“Menikahlah denganku, Jia.”
“Berhentilah memikirkan masa lalu!! Kita tidak hidup di sana!!”
“Jadi kamu menolakku?”
“Apa yang kamu harapkan?? Aku sudah menikah!!!!”
Liel terdiam, sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Sorot matanya yang tajam itu kembali lagi. “Aku tahu kamu sudah bercerai. Pernikahan macam apa yang sehari setelah menikah sudah tidak tinggal satu atap?”
Sebelas tahun lebih, mereka memutuskan untuk menyerah dan melupakan satu sama lain. Namun, secara ajaib, mereka dipertemukan lagi melalui peristiwa tidak terduga.
Akan kah mereka merajut kembali tali cinta yang sudah kusut tak berbentuk, meski harus melawan Ravindra dan anaknya Kay, wanita yang penuh kekuasaan dan obsesi kepada Liel, atau justru memilih untuk menyerah akibat rasa trauma yang tidak pernah sirna.
Notes : Kalau bingung sama alurnya, bisa baca dari Season 1 dulu ya, Judulnya Beauty in the Struggle
Happy Reading ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Avalee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benda Asing di Kamar Mandi
Liel membuka lebar pintu rumahnya. Ada semacam kobaran api di pupil matanya, yang bersiap menghanguskan bagi siapa saja yang melihatnya.
Liel berbicara kepada dirinya sendiri. “Haaa … memangnya apa yang harus aku lakukan? Datang ke sana untuk melabraknya dan membanting meja? Atau memukul wajah Den, sama seperti yang aku lakukan dulu?” Sial, itu terlalu kekanak-kanakan!!”
Penjaga rumah dan tukang kebun yang melihat tingkah anehnya pun segera diam mematung, tanpa suara. Bahkan ART yang baru saja tiba, dibuat gemetar olehnya.
Melihat orang asing ada di rumahnya, perhatian Liel segera teralihkan. Sikap tenangnya seketika kembali dalam sekejap. “Siapa dia? Mengapa berada di rumahku?”
Sambil memegang erat kain lap di tangannya, Pak Ujang, ART lama dari rumah orang tuanya, yang diambil Liel untuk bekerja di rumahnya itu, kini angkat bicara. “Di–dia ART baru kiriman nyonya, tuan.”
Tatapan maut Liel kini beralih kepada ART tersebut. “Siapa namamu?”
“I–Iyah tuan. Panggil saja saya bi Iyah.” jawab wanita berusia 47 tahun itu.”
Setelah mendengar namanya, Liel segera melengos pergi. Namun langkahnya terhenti dan berbalik, seperti lupa untuk mengatakan sesuatu.
“Ah, jangan berkeliaran di rumahku kecuali di jam kerja kalian, mengerti? Aku sudah menempatkan kalian di rumah halaman belakang, walaupun tidak sebesar rumahku, tetapi fasilitas di sana cukup lengkap, sekarang pergilah, kerjakan tugas kalian dengan benar.”
Sambil menunduk, mereka semua pergi terbirit-birit dari hadapan Liel. Kali ini, Liel melangkah dengan mantap menuju anak tangga. Namun matanya melirik pintu kamar di ujung lorong, di dekat tangga, tempat di mana Jia pernah tidur di sana.
Langkahnya berubah mundur dan dalam sekejap dia sudah berdiri di depan pintu kamar tersebut. Tanpa basa basi, dia segera membuka pintu tersebut. Tercium aroma vanili yang memenuhi seluruh ruang kamar.
Aroma tersebut tampaknya sedikit menenangkan hati Liel. Dia segera masuk dan duduk di tepi ranjang. Meski sepreinya sudah diganti dengan yang baru, namun jejak dan aroma khas Jia masih tertinggal di kamar tersebut, membuat Liel … merindukannya.
“Apa dia menghabiskan 2 botol parfum untuk ruang kamar ini? Hm, tetapi … bau ini … bau yang sama, tidak pernah berubah.”
Kemudian matanya beralih pada walk in closet yang tidak begitu luas, hanya sebatas ruang ganti yang terhubung menuju kamar mandi. Pintu kamar mandi tersebut terbuka. Dia berdiri, dengan tujuan ingin menutupnya.
Namun, alih-alih menutupnya, Liel malah melihat sesuatu yang lain. Mata tajam yang pada awalnya berukuran normal itu, kini kian melebar, nyaris meloncat keluar dari rongganya.
“Heh, benda apa itu?” Liel berbalik menggaruk kepalanya dan menutup pintu kamar mandi.
Penasaran tingkat tinggi, Liel mencoba membuka pintu kamar mandi itu kembali. Dia memunculkan sedikit kepalanya dari balik pintu, lalu mengintip.
Dia berusaha mengidentifikasi benda yang tergelak diantara jalan menuju walk in closetnya. Liel membanting pintu kamar mandi itu, lagi.
Liel memijat pelan pangkal hidungnya. “Ya benar!! Tetapi … me–mengapa benda asing itu ada di sana!!”
...****************...
Matahari sudah tenggelam, belum terlalu malam untuk Jia pulang ke apartemennya. Dia masuk ke dalam mobil yang terparkir di halaman kliniknya, kemudian membuka ponselnya.
Ada 30 panggilan telepon masuk dan 10 pesan dari Liel menghiasi layar ponselnya. Jia bergidik. Rasa cemas menghampirinya. “Hah, ada apa ini? Apa Liel ingin menagih kemeja putih itu??”
Sambil menelpon Liel, dia membuka pesan dari Liel. Ada kata-kata aneh di sana, seperti “benda asing”. Jia benar-benar tidak memahami maksud Liel.
Jia segera menelpon balik Liel, yang berujung tidak dia angkat. Kemudian Jia menelpon kembali, untuk kedua kalinya dan Liel, mengangkatnya.
“Ya, Jia.”
“Jelaskan padaku, 'benda asing' apa yang kamu maksud??”
“Datanglah ke rumahku supaya kamu mengetahuinya.”
“A–apa maksudmu??
*“Benda berbahan sutra … dengan renda putih itu milikmu bukan? Ambillah sebelum aku membakar benda keramat itu.*”
Liel mematikan teleponnya sebelum Jia sempat bertanya. Mulut Jia sedikit terbuka, dahinya berkerut, berusaha keras untuk mengerti perkataan Liel. Samar-samar ingatannya muncul.
Seketika Jia menyalakan mesin mobil dan menancap gas dengan cepat. “Ya ampun!! A–astagaaaa … mengapa aku bodoh sekali meninggalkannya di sana. Sial!! Sial!! Haaah!! Niat ingin menghindar sementara, sekarang malah harus bertemu dengannya.”
...****************...
Di sisi lain, di malam yang sama. Den memasuki rumah sederhananya itu, dengan hati yang gembira. Dia seperti burung yang bebas dari sangkarnya.
Saat pintu rumahnya tertutup, seketika senyumnya sirna. Seorang wanita cantik ada diantara cahaya remang. Dia duduk di ruang tamu dengan posisi terbaiknya.
“Mengapa kamu keluar tanpa sepengetahuanku?” tanyanya tenang.
“Aku hanya keluar sebentar.”
“Ada sopir yang bisa menemani mu ke mana pun yang kamu inginkan.”
Den mendengus kasar. “Aku hanya menemui temanku. Apa aku tidak boleh merasa bebas?”
“Diam!! Bebasmu itu adalah bencana bagiku!”
DORRR!!
“AAAAAAKKKHH!!!” Teriak Den merintih kesakitan.
Seketika Den terjatuh. Timah panas itu segera menembus kulit Den. Kini, peluru tersebut tengah bersarang di paha kanannya. Darah segar pun mengalir, memberi noda merah pada celana kremnya.
“Dokter, segera beri tindakan dan obati kakinya, paling tidak … dia butuh waktu yang panjang untuk bisa bebas kembali.”ucapnya menyeringai seraya memasukkan pistol ke dalam tasnya.
Tubuh Den bergetar hebat, dia menggertakkan giginya, menahan rasa sakit. “Ingat saja!! Aku akan membunuhmu jalang sialan!”
Kay tersenyum sinis, meremehkan perkataan Den. Dia pun segera keluar dari rumah tersebut sambil merapikan masker dan topi hitamnya.
Matanya melihat ke segala arah. Setelah memastikan bahwa dirinya cukup aman, Kay pun segera melaju dengan mobil sedan hitam miliknya.