja itu bertaut rapat, memancarkan amarah sekaligus kecemasan yang berusaha ia sembunyikan. Matanya menatap tajam ke arah Myra yang baru saja sampai dengan napas terengah-engah.
"Maaf... aku tidak tahu kalau sudah berjalan sejauh ini," sahut Myra sembari membungkuk, telapak tangannya menyangga di atas lutut demi mengatur debar jantung yang terpacu.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Ayo ke sana! Yang lain sudah menunggu."
"Hm!" Myra mengangguk ceria, lalu berjalan sigap di samping Yosep.
Sesekali, Myra melirik ke arah wanita tinggi berjas hitam yang berjalan dalam diam di belakang mereka. Itu adalah layanan yang selalu ia dapatkan saat pergi bersama Yosep, meski Myra sendiri belum paham kenapa ia membutuhkan pengawalan dari orang dewasa sedemikian ketat. Sosok pengawal itu selalu ada di dekatnya, namun tak pernah mau diajak bermain. Membosankan.
"Yosep, apa hutan ini milik Ayahmu?" bisik Myra antusias.
"Bisa dibilang begitu. Tapi dia juga Ayahmu---lebih tepatnya, Ayah kita," sahut Yosep datar.
"Wah, jadi hutan ini benar-benar milik Ayah?" batin Myra kegirangan. Rasa penasarannya semakin membara. "Apa di dalam sana ada banyak hewan? Seperti rusa yang ada di TV? Atau harimau? Gajah? Kanguru?"
"Tidak. Ini hutan pribadi, bukan tempat satwa," ketus Yosep, menghancurkan khayalan Myra dalam sekejap.
"Hhh... jadi tidak ada hewan di sini." Myra menekuk bibir, kecewa.
Helaan napas itu menarik perhatian Yosep. Ia melirik, menemukan raut "patah hati" di wajah polos Myra. Bukannya bersimpati, Yosep justru tersenyum tipis, menertawakan kepolosan gadis yang tingginya hanya sebahunya itu.
"Memangnya kamu belum pernah melihat mereka?"
"Pernah, tapi di televisi, bukan secara langsung," sahutnya lesu.
"Baiklah. Aku akan mengajakmu bertemu mereka nanti."
"Hah? Benarkah? Kamu yakin kita bisa melihat mereka?" Binar mata Myra membulat sempurna.
"Iya. Serahkan saja padaku," sahut Yosep sambil refleks mengusap ujung kepala Myra.
Seketika Myra tertegun. Ia belum pernah melihat Yosep bersikap selembut ini. Sejak kapan bocah dingin berwajah datar itu memiliki sisi hangat? Yosep pun tampak tersentak dengan tindakannya sendiri. Ia segera membuang muka dan menarik tangannya kembali dengan canggung.
"A-aku harus segera masuk ke barisan! Kalian, jaga Myra," perintah Yosep sembari melangkah cepat meninggalkan Myra di belakang.
"Kamu mau ke mana? Tunggu---" Langkah Myra terhenti saat melihat gerombolan orang datang dari arah lain. Puluhan pria bersetelan hitam berlari laksana sekumpulan burung gagak, menuju ke arah yang didatangi Yosep.
"Mereka siapa?" gumam Myra tanpa mengalihkan pandangan.
"Mereka rekan kami yang sedang berlatih," sahut wanita pengawal di belakangnya.
"Wah... aku mau melihatnya! Boleh, ya?"
"Tuan Muda mengizinkan, asal Nona melihat dari kejauhan."
"Oke! Aku tidak akan mendekat," janji Myra dengan senyum lebar.
Pengawal itu menyiapkan sebuah kursi dengan payung peneduh di tanah lapang yang menghadap ke area terbuka. Di depan barisan pria-pria itu, nampak sebuah meja panjang yang dipenuhi berbagai macam senjata.
"Itu Yosep! Kenapa dia ikut latihan juga?" Myra menunjuk ke arah barisan.
"Tuan Muda adalah penerus ayahnya, jadi latihan ini sangat wajib baginya."
"Penerus? Maksudnya pimpinan pengawal?" Myra bergumam bingung.
Wanita pengawal itu tampak kesulitan memberi penjelasan. Ia hanya dilatih untuk bertarung, bukan untuk memuaskan rasa penasaran anak kecil tentang hierarki organisasi kriminal mereka. "Lebih baik Nona tanyakan sendiri pada Tuan Muda nanti."
Di sisi lain, Yosep berdiri tegak. Ia memakai kaos serta celana hitam ketat yang memudahkan pergerakan. Matanya menatap lurus ke arah instruktur yang berdiri di depan barisan.
"Semuanya, dengarkan baik-baik! Kita akan berlatih menggunakan senapan Belladona," seru sang instruktur sembari mengangkat sebuah senapan kecil dengan anak panah runcing berwarna hitam pekat.
"Senapan ini ringan, hanya 45 gram. Namun, anak panahnya telah diolesi racun dari buah Belladona. Racun yang sanggup membunuh pria dewasa dalam hitungan menit."
Instruktur itu menunjuk puluhan botol kecil di meja lain. "Setiap anggota wajib meminum seteguk penawar agar tubuh kalian tidak mati saat terkena dampak Belladona. Racun ini hanya akan menyerang saraf dan membuat kalian lumpuh sementara."
"Maju dan ambil peralatan kalian!"
"Huh, aku tidak bisa mendengar apa pun!" gerutu Myra di kejauhan. "Bisakah kita sedikit lebih dekat?"
"Tidak bisa, Nona. Berbahaya. Sebentar lagi mereka akan mulai latihan menembak."
"Memangnya untuk apa mereka latihan menembak?"
"Untuk mengasah kekuatan, kecepatan, dan kewaspadaan."
"Hng... kalau begitu, apa aku boleh ikut?" tanya Myra penuh harap.
"Tentu saja boleh. Tapi tidak hari ini," sahut sang pengawal sembari tersenyum kaku.
"Kenapa?" Myra mengerutkan alis, kecewa karena harapannya dijatuhkan begitu saja.
"Karena sekarang bukan waktu yang tepat. Tuan Muda juga tidak akan mengizinkan Anda."
Hasrat Myra untuk ikut serta sudah terlanjur meluap. Baginya, latihan itu tampak seperti adegan film aksi yang seru.
"Nona mau ke mana?" tanya pengawal itu saat melihat Myra bangkit berdiri.
"Aku mau main sendiri!" seru Myra sembari berlari menjauh. Langkahnya sengaja dipercepat demi menghindari kejaran para pengawalnya. "Kalian tidak usah mengikutiku!"
"Sesuai perintah, kami harus mengikuti ke mana pun Nona pergi."
"Huft! Dengar, aku hanya ingin bermain sendiri. Tidak akan terjadi apa-apa!" keluh Myra kesal. "Kalian membosankan sekali!"
Ia terus berlari di atas rumput hijau, lalu menoleh untuk memastikan tidak ada lagi pengekor. Namun, satu wanita pengawal masih berjalan dengan tenang di belakangnya.
"Kenapa kamu masih mengikutiku?" Myra menatap sinis.
"Saya... membawa ini," sahut pengawal itu sembari menunjukkan sebuah arloji digital dengan desain khusus. Ia melangkah maju dan memasangkan jam itu ke pergelangan tangan Myra.
"Ingat, Nona tidak boleh masuk ke area latihan. Jika butuh sesuatu, tekan tombol ini, maka kami akan datang. Maaf jika saya membosankan. Silakan nikmati waktu Anda."
Myra tertegun sejenak, merasa sedikit tidak enak hati. "Hm, baiklah. Terima kasih karena mau mendengarkanku."