Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.
Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.
Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.
Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DELAPAN BELAS
Begitu mobil Althaf berhenti di pelataran kampus, aku langsung keluar dari mobil. Tidak ada ucapan apa pun untuk Althaf. Bahkan untuk sekadar menoleh pun aku enggan. Aku hanya ingin keluar dari lingkaran hawa dinginnya.
Langkahku cepat, seolah ingin menyingkir sejauh mungkin. Tapi kalimatnya di mobil masih berputar-putar di kepala, menggaung tanpa henti.
Istri saya.
Hanya dua kata, tapi beratnya luar biasa. Jika benar aku istrinya, kenapa sikapnya seakan menolak keberadaanku? Kenapa setiap ucapannya lebih sering melukai? Aku menggigit bibir. Bagiku, lebih mudah percaya bahwa aku hanyalah permainan baginya, sesuatu yang bisa ia kendalikan sesuka hati.
Aku mendesah panjang, mencoba mengusir gundah itu. Tapi bahkan ketika memasuki kafetaria kampus, aku merasa langkahku tetap berat.
Kafetaria sudah ramai. Suara riuh mahasiswa bercampur aroma kopi, nasi goreng, dan berbagai menu sarapan khas kantin. Gelak tawa terdengar di setiap meja. Semua tampak ringan, bebas dari beban. Berbeda sekali dengan diriku yang rasanya penuh sesak.
Aku memilih meja paling pojok, sedikit tersembunyi di balik deretan pot tanaman hias. Meja itu cukup jauh dari pusat keramaian—tempat yang tepat untuk sekadar mengasingkan diri.
Satu mangkuk soto panas tiba di depanku. Kuahnya bening kekuningan, mengepul harum. Ada taburan bawang goreng renyah, irisan daun seledri, dan perasan jeruk nipis di pinggir mangkuk. Aromanya menenangkan, mengingatkanku pada sarapan di rumah kecilku dulu. Berbeda jauh dengan croissant, keju, atau salmon asap yang tadi pagi tersaji di meja Oma.
Aku meraih sendok, meniup kuah panas itu, lalu menyesapnya perlahan. Kehangatan soto langsung merambat di kerongkongan, membawa sedikit rasa damai.
Namun kedamaian itu hanya bertahan beberapa menit, sampai sebuah tangan usil merebut sendokku.
“Wah, enak banget nih! Boleh ya,” suara Revan yang riang langsung memenuhi telingaku. Tanpa rasa bersalah, ia menyuapkan soto dari mangkukku ke mulutnya.
Aku spontan menoleh, menatapnya tidak percaya. “Van! Kalau laper, pesen sendiri! Jangan nyolong punya gue.”
Revan terkekeh, matanya menyipit karena menahan tawa. Ia dengan enteng mengusap kepalaku, membuat rambutku sedikit berantakan. “Ah, pelit banget sih lo, Sen. Sekali suap doang kok. Lagian lo tuh kalau lagi manyun gini, malah makin gemesin, tau nggak?”
Aku mendengus sambil memukul lengannya pelan. “Nggak usah ngeles deh. Kalau mau makan, pesan aja. Jangan ngerecokin gue.”
Tanpa banyak bicara, Revan melambaikan tangan pada pelayan. “Bang, lontong sayurnya satu, sama es teh manis dingin ya.” Ia menoleh lagi padaku, tersenyum lebar seolah tidak merasa bersalah sama sekali.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. “Nggak minat soto katanya, tapi tadi nyolong sendok gue duluan. Emang dasar lo tuh nyebelin banget.”
Revan terkekeh lagi, kali ini tangannya menjepit pipiku dengan cukup keras. “Ya ampun, marah-marah gini malah bikin lo tambah manis, Sen.”
“Aduh! Van!” Aku meringis sambil menepis tangannya. Balasanku, aku mencubit perutnya yang keras berotot. “Biar kapok lo!”
Tapi bukannya kapok, Revan malah tertawa semakin keras. “Sakitnya nggak di perut, tapi di hati, Sen,” ucapnya sambil mengedip nakal.
Aku mendengus, tapi tak bisa menahan tawa kecilku yang akhirnya lolos. Meskipun aku mencoba menolak, Revan memang selalu tahu cara membuat suasana menjadi ringan.
Revan datang dengan tawa renyahnya yang khas, dan tanpa sadar aku pun ikut terhanyut. Di sampingnya, dunia terasa lebih sederhana. Tidak ada aturan kaku, tidak ada tatapan dingin yang mengikat langkahku.
Aku tertawa kecil ketika ia kembali menggodaku. “Lo tuh ya, Van… selalu bikin gue kesel.”
“Kesel tapi kangen, kan?” jawabnya cepat, membuatku spontan mencubit lengannya. Ia meringis pura-pura kesakitan, tapi justru tertawa semakin keras.
Lontong sayur pesanannya akhirnya tiba. Dengan lahap ia menyendok kuah kental beraroma santan itu, lalu mendesah puas. “Wah, ini baru namanya sarapan. Beda banget sama makanan ala-ala barat yang porsinya secuil.”
Aku tersenyum samar. Entah kenapa kalimat sederhana itu terasa begitu menenangkan. Seperti menemukan teman yang satu frekuensi dengan lidah dan hatiku.
Kami mengobrol tentang hal-hal ringan—kelas pagi ini, dosen yang terlalu cerewet, bahkan drama anak kampus yang sedang ramai diperbincangkan. Suara tawa kami bercampur dengan riuhnya kafetaria. Untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, aku merasa bebanku sedikit terangkat.
Sambil menyeruput kuah soto terakhirku, aku diam-diam merenung. Bersama Revan, aku bisa tertawa tanpa berpura-pura. Bisa menjadi diriku sendiri tanpa merasa salah. Sejenak aku lupa pada ucapan Althaf yang terus menggaung di kepalaku.
Istri saya.
Aku menutup mata sebentar, menghela napas. Luka itu masih ada, tapi kehadiran Revan membuatnya tidak terasa terlalu perih.
Revan menoleh padaku, lalu menepuk pelan punggung tanganku. “Lo kenapa diem? Biasanya kan lo yang bawel banget.”
Aku cepat-cepat tersenyum, menutup rapat keresahan yang tadi hampir menyeruak. “Nggak, gue cuma lagi nikmatin momen aja. Jarang-jarang bisa makan tenang kayak gini.”
Revan mengangkat alis, seolah tidak sepenuhnya percaya, tapi ia memilih tidak mendesak. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum hangat. “Kalau gitu, sering-sering makan bareng gue. Gue pastiin lo nggak bakal kesepian, Sen.”
Dan aku mendapati hatiku sedikit lebih ringan mendengar ucapannya. Setidaknya untuk sekarang, aku bisa mengizinkan diriku melupakan kesedihan—walau hanya sebentar.
“Hari ini setelah ngampus, lo free nggak, Sen?” tanya Revan tiba-tiba sambil menyuap lontongnya. Suaranya santai, tapi matanya melirikku dengan penuh maksud.
Aku mengangkat kepala, menatapnya heran. “Free sih, kebetulan gue nggak ambil shift di kafe. Emangnya kenapa, Van?”
Revan menyeringai lebar, lesung pipinya muncul jelas. “Nah, pas banget! Pulang ngampus temenin gue ke mall, ya. Gue mau beliin kado buat nyokap.”
Aku sempat diam sebentar, berpura-pura mikir. Lalu bibirku tertarik jahil. “Hmm… boleh sih, tapi syaratnya traktirin gue ramen. Gue lagi pengen banget ramen pedes.”
Revan langsung menepuk meja kecil kami sampai membuatku kaget. “Deal! Bukan cuma ramen, minumannya sekalian sama dessert juga gue yang bayarin. Mau berapa mangkok juga gue ladeni, Sen!”
Aku tak bisa menahan tawa. “Heh, jangan nantangin, ya. Lo lupa perut gue kayak gudang? Bisa tekor lo!”
“Tekor mah nggak masalah,” jawabnya cepat, lalu mencondongkan tubuh ke arahku. Tatapannya mendadak melembut, berbeda dari tawa riangnya barusan. “Yang penting lo temenin gue. Gue nggak suka jalan sendiri.”
Aku tercekat sepersekian detik. Tatapan itu—hangat, lembut, seolah ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya. Aku buru-buru mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk dengan sisa kuah soto di mangkukku.
“Yaudah, oke.” ujarku mencoba mengalihkan.
Revan malah terkekeh. “Justru gue butuh lo buat milihin. Kalau nggak, bisa-bisa nyokap gue dapet hadiah random. Lo kan paling jago pilih barang.”
Aku mendengus kecil, setengah kesal setengah geli. “Cih, modus lo ketahuan banget, Van. Padahal bisa aja lo ke mall sama temen cowok lo yang lain.”
“Ya nggak seru lah!” sahutnya cepat. “Kalau sama lo, gue bisa sekalian dapet bahan ketawaan gratis.”
Aku menatapnya sambil mencibir, tapi dalam hati diam-diam terasa lebih ringan. Bersama Revan, percakapan selalu mengalir tanpa beban—berbeda jauh dari suasana menyesakkan yang kurasakan tadi pagi bersama Althaf.
Sesuai janjiku pada Revan, selesai mata kuliah terakhir kami langsung meluncur ke salah satu mall terbesar di ibu kota. Dari awal, Revan sempat ribut menanyakan soal motorku.
“Eh, motor lo gimana, Sen? Aman kalau lo tinggal? Kan kita naik mobil gue,” tanyanya sambil memanaskan mesin mobil.
Aku cepat-cepat mencari alasan. “Lagi di bengkel, Van. Jadi nanti tinggal gue ambil setelah nemenin lo cari kado.”
Padahal itu bohong. Motorku sebenarnya masih terparkir di rumah Oma. Entah kapan bisa kuambil lagi, mengingat Oma keras kepala melarangku mengendarainya. Katanya terlalu berbahaya.
Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa bersalahku. “Udah ah, fokus ke kado nyokap lo aja.”
Revan hanya mengangguk, fokus mengemudi. Mobilnya melaju mulus, meninggalkan kampus dan membawa kami menuju pusat keramaian kota.
Mall sore itu cukup ramai, lampu-lampu butik branded berkilau mewah. Revan menggandeng lenganku tanpa canggung, membuatku sedikit kikuk tapi pura-pura santai.
“Sesuai request lo, kita langsung ke Dior aja, kan?” tanyanya.
“Yap. Nyokap lo kan suka koleksi parfum. Mending parfum aja, daripada tas atau aksesoris, gue nggak ngerti selera fashion orang kaya.” Aku terkekeh kecil.
Revan ikut tertawa, menepuk pundakku. “Makanya gue bawa lo. Gue mah nggak ngerti beginian.”
Kami masuk ke butik Dior. Aroma elegan langsung menyergap, membuatku sedikit gugup. Aku menelusuri rak kaca penuh botol parfum berkilauan. Mataku terhenti pada satu botol yang familiar.
“Gimana kalau ini? Dior Sauvage Eau de Parfum.” Aku menyemprot sedikit di pergelangan tangan, lalu menyodorkannya ke Revan. “Menurut gue, aromanya cocok buat nyokap lo. Sensual, elegan, tapi tetap classy.”
Revan mendekat, menghirup aromanya dari nadiku. Wajahnya begitu dekat, sampai aku bisa merasakan hangat napasnya di kulitku. Jantungku berdetak tak karuan.
“Hmm…” gumamnya, lalu tersenyum lebar. “Lo bener banget, Sen. Cocok! Gila, nggak salah gue bawa lo.” Ia melambai pada pramuniaga. “Mbak, saya ambil yang ini, ya.”
Sementara Revan menunggu kasir menyiapkan belanjaannya, aku memilih duduk di sofa yang tersedia, memeriksa ponsel untuk menutupi kegugupanku.
Tiba-tiba sebuah paperbag disodorkan ke arahku. “Nih, hadiah buat lo.”
Aku refleks mendongak, kaget. “Hah? Hadiah apa lagi? Ulang tahun gue masih lama, Van.” Aku terkekeh, mengira ia bercanda.
Tapi wajah Revan serius. “Udah, buka aja.”
Dengan ragu, aku menerima paperbag itu. Tanganku sedikit bergetar saat membuka isinya—sebotol Miss Dior Blooming Bouquet. Parfum yang diam-diam kusukai sejak lama, tapi tak pernah berniat kubeli karena harganya tak masuk akal untuk kantongku.
“Ya Tuhan… Van, ini… ini mahal banget.” Suaraku tercekat. “Kayaknya gue nggak bisa terima deh. Gue—”
Belum sempat aku menolak, Revan langsung berdiri dan berjalan keluar butik. Panik, aku buru-buru mengejarnya.
“Van! Gue serius, ini terlalu mahal! Gue nggak bisa nerima!” seruku sambil menarik lengannya.
Revan berhenti, menoleh, lalu tersenyum hangat. “Kalau lo nggak mau nerima, gue marah. Jadi tolong… terima aja, Sen.” Tangannya terulur, mengelus lembut puncak kepalaku. Sentuhannya membuat dadaku terasa hangat sekaligus kacau.
Aku baru mau membuka mulut ketika sebuah suara memanggilku.
“Eh, Senjani ya?”
Aku menoleh kaget. Dari arah depan, seorang wanita cantik, anggun, melambaikan tangan sambil tersenyum. Bu Yuanita.
“Eh, Bu Yuanita…” Aku buru-buru merapikan ekspresi. “Belanja juga, Bu?” tanyaku ramah, meski dadaku langsung terasa sesak.
“Iya, kebetulan cari beberapa pakaian,” jawabnya santai. Senyumnya manis, begitu natural. Tak heran ia dulu pernah—atau mungkin masih—menjadi bagian hidup Althaf.
Dan seakan semesta ingin mempermainkanku, sosok itu muncul. Althaf.
Ia berjalan mendekat dari belakang Bu Yuanita. Satu tangan menempel di telinga, sibuk dengan telepon, sementara tangan lainnya menenteng beberapa paperbag—belanjaan untuk Bu Yuanita, jelas sekali.
Tatapan kami bertemu. Sesaat saja, tapi cukup untuk membuatku kehilangan napas. Tatapan itu… tajam, penuh arti, membuatku ingin berpaling tapi juga tak bisa.
Akhirnya aku memilih menunduk, mengalihkan pandangan. Tuhan… pahit macam apa lagi yang harus kuhadapi?