Novel ini sekuel dari novel pertamaku yang berjudul Mencintai Kekasih Sahabatku. Jadi alangkah lebih baik membacanya terlebih dulu sebelum membaca Cinta Sang Mantan Cassanova.
"Aku baru sadar kalau cintaku padamu begitu dalam setelah aku kehilanganmu. Mungkinkah janin yang tak sempat berkembang itu membuat ikatan kita semakin kuat? aku berjanji akan membuatmu kembali lagi padaku" Dewangga Surya Wijaya.
Kehilangan 3 orang sekaligus dalam hidup Angga membuat hidupnya terpuruk. Mamanya meninggal karena serangan jantung, Viviane pergi entah kemana setelah keguguran janinnya.
Hal itu membuat seorang Angga kini menjadi pribadi yang sangat dingin. Bahkan gelar cassanova yang melekat pada dirinya sudah ia tanggalkan.
Dapatkah Angga menemukan Viviane?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dee_K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 19
Viviane masuk ke dalam rumahnya dengan wajah yang sembab. Sejak di dalam taksi dirinya tidak henti-hentinya menangis. Dia tidak mempedulikan sopir taksi yang memandangnya bingung dari balik kaca spion. Viviane mengingat semua pembicaraannya tadi dengan Angga. Dia tidak menyangka bahwa keadaan Angga sangat jauh dari kata baik-baik saja. Angga lebih terpuruk daripada dirinya yang hanya kehilangan janinnya. Sedangkan Angga kehilangan mama yang sudah mengandung dan membesarkannya. Terlebih lagi meninggalnya dalam keadaan yang sangat tragis.
“Vi? Kamu kenapa? Habis nangis?” Tanya ibunya yang melihat Viviane baru saja masuk ke dalam rumah.
“nggak apa-apa bu. Vivi ke kamar dulu”
Viviane segera masuk ke dalam kamarnya meninggalkan ibunya yang masih dilanda rasa bingung kala melihat dirinya dengan wajah yang sembab.
Viviane naik ke tempat tidurnya. Dia duduk memeluk lututnya. Dia kembali menangis saat mengingat Angga. Mengingat perjuangan Angga yang telah lama mencarinya. Waktu setahun baginya sangat lama untuk mencari seseorang. Viviane tidak menyangka tentang apa yang sudah dilakukan oleh Angga untuknya. Dia kira Angga sudah melupakannya dan sudah jijik pada dirinya.
Viviane bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Setelah mendengar fakta dari Angga, hatinya merasa sesak. Jujur dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia masih menyimpan perasaannya untuk Angga. Dia tidak bisa membenci Angga hanya karena kesalahan yang dilakukan oleh papanya. Karena Angga sama sekali tidak mengetahuinya.
Dan sekarang, saat dirinya sudah bersama dengan Edwin. Lelaki yang semalam baru saja melamarnya. Angga tiba-tiba saja hadir kembali dalam hidupnya dengan mengatakan tentang perasaannya yang tidak pernah berubah sejak dulu.
Tidak mungkin Viviane meninggalkan Edwin. Pria baik, penyayang, dan sangat mencintainya. Tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Namun bagaimana dengan Angga. Kalau dirinya tetap menjalin hubungan dengan Edwin itu sama saja semakin melukai hati Angga. Viviane benar-benar dilemma.
Tok tok tok
“Vi boleh ibu masuk?” Tanya Ibu Vivi dibalik pintu kamarnya.
“iya bu masuk saja” Viviane segera mengusap air matanya dan memberbaiki penampilannya.
“ada apa? Kenapa kamu sedih setelah mengantar Edwin pulang?”
Viviane menghembuskan nafasnya. Dia harus menceritakan apa yang baru saja dialami pada ibunya, agar beban dalam hatinya sedikit berkurang.
Akhirnya Viviane menceritakan bahwa semalam Angga tiba-tiba datang di acara pertunangannya tanpa ada orang yang tahu. Ibu Viviane sangat terkejut mendengarnya. Dia juga menceritakan bahwa Angga sempat mendatanginya saat masih bekerja di kota K.
Kemudian Viviane mengatakan bahwa sudah lama Angga mencari dirinya namun sangat sulit untuk menemukannya. Kini Viviane bertanya pada ibunya perihal kedatangan Angga kesini setahun yang lalu. Ibu Viviane menjadi gugup saat mendapat pertanyaan itu. Dia bingung harus menjawab apa. Meskipun kenyataannya memang benar bahwa saat itu Angga sempat mendatanginya dan menanyakan keberadaan anaknya.
“maafkan ibu Vi. Ibu tidak ingin kamu semakin terluka jika kamu bersama Angga. Mengingat perbuatan keji yang telah dilakukan oleh papanya”
Viviane terdiam mendengar pernyataan ibunya. Ibunya tidak salah. Memang benar niatnya ingin dirinya agar tidak semakin terluka.
“apa ibu tahu bahwa Angga mencari Vivi setelah dia bisa mengikhlaskan kepergian mamanya yang telah meninggal sesaat setelah papanya masuk penjara?”
Ibu Viviane menutup mulutnya rapat tak percaya. Memang saat Angga datang dulu, dia tidak menceritakan bahwa mamanya baru saja meninggal. Dia hanya bilang minta maaf dan ingin menemui anaknya. Tapi sayangnya saat itu Angga segera dia usir lantaran tidak ingin membuat Viviane semakin terpuruk jika hubungannya masih dilanjutkan.
“Angga masih mencintai Vivi bu. Dia tidak peduli meskipun Vivi sudah bersama dengan mas Edwin. Lalu apa yang harus Vivi lakukan bu?”
“apa kamu masih mencintainya?”
“jujur bu sejak dulu Vivi tidak pernah menghilangkan perasaan Vivi pada Angga. Vivi membenci Angga karena perbuatan papanya. Sebenarnya Angga tidak salah dalam maslah itu bu. Yang salah memang Vivi sendiri dan papanya Angga”
“sudahlah Vi. Lebih baik sekarang kamu lupakan saja Angga. Kini sudah ada Edwin yang sangat mencintai kamu. Ibu tidak mau kamu sampai meninggalkan Edwin hanya karena Angga. Angga hanya masa lalu kamu dan Edwin masa depan kamu”
“tapi bu-“
“sudahlah biarkan saja Angga masih mencintaimu. Terkadang memang cinta tidak harus memiliki. Yang penting sekarang kamu harus fokus dengan masa depan kamu yaitu bersama Edwin” Setelah itu ibu Viviane meninggalkan kamar Viviane.
***
Setelah menceritakan tentang kenyataan yang telah terjadi pada Viviane, Angga segera menuju bandara. Hari itu juga dia segera meninggalkan kota B. dia tidak peduli bagaimana reaksi Viviane tadi setelah bertemu dengannya. Dia juga tidak peduli bahwa Viviane sudah bertunangan dan bahkan bulan depan akan menikah. Tapi satu hal yang perlu diingat, bahwa sampai kapanpun perasaannya pada Viviane tidak pernah berubah. Suatu saat Viviane pasti akan kembali lagi ke pelukannya.
Kini Angga sudah di dalam pesawat menuju kota J. dia harus kembali lagi ke dalam rutinitasnya. Baginya urusan kantor juga sama pentingnya dengan urusan hati. Tapi Angga harus tetap profesioanal. Tidak mungkin melalaikan urusan pekerjaan demi mengejar cintanya pada Viviane.
Setelah beberapa menit perjalanan udara, kini Angga sudah turun dari pesawat. Mario sang asisten pribadi sudah menjemputnya. Kemudian segera mengantar Angga ke apartemennya.
“bagaimana urusan kantor?”
“baik-baik saja tuan”
Setelah tidak ada lagi percakapan antara Angga dan Mario, kini keduanya terdiam. Tidak menunggu waktu lama akhirnya mobil yang dikendarai oleh Mario sudah sampai di basement apartemn Angga.
“kamu langsung pulang saja”
“baik tuan”
Angga berjalan menuju unit apartemennya. Dia merasakan badannya sangat lelah. Sebenarnya bukan lelah fisik melainkan hatinya yang lelah hingga berdampak pada fisiknya yang sedikit melemah.
Angga mengernyit heran saat melihat ada sosok perempuan sedang berdiri di depan pintu unit apartemennya. Angga melangkahkan kakinya mendekati sosok perempuan itu.
“maaf permisi?” ucap Angga dan sosok perempuan itu menoleh dengan menampakkan senyum termanisnya.
“mas Angga!”
Demi Tuhan saat ini Angga benar-benar mengumpat kesal ketika melihat siapa perempuan yang tadi berdiri di depan pintu. Ya, perempuan itu adalah Laura. Lagian mau apa juga dia kesini.
“nona Laura?? Kenapa anda bisa ada disini?”
“oh saya hanya ingin main saja. Apa mas Angga tidak keberatan?”
Angga menghela nafas. Mau tidak mau dia terpaksa menyuruh Laura masuk. Padahal sebelumnya tidak ada satupun wanita yang dia persilakan masuk ke dalam apartemennya.
“mas Angga dari mana?”
“saya habis ada perjalanan bisnis dari luar kota”
“o gitu”
“ya sudah nona tunggu dulu saja disini, saya mau mandi dulu”
Laura hanya mengangguk. Dia sangat senang sekali akhirnya bisa juga masuk ke dalam apartemen Angga. Dia berjanji setelah ini akan sering-sering datang ke apartemen Angga. Dia akan berusaha meluluhkan hati Angga setelah semalam dirinya memutuskan hubungannya dengan Alfa.
.
.
.
*TBC
udah end yak
semangat terus mama dee-k 💟💟