NovelToon NovelToon
Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.

​Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.

Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.

Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Labirin Pengkhianatan

​Suara gebrakan pintu di luar kamar terdengar semakin beringas. Aruna bisa merasakan getaran kayu jati yang tebal itu setiap kali Kaelan menghantamnya. Mira menarik tangan Aruna, memaksa wanita itu masuk ke dalam celah sempit di balik lemari besar.

​"Cepat, Madam! Jangan sampai Pangeran melihat jalur ini!" bisik Mira dengan wajah pucat pasi.

​Aruna merangkak masuk, merasakan debu dan hawa dingin dari lorong rahasia itu menyapu kulitnya. Begitu mereka masuk, Mira mendorong sebuah tuas kecil yang membuat dinding lemari kembali menutup rapat. Tepat di saat yang sama, suara kayu hancur terdengar dari dalam kamar. Kaelan sudah berhasil mendobrak masuk.

​"Aruna! Aku tahu kau belum pergi jauh!" Raungan Kaelan terdengar teredam oleh dinding batu, tapi kebencian dalam suaranya tetap menusuk hingga ke tulang.

​Aruna dan Mira terus bergerak di dalam kegelapan. Lorong ini sangat sempit, hanya cukup untuk satu orang dewasa merangkak. Dindingnya lembap, dan bau tanah yang kuat membuat Aruna sesak napas. Namun, pikirannya jauh lebih kacau daripada paru-parunya.

​"Mira, apa maksudmu tentang boneka mekanik itu? Elara... dia benar-benar ingin membunuh kita semua?" tanya Aruna sambil terus merangkak.

​Mira terdiam sejenak, napasnya terdengar berat di depan Aruna. "Lady Elara sudah gila karena dendam, Madam. Dia merasa Jenderal Arvand gagal melindunginya dulu, dan sekarang dia menganggap kematian semua orang adalah satu-satunya cara agar Arel aman dari perebutan takhta. Dia ingin menghapus semua orang yang tahu rahasia Arel, termasuk Madam dan Jenderal."

​Aruna merasa dunianya runtuh. Ia mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan Arel dan Arvand, tapi ternyata ibu kandung bocah itu sendiri yang sedang menyiapkan liang lahat untuk mereka.

​Setelah merangkak selama hampir lima belas menit, mereka sampai di sebuah lubang keluar yang tertutup semak belukar di lereng tebing. Dari sana, Aruna bisa melihat pemandangan yang mengerikan di gerbang istana.

​Barka, dengan luka-luka yang masih mengucurkan darah, sedang bertarung melawan pengawal pribadi Kaelan. Di pundaknya, ia menggendong sesuatu yang terbungkus kain. Sosok kecil yang terlihat seperti Arel. Namun, gerakan sosok itu sangat kaku, hampir seperti robot yang rusak.

​"Itu dia," bisik Mira sambil menunjuk ke arah Barka. "Dia tidak tahu kalau itu boneka bermesin peledak. Elara membohonginya agar Barka membawanya masuk ke pusat pertahanan Kaelan."

​"Lalu di mana Arel yang asli?" Aruna mencengkeram bahu Mira.

​"Elara membawanya ke kuil tua di dasar lembah. Dia berencana membawa Arel pergi jauh setelah istana ini hancur," jawab Mira.

​Aruna melihat ke arah istana tebing. Ia melihat Kaelan keluar ke balkon, wajahnya merah padam karena amarah. Di bawah sana, Barka sudah hampir mencapai pintu utama. Aruna tahu, jika boneka itu meledak sekarang, Barka, Kaelan, dan semua orang di istana itu akan hancur. Termasuk kemungkinan adanya Arvand di dalam sana.

​"Aku harus menghentikannya," kata Aruna tegas.

​"Jangan, Madam! Itu bunuh diri!" Mira mencoba menahan Aruna, tapi Aruna sudah melompat keluar dari persembunyiannya.

​Aruna berlari menuruni lereng berbatu dengan kecepatan yang tidak pernah ia sangka bisa ia lakukan. Luka panahnya terasa terbakar, tapi ia tidak peduli. Ia harus sampai ke Barka sebelum terlambat.

​"Barka! Berhenti! Itu jebakan!" teriak Aruna sekuat tenaga.

​Barka menoleh, matanya yang liar menatap Aruna dengan penuh kebencian. "Kau! Kau masih berani muncul di depanku setelah mengkhianatiku?"

​"Bukan aku pengkhianatnya! Lihat apa yang kau bawa! Itu bukan Arel!" Aruna menunjuk ke arah bungkusan di pundak Barka.

​Barka tertawa kasar, suaranya terdengar gila. "Kau hanya ingin mengambilnya kembali agar bisa menguasai takhta, kan? Tidak akan kubiarkan!"

​Barka terus berlari masuk ke dalam aula utama istana. Aruna mengejarnya, mengabaikan teriakan para pengawal Kaelan yang mulai melepaskan anak panah ke arah mereka. Di atas balkon, Kaelan melihat Aruna dan segera melompat turun dengan bantuan tali tambang, mendarat tepat di depan Aruna.

​"Kau kembali padaku, Sayang?" Kaelan tersenyum miring, pedangnya sudah terhunus.

​"Kaelan, dengarkan aku! Barka membawa bom! Elara menjebak kita semua!" Aruna mencoba menjelaskan dengan napas tersengal.

​Kaelan terdiam sejenak, matanya menatap Barka yang sudah berada di tengah aula. Tiba-tiba, suara detik logam yang sangat nyaring terdengar dari balik kain pembungkus boneka itu.

​Tik. Tik. Tik.

​Wajah Barka mendadak pucat. Ia menurunkan bungkusan itu dan membukanya. Di dalamnya, bukan wajah manis Arel yang ia lihat, melainkan wajah kayu yang menyeramkan dengan roda gigi yang berputar cepat di bagian dadanya.

​"Apa ini..." gumam Barka.

​"Lari!" Aruna berteriak.

​Kaelan dengan sigap menarik pinggang Aruna dan melompat ke belakang pilar batu besar tepat saat aula itu meledak dengan suara yang mengguncang gunung.

​BOOM!

​Gelombang panas melemparkan debu dan serpihan batu ke segala arah. Aruna merasakan dadanya sesak karena tekanan udara yang luar biasa. Setelah asap sedikit menipis, ia melihat Barka sudah terkapar tidak bernyawa, tubuhnya hancur bersama bagian depan istana.

​Kaelan berdiri, membersihkan debu dari jubahnya seolah-olah ledakan tadi hanyalah gangguan kecil. "Wanita itu... Elara... dia benar-benar melampaui ekspektasiku."

​"Arvand di mana, Kaelan? Katakan padaku!" Aruna menarik kerah baju Kaelan, matanya menyala penuh amarah.

​Kaelan menunjuk ke arah penjara bawah tanah yang kini tertutup reruntuhan. "Dia ada di sana. Tapi dengan ledakan sebesar ini, aku ragu dia masih bernapas."

​Aruna melepaskan Kaelan dan mulai menggali reruntuhan dengan tangan kosong. Kuku-kukunya mulai berdarah, tapi ia tidak berhenti. "Arvand! Kamu tidak boleh mati! Kamu dengar aku?"

​Tiba-tiba, sebuah tangan besar muncul dari balik celah batu, mencengkeram tangan Aruna. Aruna tersentak, lalu menangis lega saat melihat wajah Arvand yang penuh abu dan luka, tapi matanya masih bersinar tajam.

​"Aku tidak... semudah itu mati, Ratri," bisik Arvand sambil berusaha keluar dari lubang reruntuhan.

​Aruna membantu Arvand berdiri. Suaminya itu tampak sangat lemah, kakinya pincang dan bahunya tertusuk serpihan kayu. Namun, begitu Arvand melihat Kaelan yang berdiri tidak jauh dari mereka, ia segera menghunus pedangnya yang sudah tumpul.

​"Cukup, Kaelan. Semuanya berakhir di sini," kata Arvand dengan suara berat.

​Kaelan hanya tersenyum dingin. "Berakhir? Tidak, Jenderal. Ini baru saja dimulai. Pasukan kaisar sedang menuju ke sini untuk menjemput kepala kalian berdua atas kematian Lady Selina dan penghancuran istana ini."

​Namun, perhatian mereka semua teralih saat terdengar suara trompet dari arah lembah. Itu bukan trompet pasukan kaisar. Itu adalah trompet milik pasukan Kerajaan Utara, musuh bebuyutan yang selama ini bekerja sama dengan Elara secara diam-diam.

​Aruna melihat ke arah lembah dan melihat ribuan bendera hitam berkibar. Di tengah pasukan itu, Elara berdiri dengan anggun di atas kereta kuda, dengan Arel duduk di sampingnya dalam keadaan terikat dan mulut disumpal.

​"Dia menyerahkan Arel pada musuh?" Aruna merasa jantungnya seakan berhenti.

​"Dia bukan menyerahkannya," Kaelan menyipitkan mata. "Dia membawa pulang Arel ke keluarga ibunya. Kerajaan Utara adalah tempat asal Elara yang sebenarnya. Mereka datang untuk mengambil kembali pewaris mereka."

​Arvand menatap Aruna, lalu menatap Arel di kejauhan. "Ratri, aku harus mengambil anak itu kembali. Meskipun ini adalah misi bunuh diri."

​Aruna meraih tangan Arvand, lalu meraba kunci perak yang masih terselip di pinggangnya. "Kita lakukan bersama. Aku punya kunci yang mereka inginkan. Kita gunakan itu sebagai umpan terakhir."

​Mereka mulai berlari menuruni tebing, mengabaikan Kaelan yang hanya berdiri menonton dengan senyum penuh teka-teki. Namun, saat mereka hampir mencapai dasar lembah, sebuah anak panah hitam melesat dari arah pasukan utara, bukan ke arah Arvand atau Aruna, melainkan tepat ke arah jantung Elara.

​Elara tersungkur jatuh dari kereta kudanya. Arel berteriak histeris meski mulutnya tersumbat. Pasukan utara tidak menolong Elara. Mereka justru menginjak tubuh wanita itu dengan kuda-kuda mereka, seolah-olah Elara hanyalah sampah yang sudah tidak berguna setelah membawakan Arel.

​Aruna menyadari sesuatu yang mengerikan. Kerajaan Utara tidak menginginkan Arel sebagai pemimpin, mereka menginginkan Arel sebagai boneka untuk melegitimasi invasi mereka ke wilayah kaisar.

​Tiba-tiba, Mira muncul dari balik semak-semak, wajahnya penuh air mata. "Madam! Jangan maju! Pasukan utara sudah menyiapkan meriam api!"

​Sesaat kemudian, bumi seakan meledak di depan Aruna. Api menyembur dari tanah, memisahkan Aruna dari Arvand. Aruna terlempar ke arah jurang kecil, dan saat ia mencoba menggapai tangan Arvand, ia melihat sesosok pria bertopeng muncul di belakang suaminya, mengangkat sebuah gada besar tepat di atas kepala Arvand yang sedang lengah.

​"Arvand! Di belakangmu!" teriak Aruna.

​Siapakah pria bertopeng yang mengincar nyawa Arvand di tengah kekacauan itu? Dan mampukah Aruna menggunakan kunci peraknya untuk membalikkan keadaan sebelum Arel dibawa pergi ke wilayah musuh yang tak terjangkau?

1
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
apakah ini berry atau yg mulia summer /Facepalm//Facepalm/
Linda pransiska manalu: hhhhhhh
total 3 replies
vj'z tri
hadeuhhhh gak bisa liat orang senyum dikit ni mahluk 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ semoga bisa bersama kalian
Erchapram
LUAR BIAS!
Travel Diaryska
utk yg suka cerita intens perang ya mgkn bagus aja ceritanya.
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Travel Diaryska
mc nya ga OP, sistemnya cuma jd notif doang, ga kasih hadiah obat bagus apa gitu biar mc fit. ga ada waktu buat mc heal dlu.
vj'z tri
kelennnnn lahhhh pokoke oyeeee🎉🎉🎉🎉
Erchapram
Sudah bab 18, teman-teman yang sudah baca tapi belum lanjut. Diharap segera melanjutkan karena sebentar lagi akan masuk bab 20.

Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.

Terima kasih.
XZR-1ERLAND
Sungguh plotwits nyaa
vj'z tri
hadeuhhh olah raga jantung terus ini /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
vj'z tri
OMG pilihan apa lagi ini/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ kasihan jendral
vj'z tri
eeedodoeeee wes keracunan masih tenggak racun lagi /CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
XZR-1ERLAND
duh thorr gw gak sabar liat ending nya , semoga happy ending ya thorrr, semangat trs thorr 💪
XZR-1ERLAND: iya kak Sama-sama, kakak juga jgn lupa mampir baca novel ku ya,btw aku masih jadi athour pemula, mohon dukungannya, kritik atau saran Kakak 👍
total 2 replies
vj'z tri
tahan diset loh ngobrol nya mau meledak ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
oalahhhh ini biang Lala nya ternyata 🤧🤧🤧
vj'z tri: sabarrrrr tunggu up /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ siapa lagi itulah sabar sabar
vj'z tri
kerennnnn 🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
sabar sabar tunggu kelanjutan /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
bener bener ni ya kelakuan pangeran kaleng /Shame//Shame//Shame//Shame/
vj'z tri
benar benar konspirasi /Panic//Panic//Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!