"Aku harus menikahi Maura dan membalaskan dendamku kepadanya," Dave mengepalkan tangannya geram setelah ia dinyatakan bebas dari jerat hukum yang menderanya.
Beberapa waktu lalu, dalam keadaan mabuk, Dave menabrak seorang pemuda dan meninggalkannya terkapar seorang diri.
Leo adalah ayah dari Maura yang juga seorang jaksa yang menyelidiki kasus tabrak lari Dave. Leo menyuruh Maura untuk mendekati Dave dan mendapatkan barang bukti agar Dave bisa dijebloskan ke jeruji besi.
"Aku akan menceritakan semua rahasiaku kepadamu, tetapi dua hari lagi kita harus bertunangan," ucap Dave yang sudah tergila gila pada Maura. Tanpa ia sadari, Maura merekam semua ucapannya.
Bagaimanakah kisah cinta antara Dave dan Maura Sanggupkah Dave balas dendam kepada wanita yang masih ia cintai?
Cover Source : Pinterest.
Setting tempat : Paris, Perancis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zinnia Azalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lomba Makan
Dave melajukan mobilnya ke arah petshop, ia memberikan ide untuk menitipkan kitten kecil itu, ide itu langsung disetujui oleh Maura.
Setelah dari petshop, Dave kembali melajukan mobilnya menuju Museum Louvre.
Dua puluh menit kemudian mereka sampai di Museum Louvre, Dave menggandeng lengan Maura. Museum ini bertempat di Istana Louvre (Palais du Louvre), dulunya Museum ini adalah benteng pertahanan yang dipimpin oleh Pangeran Philip pada Abad ke 12.
Dave dan Maura mengelilingi Museum yang mempunyai bangunan sangat indah ini, Mereka tampak melihat-lihat mahakarya Leonardo Da Vinci. Mereka tampak terpana dengan lukisan Monalisa. Lukisan Monalisa diletakan di ruangan yang ekslusif yang mempunyai kaca pelindung anti peluru dan anti cuaca.
"Cantik sekali" Gumam Maura
Dave memperhatikan gadis yang disampingnya, lalu ia menggenggam tangan gadis itu "Lebih cantik kau Maura"
"Dasar gombal" pipi Maura tampak merona, Mereka melihat-lihat lukisan yang lain dan menyusuri Museum Louvre.
Setelah puas menyusuri Museum Louvre, Dave melajukan mobilnya mencari-cari makanan untuknya dan Maura. Maura melihat sebuah restoran Asia, Maura menelan lidahnya. Ia suka sekali dengan makanan Asia khususnya Ramen yang berasal dari negara Jepang.
"Dave, bisa berhenti lagi?" Ujar Maura saat melihat kedai makanan khas matahari terbit itu.
"Kau suka makanan Asia?" Tanya Dave pada Maura yang dijawab dengan anggukan kepala cepat.
"Ya sudah, ayo!" Dave memarkirkan mobilnya di tempat parkir Cafe yang sederhana itu.
"Kau mau pesan apa?" Tanya Maura seraya melihat-lihat buku menu.
"Samakan saja denganmu," jawab Dave enteng, karena sejujurnya ia jarang makan dengan menu makanan Asia. Pernah ia mencicipi Ramen, rasanya memang enak.
Dave melihat-lihat isi Cafe, Cafe itu sangat sederhana, dinding-dindingnya hanya terbuat dari kayu.
"Mengapa Maura tidak risih makan ditempat seperti ini? Dia berbeda sekali dengan Rebecca. Becca selalu ingin makan di restoran mewah dan eksklusif," batin Dave
"Silahkan tuan, nona!" Seru dua orang waitress, seraya menyajikan makanan dan minuman di meja Dave. Dave melihat Ramen tersaji di mejanya.
Ramen adalah makanan khas Jepang. Ramen ini berupa mie. Level pedasnya bisa menyesuaikan sesuai selera, biasanya kedai/Cafe akan memberikan tingkat level pedas atau menyajikan sambal di meja pembeli, agar pembeli bisa mengatur sendiri level kepedasannya.
Maura segera mengambil sambal dan menuangkannya di Ramen miliknya, Dave bergidik melihatnya.
"Sudah, nanti lambungmu sakit!" Dave mengambil lengan Maura yang akan menumpahkan sambalnya lagi.
Maura segera melahap Ramen yang telah tersaji, sehingga mulutnya terisi penuh dengan makanan khas Jepang itu.
"Kau tidak membubuhkan sambal ke Ramenmu?" Tanya Maura di sela-sela aktivitas mengunyahnya.
"Aku tidak suka makanan pedas."
"Ah, kau ini cemen sekali! Mana ada pria yang tak suka makan pedas?" Cebik Maura seraya memainkan sumpit miliknya.
"Kau jangan merendahkanku! Tidak suka bukan berarti tidak kuat makan pedas. Kau ini seperti adikku saja!" Dave langsung menumpahkan sambal ke Ramen miliknya.
"Baiklah, sekarang kita lomba ya? Siapa yg kuat pedas dan tidak minum berarti dia pemenangnya. Dan untuk pemenang berhak untuk menyuruh-nyuruh yang kalah selama 1 jam," seru Maura dengan antusias dan bersemangat.
"Baiklah," Dave menyetujui.
Mereka segera mengambil sumpit dan melahap Ramen yang panas dan pedas itu, keringat sudah membasahi dahi mereka. Namun belum ada tanda-tanda mereka untuk minum dan mengakhiri pertandingan.
"Pedas sekali!" Maura menjulurkan lidahnya membuat Dave gemas dengan tingkahnya.
"Jika pedas, minumlah!!" Dave mengacak-ngacak rambut gadis mungil itu.
"Aku tidak akan menyerah semudah itu!" Maura mengangkat tangannya, memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Dave menumpahkan lagi sambal ke Ramen miliknya dan Maura. Maura memukul mukul meja karna pedasnya semakin menjadi.
"Menyerahlah!" Celetuk Dave, terlihat wajahnya memerah karena pedas.
"Bermimpilah!" Maura menjulurkan lidahnya, nampak sudut matanya basah karna pedas yang menyiksa lidahnya.
Dave langsung mengambil gelas dan meminum sekaligus air yang ada di dalam gelas hingga tandas. Maura bersorak gembira saat dirinya memenangkan pertandingan. Mereka langsung meminum susu murni yang sudah disediakan oleh Cafe.
"Yeay, aku bisa menyuruh-nyuruhmu dalam waktu satu jam!!" Maura bersorak gembira.
"Baiklah, apa yang kau inginkan?" Tanya Dave seraya mengelap keringat yang membasahi dahinya.
"Aku ingin wisata kuliner saja dari pedagang Street Food. Aku juga ingin menggunakan motor saat kita pergi," seru Maura antusias
"Baiklah, aku akan menelfon pelayanku untuk membawakan motor kemari."
Tak lama datanglah 3 orang pelayan atas suruhan Sekretaris Keenan. Mereka mengantarkan motor dan mengambil alih mobil Dave.
"Terimakasih ya?" Ucap Dave kepada tiga orang pelayan tadi.
"Sama-sama, tuan," ketiga orang pelayan tadi membungkukan badannya hormat.
"Orang kaya beda ya?" Bisik Maura dalam hatinya
Setelah ketiga pelayan itu pergi, Dave segera membayar makanan mereka dan menggandeng tangan Maura ke arah parkiran motor.
"Tangannya hangat sekali !" Gumam Maura dalam hatinya
Dave memakaikan helm ke kepala Maura, Maura menatap Dave. Lagi-lagi hati mereka berdesir satu sama lain.
"Hari ini kau mau kemana?" Tanya Dave saat ia selesai memakaikan helm.
"Aku ingin sate gurita. Sudah lama aku tidak makan Seafood"
"Kau sudah makan Ramen dengan porsi besar. Apa kau tidak kenyang?"
"Tidak, aku masih lapar" Maura mengelus perutnya yang datar
"Biasanya Becca akan makan dengan porsi sedikit itupun hanya sepotong roti dan air putih. Namun dengan Maura jelas-jelas berbeda. Ia makan sesukanya, tanpa harus memikirkan timbangan atau bentuk tubuhnya," Batin Dave.
Dave melajukan motornya, mencari makanan Seafood. Udara semakin dingin, Maura memeluk Dave erat. Dave melihat tangan Maura yang melingkar di tubuhnya, ia tersenyum ada rona merah menyembul di pipinya. Hari ini Dave benar-benar merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗