Darimu aku belajar mencintai dengan ikhlas, meski tak terbalas.
(Nama yang selalu menjadi perbincangan disepertiga malamku)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Indara berjalan santai menjauhi Rai yang masih setia menatap punggung gadis yang baru saja ia ketahui bahwa begitu menyukai jajan pasar.
Terdengar helaan nafas panjang dari Rai, entah hal apa yang menyebabkan itu terjadi. Setelah merasa Indara semakin mengecil dari pandangannya ia segera kembali kerumah dengan berlari kecil.
Tak lama berlari ia kini sampai didepan sebuah rumah klasik dengan pagar yang terbuat dari terali besi dan dibawahnya dibangun tembok setinggi satu meter. Pandangannya mengarah pada wanita paruh baya yang sedang memberi makan kucing kesayangannya.
“Assalamualaikum umma.” Salam Rai pada sang ibu.
“Waalaikumussalam.” Jawab wanita yang masih sibuk itu. “Dari mana ? Tumben jam segini baru balik ?” Tanyanya kembali.
“Iya umma, dari rumah Disa. Temenin Indara beli kue.” Jawab Rai singkat dan membuka sepatu olehraganya.
“Indara ? Keponakannya Bu Haya ?” Tanya wanita yang diketahui bernama Hafsah itu.
“Iya umma.” Jawab Rai kembali dengan singkat. “Kenapa umma ?” Tanyanya kembali.
“Tidak apa-apa le.” Jawab seorang laki-laki dengan nada serak dari dalam rumahnya.
“Eh abi.” panggil Rai terkejut. Sementara Hafsah hanya menatap Rai dengan senyum.
“Umma, apa kita akan segera punya anak perempuan ?” Tanya laki-laki paruh baya itu pada sang istri.
“Semoga saja begitu bi.” Jawab Hafsah dan beranjak menuju kedua laki-laki yang tengah duduk dikursi depan rumah itu.
Sementara Rai hanya tersenyum sekilas dan meng”aamiin”kan dalam hati.
“Ayo masuk.” Ajak Hafsah kembali, dan diangguki oleh keduanya.
***
Indara baru saja menapaki paving block depan rumah bude’ Aya. Beruntung gerbang itu tidak dikunci. Dengan segera Indara mengedarkan pandangannya pada tanaman Bude’ Aya. Sepertinya tanaman itu sudah tersiram, terbukti dengan beberapa bulir air yang terjatuh dari daun juga tanah yang kini terlihat basah.
“Assalamualaikum.” Ucap Indara dan mengedarkan pandangannya kesekitar ruangan.
Ia tak mendapati siapapun disepanjang penglihatannya. Dengan segera ia melangkahkan kakinya menuju dapur. Namun ternyata juga tak didapati siapapun disana. Pendengarannya kini menangkap suara air yang berasal dari kamar mandi.
Diletakkannya kantong plastik berisi jajan yang beli kemudian melangkah menuju kamarnya dilantai dua untuk bersiap-siap ketoko.
Sesampainya dikamar, ia sempat memeriksa ponselnya. Benar saja dilayar ponsel itu tertera nama Deru yang sebelumnya sudah disimpan. Laki-laki itu membalas pesan Indara mungkin saat ia lari tadi.
Oh syukurlah In. kamu apa kabar ? Kamu masih di Yogya kan ?
Tanya laki-laki itu pada Indara melalui pesan singkatnya.
Ingin sekali rasanya Indara membalas pesan dari kakak kelasnya itu. Namun ia berusaha menahan diri dan segera melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur. Bisa dipastikan barang pipih itu terpental kesembarang arah.
Iapun segera membuka lemari dan memilih baju yang akan digunakan, meskipun saat ditoko ia akan menggantinya dengan seragam toko. Setelah mendapatkan baju iapun segera membawa diri masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara ketiga perempuan dalam rumah itu sedang berada didapur dan tatapan mereka serempak pada meja yang terdapat kantong plastik dengan aneka jajan pasar yang beraneka itu.
“Ini Bu Titi yang beli ?” Tanya bude’Aya yang masih memperhatikan plastik tersebut.
“Bukan bu. Saya tidak keluar rumah pagi ini. Begitupun Naura yang dari tadi bersama saya.” Jawab Bu Titi yang juga terheran sama seperti Bude’ Aya.
“Lalu siapa yang membeli jajan sebanyak ini ?” Tanya Bude’ Aya kemudian dan duduk disalah satu kursi meja makan.
“Mungkin mbak cantik bu.” Ucap Naura yang sedang meletakkan piring berisi lauk pauk di atas meja makan.
“Mungkin saja anak itu. Lalu kenapa ini banyak sekali. Memangnya dia akan menghabiskan semuanya.” Tanya Bude’ Aya pada diri sendiri.
Naura dan Bu Titi hanya berseliweran dari dapur menuju meja makan. Sementara Bude’ Aya sedang memeriksa ponselnya dan membalas beberapa pesan.
Indara yang baru saja menyelesaikan mandinya, kini beranjak dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar tentu dengan baju yang baru saja diambilnya dari dalam lemari. Ia mengingat bahwa belum membalas pesan dari Deru, dengan segera ia mencari ponsel yang berada di atas selimut. Kemudian membuka pesan dan membalasnya. Saat akan membalas ia melihat status Deru yang tengah online. Tak ingin menghilangkan kesempatan ia segera membalas pesan tersebut.
“Alhamdulillah baik kak. Aku di Surabaya kak, ditempat bude’. Kakak sendiri apa kabar ?” Tanyanya pada laki-laki tersebut melalui pesan singkatnya.
Cukup lama ia menunggu balasannya, ia mengisi waktu dengan bersiap-siap, mulai dari memakai lotion, cream wajah sampai dengan mengenakan jibab yang telah lebih dulu dipersiapkan.
Setelah itu ia mendengar suara ponsel yang berdering dan dengan segera diraihnya ponsel tempat semula diletakkan.
Oooh, ku kira di Yogya In. Sama, Alhamdulillah sehat juga. Gimana kuliah In ?
“Kuliah, Alhamdulillah lancar kak, udah selesai juga kok. Ini aku lagi kerja ditempatnya bude’.”
Syukurlah kalau kamu sudah kerja. Aku juga beberapa hari yang lalu keterima di salah satu perusahaan swasta disini. Mungkin akan menetap lagi In disini.
“Syukurlah kak, kalau kakak sekarang kerja di Yogya bisa sering ngumpul sama teman-teman dong.”
Hehe iya In. Kamu kapan ke Yogya ?
“Belum tau kak.” Balas Indara yang kini tak sadar sudah membuat tempat tidurnya yang semula rapi kembali berantakan bahkan jilbabnya pun kini kembali kusut.
Nyatanya Indara tak menyadari bahwa waktu semakin berjalan. Bude’ Aya, Bu Titi dan Naurapun sudah menunggunya di meja makan dari tadi. Namun Indara masih asyik berbalas pesan dengan Deru.
“Daraaa.” Panggil bude’ Aya dari bawah tangga. “Kamu belum selesai ?” Tanyanya kembali dengan sedikit berteriak.
Sontak Indara terkejut bukan kepalang dibuatnya, iapun menyadari kesalahan yang dibuat. Dilihat pantulan dirinya dikaca sudah tak serapi tadi dan juga tempat tidurnya berantakan kembali.
“Ia bude’. Ini lagi jilbaban.” Jawabnya yang sibuk memperbaiki jilbab.
Apa ia berbohong ? semoga saja tidak, toh dia memang sedang merapikan jilbabnya.
Setelah merapikan jilbab, tempat tidurnya kini mendapat giliran untuk dirapikan. Gadis cantik itu mengulang kegiatannya dua kali hari ini, bahkan diwaktu yang sepagi ini.
Saat dirasa sudah rapi, buru-buru ia melangkah meninggalkan kamar. Namun saat akan membuka pintu kamar, ponselnya kembali berdering menandakan sebuah pesan dikirim untuknya.
Diliriknya layar ponsel yang masih menyala itu, dan ternyata Deru membalas pesan singkatnya kembali.
Kalau ke Yogya kabar-kabarin ya In. Isi pesan laki-laki tersebut.
Indara merasa bingung dibuatnya, mau membalas nanti akan membuat bude’ semakin lama menunggu untuk sarapan nggak dibalas pun, ya gimana.
“Aaaaargh.” Ucap gadis itu pelan karena bingung dan lebih memilih meninggalkan kamarnya, dan pesan Deru yang belum terbalaskan.
Dilihatnya kursi meja makan kini di isi oleh tiga orang yang telah ia buat menunggu. Dengan segera ia mendaratkan tubuh disalah satu kursi yang berada disamping bude’ Aya.
“Kamu kenapa, kok lama ?” Tanya Bude’ Aya sambil menyendok nasi.
“Iya bude’, tadi teman SMA Ara mengirim pesan.” Jawabnya setengah jujur, karena selain teman SMA, ia juga begitu mengangumi Deru.
“Ohh.” Ujar bude’. “Ya sudah. Ayo sarapan.” Ucapnya kembali.
“Iya bude.” Jawab Indara dan mulai memindahkan nasi ke dalam piringnya. Hal serupa juga dilakukan oleh Bu Titi dan Naura.
Namun ditengah kunyahannya, ia teringat sesuatu dan mengedarkan pandangan.
“Kamu cari apa ?” Tanya bude’ Aya yang menyadari pandangan Indara sedang mengedar sembarang arah.
“Itu bude’. Eh plastik yang berisi jajan itu tadi dimana ya. Tadi Ara taro disini.” Ucapnya sambil mengedarkan pandangan keseluruh bagian meja makan.
“Didapur mbak cantik.” Jawab Naura. “Saya yang memindahkannya.” Ucapnya kembali.
“Kamu beli jajan sebanyak itu, siapa yang mau ngabisin Ra ?” Tanya bude’ Aya disela kunyahannya.
“Tadi Ara sepertinya kalap bude’. Malah tadi juga nggak bawa uang kan.” Jawabnya dengan rasa bersalah karena tak tahu aturan dengan membeli banyak jajan.
“Terus kamu bayar itu pake apa ?” Tanya bude’ menghentikan makannya dan menatap Indara.
“Rai yang bayarin bude’. Ara ketemu dia pas jogging, tadi juga lupa nawarin ke Rai lagi buat ngambil jajannya.” Jawab Indara yang kini diliputi rasa bersalah.
Kembali,,,
Naura yang mendengar nama “Rai” disebut oleh Indara, sontak membuat dirinya tersentak. Padahal sebelumnya ia hanya menyimak percakapan antara keduanya. Ada rasa yang tak bisa dijelaskan oleh Naura, bahkan oleh dirinya sendiri pada dirinya sendiri pula. Tetapi yang jelas dia begitu membenci Indara menyebut nama Rai, apalagi didepannya.
“Tadi mbak Ara, di ajak ketempat jual jajan dikompleks ini ?” Tanya Bu Titi tiba-tiba.
“Iya bu.” Jawab Indara dan mengangguk.
“Maaf mbak, ibu lupa ngasih tau mbak Ara. Kalau mbak Ara lagi pengin jajan pasar bisa kesana.” Tutur Bu Titi karena lupa memberi tahu Indara.
“Nggak apa-apa bu. Kan ini sudah tahu.” Jawabya kini.
“Lanjutkan makanmu Ra. Nanti kembalikan uang Rai atau kalau dia nggak mau. Paling tidak ucapkan terima kasih.” Nasihat Bude’.
“Iya bude’.” Jawab Indara dan kembali menyendok nasi kedalam mulutnya.
Naura hanya menunduk tanpa ingin menyahuti percakapan yang terjadi antara ketiga orang yang bersamanya itu. Namun yang kini ada dalam pikirannya, jika Indara diminta untuk mengembalikan uang Rai maka itu artinya mereka akan kembali bertemu. Naura yang masih membayangkan saja hal itu, sudah membuat dadanya terasa sesak.