Arini dituduh melakukan penganiyaan terhadap atasannya. Dipecat secara tidak hormat hingga nyaris membuatnya dipenjara.
Seolah takdir buruk itu belum cukup untuknya. Ia harus menikahi lelaki yang terang-terangan mencintai wanita lain tapi mengambil keuntungan darinya.
Akankah takdir baik menghampiri kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laylatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesakitan
Bagian ke sembilan belas.
Dokter Bayu mengambil tempat di sisiku, aku memandang sekilas lalu melanjudkan menyuapi stik keju kemulut. Setelah ia duduk dengan sempurna, tangan jenjangnya di angkat ke atas. Ia menjentikkan jemari, selang beberapa detik, seorang pramusaji menghampiri meja kami.
"Saya pesan satu cangkir kopi original."
Sama seperti pria lainnya, Dokter Bayu lebih memilih kopi di bandingkan minuman yang lain. Kembali aku memalingkan wajah agar lebih jelas memandang wajah oriental miliknya. Mungkin memang benar jika aku telah jatuh cinta padanya. Cinta yang bertepuk sebelah tangan.
"Ehmm."
Deheman Ruka membuatku kelabakan. Aku segera mengalihkan pandangan dengan mengambil ponsel lalu membuka layar, berharap wanita itu tidak berpikir macam-macam tentang diriku. Apalagi jika sampai ia mengetahui aku menyukai Dokter Bayu. Bisa gawat ceritanya.
"Dokter Bayu kok bisa ada disini? Apa ada janji dengan Ruka, juga?" tanyaku memecahkan keheningan.
Sang Dokter tersenyum, "Enggak juga, tadi kebetulan saat pulang dari rumah sakit, saya lewat sini. Saya singgah dan kebetulan melihat kamu, kenapa? Apakah saya mengganggu?"
"Oh. Tidak ... tidak sama sekali."
Ruka bangkit sambil merapikan pakaiannya. Ia menyambar tas kecil, "Rini. saya pamit dulu." ucapnya dengan ekpresi datar. "Sampai jumpa di lain waktu."
Kini tinggallah aku dan Dokter Bayu. Lelaki itu nampak menikmati kopi yang ia pesan. Tak memerlukan waktu lama, kini kopi di gelasnya sudah tersisa separuh.
"Apa kau--" ucap kami secara bersamaan.
Aku terkekeh begitu juga dengan Dokter Bayu. Ia terlihat sangat manis ketika sedang tertawa, andai saja waktu bisa berhenti sejenak. Aku ingin lebih lama melihat tawa dan juga wajahnya. Oh Tuhan, bolehkah aku meminta hatinya?
"Kamu ngomong duluan aja." ucapnya lembut, sedangkan tawanya telah berganti senyum.
"Dokter aja duluan,"
"Saya malah lupa tadi mau berkata apa."
Seketika percakapan diantara kami semakin hangat. Banyak hal yang Dokter Bayu ceritakan. Mengenai rumah sakit, mengenai pasien dan mengenai pendidikannya. Namun, entah apa sebabnya ia tidak pernah mengungkit tentang perihal statusnya saat ini juga tentang keluarga. Padahal kedua hal tersebutlah yang paling ingin aku ketahui darinya.
***
Sudah seharian aku tidak bertemu dengan Riski. Bahkan hingga jam telah menemui angka 11 malam, lelaki itu belum juga tiba di rumah. Kata Oma saat kami makan malam tadi, hari ini ia di tugaskan oleh Oma untuk meninjau lokasi baru untuk pembangunan resort.
Mata ini baru saja hendak terpejam ketika sebuah ketukan dari daun pintu menggema kemudian ketukan itu berulang-ulang.
"Buka saja, pintu tidak terkunci."
Aku menatap daun pintu yang akhirnya terbuka. Riski muncul dengan menenteng tas kerja. Lelaki itu terlihat sangat lelah. Aku memindai tubuhnya sebelum akhirnya ia menghilang di balik pintu kamar mandi.
Suara guyuran air samar-samar terdengar. Aku meringsut turun dari ranjang, lalu menuju sofa dengan memopong bantal dan guling. Meski nanti aku tidak bisa tidur nyaman, setidaknya inilah salah satu cara agar aku bisa aman. Sungguh aku belum siap untuk bisa seranjang dengannya.
"Ngapain tidur di situ?" aku merasakan tangan Riski yang dingin mengoyangkan lenganku.
"Cih, Apaan sih, ganggu aja." sambil menepis tangannya, aku kembali menarik selimut.
"Tidur di ranjang sana, biar aku yang tidur di sini."
Aku terhenyak. Kalimatnya barusan berhasil membuatku membuka mata bahkan dengan ukuran yang lebih lebar. Masih dalam selimut yang menutupi hingga kepala, aku menunggu kalimat selanjudnya ataupun tindakan darinya.
"Dasar perempuan keras kepala." ucapnya lagi. Kali ini sambil menarik paksa selimutku.
Aku bangkit dan mendapati Riski menatapku. Secepat kilat aku mengalihkan pandangan ke arah jendela. Dasar lelaki tengil.
"Kenapa kamu membuang muka, kamu lupa aku ini suamimu, lelaki yang telah halal buatmu. Ayolah Rini, kamu jangan pura-pura naif."
Apa? Riski mengatakan aku naif. Tapi percuma berdebat dengannya. Apalagi tengah malam begini. Sayangnya semua yang ia katakan memang benar. Meski pernikahan kami atas dasar perjanjian, tapi hukumnya sah secara agama dan negara.
"Sudahlah, daripada berdebat gak jelas, mending cepat kamu ganti baju."
"Haha. Kenapa? kamu takut terlihat sesuatu."
Kali ini ia tertawa lepas. Lalu terdengar lemari terbuka. Sementara aku masih enggan untuk melihat apa yang sedang ia lakukan.
"Sudah siap, kamu sudah bebas melihat. Sekarang cepat pindah sana, atau perlu aku gendong"
Riski kembali menghampiriku. Kini ia memakai baju kaos berwarna gelap dengan celana selutut. Sejenak pandangan kami saling beradu meski kemudian kami saling menghindar.
"Ruka tadi menemui ku." ucapku sambil melangakah menuju ranjang.
Riski bergeming, ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. "Terus?" kemudian kembali ia bergeming.
"Ku pikir ia menemuiku karenamu, Riski."
"Lalu apa yang kalian bicarakan?"
"Dia memintaku untuk berjaga jarak denganmu."
Aku menyibak selimut, lalu menutupi seluruh badan, hanya bagian kepala saja yang tersisa. Suasa kembali hening. Beberapa saat aku menunggu tanggapan dari lelaki itu. Namun, semuanya sia-sia. Ia tidak lagi bersuara hingga aku jatuh tidur.
Aku terbangun di tengan keheningan malam sambil meremas bagian perut. Rasanya sakit sekali. Dengan susah payah aku meringsut turun untuk membangunkan Riski. Meminta ia untuk mengambilkan obat untukku. Rasanya tak mengapa, jika sesekali merepotkan dirinya.
Tanpa sengaja punggung tanganku menyenggol gelas kosong yang semalam ku letakkan di atas meja dekat dengan kepala ranjang.
Suara pecahan dari gelas yang jatuh menggema seisi kamar, hingga membuat Riski tersentak dari tidur lelapnya. Ia langsung bangkit lalu mencari sumber suara.
"Rini! Kau kenapa? Apakah terjadi sesuatu, dan tadi, suara apa tadi?"
Aku meringis kesakitan, hingga menjawab salah satu pertanyaannya saja rasanya sudah tidak sanggub.
"Kau sakit?"
"Aku sakit perut ... to-tolong ambilkan ..." aku meringis. Rasanya seisi perut sedang di peras.
Riski terlihat kaget, setelah membaringkanku kembali ke atas ranjang. Ia keluar kamar dengan sangat terburu-buru. Sementara aku marih meringis kesakitan sambil memanggil nama Allah.
Suara pintu terbanting terdengar sangat jelas, selang beberapa detik ia telah berada di sampingku lalu membantuku untuk bangkit duduk dan menggunakan bantal sebagai pengangga kepala.
Lelaki itu memberiku obat dengan sabar. Tak ada suara decih ataupun keengganan yang biasanya sering aku dapatkan darinya. Saat ini ia begitu beda. Sikapnya yang lembut seperti obat dalam bentuk lain untuk penyakitku saat ini.
"Sekarang tidurlah, biar obatnya bisa bekerja dengan baik." Ucapnya sambil menimpakan selimut ke atas tubuhku.
***
Aku membuka mata mendapati pantulan cahaya matahari memenuhi seisi ruangan. Ternyata pagi ini aku bangun kesiangan. Mungkin, di sebabkan oleh pengaruh obat yang di berikan Riski semalam.
Aku meringsut ke tepi ranjang sambil memindai seisi ruangan lalu mengenang kembali kejadian semalam, kejadian yang membuatku melihat Riski pada sisi yang berbeda. Ya, semalam sikapnya begitu manis. Ia seperti Riski yang lain. Mungkin, memang benar apa yang Oma katakan tentangnya. Jika sebenarnya ia adalah lelaki yang baik dan hangat, hanya saja karena sering di manjakan, sikapnya jadi sedikit berubah.
Setelah selesai mandi pagi dan melakukan qada sholat subuh yang terluput karena kesiangan, aku melangkah keluar kamar untuk mencari sesuatu yang bisa di makan.
"Rini, apakah kamu telah sembuh?"
Suara Oma Dwi membuatku menoleh. "Alhamdulillah sudah Oma, hanya sakit perut biasa."
"Syukurlah jika sudah sembuh, mari! Oma temenin kamu untuk sarapan."
Aku mengangguk lalu mengikutinya menuju meja makan.
"Apakah sakit seperti itu sering kambuh?"
"Enggak juga Oma, kadang-kadang aja, mungkin karena semalam aku salah makan." aku menarik salah satu kursi lalu duduk bedekatan dengan Oma Dwi.
"Sakit perut itu jangan di anggap sepele. Sebaiknya langsung periksa ke dokter, sekalian konsultasi tentang program kehamilan."
Mendengar ucapan Oma, spontan membuatku tersedak hingga menyebabkan batuk yang menjadi-jadi. Sambil meneguk air putih, bayangan tentang kehamilan membuat kerongkonganku sedikit kesulitan untuk menelan.
gmn kbr keluargga galuh
Maaf ya author, aku jadi ikutan kesel sama Riski 🙏