"Kamu Kriminal" Ucap gadis itu ketus dengan tangan diikat.
" Saya bukan kriminal." Ucap Pria itu tegas.
Mereka saling bertatapan dalam situasi hening dan penuh ketegangan. Alih - alih merasa takut, Gadis itu terus menatapnya tajam.
"Kau monster." Celetuknya.
Senyum menyeringai. " Aku bukan monster,... Aku Vampir." Ucap pria itu pelan berbisik ditelinga gadis yang ia sekap.
Bukannya jeritan rasa takut yang didengar, Pria itu merasa heran gadis dihadapannya malah tertawa puas.
Kesal tak kunjung percaya, Pria itu menunjukan taring dan mata merahnya.
Sontak gadis itu terdiam mematung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon laliza_xiexie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak Itu Semakin Dekat
Kiara terdiam tak percaya, makanan yang Ia buat memberikan kebahagiaan yang luar biasa untuk Edward. Ternyata sesederhana itu bahagia, melihat orang yang kita sayang bahagia itu sudah cukup untuk kita. Bukan harta bukan jabatan tapi perhatian dan kasih sayanglah yang dibutuhkan, mental lebih utama dari fisik. Mental adalah akar dari seseorang mampu bertahan dan melanjutkan hidup, jika mentalnya sudah hancur maka sangat sulit untuk bangkit dan melanjutkan hidup.
Kiara tersenyum hatinya sangat merasa bahagia, Ia membereskan piring kotor dan menyimpan makanan ke lemari makan. Saat hampir selesai Edward berdiri menyentuh bahu Kiara dan menghentikan langkahnya.
Kiara berbalik kearahnya dan tampak terdiam cuek melihat Edward.
“ Kenapa Kamu repot – repot mengurusku selama ini? Kamu menyiapkan baju kerja, mencuci baju, beres – beres bahkan memasak? Kenapa Kamu repot – repot melakukan semua itu?” Tanya Edward tegas.
“ Balas budi.” Jawab Kiara singkat sembari menatap Edward lembut.
Edward mengkerutkan keningnya dan tertawa kecil membuat Kiara merasa heran.
“ Apa Kamu pikir dengan melakukan semua itu, balas budi yang Kamu lakukan untukku itu cukup?” Tanya Edward santai.
“ Terus maumu apa?” Tanya Kiara balik cuek.
“ Cium Aku.” Ucap Edward menantang.
Kiara terdiam bingung, Ia tidak tau apa yang harus Ia lakukan.
Kiara tampak melotot melihat meja makan dan membuat Edward melihat kearah yang sama. Namun Edward tidak melihat apa pun, saat berbalik kearah Kiara.
Nampak Kiara mencium pipi Edward dan langsung pergi ke dapur. Edward berdiri mematung tak percaya, sembari mengelus pipinya Edward tersenyum bahagia lalu pergi menghampiri Kiara yang tampak sedang mencuci piring.
Secara perlahan Edward berjalan mendekati Kiara dan berdiri dibelakangnya, dengan perlahan Ia mencium pipi Kiara yang membuat Kiara berbalik menghadap Edward sembari melotot terkejut.
“ Apa yang Kamu lakukan.” Tanya Kiara gugup.
“ Balas budi.” Ucap Edward cuek sembari menyelipkan kedua tangannya disaku celananya.
“ Untuk Apa?” Tanya Kiara bingung.
“ Untuk Ayam bumbu merah.” Jawab Edward lembut dan langsung pergi.
Kiara hanya berdiri bingung dengan semua yang terjadi, ciuman Edward sangat berpengaruh untuknya. Ia terus tersenyum sendiri mengingatnya sembari lanjut melakukan pekerjaannya.
Terdengar diruang santai ada keributan, setelah selesai Kiara langsung mendatangi sumber suara dan terlihat Edward sedang berdiri ketakutan sembari memeluk bantal dan berusaha mengusir sesuatu dilantai. Kiara yang penasaran langsung menghampiri Edward dan ternyata kecoa yang membuat Edward sangat ketakutan.
“ Kiara menjauhlah hewan ini bisa saja menyerangmu.” Teriak Edward membuat Kiara tertawa lepas.
“ Serangga ini menyerangku?” Tanya Kiara sembari mengangkat kumis kecoa.
Ketakutan Edward tampak menjadi – jadi dan jiwa jahil Kiara meronta – ronta. Kiara berjalan mendekati Edward sedangkan Edward berjalan mundur menjauh.
“ Kiara Kamu jangan lancang Aku akan menghabisimu.” Ucap Edward tegas.
“ Coba saja kalo bisa.” Ucap Kiara menantang.
Kiara mulai berlari mengejar Edward dan Edward berlari menjauhi Kiara. Seisi ruangan berantakan karena kekacauan ini.
Edward melempar beberapa bantal sofa ke arah Kiara tapi meleset, Kiara tampak puas mengejar Edward. Sampai Edward tersandung dan terjatuh dengan badan terlentang, Kiara tidak sempat mengendalikan larinya hingga Ia ikut terjatuh dan ambruk dipelukan Edward. Mereka bertatapan dengan lembut sedangkan kecoa pergi kabur entah kemana.
“ Hahahahaha..” Mereka tertawa lepas sembari berbaring dilantai menghadap langit – langit.
Edward pertama kali melihat Kiara tertawa lepas seperti ini, hatinya sangat merasa senang sampai tidak bisa dijelaskan.
Kiara yang tertawa mulai berhenti saat wajah Edward tiba – tiba mendekat kearahnya. Kiara menatap Edward heran sedangkan Edward tampak terus mendekatkan wajahnya dengan wajah Kiara. Kiara sangat gugup dan memejamkan matanya, Edward yang melihat ada rambut yang menghalangi wajah Kiara langsung menyingkirkannya menggunakan jari telunjuknya dan bibirnya mulai mendekat ke bibir Kiara.