"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi lain Mara
Suara gemeretak engsel pintu jati ganda itu berbunyi sangat pelan di tengah keheningan malam. Gagang pintu kuningan yang memisahkan ruang kerja pribadi Mara dan kamar tidur utama perlahan bergerak turun.
Dengan gerakan cepat yang dipicu oleh ketakutan luar biasa, Kayna menarik selimut sutra abu-abu hingga sebatas dada, memejamkan mata rapat-rapat, dan memaksakan helaan napasnya agar terdengar teratur.
Klek.
Pintu penghubung rahasia itu terbuka sepenuhnya.
Suara langkah kaki tegap terdengar melangkah masuk. Berhenti tepat di samping ranjang. Keheningan yang amat pekat mendadak menyelubungi ruangan itu.
Kayna bisa merasakan sepasang mata elang milik Damara sedang menatapnya dari atas.
Kayna menahan napasnya, berdoa dalam hati agar detak jantungnya yang bergemuruh kencang di dada tidak terdengar oleh Mara.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang besar dan hangat terulur. Ujung jari Mara yang kokoh menyentuh permukaan pipi Kayna, mengusap pelan sisa keringat dingin yang membasahi kulit halus wanita itu. Sentuhan itu terasa begitu lembut, namun justru kelembutan itulah yang harus ia waspadai.
"Kau belum tidur nyenyak, hm, Kayna?" suara bariton Mara berbisik tepat di samping telinganya.
Jiwa Kayna bergetar ketakutan, namun ia tahu jika ia tertangkap basah berpura-pura tidur, seluruh sandiwaranya akan runtuh malam ini juga.
Kayna memaksakan kedua matanya terbuka perlahan, menyipit seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang. Ia menyuarakan lenguhan halus seraya mengusap matanya dengan punggung tangan.
"Mmm... Mara? Kau... kau sudah selesai bekerja?" gumam Kayna dengan suara serak yang dibuat-buat serileks mungkin.
Mara menatapnya dengan pandangan menyipit, mencari celah kebohongan di wajah polos calon istrinya. "Kau terbangun karena suaraku, sayang?"
Bukannya menjauh atau menunjukkan gestur takut, Kayna justru mengambil keputusan paling nekat sepanjang hidupnya. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari koma, Kayna secara sukarela mengulurkan kedua tangannya, menarik Mara agar duduk di sampingnya, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu.
"Aku bermimpi buruk... tentang kecelakaan mobil itu lagi," bisik Kayna, "Aku takut, Mara. Suasana kamar ini terlalu sepi... jangan tinggalkan aku sendiri."
Tubuh tegap Mara sempat menegang sejenak akibat keterkejutan atas inisiatif hangat dari wanita yang biasanya selalu bersikap dingin dan menghindar. Namun detik berikutnya, raut kecurigaan di wajah tampan Mara meleleh sepenuhnya, digantikan oleh binar kebanggaan dan obsesi yang memabukkan.
Mara terkekeh rendah. Ia melingkarkan lengan kokohnya, mendekap tubuh Kayna sangat erat ke dalam pelukannya, lalu mengecup puncak kepala wanita itu dengan ciuman yang dalam.
"Aku di sini, sayang. Tidak ada yang perlu kau takuti," bisik Mara, menyeringai puas dalam kegelapan. Di mata Mara, sandiwara ketakutan Kayna adalah bukti bahwa ia sudah membuat Kayna menjadi wanita penurut yang sepenuhnya bergantung padanya.
Keesokan paginya, sinar matahari keemasan menerobos masuk dari balik gorden sutra kelabu. Dikamar sendiri, Mara, yang sudah rapi dalam balutan kemeja kerja abu-abu merek ternama, sedang berbincang dengan seseorang di telepon.
"Lakukan dengan rapi," ujar Mara ,"Untuk Martin, besok kumpulkan para petinggi."
"...."
"Kabur? Martin benar-benar mencari masalah?"
"...."
"Tidak perlu terburu-buru. Pria tua itu selalu mencari masalah. Dia tidak akan pergj jauh selama musuhnya masih hidup dengan damai."
"...."
"Iya, cari lewat Djavier. langsung eksekusi saja."
"...."
...●Bersambung●...