" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.
" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.
" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"
" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.
" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
EPISODE 28: PERTARUNGAN KECERDASAN
Mentari baru mulai menyinari puncak pohon teh, menyebarkan cahaya keemasan melalui kabut pagi yang tipis. Langit sudah bangun jauh sebelum adzan subuh berkumandang – dia berdiri di halaman belakang rumah, melakukan gerakan latihan yang dia pelajari dari nenek Wati sejak kecil, setiap gerakan lancar dan penuh semangat.
Tak lama kemudian, Kang Yusuf, Kang Rio, bersama empat anak buahnya datang, menghampiri Langit yang terlihat seperti sedang belajar ilmu beladiri.
"Selamat pagi Langit.
"Selamat pagi Pak Langit."
Yusuf dan Rio menyapa pemuda yang sedari tadi fokus pada gerakan gerakan yang sedang ia peragakan.
"Pagi juga, kalian sudah datang, mari duduk." Langit melangkah di ikuti oleh mereka berenam masuk ke rumah panggung neneknya.
Setelah masuk dan berbincang bincang sedikit bersama nenek Wati sekedar menawarkan kopi dalam obrolan pagi ini.
Langit mulai membuka obrolan nya, tampak di atas meja sudah tersaji beberapa gorengan pelengkap kopi.
"Kang Yusuf sama Kang Rio dan dua temannya nanti bersembunyi di pohon pohon dekat sungai itu, sementara dua orang lagi memantau pergerakan di rumah ini, aku meyakini bahwa Jaji dan Pardi tidak akan datang dalam pertemuan ku di sungai bersama Sri dan Dewi. " Langit berhenti sesaat perkataan nya, menyeruput kopi yang sudah di sajikan oleh neneknya.
"Kemungkinan terbesa Jaji dan Pardi akan membawa beberapa preman dari kota bersamaan datang untuk mengobrak-abrik rumah ini. Sementara di pertemuan nanti kemungkinan terbesar orang orang dari Pardi yang telah Kang Yusuf pantau kemarin malam.
"Ya aku juga sependapat dengan pemikiran mu Langit. " Kang Yusuf ikut berkomentar.
"Hmmmm.! Gumam Rio." Kalau begitu pak, saya bersama dua orang akan memantau di sini sedangkan dua anak buah saya ikut bersama kang Yusuf di tempat di mana Pak Langit bertemu dengan Bu Sri dan Dewi.
"Apakah kamu yakin Kang Rio.?" Yusuf bertanya.
"Yakin sangat yakin, aku sudah memantau kekuatan dari Uno ketua preman itu, dan kedua anak buah ku bisa menghadapi nya.!
Baiklah kalau begitu, setelah sang mentari menimbulkan cahayanya, kalian langsung bergerak dan aku juga akan siap siap. Ingat aku tidak akan melawan dan berpura-pura polos jika bentrokan itu terjadi." Langit mengingatkan. Mereka semua mengangguk.
Setelah persiapan selesai, Langit berangkat menuju saung tepi sungai yang telah disepakati. bersama Intan dan dua anaknya. Mentari sudah tinggi menyinari hamparan kebun teh, kabut pagi mulai menghilang dan menggantikan suasana dengan kehangatan yang menyegarkan.
Saat sampai di saung, Sri dan Dewi sudah ada di sana, membawa bekal makanan yang mereka buat sendiri. "Hai Langit, kamu datang tepat waktu ya," ucap Sri dengan senyum, tapi wajahnya masih terlihat khawatir.
Sementara Dewi sesaat tersenyum sinis melihat adegan di mana Langit berjalan dengan menggendong anak teh Intan, mirip seperti suami istri.
"Sudah siap kan kita bicara tenang?" tambah Dewi sambil menyusun makanan di atas tikar.
Langit duduk dengan riang, mengambil satu buah pisang goreng lalu tersenyum lebar: "Tentu saja Bu! Hari ini kita bisa ngobrol dengan tenang, cari solusi yang baik buat semua orang. Coba deh cobain gorengan Bu Dewi, pasti enak!"
"Adel. Adii, kamu mau gorengan nggak." Tawar Langit pada bocah kembar itu seraya menyodorkan satu persatu.
"Mau Om." Kedua bocah itu serentak berkata dengan wajah lucu.
Kekhawatiran Sri bertemu dengan Langit sesaat lupa segalanya melihat tingkah lucu anak na bu Intan, bahkan kini dengan cadel bertanya pada Sri.
"Cance...... Cance.......... " Bayi cantik ini namanya ciapa. Boleh kan kami berdua memeluknya." Adel bertanya dengan suara cadel.
"Bayi ini namanya Putri, boleh kalian berdua memeluknya bahkan kalau mau menciumnya juga boleh." Sri tersenyum gemes pada dua bocah anak Intan ini.
Saat mereka mulai berbincang santai tentang kondisi keluarga dan anak-anak, tiba-tiba terdengar suara kaki berjalan kasar dari arah jalan kecil menuju sungai. Lima orang pria berbadan besar dan satu orang memakai jas biru tua, mimik wajah terlihat kasar muncul, di depan mereka berdiri Uno – ketua preman yang disebutkan Rio.
"Kau itu Langit ya? Anak muda sok pintar yang suka campur urusan orang!" teriak lelaki berjas sambil menunjuk ke arah Langit. "Kita disuruh Pardi untuk menghabisi kamu hari ini, agar kamu tidak mengganggu lagi istri dari temanya dan istri Pardi.
Sri dan Dewi langsung takut, begitu juga dengan Intan yang langsung memeluk tubuh kedua anaknya mereka sedikit menggigil. Langit segera berdiri dan menghentakkan telapak tangannya di atas meja dengan lembut, tapi suara yang keluar cukup jelas: "Tenang saja Bu Sri, Bu Dewi. Teh Intan Mereka tidak akan menyakitkan kita."
Dia melangkah maju menghadapi Uno dan para preman, wajahnya tetap ceria tapi mata nya sudah mulai menunjukkan fokus yang berbeda: "Kalau boleh tahu ya Mas, apa salahku sampai harus dihabisi? Aku cuma mau membantu kakak-kakakku yang sedang kesusahan aja kok."
Uno ketua preman menoleh ke arah lelaki yang memakai jas biru tua, memberi kode untuk maju berbicara dengan Langit.
Tujuan utamanya di ajak bermusyawarah secara kekeluargaan, namun jika tidak bisa dengan terpaksa melalui kekerasan.
"Halo Pak, perkenalkan nama saya Lukman, saya dari LBH NUSANTARA, apakah ini bapak Langit.?" Pria berjas itu memperkenalkan namanya dan jabatan nya.
"Iya saya Langit senang bertemu dengan anda Pak Lukman," Langit menjulurkan tangannya mengajak bersalaman.
"Jadi ada perlu apa Pak Lukman mencari saya dan mereka ini siapa?"
Langit tersenyum mempertunjukkan kepada mereka untuk tidak takut, walau sesaat gestur Teh Intan dan dua wanita lainnya tampak terlihat kecemasan.
" Begini Pak Langit saya mendapatkan kuasa dari Pak Jaji dan Pak Pardi dua aduan dengan tersangka satu orang, bahwa Pak Langit berselingkuh dengan istri mereka, saya ingin mengkonfirmasi saja apakah itu benar atau salah." Advokat itu mulai menjelaskan kedatangannya.
Langit masih tenang, tidak terpancing emosi nya." Apakah bapak mempunyai bukti perselingkuhan saya bersama istri Pak Jaji dan Istri Pak Pardi.
"Ada Pak Langit, saya mempunyai bukti yang kuat bahwa anda sudah berselingkuh dengan istri mereka." Kini arah pembicaraan tidak seramah waktu perkenalan.
"Baiklah kalau begitu, coba lihat bukti perselingkuhan ku dengan dua istri sekaligus." Langit menantang advokat tersebut.
Lukman mengeluarkan amplop putih dari kantong jasnya, menyebarkan beberapa foto di atas tikar – gambar Langit sedang berbicara dekat dengan Sri dan Dewi, bahkan satu foto memperlihatkan dia menggendong anak Intan.
"Begitu saja Pak Langit? Bukti ini sudah cukup untuk kita laporkan ke polisi dan pengadilan," ucapnya dengan nada sombong. Uno dan para preman mulai mendekat, tangan siap menyerang.
Namun Langit hanya tersenyum santai, lalu mengeluarkan sebuah ponsel dari saku: "Tunggu dulu Pak. Bukti itu hanya sebagian kecil. Mari kita lihat seluruh rekaman yang menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi..."
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
BERSAMBUNG