NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Dingin

Menikah Dengan Dosen Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / CEO / Nikah Kontrak / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:814
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Alya, mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan mandiri, tengah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah tekanan keluarga yang ingin ia segera menikah. Tak disangka, dosen pembimbingnya yang terkenal dingin dan perfeksionis, Dr. Reihan Alfarezi, menawarkan solusi yang mengejutkan: sebuah pernikahan kontrak demi menolong satu sama lain.

Reihan butuh istri untuk menyelamatkan reputasinya dari ancaman perjodohan keluarga, sedangkan Alya butuh waktu agar bisa lulus tanpa terus diburu untuk menikah. Keduanya sepakat menjalani pernikahan semu dengan aturan ketat. Tapi apa jadinya ketika batas-batas profesional mulai terkikis oleh perasaan yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Pagi ini Alya dan Reihan sedang sarapan bersama di meja makan. Tak ada percakapan diantara mereka hingga selesai makan. Alya membereskan piring yang mereka pakai tadi dan mencucinya di wastafel.

" Alya, hari ini kamu mau kemana" tanya Reihan. Dia masih duduk di meja makan memperhatikan istrinya yang sedang mencuci piring. Ingin membantunya tapi gengsi.

Alya menoleh ke arah Reihan " ngga ada mas, mungkin nanti sore mau kerumah mama, bolehkan"

"Boleh, nanti kita sama-sama ke sana, saya juga mau kesana" ucap Reihan yang dibalas dengan anggukan oleh Alya.

Hari ini adalah hari weekend setelah seminggu yang lalu Alya sidang skripsi, sebentar lagi dia akan wisuda juga.

Reihan berjalan ke arah meja kerjanya. Meski hari libur Reihan tetap bekerja dari rumah. Seminggu ini juga Reihan mulai merubah sikapnya terhadap Alya setelah sahabatnya itu menasehatinya.

Drrtt drrtt

Reihan menatap ke arah ponselnya yang berdering tertera nama mamanya disana.

"Halo ma"

" Halo sayang, bagaimana kabarmu disana" tanya Laras diseberang sana.

" Alhamdulillah baik ma, mama sama papa gimana kabarnya"

" Mama sama papamu Alhamdulillah baik juga, kamu lagi dimana sekarang ada yang mau mama ngomongin"

" Ini lagi dirumah, ada apa mah"

" Mama sama papa mau kamu fokus ke perusahaan aja ya, kata sekretaris kamu, kamu jarang masuk sekarang. Papa kamu juga dapat laporan kalo ada oknum yang bermain curang di perusahaan. Mama cuma takut kamu terlalu fokus ke kampus daripada perusahaan. Kamu tahukan itu perusahaan yang di bangun papamu mulai dari nol."

" Iya ma, untuk oknum yang bermain curang di perusahaan nanti Reihan urus segera, tapi kalo soal kampus Reihan pikir dulu ma."

" Jangan lama-lama ya berpikirnya"

" Iya ma"

" Ohh iya istrikamu dimana, kok ngga mama dengar suaranya, kalian lagi bertengkar"

" Ngga kok ma, itu Alya ada di ruang tamu"

" Mana, coba mama lihat dulu" ucap Laras sambil mengalihkan panggilan ke vidio cal

" Bentar ya ma"

Reihan keluar dari ruangan kerjanya menghampiri Alya di ruang tamu yang sedang menonton TV.

" Kenapa mas" tanya Alya melihat suaminya itu duduk di sampingnya.

" Ini mama mau ngomong sama kamu" ucap Reihan sambil menyodorkan hp nya ke arah Alya.

" Halo mah, mama sama papa di sana apa kabar" tanya Alya .

"Alhamdulillah mama sama papa di sini baik, kamu apa kabar sayang Reihan ngga kasarin kamu kan"

" Ehh ngga kok ma, aku sama mas Reihan baik-baik aja, iya kan mas" ucap Alya sambil melirik ke arah Reihan.

" Syukurlah kalo gitu, katanya sebentar lagi kamu wisuda ya"

" Iya ma kira-kira dua Minggu lagi lah"

" Nanti mama sama papa usahain ya datang, satu lagi nanti kalo kamu sudah wisuda jangan nunda lagi ya" ucap Laras yang terdengar ambigu.

Alya mengrinyit " nunda apa ya mah, "

" Itu loh kamu sama Reihan jangan nunda buat hamil, mama ini sudah tua, mama pengen banget gendong cucu"

Alya panas dingin mendengar ucapan mama mertuanya itu. Bagaimana mau hamil mereka saja pisah kamar dalam perjanjian pun tertulis disana tidak boleh ada kontak fisik.

" Emm, nanti Alya bicarain sama mas Reihan ma"

" Mama tunggu kabar bahagianya ya, kamu juga Reihan jangan lupa berusaha kalo bisa makan toge biar lebih subur"

" Iya ma ini Reihan lagi usaha kok"

" Ya sudah mama tutup dulu ya, titip salam buat keluargamu juga ya sayang"

" Iya ma nanti Alya sampaikan"

" Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam "

Alya mengembalikan ponsel itu kembali kepada Reihan dan beranjak dari tempat duduk nya.

" Mas aku ke atas dulu ya" ucap Alya

" Hmmm, soal perkataan mama tadi kamu ngga usah pikirkan"

" Iya mas"

Alya melangkah menaiki tangga dengan hati sedikit tidak tenang. Kata-kata mama Laras masih terngiang di telinganya, membuat wajahnya memanas sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa hamil kalau saja aku dan Reihan… hanya nikah kontrak ? pikir Alya, menarik napas dalam-dalam ketika memasuki kamarnya.

Sementara itu, di ruang tamu, Reihan masih duduk menatap layar ponselnya yang kini sudah gelap. Ucapan mamanya membuat pikirannya bercabang. Dia tahu, orang tuanya menaruh harapan besar padanya, baik dalam urusan perusahaan maupun keluarga. Apalagi dia anak satu-satunya yang dimiliki orang tuanya. Namun di sisi lain, dia juga tidak ingin memaksa Alya. Apalagi mereka punya kesepakatan sejak awal.

Reihan mengusap wajahnya pelan, lalu berdiri menuju dapur untuk mengambil segelas air. Tenggorokannya terasa sangat kering.

.

.

.

Menjelang sore, Alya turun ke bawah. Rambutnya diikat seadanya, wajahnya polos tanpa riasan. Reihan yang sedang duduk di ruang kerjanya mendongak sekilas, memperhatikannya.

“Mas, aku pergi bentar ke rumah mama ya,” ucap Alya dari pintu, ragu apakah harus menunggu jawaban atau tidak.

Reihan menutup laptopnya, lalu berdiri. “Kan tadi saya bilang, saya juga mau ikut.”

Alya mengangguk cepat. “Iya, aku kira mas sibuk jadi biar aku duluan.”

" Kamu tunggu dulu, saya mau siap-siap dulu"

Alya hanya mengangguk. Beberapa saat kemudian Reihan menuruni tangga dan pakaiannya sudah berganti.

" Ayok, tidak ada yang ketinggalan lagi kan"

" Ngga ada mas, nanti mampir di toko kue dulu ya mas"

" Iya"

Perjalanan menuju rumah orang tua Alya terasa panjang meski jalanan cukup lengang. Deru mesin mobil menjadi satu-satunya suara yang mengisi kabin. Tadi mereka juga sempat membeli kue.Alya sesekali menatap keluar jendela, sementara Reihan berusaha fokus pada jalan meski sesekali melirik ke arah istrinya itu.

Alya turun lebih dulu, wajahnya terlihat lebih cerah saat melihat sosok mamanya, sudah berdiri di teras menyambut.

“Alya… Reihan…” panggil Bu dewi dengan senyum lebar.

“Assalamualaikum, Ma,” sapa Alya sambil memeluk mamanya erat. Ada kerinduan yang ia tahan sejak terakhir kali pulang.

“Waalaikumsalam. kok ngga ngabari mama mau datang ,” balas Bu dewi, kemudian menoleh ke arah menantunya. “Reihan, sini nak.”

“Assalamualaikum, Ma,” ucap Reihan sopan sambil menyalami dan mencium tangan mertuanya.

Alya dan Reihan masuk kedalam. Disana sudah ada Pratama yang baru saja turun dari atas. " Ya ampun akhirnya putri sama menantu papa datang juga. Gimana kabar kamu sayang sehat kan" ucap Pratama sambil memeluk putri semata wayangnya itu.

" Alhamdulillah sehat pah, papa juga sehat kan"

" Papa sehat kok"

" Assalamualaikum pah" ucap Reihan menyalaimi mertuanya itu

“Waalaikumsalam,” sahut Pratama sambil tersenyum hangat dan menjabat tangan Reihan. “Sehat, Nak?”

Mereka pun duduk bersama. Alya datang membawa teh hangat dan piring berisi kue yang tadi dibelinya di perjalanan.

“Wah, kalian bawa kue juga,” kata Bu Dewi sambil menaruh piring kue di meja.

“Iya, Ma. Sekalian tadi lewat toko kue, jadi kepikiran buat bawa,” jawab Alya.

"Oh iya, … Mama dengar sebentar lagi kamu wisuda ya?” tanya Bu Dewi sambil menatap putrinya dengan mata berbinar-binar.

“Iya, Ma… insya Allah dua minggu lagi,” jawab Alya pelan,

Syukurlah kalau begitu. Setelah wisuda, kalian makin fokus bangun rumah tangga ya,” sahut Bu Dewi dengan senyum penuh harap.

Alya langsung tersedak teh yang sedang diminumnya. Batuk kecil keluar darinya, membuat Reihan refleks menepuk pelan punggung istrinya.

“Pelan-pelan aja, jangan buru-buru minumnya,” ucap Reihan lembut,

“Papa senang melihat kalian rukun seperti ini. Rumah tangga itu harus saling melengkapi. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik. Jangan dipendam.”

Suasana ruang tamu terasa hangat. Alya duduk di samping mamanya sambil bercengkerama ringan, sementara Reihan ikut berbicara dengan ayah mertuanya mengenai pekerjaan. Tak lama kemudian, suara motor terdengar berhenti di depan rumah.

“Eh, itu kayaknya Devan,” ucap Bu Dewi sambil melirik ke arah jendela.

“Mamaaa, papa…” panggil Devan sambil menaruh sepatunya di rak. Tapi langkahnya terhenti begitu matanya menangkap sosok Alya dan Reihan duduk di ruang tamu.

“Eh, Kak Alya pulang? Wah, tumben. Biasanya jarang banget nongol kecuali kalau lagi kangen masakan mama,” godanya sambil menyeringai.

Alya bangkit lalu meraih adiknya dalam pelukan singkat. “Heh, jangan nyindir gitu dong. Kakak memang kangen mama, makanya pulang.”

Devan terkekeh, lalu menoleh ke arah Reihan. “Oh iya, Mas Reihan juga datang. Apa kabar, Mas?” tanyanya sopan sambil menjabat tangan kakak iparnya itu.

“Baik, Devan. Kamu gimana kuliahnya?” jawab Reihan tenang.

“Alhamdulillah lancar mas.” gumam Devan sambil menjatuhkan diri ke sofa.

.

.

.

.

Saat ini Alya dan mamanya sedang menyiapkan makan malam di dapur. Sementara Reihan masih berbincang dengan Pratama mengenai dunia bisnis.

Setelah meja makan tertata rapi, Alya memanggil semua untuk duduk. “Van, cepetan turun. Makan malam udah siap!”

“ bentar kak” sahut Devan dari lantai atas, lalu berlari turun dengan kaus santai.

Di meja makan, suasana kembali hangat. Pratama banyak bercerita tentang masa kecil Alya, membuat Alya malu sendiri sementara Reihan sesekali tersenyum mendengar cerita-cerita itu.

“Dulu Alya kalau takut petir, selalu lari ke kamar Papa, sampai kuliah pun masih begitu. Nangisnya kenceng banget,” ujar Pratama sambil tertawa.

“Papa…” protes Alya dengan wajah memerah.

Reihan menahan senyum. “Oh gitu, ya? Jadi ternyata Alya takut sama petir”

Devan menyendok ayam goreng ke piringnya, lalu melirik Alya dengan tatapan usil. “Kak, biasanya Kakak makan suka buru-buru. Sekarang kok kalem banget? Jangan-jangan biar kelihatan anggun di depan Mas Reihan ya?”

“Van!” Alya menegurnya sambil menyikut pelan. Pipinya memerah, sementara Reihan yang mendengar itu hanya tersenyum tipis.

Pratama ikut tertawa kecil. “Kamu ini, Van, jangan suka godain kakakmu terus. Biar mereka makan tenang.”

Setelah makan malam Alya dan Reihan berencana untuk pulang. Namun rencana untuk pulang malam itu tiba-tiba buyar. Dari luar terdengar suara angin kencang diikuti hujan deras yang jatuh menghantam atap dan jendela.

“Ya Allah, deras sekali!” seru Bu Dewi sambil menutup pintu depan rapat-rapat.

Pratama menoleh ke arah Reihan dan Alya. “Kayaknya malam ini nggak mungkin pulang, hujannya deras sekali. Tidur sini aja, besok pagi kalau sudah reda baru pulang.”

Alya hendak membuka suara, tapi Reihan lebih dulu menimpali sopan. “ia , Pa. Takutnya di jalan juga nanti tidak aman .”

" Tapi mas kan ngga bawa baju ganti"

" Tenang kak, baju aku muat kok sama mas Reihan" ucap Devan dari belakang.

Malam itu, setelah semua anggota keluarga masuk ke kamar masing-masing, Alya dan Reihan masuk ke kamar Alya. Suasana canggung meskipun sebelumnya Reihan pernah tidur disisni. Alya meletakkan bantal tambahan di sisi sofa kecil yang ada di kamar.

“Kamu tidur di sini aja. Sofanya lumayan lebar,” ucap Alya sambil menghindari tatapan.

Reihan menatap sebentar, lalu hanya mengangguk. “Baik.”

Ia melepas kemeja, menggantinya dengan kaus dan celana pendek yang dipinjamkan Devan, kemudian berbaring di sofa. Sementara itu, Alya berbaring di ranjang, memunggungi Reihan.

........

Hujan di luar semakin deras, angin kencang membuat jendela bergetar. Alya sempat melirik ke arah sofa. Reihan terlihat terlelap dengan posisi miring, tubuhnya tampak kurang nyaman di sofa yang sempit.

Alya menarik selimutnya lebih erat, hatinya sedikit terasa bersalah. Harusnya aku biarin dia tidur di kasur aja… pikirnya.

Namun sebelum ia bisa terlalu lama larut, cahaya kilat tiba-tiba menyambar terang, disusul suara petir menggelegar.

DUARR.....

Alya langsung menutup telinganya, tubuhnya bergetar hebat. Ia mencoba menenangkan diri, tapi rasa takut membuat matanya berkaca-kaca.

Reihan yang tadinya berbaring di sofa segera bangkit. “Alya?” panggilnya lembut.

Alya hanya menggigil, menyembunyikan wajah di balik selimut. Satu kilat lagi menyambar, suara petir kembali terdengar. Melihat Alya yang ketakutan Reihan langsung mendekatinya.

“Aku… aku takut,” bisiknya lirih.

Reihan menarik napas dalam, lalu dengan ragu menarik Alya ke dalam pelukannya. “Tenang. Aku di sini,” ucapnya pelan,

Petir kembali menyambar, Reihan semakin mengeratkan pelukannya , tangannya yang kokoh menahan tubuhnya tetap aman.

“Kalau kamu takut… pejamkan mata. Anggap saja suara itu cuma guntur biasa. Selama aku ada di sini, nggak akan ada apa-apa yang bisa nyakitin kamu,” bisik Reihan.

Alya menutup mata perlahan, tubuhnya akhirnya sedikit rileks dalam pelukan Reihan.

Keduanya sama-sama terlelap.

1
Nurhikma Arzam
semangat thor next nya. 😁
Nurhikma Arzam
saran aja ini, please thor aku agak bingung povnya yg awalnya sudut pandang orang ketiga jadi sudut pandang orang pertama. kalau bisa kasih peringatan untuk peralihan pov ha
Erwinda: ihh makasih banget kak sarannya 🥰
total 1 replies
Nurhikma Arzam
awas jatuh cinta Al
Nurhikma Arzam
bagus semangat thor semoga kamu bisa menyelesaikan tulisan ini dan jadi penulis yang keren kelak. jangan menyerah
Nurhikma Arzam
Farel calon calon sad boy haha
Nurhikma Arzam
roman-romannya Reihan ini naksir duluan keknya sama Alya hmm
Nurhikma Arzam
semangat, saran aja ya kak ujung percakapannya jangan lupa pakai tanda titik biar lebih enak di baca☺
Nurhikma Arzam
Halo thor semangat upnya ya. jangan lupa mampir di cerita aku juga 😁
Pandaherooes
Ceritanya seru banget, semangat terus thor!
Gấu bông
Gila seru abis!
Arisu75
Alur ceritanya keren banget!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!