NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Anak Yatim Piatu / Kaya Raya / Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Renko

✏ Season 1: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Ainsley)

Ainsley terpaksa menjalani pernikahan wasiat, menikah dengan suami kakaknya sendiri. Dia yang tidak tau penyebab kematian kakaknya harus bekerja sama dengan sang suami untuk mengusut kematian. Bisakah mereka menemukan pelaku di balik rencana pembunuhan? Lalu, bagaimana akhir dari kisah pernikahan wasiat?


✏ Season 2: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Gavin)

Kisah cinta pertama Gavin harus kandas ketika dia melanjutkan pendidikan di luar negeri. Beberapa tahun setelah itu mereka bertemu lagi dan membuat harapan muncul untuk kembali bersama. Sayangnya pengganggu kecil muncul di tengah itu semua, wanita dengan segudang kecerobohan. Pada siapa hati Gavin akan berlabuh?

___

Semoga novel ini satu selera denganmu 😊

Cek istagram @justrenko untuk informasi novel lainnya~


Terima kasih atas support readers dan NovelToon/MangaToon terhadap novel ini 💛

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Situasi Rumit

Sore harinya Ainsley sudah diperbolehkan pulang. Ainsley diantar oleh Lewis ke Casa Felise. Mereka tidak banyak berbicara selama perjalanan. Lewis fokus menyetir mobil, sedangkan Ainsley memandangi jalanan yang dilalui.

"Kau beristirahat saja dan jangan pergi kemana-mana hari ini." pergi setelah memberi perintah.

Ainsley merasa ada yang aneh dengan sikap Lewis yang menurutnya sama sekali berbeda dari yang biasa. Lewis yang dikenalnya adalah Lewis yang jika berbicara selalu bertingkah imut dan penuh semangat, namun hari ini Lewis berbicara dengan nada serius dan menatap seakan tidak ada bedanya dengan Zack.

Ainsley sampai di apartemen. Keadaan apartemen masih sama seperti terakhir kali ditinggalkan. Bahkan panci yang digunakan untuk membuat sop masih berada di tempat yang sama. Ternyata bukan hanya dirinya saja yang tidak pulang.

Ainsley berbaring di sofa sembari memandangi langit-langit apartemen. Ainsley menghitung hari saat di mana dirinya bertengkar dengan Zack hingga terbaring di rumah sakit, sudah 3 hari Zack tidak pulang ke rumah.

Apa hari ini dia juga tidak pulang?

"Kenapa lagi-lagi memikirkannya?!" kesal sendiri.

Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, Ainsley pun terlelap di sana. Membuat otaknya bekerja keras telah membuat tenaganya semakin terkuras. Memang Ainsley belum sepenuhnya sembuh dan masih harus banyak beristirahat untuk memulihkan diri.

Malam harinya ketika Ainsley masih tidur, Zack pulang dari kantor. Tanpa ada niat untuk menyalakan lampu Zack berjalan ke arah tangga, tetapi langkahnya berhenti ketika melihat seseorang berbaring di atas sofa.

Zack membopong Ainsley menuju kamar. Baru saja sampai di kamar, tindakan itu diketahui oleh Ainsley. Sama-sama terkejut akhirnya mereka terjatuh ke lantai. Ainsley yang ingin berteriak segera ditutup mulutnya oleh Zack. Spontan Ainsley menggigit tangan itu dengan kuat, sehingga kini Zack lah yang berteriak.

Ainsley terkejut melihat darah keluar dari bekas gigitan itu. Ainsley segera mengambil kotak yang berisi perlengkapan obat-obatan, meneteskan obat di luka tersebut, dan membalutnya dengan kain kasa.

"Jawabanku mengenai perkataanmu waktu itu.. Maaf. Aku masih saja belum bisa melupakan Emily. Aku yang lebih dewasa darimu seharusnya tidak kekanakan. Kau tetap memberikan yang terbaik untuk pernikahan ini meski kau tidak menginginkannya. Untuk itu mulai sekarang aku memutuskan akan menghadapinya, berusaha juga sepertimu."

Ainsley mendongakkan kepala sehingga mereka saling berbicara dengan jarak dekat. Zack yang berada dalam situasi yang tiba-tiba membuat napasnya tertahan.

"Jangan paksakan dirimu. Kita bisa saja berpisah dan menjalani hidup masing-masing. Hidup sebagaimana mestinya. Tidak akan ada yang menderita setelah itu."

"Tidak. Aku akan berusaha yang terbaik agar kakakmu bahagia di sana. Setidaknya aku bisa mewujudkan keinginan terakhirnya."

Tekad Zack yang sudah bulat meruntuhkan harapan Ainsley yang ingin pergi dari kehidupannya yang sekarang. Kesempatan tidak lagi terlihat dan Ainsley tidak bisa lari dari pernikahan itu. Jika keputusan Zack ditentang, tidak tau apakah Zack akan tetap berbicara seramah itu padanya.

Malam semakin larut dan Ainsley masih tidak bisa memicingkan mata. Dalam pikirannya selalu terbayang akan bagaimana kehidupannya selanjutnya. Baginya Zack adalah pria yang menyeramkan dan entah hal apa yang sedang menunggunya setelah ini.

Ainsley yang merasa haus malam itu berhenti membuat otaknya bekerja lebih keras. Ainsley pun menyambangi dapur dan mengambil sebotol minuman dingin dari kulkas dan meneguknya perlahan.

Lampu ruangan kerja menarik Ainsley datang memeriksa. Dari luar tampak Zack sangat serius bekerja, padahal sekarang sudah larut malam. Ainsley pun membuatkan secangkir kopi sebagai teman bekerja Zack malam itu.

Di sisi lain Zack melirik jam dinding yang semakin mengarah ke kanan. Zack mulai mengantuk setelah semalaman bekerja. Kacanatanya dilepas dan diletakkan di atas meja. Saat itu pula matanya menatap balutan yang dililitkan oleh Ainsley.

Hanya balutan luka kenapa dia harus begitu senang?

Zack beranjak ke luar ruangan. Di depan pintu Zack tidak sengaja berpas-pasan dengan Ainsley. Secangkir kopi panas menarik perhatian. Zack berpikir bahwa Ainsley membuatkan kopi untuk dirinya. Tetapi sayangnya Zack tidak bisa menerimanya lantaran besok harus menghadiri rapat.

"Ah, aku tidak minum kopi malam ini."

"Si-siapa yang membuatkan kopi ini untukmu. Aku membuatnya untuk diriku sendiri." meneguk kopi panas itu.

Ainsley memutar badan dan menjulurkan lidah. Kopi panas itu sudah menyakiti lidahnya. Lantas bersama kopi Ainsley masuk ke kamar. Di dalam kamar Ainsley mengipas-ngipaskan tangan mendinginkan lidahnya.

Di samping itu Zack membuang jauh-jauh persoalan Ainsley dan memutuskan untuk beristirahat. Ingin memejamkan mata, namun getar ponsel menghentikan niatnya. Tanpa melihat siapa yang menelepon Zack mengangkatnya.

"Aku sangat merindu.."

Secepat kilat Zack memutuskan sambungan telepon. Panggilan itu bagaikan sebuah neraka baginya. Siapa lagi yang meneleponnya malam-malam begini kalau bukan Stella. Hanya Stella lah yang selalu mengikuti dan menghubungi dirinya tanpa kenal ruang dan waktu.

Zack bangkit dari baringan. Terpikir akan satu hal, jika ingin melindungi Ainsley seharusnya dirinya memiliki nomor ponsel orang yang ingin dilindunginya itu.

Zack turun ke lantai bawah dan menemukan Ainsley tengah melakukan gerakan pemanasan. Berulang kali pula Ainsley menguap tanpa menutup mulut. Walaupun tindakan Ainsley begitu aneh di tengah malam begini, tetapi Zack memilih untuk tidak ikut campur.

Padahal Ainsley menjadikan olahraga sebagai tempat pelampiasan agar bisa tidur, karena Ainsley tidak bisa memejamkan mata setelah meminum kopi. Ainsley berharap dengan berolahraga dirinya lelah dan akhirnya tertidur dengan sendirinya.

Kedatangan Zack yang tiba-tiba mengejutkan Ainsley. Tanpa diminta Ainsley menjelaskan mengapa dirinya masih belum tidur dan berolahraga pada malam hari. Setelah itu Ainsley bertanya apakah aktifitasnya itu membuat Zack terganggu.

"Tidak. Aku melupakan satu hal. Aku tidak punya nomormu."

"Ah, ya! Ponselku ada di kamar. Aku akan mengambilnya." berjalan ke kamar.

Zack memilih untuk menunggu Ainsley sembari duduk di sofa. Dari tadi Zack sudah berusaha menahan kantuk yang menghinggapinya. Matanya sudah sangat berat, hingga akhirnya Zack pun kalah dan memejamkan mata.

Ainsley yang baru saja mengambil ponsel, saat keluar kamar kebingungan melihat orang yang tadinya berdiri meminta nomor tiba-tiba tidur dalam sekejap mata. Teringat pekerjaan Zack yang kelihatan banyak tadi, Ainsley pun memaklumi jika Zack kelelahan setelah bekerja keras.

Ainsley balik ke kamar mengambil selimut dan sebuah bantal. Ainsley meletakkan bantal itu di belakang punggung Zack agar saat pagi nanti tubuh Zack tidak terasa sakit. Kemudian menyelimutinya hati-hati. Setelah itu memandangi Zack sebentar.

Ainsley memperhatikan setiap sudut wajah Zack dengan seksama. Begitu tampan dan memiliki aura karismatik tersendiri. Hidung mancung yang dipertegas oleh alis mata yang tajam itu pasti akan membuat wanita yang melihatnya menjerit.

Ainsley bersandar di sofa sembari memikirkan alasan Emily ingin menikah dengan Zack. Fisik pasti bukanlah alasan utama dibalik itu semua, karena menurutnya Emily bukanlah tipe orang yang seperti itu. Entah mengapa Ainsley jadi mengantuk dan akhirnya ikut memejamkan mata.

Pagi harinya Zack terbangun dalam posisi duduk dan selembar selimut menutupi tubuh. Ditambah lagi sebuah bantal berada di belakang punggung. Masih linglung Zack memperhatikan sekeliling. Tidak ada siapa pun selain dirinya di sana.

Ketika berdiri Zack tercengang mengetahui Ainsley tengah tidur di lantai tanpa bantal dan selimut. Harga dirinya sebagai pria seakan tercoreng telah membiarkan seorang wanita tidur di lantai, sedangkan dirinya tidur di sofa menggunakan selimut dan bantal.

Zack memindahkan Ainsley ke kamar dan membaringkannya di sana, lalu menyelimutinya sangat rapi. Setelah itu baru lah Zack beranjak ke kamarnya. Zack bersiap-siap untuk pergi ke kantor.

Saat membuka pakaian, sebuah coretan pada kain kasa menyita perhatian. Sejumlah angka yang kemungkinan besar adalah nomor ponsel Ainsley tertulis di situ. Zack menyeringai tidak menduga jika Ainsley akan membuat hal semenarik itu di atas luka gigitan yang didapatkan. Zack pun menambahkan kontak Ainsley di dalam ponselnya.

***

Saat mengubah posisi tidur, Ainsley terbangun. Ainsley menoleh ke kiri dan ke kanan sambil mengingat kembali kenapa dirinya sudah ada di kamar. Seingatnya semalam sedang memandangi Zack dan tertidur begitu saja. Mustahil Ainsley berjalan ke kamar dengan sendirinya.

Ainsley menarik selimut dan di saat yang sama merasa lega karena pakaiannya masih melekat utuh di badan. Ainsley menutupi tubuhnya dengan selimut kembali. Akan tetapi Ainsley baru sadar jika tadinya sudah melihat sesuatu yang aneh di seprai. Segera setelah itu selimut dibuka untuk yang ke-2 kalinya.

Bercak darah terlihat jelas di sana. Ainsley berlari keluar kamar mencari keberadaan Zack. Tampak Zack baru saja turun dari lantai atas dengan wajah yang segar setelah mandi dan dengan santainya mengancingkan lengan baju.

"Aku pergi bekerja hari ini lebih.."

Tanpa ingin mendengar kalimat Zack selesai, Ainsley bergegas masuk ke kamar. Ainsley mengunci dirinya dan menangis di dalam sana. Zack yang melihat tingkah aneh Ainsley langsung menyusul. Zack mengetuk pintu dan bertanya apa telah terjadi sesuatu.

Selama dua jam Zack mengetuk pintu dan menanyakan pertayaan yang sama. Zack juga membatalkan rapat penting yang harusnya sudah mulai saat ini. Semua itu dilakukannya karena tidak ingin lagi kejadian kemarin terulang kembali. Sebisa mungkin Zack berada dekat ketika Ainsley memiliki masalah.

Ainsley akhirnya menyerah dan keluar dari kamar. Matanya sembab karena menangis terlalu lama. Dalam tangisnya itu Ainsley menanyakan hal yang sama seperti yang Zack tanyakan yaitu apa yang terjadi.

"Mengapa kau menanyakan hal yang sama padaku?!" tidak bisa menahan emosi yang sudah meluap-luap lantaran kesal pada Ainsley.

"Semalam." masih menangis.

Zack berusaha tetap tenang menghadapi Ainsley. Tidak ingin kemarahannya hari ini membuat suasana hatinya menjadi jelek.

"Semalam? Semalam kita tertidur di luar. Saat terbangun aku membawamu ke kamar dan membaringkanmu."

Tangisan Ainsley semakin menjadi-jadi, sehingga mengundang penghuni lain turut hadir meramaikan suasana. Emosi yang tidak bisa dikendalikan lagi membuat Zack kehabisan cara untuk menenangkan diri.

"Bisakah kau tidak membuat keributan?! Aku harus menjelaskan pada mereka terus-terusan!"

Situasi di mana identitasnya sebagai pemilik Casa Felise tidak boleh diketahui membuat Zack tidak bisa bertingkah sembarangan kali ini. Zack harus tetap tenang untuk menenangkan kekesalan para penghuni apartemen.

"Kali ini apa lagi, bung?" seorang pria angkat bicara.

"Kalian tau drama? Istriku sedang menonton drama dengan akhir cerita sedih. Dia menangis histeris karena itu."

"Menangis sekencang itu hanya karena drama. Sangat berlebihan." seorang wanita berumur berpenampilan modern menggerutu di belakang pria itu.

"Bukankah itu apartemen yang dirancang khusus di Casa Felise?"

"Benar. Lihatlah interiornya. Pria itu pasti sangat kaya."

"Dia juga tampan!"

2 orang wanita yang berdiri tidak jauh dari mereka berbicara menambah keramaian.

"Ini sudah yang kedua kalinya kalian membuat keributan. Tidak peduli sekaya apapun, saya akan melaporkannya pada pemilik Casa Felise jika hal ini terulang lagi."

Pemiliknya ada di hadapanmu!

"Baiklah." terpaksa mengalah, Zack mengakhiri pertemuan dengan sebuah senyuman dan perlahan menutup pintu apartemen.

Setelah itu Zack menghampiri Ainsley. Raut wajah yang tadinya tersenyum berubah seketika. Sambil melipat tangan di dada, Zack menatap Ainsley dengan sangat kesal. Lagi-lagi menuntut penjelasan atas apa yang terjadi tadi.

"Ada bercak darah di tempat tidurku."

Zack menepuk jidat tidak percaya jika hal yang membuat Ainsley menangis selama 2 jam adalah karena anggapan negatif lagi tentang dirinya. Ainsley sudah berpikir bahwa Zack melakukan hal yang macam-macam hanya karena bercak darah yang ada di seprai.

"Pergilah ke kamar mandi dan lihat apa yang terjadi."

Masih bercucuran air mata Ainsley melaksanakan perintah itu. Di dalam kamar mandi Ainsley baru sadar jika bercak darah di kasur adalah siklus bulanannya. Seperti seorang bawahan yang melaporkan kejadian, Ainsley mengatakan hal sebenarnya pada Zack.

Zack yang mendengar kesalahpahaman sudah mencapai puncak kemarahan. Tanpa sadar Zack membentak Ainsley dengan mengatakan bahwa dirinya sampai mengambil cuti karena kelakuan bodoh yang Ainsley sebabkan.

Ainsley tertunduk malu sembari memegangi perutnya yang terasa sakit. Ainsley tau bahwa dirinya salah. Oleh karena itu yang bisa dilakukan hanyalah diam menerima kemarahan Zack dan meminta maaf.

Zack menghela napas panjang, lalu berkata, "Apa kau punya persediaan?"

Ainsley menggeleng tanpa mengeluarkan suara. Itu sudah cukup memberikan jawaban. Zack menyuruh Ainsley untuk menunggu, sedangkan Zack keluar dari apatemen dan menghubungi Robin. Zack menyuruh Robin untuk membeli apa yang dibutuhkan.

Tidak butuh waktu lama menunggu Robin membawakan apa yang diinginkan, karena memang jarak Casa Felise dan Hughes Property tidak terlalu jauh. Sebuah bingkisan disodorokan padanya.

"Ada apa saja di dalamnya?"

"Pembalut dan obat pereda nyeri, tuan."

"Mana pembalut dan mana yang obat?"

Robin menunjuk isi bingkisan satu persatu dan menjelaskannya pada Zack. Di akhir penjelasan Robin tertawa kecil karena baginya kejadian itu sangatlah lucu. Melihat pria yang angkuh bisa terjebak dalam situasi yang rumit.

"Apa yang kau tertawakan?"

"Tidak, tuan. Perut saya terasa geli."

Sebelum pergi Zack bertanya satu hal penting lainnya. Zack bertanya bagaimana biasanya seorang wanita menghilangkan rasa sakit ketika mengalami haid. Lantas Robin menjawab jika istrinya biasa memakan makanan yang hangat dan akan lebih baik lagi jika makanan itu berisi sayuran.

"Tugasmu sudah selesai. Pergilah."

Saat berjalan ke apartemen Zack berselisih jalan dengan pria yang mengancamnya tadi. Tatapan sinis didapatkan dari seorang pria yang berjalan layaknya seorang preman itu.

1
Kheira Luna
Renkoo aku balik lagi kangen pria tua😍
Justrenko🐣: Wah, senang sekali melihatmu kembali~
total 1 replies
Fransiska Siba
makanya jgn bodoh bergerak sendiri. makan kebodohan mu. sdh diingatkan Zack tp keras kepala
Fransiska Siba
kecewa aku thor, setidak nya ceweknya tahan dlu lahh ini sudah namanya selingkuh
Pemburu Cinta Sejati
mengkhianati itu gak papa asalkan tau kapan waktunya untuk minta maaf dan pasanganmu yg baik pasti akan selalu memaafkan. kalo tidak berarti dia bukan org yg baik.
bagaimana menurutmu tentang ini kk?
Pemburu Cinta Sejati
mengkhianati itu gak papa, asalkan kita tau kapan waktunya untuk minta maaf. Dan wanita yg baik akan selalu memaafkan, kalo tidak memaafkan berarti dia bukan org yg baik.
Pemburu Cinta Sejati: mohon maaf, aku cmn mau bilang cerita kesempatan kedua adalah kebanyakan cerita di novel. itu tidak berbeda
total 17 replies
iis_lintang95
tetiba kangen ainsly sm zack, alhasil baca ulang lage.🤩
Metta R'za
dendam lidya yg bodoh.....
Ijah Sopiah
Apakah tidak ada satupun cowok yang suka sama Anseley
Seelmy Saleem
nyimak dulu thor baru mampir
SRI SETYA
aq bingung banget ini
Dimas Wahyu
kiraain Setelah sekian lama end....ada part tambahan ..😊😊..oklah otw
💞Aam Mulyani💞: makanya sering kontrol...
total 1 replies
Deta Hebalina
o
First Time
apalah dayaku yg bacanya loncat2 tiba2 dah sampe sini mumet😂
Faradilla
kenapa si Ainsley dibuat kayak perempuan bucin gak nyadar diri sih Thor... gak adil banget... Kebagusan amat si Zack jadinya
Faradilla
pasti Ainsley
Dede
8
Si mamahx anak anak
hhhaaahhhhaaa,,akhirx kau merasakn derita hati ainsley zack...
bunda ime
ff
Julia Lia
miris hidup dua bersaudara 😔
Elfi Susanti
bukankah gambar yang ditemukan Emily dilaci meja Zack adalah Ainsley ibunya Gavin... wah makin rumit... saya pamit baca cerita yg lain dulu.... mumet
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!