Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 Benar-benar Tak Terduga
Tak lama, aku segera menepis pikiran itu. Dalam hati aku mendengus sinis, apakah iblis benar-benar bisa memiliki hati nurani? Rasanya mustahil.
Percakapan Dean Junxian dengan Zhiyi Pingkan tadi meninggalkan bekas yang cukup membekas di pikiranku. Dia bilang Zhiyi Pingkan mencoba memerasnya? Tapi apa sebenarnya yang digunakan Zhiyi Pingkan untuk mengancamnya? Dan bagaimana mungkin orang yang sama itu bisa dianggap sebagai seseorang yang "hanya bisa merusak rencana dan tak bisa diandalkan"?
Sindiran itu "tak bisa diandalkan" seolah menyimpan lapisan makna yang lebih dalam daripada sekadar kata-kata biasa. Ada sesuatu yang tak terucap di balik kalimat itu, sesuatu yang membuat aku penasaran sekaligus was-was.
Saat ini, dia berbaring tepat di sampingku. Entah niat apa yang sedang ia rencanakan, aku tidak tahu. Namun, secara aneh, ada satu hal yang pasti: berada di sisinya justru membuatku merasa lebih aman daripada di tempat manapun. Keamanan yang aneh, tidak rasional, tapi nyata terasa.
Menyadari hal itu, aku mencoba menenangkan diri. Aku mengosongkan pikiran, membiarkan tubuh dan jiwaku larut dalam keheningan malam, berusaha menutup mata dan tidur dengan tenang.
Malam itu, mungkin karena air mataku yang menguras energi atau mungkin karena kami tidur di ranjang yang sama di mana setiap gerakan masing-masing bisa terasa jelas tidur menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa. Dan entah mengapa, aku tidur nyenyak sekali, hingga terbangun hanya ketika sinar pagi menembus jendela.
Begitu membuka mata, aku terkejut oleh sensasi kesegaran yang luar biasa. Tubuhku terasa ringan, pikiranku jernih, lebih segar dari biasanya. Namun, ketenangan itu segera terganggu oleh sebuah suara lembut dari samping:
"Sudah bangun?"
Aku tersentak, menoleh, dan melihat Dean Junxian masih berbaring di sisiku. Kepala disandarkan pada lengannya sendiri, matanya menatapku dengan intensitas yang aneh. Wajahnya tampak begitu lembut dan tenang, seperti mengundang kembali nostalgia masa-masa harmonis yang seolah tak pernah ada konflik.
Baru saat itu aku menyadari satu hal yang mengejutkan diriku sendiri: selama ini aku benar-benar meremehkannya. Dean Junxian ternyata seorang aktor yang amat mahir, mampu memainkan peran dan menutupi niatnya dengan begitu sempurna.
Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengumpulkan kesadaran. Sandiwara apa lagi yang sedang dimainkan Dean Junxian kali ini? Dalam situasi yang begitu tegang, aku tahu aku harus tetap waspada, mengikuti alur permainannya, dan mencari tahu trik licik apa yang tersembunyi di balik tatapan tenangnya.
"Jam berapa sekarang?" suaraku terdengar serak, lebih karena terkejut daripada mengantuk.
Dean tersenyum tipis, mengulurkan tangan dan menyapu wajahku dengan lembut. Lalu, dengan nada tenang, ia menjawab:
"Jam tujuh."
Aku membalikkan badan menghadapnya, lalu berdeham pelan. "Kok kamu belum berangkat kerja?"
Dean Junxian menatapku dengan wajah serius, tapi ada sentuhan lembut dalam sorot matanya. "Belakangan ini aku capek banget, jadi aku putuskan ambil libur sehari. Lagipula… aku ingin menemanimu," ujarnya, suaranya rendah tapi penuh arti.
Kemudian ia menambahkan, lebih santai tapi tetap membuatku terkejut, "Dua hari kemarin aku sempat pulang ke kampung sebentar, menjenguk Ayah dan Ibu."
Aku terdiam sesaat, terkejut oleh pengakuannya yang terdengar begitu ringan, seolah hal itu biasa saja. Dengan rasa penasaran yang mendesak, aku segera bertanya, "Ke kampung? Kamu… ketemu orang tuaku?"
Dean mengangkat sebelah alisnya, menatapku dengan ekspresi campuran antara geli dan penasaran. "Kenapa? Kamu kaget?"
Aku tersadar bahwa reaksiku barusan cukup berlebihan, jadi aku mengangguk pelan dan berusaha menenangkan diri. "Iya… aku memang nggak nyangka."
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, lalu perlahan berkata, "Haaa… sudah lama sekali aku nggak ketemu mereka. Gimana kabar mereka? Terus, kok tiba-tiba kamu kepikiran buat nengok ke sana?"
Dean tersenyum tipis, wajahnya dipenuhi perhatian. "Jangan lupa, tanggal 12 April kan ulang tahun Ibu. Dengan keadaanmu yang lagi sakit begini, aku nggak mungkin diam saja seolah tak terjadi apa-apa. Kebetulan pameran baru saja selesai, jadi aku curi-curi waktu untuk pergi sebentar."
Senyum itu… jika bukan karena situasi mendadak yang terjadi, aku mungkin benar-benar akan luluh oleh sikapnya.
Pikiran itu kemudian melayang ke masa lalu. Saat aku memutuskan menikah dengannya dulu, orang tuaku sangat menentang. Aku anak tunggal, satu-satunya kebanggaan Ayah dan Ibu. Mereka menikah di usia yang cukup matang, dan baru memiliki aku ketika hampir menginjak usia 40 tahun. Tak heran jika mereka memanjakanku, menjagaku seperti permata yang paling berharga.
Dulu, mereka berdua berkarier di dunia pendidikan, kemudian perlahan beralih ke dunia bisnis tetap di bidang pendidikan, hingga akhirnya merambah sektor kesehatan. Di kota ini, meski keluarga kami tidak bisa dibilang kaya raya yang bergelimang harta, posisi dan pengaruh kami jelas terasa.
Sejak kecil, aku dibesarkan dengan kasih sayang tanpa batas, tapi juga diberikan kebebasan untuk menentukan pilihan sendiri. Tekanan? Hampir tak pernah ada. Dan tentu saja, aku selalu menjadi kebanggaan mereka prestasi akademikku selalu cemerlang, hingga akhirnya berhasil menembus salah satu universitas ternama di ibu kota.
Orang tuaku berkarier di bidang pendidikan. Menurut mereka, bagi seorang perempuan, memiliki pekerjaan yang stabil, mengabdikan diri pada suami, dan mendidik anak adalah puncak kehidupan yang paling sempurna. Semua hal lain dianggap sekadar pelengkap.
Namun, aku sama sekali tidak tertarik pada kehidupan yang begitu monoton dan terikat aturan kaku itu. Justru sebaliknya, hatiku selalu tertambat pada dunia bisnis yang mereka gelut dunia yang penuh tantangan, peluang, dan dinamika tak terduga.
Sejak semester lima, diam-diam aku mulai merintis bisnis peralatan medis. Aku tekun mempelajari pasar, menjalin relasi, dan menata strategi. Perlahan, usahaku mulai membuahkan hasil; keuntungan pertama yang kudapatkan menjadi bukti bahwa aku mampu melangkah sendiri.
Dengan rasa percaya diri yang tumbuh dari keberhasilan itu, aku memutuskan untuk berbicara terus terang kepada Ayah. Aku jelaskan dengan jujur bahwa aku ingin mendirikan perusahaanku sendiri, menapaki jalanku tanpa harus sepenuhnya mengikuti jejak orang lain.
Setelah melalui beberapa pertimbangan panjang dan pengujian ide, Ayah akhirnya tersenyum, lalu dengan tegas membantuku mendaftarkan Danfeng Medical Equipment Co., Ltd.. Saat itu, aku menjadi salah satu dari sedikit orang yang berhasil memiliki perusahaan sendiri bahkan sebelum resmi menamatkan kuliah. Rasa bangga dan lega mengalir bersamaan dalam dadaku.
Namun, takdir rupanya punya jalan lain. Aku bertemu dengan Dean Junxian…