NovelToon NovelToon
Darah Di Atas Putih

Darah Di Atas Putih

Status: tamat
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
​Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak Jantung di Balik Debu

Kegelapan yang menyelimuti gudang tekstil itu terasa pekat, pengap, dan berat. Gelombang kejut biru yang dilepaskan dari keping mikro di pergelangan tangan Liana tidak hanya mematikan lampu; ia menghancurkan setiap sirkuit elektronik dalam radius seratus meter. Senjata pintar milik Unit 9 terkunci, visi malam mereka buta, dan truk lapis baja Hendra menjadi peti besi mati yang tak berguna.

​Di tengah keheningan yang mencekam itu, hanya terdengar isak tangis tertahan Arkan. Ia memeluk tubuh ibunya yang sudah dingin. Elena Dirgantara, wanita yang menghabiskan hidupnya membangun kerajaan dari rasa sakit orang lain, akhirnya mati dengan memberikan satu-satunya hal yang tulus: kehidupan untuk Liana.

​"Arkan... kita harus pergi," bisik Liana. Suaranya terdengar berbeda—lebih jernih, namun ada nada resonansi digital yang halus, sisa dari penyatuan keping mikro dengan sarafnya. "Varo dan Hendra tidak akan tinggal diam di kegelapan ini. Mereka punya protokol manual."

​Arkan mendongak. Matanya yang merah menatap bayangan Liana di keremangan. "Dia sudah pergi, Liana. Benar-benar pergi."

Liana berlutut di samping Arkan, menyentuh pundaknya. Tiba-tiba, sebuah kilatan data melintas di benak Liana—sebuah memori yang bukan miliknya. Ia melihat Elena muda, berdiri di depan sebuah toko bunga tua, menangis sambil memegang sebuah foto bayi.

​"Arkan... ibumu... dia tidak pernah ingin membakar rumahku," ucap Liana dengan suara bergetar. "Aku baru saja melihatnya. Memori itu... keping ini mentransfer sisa ingatan ibumu ke sarafku. Malam itu, sepuluh tahun lalu... itu adalah perintah Hendra yang memanipulasi tanda tangan ibumu."

​Arkan tertegun. Kebenaran itu menghantamnya lebih keras

daripada peluru manapun. Selama ini, mereka semua adalah bidak dalam permainan catur panjang Hendra.

​KLIK.

​Suara kokangan pistol manual bergema di sudut gudang.

​"Sangat menyentuh," suara Hendra terdengar parau, muncul dari balik tumpukan kain. Ia memegang pistol revolver tua—senjata mekanis yang tidak terpengaruh oleh ledakan EMP. Bahunya bersimbah darah, dan wajahnya tampak gila di bawah sinar bulan yang masuk dari celah atap. "Elena selalu menjadi titik lemah. Dan sekarang, Nona Putri, kau bukan lagi sekadar peretas. Kau adalah Phoenix itu sendiri. Kau adalah kode hidup."

​Hendra mengarahkan moncong pistolnya tepat ke dahi Liana.

"Berdiri. Kau akan ikut denganku ke pangkalan cadangan di Sektor Utara. Kita akan mengekstrak setiap bit data dari otakmu, meski itu berarti menguliti kepalamu."

​Arkan bergerak secepat kilat, berdiri di depan Liana sebagai perisai. "Langkahi mayatku dulu, Hendra."

​"Dengan senang hati, Nak."

​Tepat saat jari Hendra menekan pelatuk, sebuah rentetan tembakan dari arah pintu belakang memecah suasana. Bukan dari Unit 9, melainkan dari sekelompok orang berpakaian sipil dengan penutup wajah—para pemberontak Sektor Selatan yang selama ini bergerak di bawah tanah, dipimpin oleh sosok yang sangat mereka kenal.

​Gideon.

Gideon masuk dengan senapan mesin kuno, memberondong posisi Hendra hingga pria itu terpaksa melompat ke balik truk untuk berlindung.

​"Cepat masuk ke lubang pembuangan!" teriak Gideon.

"Pasukan cadangan Varo sedang menuju ke sini dengan kendaraan mekanis manual! Kita tidak punya waktu!"

​Arkan menggendong jasad ibunya, namun Gideon menahan lengannya. "Tinggalkan dia, Arkan! Dia sudah memilih tempat tidurnya! Jika kau membawanya, kau hanya akan memperlambat diri dan membunuh Liana!"

​Arkan menatap wajah Elena untuk terakhir kalinya. Dengan berat hati, ia menyelimuti jasad ibunya dengan kain satin hitam yang ada di gudang itu. "Selamat tinggal, Ibu."

​Mereka berlari menembus labirin bawah tanah Sektor Selatan yang kini mulai bergejolak. Di atas sana, rakyat mulai keluar ke jalanan. Kegelapan total yang diciptakan Arkan menjadi sinyal bagi warga yang tertindas untuk melakukan pemberontakan massal terhadap pos-pos Unit 9 yang lumpuh.

Mereka sampai di sebuah bunker tersembunyi di bawah reruntuhan toko bunga "The White Bloom". Di sana, Liana jatuh terduduk, memegangi kepalanya yang terasa seperti

akan pecah.

​"Liana! Apa yang terjadi?" Arkan panik.

​"Data itu... Arkan... terlalu banyak," rintih Liana. Matanya terbelalak, menampilkan barisan kode yang terus bergulir di pupilnya. "Aku bisa merasakan setiap sirkuit di kota ini. Aku bisa mendengar percakapan radio Varo di kepalaku. Hendra... dia melarikan diri ke pelabuhan... dia punya kapal selam pribadi."

​Gideon mendekat, menatap Liana dengan ngeri sekaligus kagum. "Dia bukan lagi manusia biasa, Arkan. Dia adalah antarmuka manusia-mesin pertama yang berhasil. Dia adalah senjata terhebat yang pernah diciptakan... dan juga target paling berharga di dunia."

​Arkan memeluk Liana, mencoba menstabilkan suhu tubuh gadis itu yang meningkat drastis. "Aku tidak peduli dia apa. Dia adalah Liana. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya lagi."

Liana mendongak, menatap Arkan dengan tatapan yang sangat asing namun penuh cinta. "Arkan... kita tidak bisa lari lagi. Selama sistem Phoenix ada di dalam kepalaku, mereka akan terus mengejar kita ke ujung dunia."

​"Lalu apa rencana kita?" tanya Arkan.

​Liana berdiri, auranya kini tampak lebih dominan. Ia menyentuh dinding beton bunker, dan tiba-tiba lampu darurat di ruangan itu menyala, mengikuti perintah pikirannya.

​"Kita akan membangun kembali Sektor Selatan," ucap Liana dingin. "Bukan dengan beton dan baja milik Varo, tapi dengan jaringan yang aku kendalikan sendiri. Kita akan menjadikan tempat ini benteng yang tidak bisa ditembus oleh Unit 9 maupun Hendra. Jika mereka menginginkan perang siber, aku akan memberikan mereka neraka digital."

​Arkan menyadari bahwa dinamika mereka telah berubah. Liana bukan lagi gadis yang perlu ia lindungi sepenuhnya; ia adalah ratu baru dari dunia bawah yang digital. Dan Arkan, ia akan menjadi pedang yang memastikan tidak ada seorang pun yang mendekati ratunya.

Liana mendongak, menatap Arkan dengan tatapan yang sangat asing namun penuh cinta. "Arkan... kita tidak bisa lari lagi. Selama sistem Phoenix ada di dalam kepalaku, mereka akan terus mengejar kita ke ujung dunia."

​"Lalu apa rencana kita?" tanya Arkan.

​Liana berdiri, auranya kini tampak lebih dominan. Ia menyentuh dinding beton bunker, dan tiba-tiba lampu darurat di ruangan itu menyala, mengikuti perintah pikirannya.

​"Kita akan membangun kembali Sektor Selatan," ucap Liana dingin. "Bukan dengan beton dan baja milik Varo, tapi dengan jaringan yang aku kendalikan sendiri. Kita akan menjadikan tempat ini benteng yang tidak bisa ditembus oleh Unit 9 maupun Hendra. Jika mereka menginginkan perang siber, aku akan memberikan mereka neraka digital."

​Arkan menyadari bahwa dinamika mereka telah berubah. Liana bukan lagi gadis yang perlu ia lindungi sepenuhnya; ia adalah ratu baru dari dunia bawah yang digital. Dan Arkan, ia akan menjadi pedang yang memastikan tidak ada seorang pun yang mendekati ratunya.

1
SILVA Nur LABIBAH
Masyaallah sungguh bagus cerita novelnya kak
inna Mardiana: membuat saya makin semangat menulis💪
total 2 replies
Dian
lanjutt
SILVA Nur LABIBAH
rahasia sudah terbuka,,,ayo Arkan & liana bangun kembali srmua yg telah hilang.
SILVA Nur LABIBAH
maaf baru bisa koment, bagus kisah novelnya. bisa mengambil hikmah dendam bisa melukai diri kira sendiri
inna Mardiana: makasih banyak yah Kak udah mampir😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!