Sri Rahayu seorang gadis kampung yang terpaksa harus pergi kekota dan tinggal disana bersama dengan Tantenya yang bernama Halima.
Namun siapa sangka Halima meminta dirinya untuk menikah dengan pria yang tidak ia kenal hanya karena tidak ingin mengecewakan Halima dan sebagai bentuk dari rasa terima kasihnya karena Halima sudah menerima dirinya selama ini mau tidak mau ia pun mengikuti keinginan dari Halima.
Bahkan ia tidak pernah bertemu dengan pria tersebut dan sampai pada hari pernikahan itu tiba Sri belum juga melihat wajah yang akan menjadi suaminya tersebut.
Didetik-detik acara Akat nikah barulah ia bertemu langsung dengan pria yang bertubuh tinggi tegap yang merupakan calon suaminya itu.
Akankah Sri mendapat kebahagian didalam pernikahannya?
Yuk saksikan kelanjutan dari ceritanya Cinta didalam Perjodohan!!
Akankah Sri bertahan dengan kehidupannya yang baru atau malah menjadikan hidupnya semakin tersiksa?
Yuk saksikan kel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deby ria sitopu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.
"Kau?"
"Maaf, aku kemari untuk ini." Sri menyerahkan sebuah berkas yang tadi tertinggal dikamar.
Ya, sosok yang membuatnya terkejut adalah Sri yang datang menyusulnya ke kantor Rey karena mengantarkan berkas tersebut.
"Aku pikir kau membutuhkannya maka dari itu aku mengantarkan kesini." Jelas Sri.
Rey pun menerima berkas tersebut dan melihat apa yang sudah diberikan Sri, ternyata benar adanya berkas itu memang ia butuhkan untuk rapat siang nanti.
"Ya, aku memang membutuhkan ini." Ucap Rey sambil mengangkat wajah nya menatap Sri yang masih berdiri didepannya.
"Kalau begitu aku pulang dulu." Sri hendak berbalik badan.
"Tunggu!" Rey menahan pergerakan Sri yang hendak pergi.
"Apa?"
"Tadi apa kau bertemu seseorang diluar ruangan ku?" tanya Rey sedikit ragu mengingat yang dia maksud adalah Kalin.
"Memangnya kenapa?" Sri balik bertanya kepadanya.
"Tidak, tidak apa-apa." Ucap Rey merasa lega karna tadi ia sempat khawatir terjadi sesuatu.
Sri Engan untuk membahas yang Rey maksud kan itu padahal ia tau jelas arah pembicaraan Rey tersebut.
Tadi ia memang berpapasan dengan Kalin. Sri pun mengenali wanita itu adalah wanita yang sama dengan waktu itu yang dia lihat bermesraan dengan Rey tapi sepertinya Kalin tidak mengenalinya karna wanita itu melewatinya begitu saja.
"Kau duduklah dulu nanti saja pulangnya." Suruh Rey kemudian ia mulai melakukan pekerjaannya sementara Sri menurut saja dengan ucapan Rey.
Cukup lama Sri duduk disana tanpa melakukan apa pun sedang kan Rey sedari tadi diam-diam memperhatikan Sri dari tempat duduknya.
Sri yang mulai bosan sedari tadi hanya duduk saja melihat kerah Rey yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
"Ehem."
"Sebaiknya aku pulang saja." Sri berdiri dari duduknya.
"Kau duduklah lagi!"
"Tapi aku bosan disini jika hanya duduk saja tidak melakukan apa-apa." Terang Sri sambil mengambil tasnya.
"Kau mau kemana?" Rey menghentikan pekerjaannya.
"Tentu saja mau pulang!"
"Siapa yang mengijinkan mu?"
"Tidak perlu ijin untuk pulang bukan? karna aku tidak karwayan disini."
"Tetap saja kau tidak diijinkan untuk keluar masuk kemari sesuka hati mu."
"Apa?" Sri tak habis pikir dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Rey tadi.
"Sudah, duduklah lagi dan jangan menggangu ku dengan suara berisik mu itu." Pekik Rey membuat Sri tidak terima jika ia dikatakan berisik oleh Rey sementara sedari tadi ia hanya diam tak melakukan apa pun.
"Ck, kau tidak bisa melihat dengan jelas rupanya!" ejek Sri.
"Siapa bilang?" Rey kini menyandarkan punggungnya disandaran kursi. Ia seperti mendapat sebuah hiburan baru disela-sela kesibukannya.
"Wah, selain kau tak bisa melihat dengan jelas ternyata kau juga tidak bisa mendengar dengan baik pada hal hanya ada kita berdua disini."
Sri kembali mengeluarkan kata-kata ejekannya.
"Apa kata mu? sudah berani rupanya kau banyak bicara dengan ku ha?"
"Sudahlah aku tidak ada waktu berdebat dengan mu." Sri pun memilih untuk pergi dari pada lebih lama lagi berhadapan dengan Rey yang ada hanya akan ada perdebatan diantara keduanya.
"Jangan coba-coba keluar dari sini tanpa ijin dari ku!" Tegas Rey tak ingin dibantah.
Deg
Sri sontak menghentikan langkahnya tapi didetik berikutnya ia kembali melangkah dengan senyuman kecut disudut bibirnya.
"Memangnya kau siapa seenaknya saja menyuruh ku ini itu sementara kau berbuat semau mu." Gumam Sri terus berjalan keluar tanpa menghiraukan teriakan Rey yang memanggil namanya.
Sial! sudah berani rupanya dia? awas saja kau !" Rey kesal dengan kepergian Sri yang tidak menghiraukan dirinya.
Sri pun merasa lega setelah berhasil keluar dari ruangan yang membosankan itu. Bagaimana tidak bosan jika hanya diam tidak melakukan apa pun didalam sana hanya duduk selama berjam-jam.
Asik berjalan tanpa melihat disekitarnya Sri menabrak seseorang yang sepertinya sedang terburu-buru.
Bruk
"Maaf, aku tidak sengaja."
"Kau lagi?"