Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Bima berjalan cepat menyusuri koridor menuju lobi utama di lantai dasar.
Sesampainya di sana, Bima melihat beberapa satpam rumah sakit terkapar di lantai sambil mengerang kesakitan.
Di tengah lobi, seorang pria berbadan kekar berdiri dengan santai.
Pria itu mengenakan jaket kulit hitam yang sudah robek di bagian lengan kirinya.
Tetes demi tetes darah segar jatuh dari lengannya ke lantai marmer rumah sakit.
Tetes, tetes, tetes.
Orang-orang di lobi berlarian menjauh karena ketakutan melihat pria itu.
"Mana yang namanya Dokter Bima?!" teriak pria berjaket hitam itu dengan suara berat yang serak.
"Jangan buang waktuku atau kuhancurkan rumah sakit ini!"
Bima melangkah maju membelah kerumunan orang yang ketakutan.
"Saya Bima Aditya."
"Apa yang Anda inginkan di rumah sakit saya?" tanya Bima dengan nada yang sangat tenang.
Pria kekar itu menoleh dan menatap Bima dari atas ke bawah.
Bibirnya menyeringai membentuk senyum yang mengerikan.
"Oh, jadi ini dokter ajaib yang sedang dibicarakan oleh para tikus di kota ini."
Pria itu berjalan mendekati Bima sambil memegangi lengannya yang berdarah.
"Kudengar kau bisa menyembuhkan penyakit apa pun."
"Coba sembuhkan lukaku ini, Dokter."
Bima menatap luka robek di lengan pria itu tanpa berkedip.
Luka itu terlihat seperti sayatan pisau, namun tepi lukanya berwarna keunguan dan mengeluarkan bau yang sangat aneh.
"Sistem, pindai tubuh pria ini," batin Bima dengan waspada.
[Peringatan Darurat.]
[Terindikasi keberadaan neurotoksin sintetis mematikan di sekitar luka target.]
[Racun ini memiliki struktur DNA dasar yang sama dengan parasit mutan Kakek Darma.]
[Host disarankan untuk sangat berhati-hati, target menyembunyikan senjata tajam di balik jaketnya.]
Pikiran Bima langsung bekerja dengan kecepatan penuh.
Pria ini bukanlah pasien.
Dia adalah agen pembunuh dari Sindikat Ular Hitam yang sengaja dikirim untuk menguji atau membunuh Bima.
"Luka Anda telah terkontaminasi oleh racun saraf yang sangat kuat," ucap Bima dengan suara lantang agar semua orang mendengar.
"Jika tidak segera ditangani, Anda akan lumpuh total dalam waktu sepuluh menit."
Pria berjaket hitam itu tertawa meremehkan.
"Kau memang punya mata yang tajam, Dokter."
"Tapi mari kita bicarakan pengobatannya di ruangan tertutup."
"Aku tidak suka ditonton banyak orang saat sedang diobati."
Pria itu sengaja membuka sedikit jaketnya, memperlihatkan gagang belati logam yang terselip di pinggangnya pada Bima.
Itu adalah sebuah ancaman diam-diam.
Jika Bima menolak, pria itu bisa saja membantai orang-orang di lobi ini.
"Ikut saya ke ruang periksa VIP nomor tiga," jawab Bima tanpa rasa takut sedikit pun.
Bima membalikkan badan dan berjalan memimpin jalan.
Suster Nita mencoba menahan lengan Bima sambil menggelengkan kepala.
"Dokter, jangan pergi berdua dengannya, dia sangat berbahaya," bisik Suster Nita.
"Tidak apa-apa, Suster, siapkan saja ruangannya dan jangan biarkan siapa pun masuk mengganggu," balas Bima.
Bima dan pria misterius itu akhirnya masuk ke dalam ruang periksa yang kedap suara.
Klak.
Pria itu langsung mengunci pintu ruangan dari dalam.
Sikapnya yang tadinya berpura-pura kesakitan kini berubah menjadi sangat tegap dan mengancam.
"Aktingmu boleh juga, Agen Ular Hitam," ucap Bima memecah keheningan.
Pria itu sedikit terkejut mendengar Bima menyebut nama sindikatnya.
"Ternyata Darma Pratama sudah banyak bercerita padamu ya."
"Namaku adalah Cobra, dan aku datang ke sini untuk memberikan peringatan terakhir padamu."
Cobra mencabut belati dari pinggangnya dan memainkannya di sela-sela jarinya.
"Berhenti ikut campur dalam urusan sindikat kami."
"Berhenti mengobati Kakek Darma dan cucunya yang berpenyakitan itu."
"Atau aku akan mengiris lehermu pelan-pelan di ruangan ini sekarang juga."
Bima hanya bersandar santai di meja periksa sambil melipat tangannya.
"Racun di lenganmu itu bukan tipuan kan?"
"Kau sengaja meracuni dirimu sendiri agar bisa masuk ke rumah sakit ini tanpa dicurigai."
"Tapi kau meremehkan kecepatan reaksi dari racun sintetismu sendiri."
Cobra mengerutkan keningnya dengan kesal.
"Jangan menggurui aku, Dokter."
"Aku sudah meminum penawarnya sebelum datang ke sini."
Bima tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat meremehkan.
"Penawar yang kau minum itu hanya menahan gejalanya sementara."
"Racun itu saat ini sedang menghancurkan sistem saraf tepi di lengan kirimu."
"Coba gerakkan jari tangan kirimu sekarang."
Cobra segera mencoba mengepalkan tangan kirinya.
Matanya langsung membelalak panik.
Jari-jarinya sama sekali tidak bisa digerakkan, seolah-olah lengannya sudah mati rasa total.
"Apa yang kau lakukan padaku?!" bentak Cobra sambil menodongkan belatinya ke arah Bima menggunakan tangan kanannya.
"Aku belum menyentuhmu sama sekali," jawab Bima dengan tenang.
"Itu adalah efek dari racun bodoh yang kau pakai sendiri."
"Hanya aku yang tahu cara menetralisir racun itu secara permanen."
Bima berjalan mendekati lemari obat di sudut ruangan.
Dia mengambil sebuah alat suntik dan beberapa ampul obat.
Berbekal Resep Penawar Racun Tingkat Lanjut dari sistem, Bima mencampurkan cairan itu dengan sangat cepat.
"Duduk di kursi itu jika kau tidak ingin tangan kirimu diamputasi hari ini," perintah Bima.
Cobra menggeram marah, tetapi rasa takut kehilangan lengannya jauh lebih besar.
Dia akhirnya duduk di kursi pasien dengan napas memburu.
Bima mendekatinya dan menyuntikkan cairan bening itu tepat ke bahu kiri Cobra.
Jleb.
"Ini akan terasa sedikit panas."
Dalam hitungan detik, Cobra bisa merasakan aliran hangat menjalar di lengan kirinya.
Rasa kaku dan kebas perlahan mulai menghilang.
"Hebat juga kemampuanmu, Bima."
"Pantas saja bos besar kami sangat tertarik padamu."
Cobra memutar-mutar bahunya yang sudah kembali normal dan tersenyum licik.
"Terima kasih atas pengobatannya."
"Tapi sayangnya, aku tetap harus membunuhmu karena kau terlalu berbahaya bagi rencana kami."
Cobra tiba-tiba menerjang ke arah Bima sambil mengayunkan belatinya dengan sangat cepat.
Wusss.
Namun Bima sama sekali tidak menghindar atau panik.
Dia hanya berdiri diam menatap Cobra yang melompat ke arahnya.
Brak!
Tubuh kekar Cobra mendadak kaku di udara dan dia jatuh terjerembab dengan keras ke lantai.
Belatinya terlempar jauh ke sudut ruangan.
Cobra mencoba bangkit, tapi seluruh otot di tubuhnya menolak perintah otaknya.
Dia bahkan tidak bisa menggerakkan lehernya sama sekali.
"A-apa yang terjadi padaku?!" teriak Cobra dengan panik dan suaranya mulai terdengar cadel.
"Tubuhku tidak bisa bergerak!"
Bima berjongkok di samping wajah Cobra yang menempel di lantai.
Dia menepuk pipi pembunuh bayaran itu dengan pelan.
"Aku memang menyuntikkan penawar racun untuk lengan kirimu, Cobra."
"Tapi aku juga mencampurkan obat pelemas otot dosis sangat tinggi ke dalamnya."
"Obat itu bereaksi dengan sisa racun di darahmu dan melumpuhkan sistem saraf pusatmu secara instan."
Mata Cobra membelalak dipenuhi oleh rasa teror yang luar biasa.
Dia baru sadar bahwa dia sedang berhadapan dengan monster medis yang jauh lebih mengerikan dari bosnya sendiri.
"Kau... kau dokter iblis," kutuk Cobra dengan susah payah.
Bima tersenyum dingin dan mencondongkan wajahnya lebih dekat.
"Dengar baik-baik pesanku ini, Cobra."
"Sampaikan pada bos Ular Hitam kalian saat kau bisa bergerak tiga jam lagi."
"Jika kalian berani menyentuh Kiara atau Kakek Darma satu kali lagi, aku sendiri yang akan mencari markas kalian."
"Dan aku akan memastikan kalian semua memohon untuk mati daripada merasakan resep racunku."
Bima berdiri dan merapikan jas dokternya yang sedikit berantakan.
"Suster Nita!" panggil Bima dengan suara keras.
Pintu ruangan segera terbuka dan Suster Nita masuk dengan wajah cemas.
"Dokter Bima tidak apa-apa?"
"Pria ini pingsan karena kelelahan, Suster."
"Tolong panggilkan satpam untuk membuangnya ke trotoar depan rumah sakit."
"Kita masih punya sepuluh pasien kritis yang harus diselamatkan hari ini."
Bima melangkah keluar dari ruangan itu tanpa menoleh ke belakang lagi.
[Host telah berhasil melumpuhkan agen musuh menggunakan pengetahuan medis.]
[Mendapatkan 300 Poin Reputasi Ekstra.]
[Level saat ini: Spesialis Madya.]
[Sisa waktu misi penyelamatan Kiara: 29 Hari.]
Langkah Bima semakin cepat dan mantap.
Perang melawan Sindikat Ular Hitam telah resmi dimulai, dan dia tidak berencana untuk kalah.