NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Percaturan di Ruang Kaca

Ketegangan di ruang rapat lantai 45 Gedung Pramoedya Tower pagi itu seolah bisa diiris dengan pisau. Sinar matahari yang menembus dinding kaca raksasa memantul pada permukaan meja marmer hitam, namun kehangatannya tidak mampu mencairkan suasana dingin yang menyelimuti ruangan. Adrian duduk di kursi kebesarannya, rahangnya mengeras, sementara di seberang meja, Clara—sosok dari masa lalu yang baru saja kembali—menatapnya dengan senyum penuh kemenangan yang tipis.

Arumi duduk tepat di sebelah Adrian. Ia mengenakan terusan hamil berbahan linen berwarna krem yang lembut, kontras dengan setelan kerja Clara yang serba tajam dan berwarna merah darah. Di depannya tergeletak sebuah tablet dan buku catatan kulit yang selalu ia bawa. Meski perutnya mulai terasa berat, Arumi mempertahankan punggungnya tetap tegak. Ia tidak datang ke sini sebagai hiasan; ia datang sebagai benteng.

"Jadi, Adrian," Clara memulai, suaranya halus namun mengandung bisa. "Perusahaan ayahku, Valois Energy, memiliki hak eksklusif atas paten teknologi turbin yang sangat dibutuhkan proyek strategis Pramoedya Group di Kalimantan. Jika kita tidak mencapai kesepakatan vendor hari ini, proyekmu akan tertunda enam bulan. Dan kita tahu apa artinya enam bulan bagi harga sahammu, bukan?"

Adrian hendak menjawab, suaranya sudah tertahan di tenggorokan, siap meledak dalam kemarahan profesional. Namun, Arumi menyentuh lengan suaminya dengan lembut.

Sebuah isyarat tanpa kata yang seketika meredam api di mata Adrian.

"Mbak Clara," suara Arumi terdengar tenang, hampir seperti air yang mengalir di antara bebatuan. "Terima kasih atas paparannya. Teknologi Valois memang mengesankan. Namun, sebagai konsultan narasi dan citra untuk proyek ini, saya sudah melakukan tinjauan mendalam terhadap rekam jejak operasional perusahaan Mbak di Eropa."

Clara mengangkat alis, matanya berkilat meremehkan. "Konsultan narasi? Arumi, sayang, ini dunia bisnis energi, bukan peluncuran novel romansa. Apa yang kamu tahu tentang turbin?"

Arumi tidak terpancing. Ia membuka tabletnya, menggeser beberapa dokumen digital yang ia susun semalam suntuk. "Saya tahu tentang integritas, Mbak. Di halaman 14 laporan keberlanjutan Valois tahun lalu, ada sengketa hukum yang belum tuntas terkait pelanggaran AMDAL di pesisir Prancis. Jika Pramoedya Group menjalin kemitraan eksklusif dengan perusahaan yang memiliki catatan hukum aktif, risiko reputasi kami jauh lebih mahal daripada keterlambatan enam bulan."

Ruangan itu mendadak sunyi. Para direktur yang hadir mulai berbisik-bisik. Adrian menatap Arumi dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara takjub dan rasa bangga yang meluap-luap.

"Itu masalah administratif yang sudah dalam proses banding," bantah Clara, suaranya naik satu oktav.

"Mungkin," balas Arumi, kini ia menatap Clara tepat di mata. "Tapi dalam dunia yang sekarang Mas Adrian bangun, kami tidak hanya mencari turbin yang paling cepat berputar. Kami mencari mitra yang paling bersih tangannya. Jika Mbak ingin masuk ke dalam konsorsium ini, Mbak harus menerima syarat audit independen dari pihak ketiga yang ditunjuk oleh tim saya.

Termasuk transparansi penuh soal restrukturisasi hutang Valois di Singapura."

Clara terpojok. Ia datang untuk menggoda Adrian, untuk menunjukkan bahwa istri "pengganti" ini tidak punya tempat di meja orang dewasa. Namun, ia justru mendapati dirinya ditelanjangi secara profesional oleh wanita yang ia anggap remeh.

Sore harinya, saat mereka kembali ke rumah, Siska sudah menunggu di beranda. Kedatangan Siska dari Yogyakarta kali ini terasa berbeda.

Tidak ada lagi aroma parfum mahal yang menusuk hidung atau deru langkah sepatu hak tinggi yang menuntut perhatian. Siska mengenakan kemeja katun sederhana dan celana kain, rambutnya diikat kuda dengan santai.

Ia sedang membantu asisten rumah tangga menyirami tanaman kamboja di halaman saat mobil Adrian masuk.

"Rum, Mas Adrian," Siska menyapa dengan senyum tulus yang tidak pernah Arumi lihat sebelumnya.

"Kak Siska? Kok tidak bilang kalau mau datang hari ini?" Arumi memeluk kakaknya erat. Ada kehangatan yang nyata di sana, bukan sekadar basa-basi keluarga.

"Aku merindukanmu, Rum. Dan aku ingin melihat calon keponakanku," ujar Siska sambil mengusap perut Arumi yang membuncit. "Bagaimana harimu? Kudengar dari Pandu, kamu ikut ke kantor hari ini?"

Arumi mengajak Siska duduk di gazebo taman belakang, sementara Adrian bergabung dengan Bayu, guru seni yang rupanya ikut menyusul Siska dari Jogja. Bayu tampak sedang asyik membuat sketsa di sudut taman, sebuah pemandangan yang memberikan kedamaian tersendiri.

"Clara muncul lagi, Kak," cerita Arumi pelan.

Siska menghela napas panjang, matanya menatap kejauhan. "Clara... wanita yang dulu hampir membuat Adrian menutup hatinya selamanya. Rum, aku minta maaf. Dulu aku sangat egois. Aku pikir melarikan diri adalah solusi untuk ketakutanku akan komitmen. Tapi ternyata, pelarianku justru memberikan beban masa lalu Adrian ke pundakmu."

"Jangan bicara begitu, Kak. Aku justru bersyukur," balas Arumi. "Karena kejadian itu, aku belajar bahwa aku punya suara. Dan aku belajar bahwa Adrian adalah pria yang layak diperjuangkan."

Siska menggenggam tangan adiknya. "Aku melihat caramu menghadapi dunia sekarang, Rum. Kamu jauh lebih berwibawa daripada aku dulu. Kamu tidak butuh lampu catwalk untuk bersinar. Kamu bersinar dari dalam. Dan Bayu... dia mengajariku bahwa kebahagiaan sejati tidak butuh validasi dari dewan komisaris atau sampul majalah. Dia mencintaiku apa adanya, bahkan setelah aku menceritakan semua kebodohanku di masa lalu."

Arumi tersenyum melihat kakaknya. Lingkaran luka keluarga mereka mulai tertutup. Siska bukan lagi saingan, melainkan sekutu yang paling memahami pahit manisnya menjadi bagian dari keluarga Pramoedya.

Namun, Clara bukanlah tipe wanita yang menerima kekalahan begitu saja. Malam itu, sebuah karangan bunga raksasa datang ke rumah Arumi. Tidak ada ucapan selamat, hanya sebuah kartu kecil bertuliskan: "Bisnis adalah satu hal, kenangan adalah hal lain. Adrian tidak pernah melupakan malam di Paris, Arumi. Dan turbin bukan satu-satunya hal yang bisa berputar."

Adrian meremas kartu itu hingga hancur di tangannya saat ia menemukannya di meja lobi. Amarahnya hampir meledak, namun ia melihat Arumi sedang berdiri di tangga, menatapnya dengan tenang.

"Jangan dibuang, Mas," ujar Arumi.

"Ini sampah, Arumi. Dia mencoba menerormu."

"Bukan teror jika kita tidak merasa takut," Arumi turun perlahan, mendekati suaminya. "Simpan kartu itu. Biarkan itu menjadi pengingat bahwa di luar sana ada orang yang ingin kita gagal. Itu akan membuat kita lebih kuat menjaga satu sama lain."

Adrian menatap istrinya, lalu menariknya ke dalam pelukan yang protektif. "Bagaimana bisa kamu setenang ini? Aku hampir ingin mengerahkan seluruh tim hukum untuk menghancurkan perusahaannya."

"Karena aku percaya padamu, Mas. Dan karena aku tahu, pria yang rela memijat kakiku setiap malam tidak akan mungkin berpaling hanya karena kenangan Paris yang sudah berdebu."

Minggu berikutnya adalah perayaan ulang tahun Pramoedya Group. Acara ini bukan sekadar pesta, melainkan ajang pamer kekuatan di dunia korporasi. Clara hadir dengan gaun backless hitam yang sangat berani, sengaja berdiri di dekat para fotografer, menunggu momen untuk berinteraksi dengan Adrian.

Namun, strategi Arumi sudah matang. Ia tidak membiarkan Adrian tampil sendirian. Arumi mendampingi suaminya dengan balutan kebaya modern berwarna putih mutiara, kain batik tulisnya memancarkan keanggunan seorang permaisuri. Setiap kali Clara mencoba mendekat, Arumi selalu berada di sana, menyambut dengan senyum ramah yang "mematikan".

Puncaknya adalah saat Adrian memberikan pidato. Di depan ratusan tamu, Adrian tidak hanya bicara soal profit.

"Banyak yang bertanya apa rahasia pertumbuhan Pramoedya Group setahun terakhir," suara Adrian berwibawa. "Jawabannya bukan di ruang rapat, tapi di rumah. Di balik setiap keputusan besar yang saya ambil, ada diskusi cerdas dengan istri saya, Arumi. Beliau bukan hanya pendamping, tapi kompas moral bagi perusahaan ini."

Adrian menatap Arumi di barisan depan, lalu ia melanjutkan. "Malam ini, saya juga mengumumkan bahwa kami akan mendirikan Pramoedya Foundation untuk literasi anak-anak, yang akan dikelola sepenuhnya oleh Arumi. Karena kami percaya, masa depan bukan hanya soal energi turbin, tapi soal energi kata-kata dan pendidikan."

Tepuk tangan meriah membahana. Clara, yang berdiri di pojok ruangan, tampak pucat. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi bersaing dengan "istri pengganti", tapi dengan seorang wanita yang telah menjadi bagian integral dari kerajaan Adrian. Segala pesona masa lalunya terasa tidak relevan di depan visi masa depan yang dibangun Adrian dan Arumi.

Setelah acara selesai, di area parkir VVIP, Clara sempat berpapasan dengan Arumi saat Adrian sedang berbincang sejenak dengan kolega lain.

"Kamu menang kali ini, Arumi," desis Clara, suaranya penuh kebencian.

Arumi berhenti melangkah, ia menatap Clara dengan pandangan yang tenang namun berwibawa. "Ini bukan kompetisi, Mbak Clara. Ini adalah hidup yang nyata. Dalam hidup nyata, orang yang terus menoleh ke belakang akan selalu tertinggal. Saya harap Mbak menemukan jalan Mbak sendiri, tanpa harus mencoba merusak jalan orang lain."

Clara terdiam, lalu tanpa kata lagi, ia masuk ke mobilnya dan melesat pergi. Itulah terakhir kalinya Clara mencoba mengusik hidup mereka.

Malam itu, di perjalanan pulang, Arumi merasa bayinya menendang dengan cukup kuat. Ia tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Adrian yang sedang menyetir.

"Abimanyu sepertinya setuju dengan pidatomu tadi, Mas," bisik Arumi.

"Dia tahu ayahnya benar," sahut Adrian sambil mengecup tangan Arumi.

Trimester kedua hampir berakhir. Badai-badai besar dari dunia luar telah mereka jinakkan bersama. Kedewasaan telah membentuk mereka menjadi pasangan yang tidak lagi butuh kontrak untuk saling setia. Mereka telah belajar bahwa untuk menjaga cinta, mereka tidak butuh kepura-puraan, melainkan keberanian untuk saling membela di depan dunia.

Kini, fokus mereka sepenuhnya beralih pada satu hal: menyambut kehadiran pejuang kecil yang akan melengkapi kebahagiaan mereka di rumah baru yang penuh buku dan cinta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!