NovelToon NovelToon
Bumi 6026

Bumi 6026

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Penyelamat / Time Travel / Fantasi Isekai / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:858
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Bab 19

Hutan masih memeluk mereka dengan gelapnya yang pekat, seperti tidak ingin melepaskan siapa pun yang sudah masuk terlalu dalam. Cahaya bulan hanya menetes tipis di antara celah-celah daun, menciptakan bayangan yang bergerak perlahan, seolah hutan itu sendiri bernapas. Di tengah ruang sunyi itu, empat makhluk dari dunia yang berbeda duduk saling berhadapan—tiga manusia dan satu beruang raksasa yang kini tampak lebih seperti jiwa yang tersesat daripada ancaman.

Hanoon duduk dengan kaki selonjoran, punggungnya bersandar pada batang pohon besar. Posisi itu membuatnya terlihat aneh—bukan seperti predator, melainkan seperti boneka beruang raksasa yang ditinggalkan pemiliknya di sudut kamar. Matanya yang besar tampak sayu, memantulkan cahaya bulan dengan kilau yang nyaris seperti air mata yang belum jatuh.

Bumi duduk bersila di tanah, tangannya menopang lututnya, menatap Hanoon dengan campuran rasa iba dan kebingungan. Di sebelahnya, Nuri duduk lebih tegak, pikirannya jelas masih bekerja, menimbang setiap kemungkinan dengan hati-hati. Pam duduk sedikit menjauh, wajahnya setengah tertutup bayangan rambut lurusnya yang jatuh ke pundak.

“Kalau kita ajak dia ke California… gimana?” tanya Bumi akhirnya, memecah keheningan.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi langsung membuat udara di sekitar mereka berubah.

Pam menundukkan kepala lebih dalam. Ia menarik napas pelan sebelum menjawab, seolah apa yang akan ia katakan bukan hanya penjelasan, tapi juga kenangan.

“Nggak mungkin,” katanya pelan. “California itu… bukan tempat seperti ini.”

Ia mengangkat wajahnya sedikit, matanya memandang ke kejauhan, seolah melihat kota itu di balik kegelapan hutan.

“Itu kota besar. Gedung-gedung tinggi sampai menutup langit. Jalanan penuh kendaraan… bahkan yang terbang. Orang-orang berjalan cepat, saling berdesakan, saling… berjuang.”

Nada suaranya berubah. Lebih berat.

“Mereka kerja bukan karena mau… tapi karena harus. Supaya bisa makan. Supaya tetap hidup di sistem.”

Bumi mengernyit. Dunia yang Pam ceritakan terdengar jauh lebih dingin dari hutan ini.

“Uang apa yang dipakai?” tanya Nuri, matanya menyipit penasaran.

Pam mengangkat pergelangan tangannya, seolah mengenakan sesuatu yang tak terlihat.

“Kalian harus pakai alat di tangan. Seperti jam digital. Setiap selesai kerja, nilainya masuk ke server. Kalau mau beli sesuatu… nilainya berkurang.”

Bumi menoleh ke Nuri, matanya sedikit berbinar.

“Kayak… Black Mirror ya, Kak?”

Nuri mengangguk kecil. “Kayak filmnya Justin Timberlake.”

Pam menatap mereka berdua, bingung.

“Apa itu?”

“Film,” jawab Bumi singkat.

Pam semakin mengernyit.

“Film?”

Nuri langsung melirik Bumi, memberi tanda untuk tidak memperpanjang.

“Bukan apa-apa,” katanya cepat.

Namun Pam tetap berpikir, mencoba mengaitkan konsep itu dengan sesuatu yang ia tahu.

“Oh… gambar bergerak yang dikarang?”

Bumi dan Nuri mengangguk.

“Aku pernah baca… kayaknya aku pernah lihat juga,” kata Pam pelan. “Waktu itu… ada cerita tentang seorang pemimpin dunia yang mati…”

Bumi langsung menoleh.

“Siapa?”

Pam mengerutkan kening, mencoba mengingat.

“Trump.”

Bumi dan Nuri langsung berseru hampir bersamaan, “Trump meninggal?!”

“Iya.”

“Gimana caranya?” tanya Bumi cepat, hampir lupa situasi.

Pam menggeleng. “Kalau nggak salah… bunuh diri.”

Sejenak, hutan yang dingin itu diisi oleh tawa.

Bumi terkekeh. “Mungkin dia stres akhirnya.”

Nuri mengangguk, masih tersenyum. “Lega juga…”

Namun tawa itu berhenti begitu cepat.

Karena Hanoon masih di sana.

Menatap mereka.

Dengan harapan yang terlalu besar untuk diabaikan.

“Jadi…” suara Hanoon pelan, hampir takut. “Aku bisa ikut kalian… atau tidak?”

Kalimat itu jatuh seperti batu kecil ke permukaan air yang tenang, menciptakan riak yang menyentuh hati mereka bertiga.

Bumi langsung berhenti tersenyum. Ia menoleh ke Nuri.

“Aku nggak tega ninggalin dia,” katanya pelan.

“Iya…” Nuri menghela napas panjang. “Aku juga.”

Namun wajahnya masih ragu.

“Tapi kalau kita bantu dia… kita nggak tahu berapa lama. Bisa saja… kita nggak pernah balik.”

Sunyi.

Hutan terasa lebih dalam.

Hanoon menunduk.

“Kalau begitu… aku ikut kalian dulu saja,” katanya pelan. “Kalian pulang ke… tahun kalian. Lalu… izinkan aku pakai pesawat kalian.”

Nada suaranya memelas.

Tidak memaksa.

Hanya berharap.

Bumi, Nuri, dan Pam saling diam.

Lalu Pam berbicara.

“Aku bisa bantu kamu.”

Semua menoleh padanya.

Pam tersenyum kecil, tapi matanya kosong.

“Aku sudah nggak punya siapa-siapa lagi. Jadi… aku bisa bantu kamu cari keluarga kamu.”

Ia menarik napas.

“Sambil… cari tempat aman di timur.”

Kalimat itu menggantung, penuh arti yang tidak sepenuhnya dijelaskan.

Hanoon perlahan mengangkat wajahnya.

Meski hanya diterangi cahaya bulan, mereka bisa melihat… senyum.

Tipis.

Tapi tulus.

Bumi menggaruk kepalanya.

“Berarti… kita ajak dia ke California?”

Pam mengangguk.

Namun Nuri langsung bereaksi.

“Gila? Kota itu padat! Kalau dia ikut, orang-orang bakal curiga!”

Pam berpikir sejenak.

“Sebetulnya… di sana juga ada manusia mutan. Yang bentuknya seperti hewan.”

Ia melirik Hanoon.

Bumi langsung bersinar.

“Berarti kita bilang aja dia manusia mutan!”

Nuri menghela napas. “Masalahnya…”

“Kenapa?” tanya mereka bertiga bersamaan.

Pam menunjuk tubuh Hanoon.

“Manusia… pakai baju.”

Hanoon menunduk, melihat tubuhnya sendiri.

Semua terdiam.

Lalu, hampir bersamaan, mereka berdiri.

“Kita balik ke rumah!” kata Bumi.

Mereka kembali ke pesawat yang masih tersangkut di antara pepohonan.

Bumi menatapnya, sedikit putus asa.

“Kita harus bawa ini.”

“Maaf…” kata Hanoon pelan, menyerahkan cincin energi itu.

Bumi menerimanya, lalu tanpa sadar menyentuh lengan Hanoon.

Bulunya lembut.

Hangat.

Ia tersenyum kecil.

“Boleh peluk?”

Hanoon mengangguk.

Bumi memeluknya.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai… ia merasa benar-benar hangat.

Nuri dan Pam saling pandang.

Lalu ikut memeluk.

Hanoon memejamkan mata.

Ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya.

Keluarga.

Nuri menarik diri lebih dulu.

“Oke, cukup. Kita kerja lagi.”

Pam mencoba mendorong pohon yang menjepit pesawat.

Tidak bergerak.

“Aku saja,” kata Hanoon.

Ia berdiri.

Mengangkat tangannya.

Dan dengan satu dorongan—

Pohon tumbang.

Seperti batang korek api.

Bumi langsung bertepuk tangan. “Keren!”

Mereka memasang kembali energi inti bumi.

Mesin menyala.

“Bumi… apa yang kamu lakukan?” suara Emma terdengar kaget.

“Bukan aku,” jawab Bumi santai.

“Ada beruang di belakang kalian!”

Hanoon duduk tenang di samping Nuri.

“Dia teman kami,” kata Bumi. “Bawa kita kembali ke rumah.”

“Siap.”

Pesawat terbang.

Kali ini dengan satu penumpang tambahan.

Tidak lama kemudian, mereka tiba di rumah di atas bukut. Mereka langsung mencari pakaian yang cocok untuk Hanoon.  Butuh waktu. Banyak percobaan. Banyak tawa. Akhirnya, mereka berhasil melakukannya. Saat matahari mulai muncul, Bumi, Nuri, dan Pam berdiri di depan rumah, menunggu Hanoon keluar dari rumah

Pintu terbuka. Hanoon keluar dengan langkah pelan, memakai jubah besar seperti penjaga hutan. Celana selutut seperti celana Hulk yang sobek-sobek. Kakinya memakai boot yang terbuat dari kulit. "Bagamana? Aku sudah terlihat seperti manusia?" tanya Hanoon sedikit percaya diri.

Bumi berdecak kagum, “Keren.”

1
Q. Adisti
seruu, lanjut kaaak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!