"Tanggal 1 April pukul 11.11 aku sepertinya telah jatuh cinta!"
Gema menyadari perasaannya dan pada hari itu juga pemuda yang masih duduk di bangku sekolah itu akan melamar sang pujaan hati.
"Aku akan menikahi Chila sekarang juga!"
Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pillow Talk
Chila membuat minuman panas dan membawa minuman itu ke kamarnya. Di dalam sana Gema sudah menunggu, pemuda itu tengah melihat tampilannya di cermin karena memakai baju Armon.
Sepertinya Gema harus meninggalkan beberapa lembar baju ke tempat mertuanya setelah ini.
"Pffttt!" Chila menahan tawanya ketika melihat Gema memakai baju sang daddy.
"Jangan menertawakan aku," protes Gema di sana.
"Kau kelihatan seperti bapak-bapak," komentar Chila.
Gema masih ingin protes tapi bersin jadi melandanya.
"Hachim!"
"Nah kan," Chila mendekat dan memberikan minuman panas yang telah dibuatnya.
"Minumlah ini supaya tubuhmu jadi hangat!"
Gema menerima minuman itu dengan senang hati. "Sebenarnya ada yang bisa membuat tubuhku hangat selain ini!"
"Apa itu?" tanya Chila.
"Memelukmu, kau pernah mendengar metode skin to skin, bukan?" Gema berkata dengan penuh modus.
"Jangan modus, ya," balas Chila dengan wajah cemberut.
Gema justru semakin suka melihat wajah Chila yang seperti itu.
"Hachim!"
Pemuda itu kembali bersin-bersin.
"Kalau aku sakit, nanti istriku yang repot," ucap Gema lagi.
Benar juga pasti Chila akan kerepotan nantinya apalagi mereka akan ujian. Jadi, gadis itu akan mengalah hari ini.
"Baiklah, tidak ada guling malam ini," ucap Chila kemudian.
Mendengar itu, Gema kesenangan bukan main. Akhirnya dia bisa memeluk istrinya dalam keadaan sadar.
Pasangan suami istri berbaring di ranjang yang sama dan saling menghadap satu sama lain.
"Apa yang kau lakukan dengan Tony selama ini?" tanya Gema sebelum mereka memejamkan mata.
"Aku tidak pernah melakukan apapun, aku menerimanya karena terpaksa sampai dia mencoba menarik perhatian dengan berselingkuh," jawab Chila.
"Seharusnya dia membuktikan perasaanya seperti yang aku lakukan sekarang, bukannya berselingkuh," ucap Gema jadi bangga pada dirinya sendiri.
"Yang kau lakukan juga tidak benar, Gema," balas Chila.
Gema hanya bisa menghela nafasnya karena memang semua butuh proses termasuk mengambil hati istrinya itu.
"Apa salah satu alasan kau tidak mau dekat dengan laki-laki manapun karena riwayat penyakitmu itu?" tanya Gema menyimpulkan.
"Mungkin bisa jadi, karena aku tidak mau menurunkan penyakit pada keturunanku nanti. Dari awal aku tidak berniat menikah jadi aku tidak mau memberi harapan pada siapapun termasuk denganmu Gema," sahut Chila seraya mengulurkan tangannya di pipi pemuda itu.
"Saat kita berpisah nanti, aku harap kau bisa mendapatkan perempuan yang bisa membalas rasa cintamu!"
Tentu saja Gema tidak suka mendengarnya, dia tidak mau Chila mempunyai pikiran seperti itu.
"Kenapa kau seolah takut melangkah, sayang? Apa Daddy mertua mengajarimu begitu?" tanggap Gema.
"Apa penyakit itu membuatmu begitu trauma sampai kau tidak percaya pada dirimu sendiri?"
"A... aku," Chila tidak menyangka kalau Gema akan merespon yang membuatnya tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Jangan menakutkan apapun karena aku sekarang ada aku di sini," Gema mulai menarik Chila ke pelukannya.
"Lihatkan tubuhmu sangat pas untuk dipeluk, istriku!"
"Gema..." Chila ingin menjauhkan dirinya tapi pemuda itu semakin mengeratkan pelukan.
"Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkan istriku. Aku berjanji!" ucap Gema meyakinkan.
Chila tidak memberontak lagi dan menerima pelukan dari suaminya.
"Aku hanya akan menjadi beban untuk ke depannya jadi lupakan saja perasaanmu itu perlahan!" pinta Chila.
"Tidak mau!" tolak Gema. Dia lebih baik memejamkan matanya sebelum Chila mulai memberontak lagi.
cui cui cui