Martini Salsabila Utari.
Dia adalah istri seorang preman terkenal bernama Gres Sandy.
Ini adalah kisahnya dan juga isi diarynya sejak masih di bangku SMP.
Kisah cinta juga persahabatannya yang penuh gejolak rasa serta dilema berwarna.
Kisah perjalanan hidupnya hingga menjadi istri dari seorang preman yang penuh suka serta duka pastinya.
Selamat membaca🙏🙏🙏Semoga tulisan sederhana author amatir ini mendapat kesan di hati para reader🙏🙏🙏
Mohon dukungan like, komen serta votenya jika berkenan🙏🙏🙏 Terimakasih banyak🙏🙏🙏😍😘💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NASEHAT YANG ELOK
"Boleh Mar tanya, bunda? Siapa itu Nabila?"
Entah keberanian apa yang mampu mendorongku, melakukan interaksi dengan mengeluarkan pertanyaan pada bunda abang Rizal.
Bunda menatapku lama. Dengan helaan nafas pendek diiringi senyuman. Akhirnya aku mendapat jawabannya.
"Nabila itu, putri bunda, adiknya Rizal!... Baru seminggu lalu kami mengadakan tahlilan 100 hari atas kepergiannya karena kanker myeloma."
Apa itu kanker myeloma? Aku hanya bergumam dalam hati. Baru kudengar nama penyakit aneh itu ditelingaku ini. Tapi sepertinya, penyakit itu mengerikan karena mematikan.
Abang Rizal mendekati bundanya dan menempelkan kepalanya diatas kepala bunda seraya memeluk tubuh bunda dengan kedua belah tangannya.
Aku iri. Aku tak pernah berbuat sedekat itu pada mama. Bahkan ketika kecil sekalipun.
"Maaf, Bunda! Mar tidak tahu!"
"Tidak apa-apa, sayang! Kami sudah mengikhlaskan kepergian Nabila kepangkuan Allah Ta'ala. Hehehe...! Iya khan, Rizal?"
"Ya, Bun! Nabila udah bahagia. Nabila udah ga ngerasain sakit lagi. Kita ikut senang sekarang Nabila sudah tenang disisi Allah!"
Aku menatap dua orang ibu dan anak itu. Membuat dikedua sudut mataku meleleh air yang hangat.
Betapa sweet-nya mereka! Dalam mengekspresikan perasaan rasa sayang dan cintanya satu sama lain. Sebagai ibu dan anak dan anak pada ibu.
Sementara aku,... nyaris tak pernah kuingat aku melakukan hal manis seperti itu pada mamaku.
"Martini masih sekolah?"
"Iya, Bun! Kelas 3 SMP. Sedang ujian!"
"Lho? Besok kamu sekolah gimana?"
Aku tersenyum getir menunduk. Hanya menghela nafas pendek. Tak tahu harus berkata apa lagi.
"Martini besok habis Subuh pulang, ya? Sekolah ya, sayang! Nti biar Rizal antar sampai rumah Martini. Rizal yang temuin kedua orangtua Martini! Jadi jangan takut ayah-ibu bakal marahin kamu. Yah?!?"
Aku menunduk. Hanya meneteskan airmata karena malu. Betapa mereka adalah orang baik.
Bunda mendekatiku seraya mengusap-usap rambutku.
"Nak! Setiap orangtua pasti sayang pada anaknya. Bunda yakin koq, ayah ibu Martini pasti menyayangi Martini. Itu sebabnya, mereka marah, mungkin! Jangan pergi sendirian dari rumah ya, Nak! Mereka pasti sedang khawatir memikirkanmu malam ini. Telpon mereka, sayang! Katakan kalau kamu akan menginap dirumah bunda di Utan Panjang!"
Aku menatap tepat kemata bunda abang Rizal. Dengan berlinang airmata. Aku fokuskan tatapanku pada beliau.
"Boleh, Mar peluk bunda?"
Bunda sangat gercep. Membawa tubuh mungilku kedalam pelukan hangatnya. Hingga pecahlah tangisanku dinyaris tengah malam itu.
Aku tak bisa bersuara. Tak mampu bercerita, mengeluarkan semua isi hatiku pada beliau. Tapi beliau seolah mengerti aku. Mengangguk-angguk pelan sambil mengusap punggungku.
Ya Allah! Andai bunda ini adalah mamaku!
Ya Allah! Andai mimpi ini bukanlah khayalan semataku!
Ya Allah! Andai tangisan ini bisa menghapus semua kedukaanku!
"Tidur yuk? Mau ga, kalau bunda yang telponkan ibumu, sayang?"
"Mar tak hafal nomor telepon mama, bun! Hape Mar ada ditas sekolah yang dibawa teman!... Hari ini sungguh hari yang sangat melelahkan buat Mar! Hik hik hik... Martini ga tau lagi, sekarang harus bagaimana, bundaaa!!!Huhuhu..."
"Ya udah! Besok Rizal antar Martini pulang, mau ya? Bukan bunda tak senang, ada Martini yang manis dan cantik menginap dirumah bunda! Tapi bunda ingin, Martini pulang dulu kerumah dan sekolah. Lanjut dulu ujiannya! Kalau udah selesai, liburan sekolah izin mama mau nginap dirumah bunda, pasti bunda senang sekali. Martini ngerti maksud bunda khan?"
Aku mengangguk. Mengerti sekali. Meski aku juga bisa membaca, kalau bunda mengira aku sedang kabur dari rumah.
Aku faham... Pasti semua orang mengira permasalahanku hanyalah permasalahan anak remaja pada umumnya. Mungkin ya... Tapi bagiku, permasalahan hidupku lebih berat karena semua saling berkesinambungan. Saling berkaitan hingga semakin memberatkan pundak mungilku.
Aku, ANAK HAR*M.
Lahir memang diasuh dan dididik pasutri dibawah naungan yang bernama RUMAH TANGGA.
Tapi setelah itu,..... ternyata kedua ORANGTUAKU ternyata membenciku.
Karena aku bukanlah ANAK YANG DIHARAPKAN.
Aku, ternyata berteman dan mulai dekat dengan COWOK YANG TAK LAIN ADALAH SAUDARA SEAYAHKU.
Yang notebene-nya adalah COWOK YANG DITAKSIR SAHABATKU.
Dan parahnya lagi, AKU BUKAN SAHABAT YANG BAIK.
Yang membuat KESALAHFAHAMAN INI SEMAKIN RUMIT.
Dan sahabatku melihat sendiri KEJAHATANKU PADANYA.
Membuat dia pasti jijik dan tak lagi mau berkawan denganku.
Hingga aku berlari seperti orang gila mengejarnya untuk menjelaskan secara rinci. TAPI NIHIL.
Aku justru HAMPIR AKAN DIJUAL lelaki tampan yang ternyata seorang mucikari. Mungkin.
Ya Allah ya Tuhanku!!!
Apakah aku bisa bercerita sedetail ini pada bunda abang Rizal? Apakah bunda akan mengerti jalan cerita hidupku? Apakah penerimaan wellcome bunda akan berbah setelah tahu jati diriku?
Airmata ini mengalir tanpa henti. Lagi dan lagi.
"Istirahat yuk? Besok Martini harus bangun pagi dan sekolah. Ujian besok mata pelajaran apa? Nanti ujian harus semangat ya sayang? Jangan lupa baca doa sebelum mulai mengerjakan tugas!"
Bunda memberikanku nasehat yang elok. Nasehat adem ciri khas para ibu yang sangat menyayangi buah hatinya.
Aku tidur dipeluk bunda abang Rizal.
Seperti mimpi rasanya. Tidur ditemani seseorang.
Mama! Andai kau lihat, wanita setengah baya ini memeluk tubuhku erat. Mengusap punggungku juga membelai rambutku. Kasih sayang tulus seorang ibu. Akankah mama cemburu padaku?
Mama! Aku rindu mama.
Aku ingat, diawal masuk SMP dan hari ospek keempat. Ada tugas dari kakak pembina OSIS untuk dikuncir 7 rambutku. Mama menguncirku seraya menggerutu, "Sekolah apaan sih? Masa' ospek rambut dikuncir tujuh? Ga da nyambung-nyambungnya sama tugas pelajar yang harusnya belajar!"
Waktu itu aku tertawa senang. Melihat respon mama yang kesal karena pagi-pagi aku minta tolong dikuncirkan.
Mama! Meski aku bukan anak yang kau inginkan. Bukan anak yang kau harapkan,... Adakah sedikit saja rasa sayangmu padaku, mama? Adakah? Meskipun secuiiiiil saja? Meski hanya menyempil dihatimu yang terluka itu?
Mama...! Aku tahu rasa sakitmu, ma!
Aku bisa memahami kepedihanmu, mama!
Aku juga tahu, betapa kau tersiksa setiap harinya jika melihat wajahku.
Tapi, apakah itu salahku, ma?
Apa itu adalah tanggung jawabmu, ma?
Aku... Hanya seorang anak yang terpaksa hidup bersemayam dalam rahimmu selama 9 bulan lebih dan kau urus dengan ogah-ogahan hingga usiaku 15 tahun kini.
Aku... Juga tak ingin menjadi duri dalam hidupmu yang menyedihkan ini, ma?
Tapi pantaskah aku... menerima semua perlakuan dinginmu padaku selama ini, ma?
Aku ini apa bagimu, ma?
TERSANGKA atau KORBAN, ma?
Aku sayang padamu, mama! Aku bahagia, karena disayang oleh bunda abang Rizal! Tapi aku akan lebih bahagia, jika kau mau sedikit saja lebih sering memberiku senyummu!
Aku akan lebih bahagia, bila kau mau sedikit saja memperhatikanku. Sedikiiiit saja! Bahwa aku ingin sekolah, ma! Ingin melanjutkan studiku hingga tamat SMA saja.
Tapi kini mimpiku hilang menguap, ma! Ternyata doa mama dikabul Allah. Karena disekolahpun... kini tiada kawan yang ingin berteman denganku, ma!
Aku jadi hilang keinginan tuk sekolah. Karena doa mama, yang akan menikahkanku selepas lulus SMP. Dan aku pikir,... tak perlu tunggu lulus SMP, ma!...
Aku akan menuruti keinginan mama juga Amih, agar terlepas beban dibahu kalian mengurus dan merawatku yang sangat tak ingin kalian repotkan.
Bismillah... Aku mengucap doa tidur dengan mengusap airmata.
Tuhanku Allah Azza Wazzalla...
Aku tiada apapun yang bisa kubanggakan. Meski aku jarang sekali bersujud pada-Mu tapi aku mohonkan keridhoan-Mu tuk jalanku. Jalan hidupku yang memang telah Kau atur untukku.
-Bersambung-