NovelToon NovelToon
Starfall: The Last Child From The Stars

Starfall: The Last Child From The Stars

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Akademi Sihir
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Dorin

Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.

Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.

Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.

Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 — Pertemuan di Bawah Aurora.

Hidup yang selalu diatur sejak dini, tuntutan mutlak untuk senantiasa tampil sempurna, julukan 'Dewi Salju Utara' yang melekat pada dirinya, kecantikan luar biasa yang dipuji seluruh benua, hingga beban berat sebagai satu-satunya pewaris sah takhta Kerajaan Nivalis.

Itulah jalan hidup seorang Iselyna von Niveterra.

Sejak kecil, ia telah dididik dengan amat ketat oleh para pengajar terbaik kerajaan. Masa kecil yang seharusnya diwarnai dengan gelak tawa dan permainan anak-anak, justru ia habiskan dengan belajar, belajar, dan terus belajar.

Ia bagaikan seorang putri yang terkekang di balik menara es yang dingin—meski jujur saja, ia masih beruntung memiliki beberapa orang untuk diajak bicara.

Pelayan pribadinya yang teramat setia, adik kecilnya yang senantiasa ceria, serta sahabat karibnya yang sayangnya harus pulang ke kampung halaman sejak awal liburan musim dingin ini.

Namun, di luar segelintir orang itu... Iselyna selalu sendirian.

Menjelang ulang tahunnya yang ke-25—yang dirangkaikan dengan pesta topeng megah The Grand Masquerade—Iselyna benar-benar kehilangan seluruh ruang gerak pribadinya. Waktunya terkuras habis oleh berbagai kesibukan dan agenda kerajaan yang tak ada habisnya.

Mulai dari sesi fitting pemilihan gaun yang sempurna, riasan wajah yang diulang berkali-kali, hingga kepastian bahwa dirinya harus siap memikul beban sebagai bintang utama di aula pesta nanti.

Lalu, tepat dua hari sebelum acara digelar, Iselyna dipanggil secara khusus oleh sang Ayah, Raja Isenbard.

Di dalam ruang kerja kerajaan, sang Raja memberitahunya bahwa saat pesta dansa berlangsung nanti, Iselyna akan disandingkan dengan seorang Pangeran yang datang dari wilayah barat. Ayahnya menegaskan bahwa Pangeran ini adalah sosok kunci bagi hubungan diplomatik yang amat menguntungkan dan krusial bagi masa depan Kerajaan Nivalis.

Kala itu, Iselyna hanya bisa mendengarkan penjelasan ayahnya dalam diam... tanpa sedikit pun sanggup membantah.

Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia berteriak histeris.

Siapa sebenarnya pangeran itu? Kenapa dia harus disandingkan denganku? Apa hebatnya lelaki itu hingga Ayah sampai memujinya sedemikian rupa? Kenapa aku bahkan tidak diberi kebebasan untuk memilih pasanganku sendiri? Kenapa aku tidak pernah bisa mengikuti apa yang diinginkan oleh hatiku...?

Deretan pertanyaan tak terjawab itu terus menggerogoti dadanya.

Namun, bagaimanapun juga, ia adalah sang Calon Ratu. Demi rakyat dan Kerajaan Nivalis yang teramat dicintainya, Iselyna pada akhirnya hanya menganggukkan kepala dan menerima keputusan itu tanpa penolakan.

Hari yang ditunggu-tunggu itu pun akhirnya tiba. Rombongan dari kerajaan barat akhirnya menjejakkan kaki di halaman Istana Nivalis.

Didampingi oleh Ayah dan Ibunya, Iselyna berdiri menyambut kedatangan para tamu agung tersebut. Matanya yang jeli tak berhenti memperhatikan satu per satu sosok yang melangkah turun dari kereta kuda.

Pertama, Raja Nolan. Pemimpin Kerajaan Aureliania yang dikenal sebagai penyihir lingkaran 8. Sosoknya tampak begitu berwibawa, namun memancarkan kehangatan yang menenangkan.

Selanjutnya adalah Ratu Tiana—seorang wanita dari keluarga bangsawan ternama yang gaung namanya terdengar hingga ke seantero benua. Perawakannya diselimuti misteri; tak ada catatan pasti mengenai jenis sihir atau tingkatan lingkaran yang dimilikinya. Namun, aura yang dipancarkannya teramat tinggi, penuh kedisiplinan dan keanggunan yang sukar ditandingi.

Dan yang terakhir... sosok Pangeran Edward.

'Pangeran Terbuang'—atau dalam julukan yang lebih kasar, 'Pangeran Terkutuk'. Begitulah deretan informasi yang berhasil digali oleh Iselyna selama dua hari terakhir.

Seorang pemuda yang dikabarkan sama sekali tak memiliki Mana. Anak angkat yang asal-usul silsilahnya diselimuti kabut misteri. Tak heran jika orang-orang berbisik negatif tentang dirinya.

Namun, di balik rumor muram itu, pemuda ini menyimpan kekuatan dahsyat yang tiada tanding. Baru-baru ini, ia dikabarkan berhasil menghempaskan seorang Panglima Iblis serta menaklukkan Dungeon tingkat S secara mandiri. Mungkin, alasan kuat itulah yang membuat sang Ayah bersikeras memfasilitasi perjodohan ini demi kepentingan strategis kerajaan.

Akan tetapi... sosok di hadapannya ini sungguh jauh dari ekspektasi. Pemuda itu ternyata cukup pemalu.

Saat pertama kali mereka berkenalan tadi, Edward tampak gagap dan kikuk—berbanding terbalik dengan reputasi mengerikan yang dibacanya di atas kertas. Ia diselimuti aura kurang percaya diri yang amat pekat, terkesan ceroboh, serta cenderung menghindari percakapan formal.

Kecuali... ketika ia berinteraksi dengan pelayan pribadinya.

Sejak langkah pertamanya memasuki istana, Edward tak henti-hentinya bertukar bisik dan mengobrol santai dengan pelayannya. Hubungan mereka berdua terlihat begitu dekat dan akrab.

Iselyna jujur tak tahu pasti dinamika seperti apa yang terjalin di antara mereka. Namun satu hal yang pasti: Tuan Bernard tampak menaruh rasa hormat yang teramat tulus pada Pangeran Edward—sama sekali tak terpengaruh oleh berbagai rumor miring yang berembus di luar sana.

Waktu makan malam pun tiba.

Sepanjang perjamuan berlangsung, sang Putri tanpa sadar terus-menerus memperhatikan sang Pangeran dengan rasa penasaran yang memuncak. Tatapan matanya yang lekat dan tak berkedip tak ubahnya seekor burung hantu yang sedang mengamati mangsanya dari kejauhan.

Tentu saja, hal itu sukses membuat pemuda di seberang mejanya merasa amat canggung dan serbasalah.

“E-eee... Saya sudah selesai menyantap hidangannya,” ujar Edward perlahan seraya bangkit berdiri dari kursi.

“Ayahanda, Ibunda, Yang Mulia Raja Isenbard, serta Yang Mulia Ratu Elizabeth... Izinkan saya pamit untuk mengundurkan diri terlebih dahulu.”

“Mengapa terburu-buru, Pangeran Edward?” tanya Raja Isenbard ramah.

“Maafkan saya jika terkesan kurang sopan, Yang Mulia,” jawab Edward santun. “Saya hanya... sudah tidak sabar untuk melihat-lihat keindahan Istana Nivalis di luar sana. Itu pun jika Yang Mulia tidak keberatan dengan permintaan saya.”

Raja Isenbard tertawa terkekeh pelan. “Tentu saja tidak apa-apa! Silakan, Pangeran. Anggap saja seperti di rumahmu sendiri.”

“Terima kasih banyak, Yang Mulia.”

Edward membungkuk sekali lagi penuh hormat sebelum akhirnya berbalik, melangkah cepat meninggalkan meja makan menuju keluar ruang jamuan.

Iselyna terdiam mematung di kursinya. Pandangannya luruh menatap piring di hadapannya.

Apakah tingkahku tadi terlalu berlebihan hingga membuat Pangeran Edward tidak nyaman...? batinnya penuh penyesalan.

Ia bertekad, begitu sesi makan malam ini usai, ia akan segera mencari Pangeran itu dan menyampaikan permohonan maaf secara pribadi.

Tak lama kemudian, Ratu Elizabeth menyeka sisa makanan di sudut bibirnya dengan gerakan anggun menggunakan serbet kain, menandai berakhirnya sesi hidangan penutup jamuan malam itu. Iselyna pun menyapu bibirnya dengan elegan.

Di saat yang sama, Raja Isenbard dan Raja Nolan saling bertukar pandang sebelum mengangguk pelan satu sama lain—isyarat tersirat bahwa ada hal penting yang telah mereka rencanakan dan perlu didiskusikan di ruang tertutup.

“Putriku, kau bisa berkeliling atau beristirahat terlebih dahulu. Ada beberapa hal internal yang ingin Kubicarakan dengan tamu agung kita,” ujar Raja Isenbard.

“Apakah hamba tidak perlu ikut hadir dalam pembahasan ini, Ayahanda?” tanya Iselyna terkejut.

“Untuk kali ini, tidak perlu. Jika saatnya sudah tepat, Ayah sendiri yang akan menyampaikannya padamu.”

Iselyna mendapati dirinya tak punya pilihan lain. Ia bangkit berdiri dan membungkuk hormat. “Jika demikian, hamba mohon izin untuk mengundurkan diri.”

Langkah kakinya membawa sang Putri keluar dari aula makan, meninggalkan ruangan dengan benak yang masih dihinggapi sejuta rasa penasaran.

Sesuatu yang tak boleh kudengar...?

Sebagai calon pewaris sah takhta Kerajaan Nivalis, Iselyna sudah terbiasa dilibatkan dalam berbagai rapat kenegaraan penting sebagai bagian dari pendidikannya. Namun malam ini, ia secara khusus dikecualikan dari pembicaraan bersama Raja Nolan.

Di dalam analisanya, hanya ada dua kemungkinan besar.

Pertama, pembicaraan itu berkaitan dengan ikatan pernikahan politik antara dirinya dan Pangeran Edward.

Atau kedua... ada masalah ancaman tingkat tinggi yang sangat serius, hingga hanya para kepala negara saja yang berhak mengetahuinya—kemungkinan besar berkaitan dengan pertempuran dahsyat antara Edward dan Panglima Iblis yang sempat santer terdengar.

Jika dugaan kedua yang benar, maka keputusan ayahnya meminggirkan dirinya malam ini terasa sangat masuk akal.

Tanpa disadari, langkah kaki yang membawa lamunan sang Putri perlahan membimbingnya menuju ke area taman istana es.

Ia melangkah anggun dipandu oleh seorang pelayan wanita di sisinya.

Juliet namanya. Pelayan pribadi yang telah setia menemani sang Putri sejak ia masih kanak-kanak—salah satu sosok berharga yang membuat Iselyna merasa pernah memiliki seorang teman sejati di balik dinginnya dinding istana.

Dengan penuh ketakziman, Juliet berjalan beberapa langkah di belakang Putri Iselyna yang tengah melangkah pelan. Sang Putri tampak terpesona menatap kanvas langit malam yang terbentang luas— dihiasi taburan jutaan bintang berkilau serta tarian gorden aurora yang memanjakan mata.

Iselyna menghentikan langkahnya, lalu memejamkan mata sejenak.

Ia mencoba menghirup dalam-dalam udara malam yang dingin, menikmati momen kedamaian ini sebelum seluruh kebebasannya terkikis habis saat ia menaiki takhta kelak. Ia sungguh tak tahu apakah kelak masih ada celah waktu untuk sekadar menikmati keindahan seperti ini.

Jika malam ini adalah kesempatan terakhir baginya untuk merasakan ketenangan yang tulus, ia hanya ingin menikmatinya sedikit lebih lama... seraya berharap sang waktu sudi berhenti berputar saat ini juga.

Langkah kaki sang Putri kemudian membimbingnya menuju tepi kolam beku yang memantulkan pendar perak cahaya rembulan.

Inilah tempat perlindungan favoritnya.

Setiap kali merasa lelah oleh kepalsuan dunia bangsawan, Iselyna akan selalu melarikan diri ke tempat ini untuk membuang sejenak segala beban berat yang menekan pundaknya. Ia akan duduk terdiam di salah satu bangku taman, membiarkan imajinasinya melayang—mengkhayalkan dirinya hanyalah seorang gadis rakyat biasa yang menjalani hidup sederhana nan normal.

Iselyna menyunggingkan senyum tipis yang tulus, lalu kembali mendongakkan kepalanya menatap angkasa.

Namun... di titik itulah gerak tubuhnya mendadak terkunci rapat.

Manik mata birunya yang bening menatap penuh kekaguman pada mahakarya yang terpatri tepat di atas kepalanya. Suara sang 'Putri Es' seakan tertahan dan membeku di pangkal tenggorokan.

Sebuah pemandangan magis yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya.

Di atas sana, melayang seorang pemuda di udara malam yang dingin. Rambut pirang mewahnya menyala lembut, dibiarkan terbelai bebas oleh embusan angin malam.

Pemuda itu memejamkan mata dengan raut wajah serasi nan tenang—menikmati hangatnya pendar rembulan dan keindahan aurora yang terlukis indah di angkasa.

Untuk pertama kali dalam hidupnya... jantung Putri Iselyna berdetak teramat kencang.

1
Dorona
Cerita bagus bgt. aku suka alurnya. sering2 up 👍👍
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😍😍😍. siap laksanakeun 🤣🤭💪💪
total 1 replies
SilentNovels
lumayan ni alurnya
Jangan lupa ke naskah aku juga ya
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😁😄. semoga enjoy dengan ceritanya 🥰😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!