bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Resty berlari kecil ninggalin warung Bu RT. Tas selempangnya mental-mental ke pinggang. Bu RT yang melihat punggung resty yang semakin jauh hanya menatap sendu."semoga suatu saat kau akan menjadi anak yang di banggakan. orang lain tidak akan bisa remehkan kamu lagi."
Setelah mengatakan itu. Bu RT kembali kumpul dengan ibu-ibu yang lain. Dari awal mereka hanya menonton saat Lastri memarahi Resty. Bukan mereka tidak mau menolong. Tapi mereka takut jadi sasaran kemarahannya Lastri yang terkenal kejam pada siapapun.
Bel sekolah sudah berbunyi. Angin pagi menyambar wajahnya. Dingin, tapi tidak sedingin omongan bibinya tadi. Setiap langkahnya sekarang ada tujuan. tidak seperti tadi pas berangkat, cuma membawa rasa takut. Dia masih menggenggam tali tas pakai satu tangan. Tangan satunya lagi ada di saku, megang sapu tangan Awi. Kadang dia pencet-pencet atau cuma diraba lewat kain seragam.
Bel pertama selesai, Bel kedua menyusul. Suara berisik anak-anak bubar ke kelas masing-masing. Resty jalan paling belakang, Bukan karena lambat. Tapi karena dia ingin menikmati setiap langkah yang tidak ada hinaan atau umpatan kasar. Angin pagi nyambar rambutnya yang diikat kepang satu. Dinginnya masuk ke tulang, tapi dadanya hangat. Hangatnya dari saku kiri. Dari sapu tangan lusuh yang setiap kali dia pencet, baunya masih sama. sabun colek campur tembakau Awi.
ini pertama kali Resty masuk sekolah SMP. dia belum mengenal sifat orang-orang disini, apakah sama dengan sepupu dan bibinya. Gedung nya besar, Halaman luas, murid-murid baru pada ribut mencari kelas, seragam putih biru wara-wiri seperti semut. Semuanya terlihat seperti sudah kenal satu sama lain. Ketawa, cubit-cubitan, teriak manggil nama.
Resty cuma bisa jalan pelan, mata muter melihat papan nama kelas. 7C... 7D... 7E...
Tangannya kiri tetep di saku. Megang sapu tangan Awi seperti megang kompas. setiap kali ragu, dia pencet. Baunya sabun colek campur tembakau bikin jantungnya tidak secepat itu."7B di mana ya..." gumamnya pelan. Suaranya ketutup suara bel ketiga.
Anak-anak sudah masuk semua. Lorong jadi sepi. Resty makin panik. Dia menengok kanan kiri, mau nanya tapi tenggorokannya kering. Takut disalahin, takut dibentak, takut dipandang aneh seperti setiap kali ketemu Bibinya Lastri.
"mencari apa?" Suara cewek menyapa dari belakang. Resty menengok kaget. Ada anak cewek, rambutnya dikuncir dua, gigi depan agak renggang. Senyumnya lebar dan sedang pegang map tebel.
"Eh...7B?" jawab Resty pelan sambil menunduk.
Si cewek melirik papan, terus menunjuk ujung lorong."Nah.... Itu paling ujung. Aku juga 7B. Nama aku Dinda sepertinya kita satu kelas
Resty mengangguk kecil."Resty..."
"Sudah....!ayo masuk bareng. Nanti dihukum loh," Dinda menarik lengan bajunya ringan. tidak kasar ataupun jijik. seperti yang sering dilakukan bibinya jika mereka bertemu.
Langkah Resty jadi tidak gugup lagi. Untuk pertama kalinya sejak masuk gerbang, dia tidak merasa sendirian. Pas duduk di bangku paling pojok, bawah jendela, bawah pohon bambu, Dinda nyolek lagi."Kamu pegang apa sih dari tadi di saku?"
Resty reflek menutup sakunya. Pipinya merah."tidak...! tidak apa-apa. Cuma sapu tangan," bisiknya.
Dinda tidak memaksa. Dia cuma nyodorin setengah roti dari bekalnya."Nih....!. Buat temen baru. Biar tidak grogi."
Resty menerima Roti tawar isi selai. Sederhana tapi buat dia, itu roti pertama yang dia makan saat SMP. tanpa rasa takut. Di luar jendela, angin pagi masih dingin. Tapi di bangku pojok itu, ada hangat baru. hangat dari sapu tangan di saku kiri, dan hangat dari senyum teman baru yang bernama Dinda di sebelah kanan. Resty gigit roti pelan-pelan. Manis selainya tidak seberapa, tapi rasanya seperti makan kue ulang tahun. selama ini setiap pagi dia makan nasi hangat sama garam. Atau kadang tidak sama sekali. Ini pertama kalinya ada yang nyodorin makanan. tanpa disuruh, tanpa syarat.
"Enak ya?" Dinda nyengir, pipinya ditusuk pensil."Buatan emak aku. Selalu manis kebangetan."
Resty mengangguk kepala, Mau bilang makasih tapi suaranya nyangkut. Jadi dia cuma senyum. Senyum yang beneran, bukan senyum dipaksa buat menutupin sedih.
Bel terakhir bunyi, Pintu kebuka. Bu Guru masuk, bawa buku tebel sama daftar absen.
"Selamat pagi, anak-anak!
"Pagi....Bu!" jawab sekelas kompak. Kecuali Resty. Dia kaget, ikutan setengah detik telat.
Bu Guru melirik, tapi tidak marah."Oke, absen dulu ya.....Biar kenal."
Satu-satu nama disebut. Andi, Bagas, Caca...
Jantung Resty deg-degan. Tangan kirinya makin kenceng meremas sapu tangan di saku. Baunya sabun colek Awi dia hirup dalam-dalam.
"Resty Wulandari?"
Resty berdiri. Lututnya gemetar. "Hadir, Bu..." suaranya kecil seperti bisikan.
Bu Guru mengangguk lalu mencatat hadir. "Duduk...nak! Jangan gugup."
Resty duduk lagi, mukanya merah. Dia kira bakal ada yang ngetawain. Bakal ada yang nyeletuk "anak piatu". Seperti setiap kali bertemu Bibinya.
Tapi tidak ada. Dinda malah nyolek lengannya dari bawah meja. Kasih isyarat jempol. Di luar, angin pagi masih menyusup lewat celah jendela, Dingin Tapi di bangku pojok itu, Resty baru mengerti rasanya punya tempat.
Punya teman yang nyodorin roti. Punya guru yang manggil "nak". Punya sapu tangan di saku yang setiap dipencet, dan punya ayahnya yang sekarang sudah mulai berubah.
Pelajaran pertama dimulai untuk perkenalan diri dan memberikan arahan apa yang boleh dilakukan di sekolah dan tidak boleh dilakukan.
Bu Guru nulis "Tata Tertib" di papan tulis. spidolnya berisik."Anak-anak, dengerin ya. Di sekolah kita belajar tiga hal. sopan ke guru, sayang ke teman, jujur ke diri sendiri. Yang tidak boleh dilakukan, berantem, nyontek, merendahkan orang lain," jelas Bu Guru sambil matanya menyapu sekelas.
semuanya langsung menganggukkan kepala dan tidak ada yang membantah apa yang dikatakan oleh guru mereka.